
Sepuluh bulan kemudian, kehidupan mereka telah berubah. Hubungan Riya dan Mahendra masih tetap sama. Mahendra menganggap Riya seperti saudaranya sendiri. Begitu pun sebaliknya.
Riya sudah mempunyai hubungan dengan lelaki lain. Laki laki itu adalah orang yang menolong Azka waktu diculik. Meski umurnya masih di bawah Riya tapi laki laki itu memperlakukannya Riya dengan baik.
Namanya adalah Deno, Deno Alfiansyah. Dia adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit. Riya dan Deno bertemu kedua kalinya di sebuah rumah sakit dan itu sangat kebetulan sekali.
Riya yang saat itu ingin memeriksakan dirinya dan bertemu lah dengan Deno. "Apa keluhan anda?" Deno memegang sebuah bolpoin dan kertas di tangannya sambil menunduk. "Saya hanya merasa pusing belakangan ini Dok, setiap saya melakukan aktivitas pasti pusing itu akan datang lagi"
"Selain itu apa ada keluhan lagi?" Deno masih tetap di posisinya. "Tidak ada Dok hanya itu saja, saya khawatir terkena anemia" ucap Riya lagi. Deno mendongakkan kepalanya dan matanya menatap Riya.
"Anda bukannya ibu ibu yang waktu itu kan?" Deno masih mengenali Riya, karena jujur saja wajah Riya masih belum bisa ia lupakan. "Iya, apa anda pernah bertemu dengan saya?" Tanya Riya. Ia merasa heran kenapa dokter di depannya ini bersikap seolah olah pernah bertemu.
"Saya yang waktu itu menolong anak anda dari penculikan" ucap Deno. Riya berusaha mengingatnya, sekilas ia mengingatnya. Laki laki yang pernah menolongnya dulu. "Jadi anda yang dulu menolong keponakan saya?'
Deno mengernyitkan dahinya. "Keponakan? Bukankah itu anak anda?" Riya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Anak saya sudah meninggal dan saya juga sudah bercerai dengan suami saya"
"Maaf, saya sudah membuat anda mengingat itu semua". "Tidak apa apa kejadiannya sudah lama juga dan saya sudah ikhlas" Deno mengangguk. "Kalau begitu mari, saya harus memeriksa anda dulu untuk mengetahui tentang kondisi anda?"
Riya mengangguk lalu Riya berjalan ke tempat pemeriksaan pasien. Riya tidur di atasnya dan meluruskan diri. "Maaf apa saya sudah bisa memeriksanya?" Tanya Deno dengan sopan.
"Iya Dok" jawab Riya. Dengan perlahan Deno mengarahkan stetoskopnya pada bagian dada Riya dengan sopan. Deno memeriksanya untuk beberapa saat lalu melepaskan stetoskpopnya kembali. "Anda bisa menunggu sebentar, saya harus menuliskan resep untuk anda"
Riya mengangguk lalu ia segera bangun dan kembali duduk di kursi hadapan Deno. Riya memperhatikan Deno yang sedang menulis resep, wajahnya yang putih bersih membuatnya terlihat tampan.
Untuk beberapa saat, Riya sempat terpesona dengan Deno. Deno sudah selesai menulis resep lalu ia memberikannya pada Riya. "Anda hanya kelelahan, tidak ada yang serius. Dan ini resep untuk mengurangi rasa pusing kamu."
"Resep ini diminum setiap merasa pusing atau gimana dok?" Tanya Riya. "Diminum setiap merasa pusing saja, dan ingat Anda harus banyak banyak beristiharat dan kurangi minum teh atau kopi untuk sementara waktu"
"Baik dok kalau begitu saya permisi dulu" Riya bersiap untuk beranjak pergi. Tiba tiba Deno mencegahnya. "Saya boleh bertanya sesuatu?"
Riya mengangguk. "Sebelumnya kita ubah dulu bahasa formal kita rasanya tidak nyaman memanggil seseorang dengan sebutan anda"
"Baiklah, apa yang ingin dokter tanyakan pada Saya?" Deno terdiam sebentar. "Berapa usia anda?" Tanya Deno. "Saya? 41 tahun saja. Memangnya kenapa dok?"
Deno menggeleng pelan. "Saya hanya penasaran saja" jawab Deno. Dan sejak saat itu Deno dan Riya sering bertemu dan semakin dekat. Hingga pada akhirnya, satu bulan setelah pertemuan itu.
Deno mengungkan perasaannya pada Riya. Awalnya Riya menolak karena Deno lebih muda dari dirinya. Tapi Deno terus meyakinkannya kalau umur tidak jadi masalah untuk hubungan mereka.
Dan berakhirlah dengan mereka saat ini. Deno sudah membawa Riya ke rumahnya untuk menemui keluarganya dan meminta Restu. Deno tidak ingin menggantung Riya lebih lama lagi. "Kalau keluarga kamu gak setuju gimana?" Tanya Riya.
"Tenang aja, keluargaku pasti menerima kamu dengan baik. Aku tahu betul gimana keluargaku."
"Bukan begitu, usiaku itu lebih tua dari kamu. Apa yang akan mereka katakan nanti? Aku merasa ragu dengan hubungan kita ini. Aku belum siap bertemu keluargamu Mas" ucap Riya.
Deno menghela nafasnya dengan pelan. Entah dengan cara apa lagi ia harus meyakinkan Riya. Meskipun umur mereka terpaut 11 tahun Deno tidak peduli. Yang terpenting adalah cinta mereka.
Tiba tiba pintu rumah Deno terbuka dengan lebar. Ibunya Deno keluar dari dalam rumahnya. "Lho Deno, kenapa tidak masuk dan siapa perempuan ini?" Tanya ibunya Deno.
__ADS_1
Deno dan Riya langsung menoleh dah mendapati seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Deno memberikan kode pada Riya untuk menyalami ibunya.
"Halo Tante, Saya Riya. Saya..."
"Dia calon istri yang Deno katakan pada Mama beberapa hari yang lalu" Deno takut Riya mengatakan hal yang aneh aneh jadi dia memotongnya dengan cepat.
Sofi, ibu dari Deno menatap Riya dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Lalu ia menganggukan kepalanya dan tersenyum ramah. "Oh calon istri toh, kamu sangat pintar ya memilih calon istri. Cantik banget sama seperti Mama"
"Ayo kalian masuk dulu, kita ngobrol di dalam saja. Papa kamu sudah nunggu di dalam Deno" ucap Sofi. Lalu Sofi merangkul bahu Riya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Deno bersyukur ibunya bisa menerima Riya dengan baik. Kali ini tinggal ayahnya. Ayahnya Deno adalah seorang polisi dan yang membuat Deno khawatir adalah Ayahnya akan berbicara ketus pada calon istrinya itu.
"Semoga saja papa dalam keadaan yang baik hari" Deno terus berdoa dalam hatinya. "Lihat, Mama bawa siapa nih" Sofi membuka suaranya ketika mereka sudah berada di dalam rumah.
Satrio, ayah dari Deno menoleh ke arah mereka. "Siapa yang kamu bawa itu? Apa itu teman arisan kamu? Sepertinya usianya hampir sama denganmu" ucap Satrio dengan wajah datarnya.
"Pa, dia bukan teman arisan Mama. Dia calon istri Deno" ucap Deno sambip menatap Satrio. Satrio melipat koran yang dipegangnya lalu melemparnya ke sembarang arah.
"Calon istri? Harus banget setua itu. Sepertinya umurnya di atas kamu. Berapa umur kamu?' Tanya Satrio dengan jutek pada Riya. Mulut Riya seperti terkunci, rasanya sulit untuk menjawab pertanyaan itu.
"Empat puluh satu pak" ucap Riya sambil menundukkan kepalanya. Riya meremas jarinya dengan gugup, sepertinya ia dan Deno tidak akan pernah bisa bersama. Riya yakin hal itu.
Sofi yang mendengar umur Riya tentu saja terkejut. Umur Riya sama seperti umur adiknya.
"Tuh kan, apa papa bilang. Dia pasti lebih tua dari kamu Deno. Apa kamu tidak bisa mencari perempuan yang umurnya sama atau di bawahmu?"
Riya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap Deno. "Papa kamu benar, kamu seharusnya mencari wanita yang sepantaran dengamu. Bukan yang sudah tua sepertiku."
"Pa, Papa gimana sih. Mau Deno pilih wanita yang seperti apa itu hak Deno bukan Hak papa. Yang mau nikah itu Deno bukan papa. Lagian cuma masalah umur doang apa salahnya sih pa?"
Setelah mengatakan itu Deno berlari keluar dan mengejar Riya yang masih belum jauh darinya. "Sayang, tunggu". Riya tidak peduli ia terus berlari sampai dirinya terjatuh di jalan daj membuat lututnya terluka. "Awhhh" Riya meringis karena lukanya sangat perih.
Deno berhasip menyusulnya. Deno langsung berjongkok dan memeriksa luka Riya di lututnya. "Kenapa harus lari sih? Lihat kamu terluka kan. Kalau sampai kamu terluka berarti aku gagal menjadi dokter sekaligus calon suami kamu"
"Maaf, sepertinya kita sudah cukup sampai disini Mas. Tidak ada harapan lagi untuk kita bersama. Kedua orang tuamu telah mengetahui umurku, mereka pasti akan melarangmu untuk menikahiku."
"Siapa yang bilang begitu?" Suara Seseorang membuat mereka menolehkan kepalanya. Sofi dan Satrio berjalan mendekati mereka. "Siapa bilang saya melarang anak saya untuk menikahi kamu"
Riya masih diam terpaku, sedangkan Deno menatap Satrio. "Maksud papa?" Tanya nya. Satrio yang biasanya berwajah datar tersenyum.
"Tadi papa hanya bercanda, papa hanya ingin mengetes mental calon menantu papa. Dan ternyata masih lemah, calon istrimu sangat mudah sekali tumbang. Ibaratnya papa adalah penebang pohon dan calon istrimu adalah pohon. Papa belum menebang pohonnya tapi pohonnya sudah roboh duluan"
"Papa merestui kalian, dan untuk kamu Deno. Tugas kamu adalah untuk membantu pohon itu tetap kuat dan tidak akan pernah roboh walaupun diterpa badai atau angin topan sekalipun."
Sofi tersenyum lalu mengangguk. "Selamat datang di keluarga kami, siapa namamu?" Tanya Sofi. "Riya tante" jawab Riya dengan sopan. "Ah iya selamat datang di keluarga kami Riya, mulai sekarang kamu adalah bagian keluarga kami."
Riya tersenyum malu malu. "Mau sampai kalian duduk di jalan? Deno cepat gendong calon istri kamu dan bawa ke rumah. Luka di kakinya perlu diobati" ucap Satrio Lagi. "Iya pa"
__ADS_1
Setelah itu Sofi dan Satrio meninggalkan mereka berdua. Riya tersenyum malu malu pada Deno. "Gimana? Sekarang udah senang kan dapat restu dari calon mertua" godanya.
"Biasa aja kok" jawab Riya. Deno tertawa kecil. "Biasa aja tapi pipi nya kok merah kayak tomat sih" Riya menenggalamkan wajahnya di dada bidang Deno. "Jangan godain aku mulu" Deno tertawa.
Lalu ia mengangkat Riya ke dalam gendongannya. "Kamu lumayan juga ya" ucap Deno pada Riya. Riya hanya mendelikkan matanya tahu apa yang dimaksud Deno.
Begitulah, kisah antara Deno dan Riya. Saat ini mereka sedang sibuk mengatur pernikahannya, Riya juga dibantu oleh Mahendra dan Keenan untuk menyiapkan semuanya.
"Selamat ya, yang mau nikah mah beda. Aura nya kelihatan bahagia banget" ucap Mahendra pada Riya. Riya hanya tersenyum tipis. "Kamu yakin masih ingin sendiri?" Tanya Riya.
"Sangat yakin, aku tidak ingin mencari pengganti Mela. Sudahlah, kamu tidak perlu khawatir tentang diriku. Pokoknya nanti pas pernikahanmu kamu harus bahagia, lupakan semua masa lalu yang membuatku sakit dan hiduplah di lembaran yang baru"
Mata Riya berkaca berkaca, selama 1 tahun ia berada di rumah ini. Keluarga Mahendra sangat baik padanya. Riya beruntung bisa mengenal dan bertemu dengan mereka.
Tiba tiba Syafira masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Mahendra dan Riya yang saling bercengkrama. Syafira sangat sedih karena sebentar lagi Riya meninggalkan rumah mereka dan ikut suaminya. Tetapi Syafira juga bahagia karena Riya berhasil menemukan kebahagiannya sendiri. Syafira berjalan mendekati mereka.
"Tante, ini Syafira juga mau memberikan sesuatu sama tante. Karena sebentar lagi tante akan menikah dan akan meninggalkan rumah ini. Syafira ingin memberikan banyak sekali kenangan buat tante. Terimalah album ini"
Riya menoleh pada Syafira dan mengambil album foto dari tangannya. Syafira mengambil tangan Riya dan memegangnya. "Tante kalau udah nikah sering sering mampir kesini ya, Alfon juga pasti sangat merindukan tante nanti." Ucap Syafira.
Riya mengelus anak rambut Syafira dan memeluknya. "Tante pasti akan merindukan kalian semua, terima kasih karena selama ini kalian sudah menerima tante dengan baik. Padahal tante hanya orang asing di rumah ini'
Tangis Riya pecah saat ia mengatakan itu. Riya menangis di pelukan Syafira.Syafira juga ikut menitikkan air matanya. Selama ini Riya banyak mengajarkannya banyak hal. Riya adalah ibu ketika setelah Wina, dan Mela.
Mahendra menatap keduanya bergantian lalu memalingkan wajahnya. Ia tidak tega melihat menantu dan orang yang dianggap saudara itu menangis. Keenan masuk dengan membawa anak anaknya dan menggendong adiknya.
Usia Alfon saat ini sudah 1 tahun sedangkan Azka dan Azkia akan segera berumur 3 tahun. Azka dan Azkia sudah fasih dalam berbicara, mereka juga berjalan dengan baik tidak seperti sebelumnya yang sering terjatuh.
Keenan menatap Mahendra penuh tanda tanya melihat kedua wanita itu menangis. Mahendra hanya menjawabnya dengan anggukan. Keenan bingung sebenarnya ada apa ini. "Mama mama..." Alfon yang masih di gendongan Keenan memanggil manggil Riya.
Riya melepaskan pelukannya dari Syafira lalu menghapus air matanya. "Eh anak mama, sini sayang biar mama gendong"
Alfon mengulurkan tangannya pada Riya, Riya pun mengambilnya dari gendongan Keenan. "Mama..mama...nan nan is" (Mama mama jangan nangis) Riya menggelengkan kepalanya. "Mama tidak menangis kok, kan ada Alfon yang menghibur Mama"
Alfon mengangkat tangannya dan menepuk wajah Riya dengan tangan mungkilnya ibu. Riya tersenyum bahagia melihat perkembangan Alfon yang semakin hari semakin lincah.
"Ya sudah sebaiknya kita berkumpul di ruang keluarga saja. Syafira, kamu bantu tante Riya nya membereskan barangnya ya. Biar Alfon bersama Riya dulu"
"Iya pa" jawab Syafira. Setelah itu mereka semua pergi ke ruang keluarga dan meninggalkan Syafira di kamar Riya. Syafira menghela nafasnya lalu mulai mengemas barang barang Riya.
Tiga hari lagi, dalam waktu tiga hari Riya akan pergi meninggalkan mereka semua. Walaupun tidak jauh tapi tetap saja ada kata perpisahan. Syafira berharap Riya akan terus bahagia setelah ini.
Riya pernah bertemu dengan Deno, waktu itu Deno pernah datang ke rumah mereka untuk menyampaikan niat baiknya dengan melamar Riya. Deno melamar Riya di hadapan Mahendra, Wina, Tio dan yang lainnya.
Keenan sangat syok mengetahui calon suami Riya yang masih muda dan umurnya tidak terlalu jauh dengan umur Keenan. Kalau saat ini Keenan berumur 28 tahun makan Deno masih 30 tahun.
Waktu pertama kali melihat Deno, Syafira memanggilnya dengan sebutan kakak. Ia bingung harus memanggilnya apa, dan Syafira memutuskan memanggil kakak saja.
__ADS_1
Syafira masih mengingat momen itu, momen dimana Deno berlutut dan memasangkan cincin di jari Riya. Momen itu membuat semua orang terharu terlebih ibunya sendiri. Wina sangat bahagia mendengar sahabatnya akan menikah lagi.
Syafira tersenyum sendiri lalu ia segera merapikan semua barang barang Riya dengan cepat. Dalam beberapa menit saja dia sudah menyelesaikan semuanya. Syafira memasukkan album yang ia baru saja dia kasih pada Riya ke dalam koper Riya. Syafira ingin Riya terus mengingat kebersamaan mereka.