
Makan malam berlangsung seperti biasa, tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Riya dan Mahendra sudah bersikap seperti biasa lagi. Keenan bertanya tanya pada Syafira mengapa mereka biasa akur lagi.
Syafira menjawabnya dengan gelengkan kepalanya, ia sendiri juga heran dengan Mahendra dan Riya. Syafira berpikir mungkin karena ia meninggalkan Riya dan Mahendra berduaan tadi.
"Tambah saja Nasinya kalau masih kurang. Ini masih banyak kok" ucap Riya pada Mahendra. "Aku sudah kenyang dan terima kasih atas tawaranmu"
Riya tersenyum lalu menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya dengan cepat. "Nda aem lagi" (Bunda, makan lagi) ucap Azkia pada Syafira. "Tunggu ya, bunda nyuapin abang dulu" jawab Syafira.
Azkia mengangguk, setelah menyuapi Azka Syafira berganti menyuapi Azkia dengan nasi dan kuah sayur. Azka dan Azkia tidak menyukai ikan. Mereka hanya suka makan nasi dengan kuah sayur.
Setelah makan malam telah selesai, Mereka berkumpul di ruang keluarga sambio berbicang bincang. "Keenan, Apa kamu tidak memikirkan tentang penculik Azka" ucap Mahendra dengan serius.
"Tentu saja Keenan berpikir pak, Keenan juga tidak akan tinggal diam. Dia sudah berani menculik putraku, maka dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Papa juga sudah mengeluarkan anak buah papa untuk mencarinya dan papa sudah mendapatkan sedikit ciri cirinya dari Riya. Jadi kemungkinan kita akan menangkapnya sangatlah besar" ucap Mahendra.
"Keenan punya banyak koneksi dengan detektif yang handal, dia akan membantu Keenan untuk mendapatkan penculik itu" ucap Keenan.
"Tunggu dulu, apa kalian benar benar yakin kalau orang yang menculik Azka adalah penculiknya?" Ucap Riya memotong perkataan Mahendra dan Keenan.
"Maksud tante?" Tanya Syafira sambil memangku Azka dan Azkia di pahanya. "Maksud saya adalah bisa saja orang yang menculik Azka itu adalah orang suruhan." Ucap Riya.
Keenan mengangguk. "Tante Riya benar pa, kemungkinan penculik Azka itu hanya orang suruhan. Sedangkan penjahat asli nya bersembunyi di sebuah tempat"
"Kalau begitu caranya kita harus menemukan orang suruhan itu terlebih dahulu untuk mendapatkan umpan yang sesungguhnya" ucap Mahendra pada Keenan.
"Baiklah kita akan menyelesaikan masalah ini besok. Untuk saat ini kita biarkan saja dia menikmati waktu waktu yang tersisa sebelum Keenan menjebloskannya ke penjara"
"Dan untuk kalian, Syafira dan Riya. Jika kalian ingin bepergian dengan anak anak tolong jangan pergi sendirian. Ajak lah papa atau Keenan saja. Ini demi kebaikan Azka dan Azkia." Ucap Mahendra.
"Iya pa" jawab Syafira.
Lalu setelah itu mereka mengobrol banyak hal termasuk tentang perpindahan kepemilikan kantor Mahendra pada Keenan. Mahendra sudah mengurus semuanya. Hanya tinggal beberapa minggu lagi untuk menyelesaikan semuanya.
Setelah larut malam, mereka semua memutuskan untuk pergi ke dalam kamar dan beristirahat. Keenan dan Syafira menggendog Azka dan Azkia yang sudah tertidur. Mereka menidurkan Si kembar di atas kasur.
Keenan merenggangkan tubuhnya seperti sedang kesakitan. "Pegal ya Mas?" Tanya Syafira pada Keenan. "Iya nih, tadi di kantor Mas cuma duduk terus dan mengerjakan pekerjaan"
"Yaudah sini aki pijitin deh, bentar ya aku mau ngambil selimut dulu" Syafira mengambil selimut dari atas lemarinya lalu meletakkan di lantai.
"Tidur di sini Mas, nanti aku pijitin nya disini juga kalau di atas kasur khawatir nanti anak anak bangun" ucap Syafira. Keenan mengangguk lalu ia melepas kaosnya dan tidur di atas selimut itu.
"Bagian mana yang pegal Mas?' Tanya Syafira. Di sini" Keenan menyentuh punggung tegapnya dengan tangan sebelah kanannya. "Aku pijitin Yah" Keenan mengangguk.
"Keras banget Mas punggungnya, padahal Mas jarang nge gym lagi" ucap Syafira sambil mengurut punggung Keenan dengan tangannya. "Kamu tahu kenapa punggung seorang pria itu sangat kuat dan kokoh?" Tanya Keenan.
Syafira meggelengkan kepalanya. "Memangnya apa Mas?" Keenan tersenyum. "Tuhan memberikan seorang pria punggung yang kokoh agar ia bisa menjadi tulang punggung bagi keluarganya, dan mampu membawa keluarga kecilnya"
"Seorang pria diciptakan untuk seorang wanita bukan tanpa alasan. Seorang pria diciptakan untuk memimpin setiap wanita. Seperti Presiden yang memimpin rakyatnya dan Seorang makmum yang memimpin shalat"
"Itu kan pria Mas, kalau wanita bagaimana?" Tanya Syafira. "Seorang wanita adalah pelengkap bagi seorang laki laki. Seperti nabi adam yang tengah kesepian di surga dan allah pun menciptakan siti hawa untuk menghilangkan rasa kesepian nabi adam. Seoramg laki laki tidak akan lengkap dengan kehadiran seorang wanita"
"Seorang wanita diwajibkan berbakti kepada seorang pria seperti suami dan ayahnya. Dan itu tidak bisa di rubah laki. Wanita harus taat dengan seorang laki laki. Taat demi kebaikan bukan taat demi keburukan apalagi keburikan" lanjut Keenan lagi.
"Lebih istimewa seoramg wanita atau laki laki Mas?" Syafira senang bertanya dengan suaminya karena jawabannya selalu memuaskan di hatinya.
__ADS_1
"Sama sama istimewa, keduanya saling membutuhkan dan melengkapi. Tanpa seorang laki laki seorang wanita tidak akan bisa menghasilkan keturunan sedangkan tanpa seorang perempuan laki laki tidak akan bisa dilahirkan. Kecuali nabi adam ya tentunya'
"Terima kasih Mas sudah memberikanku banyak ilmu hari ini" ucap Syafira sambil terus menggosokkan tangannya di punggung suaminya.
"Itu sudah kewajiban Mas sebagai seorang suami yang harus membimbing dan mengajari istrinya. Apabila istri tidak mengerti suami yang mengajari dan apabila suami berbuat salah istri yang menegur"
Syafira memberikan Keenan pijatan gratis sedangkan Keenan memberinya banyak ilmu. Syafira terus tersenyum sepanjang ia memijit Keenan.
.
Keesokan harinya Keenan sudah berangkat ke kantor sejak jam 7 pagi, begitu pun dengan Mahendra. Mahendra juga pergi kantornya untuk menyelesaikan urusan yang belum diselesaikan.
Syafira dan Riya hanya diam saja di rumah sambil mengawasi anak anak. Riya baru saja selesai memandikan Alfon. Riya memakaikannya baju kemudian memberinya bedak bayi.
"Lihat Sapi, Adik iparmu sangat tampan sekali. Persis sekali dengan wajah suamimu." Ucap Riya sambil menunjukkan Alfon padanya. "Iya tan, kelak ketika Alfon dewasa pasti ia akan menjadi idaman setiap wanita" ucap Syafira.
"Seandainya saja anakku masih hidup maka aku akan menjodohkannya dengan Alfon. Pas bayi saja dia tampan apalagi dewasa nanti" Riya mengamati wajah Alfon yang tersenyum.
"Dia tersenyum tuh tan, ih gemesin banget sih adik iparku" ucap Syafira dengan girang kdtika melihat Alfon yang tiba tiba tersenyum.
Riya terkekeh melihat senyuman Alfon padanya. Sepertinya Alfon sangat nyaman bersamanya. Terkadang Riya sempat berpikir jika Mela masih hidup pasti akan lebih bahagia .
Tiba tiba terdengar suara bel yang berbunyi, menandakan bahwa ada seseorang yang datang ke rumah itu. "Kira kira siapa ya tan? Aku takut dia penculik Azka waktu itu" ucap Syafira.
"Kamu jagain Alfon dulu. Biar tante yang mengeceknya" Riya memberikan Alfon pada Syafira. Kemudian ia mengambil sapu lantai dari dalam rumah dan berniat untuk membukakan pintu. Tapi sebelum itu ia bertanya. "Siapa?"
Tak ada jawaban, hal ini membuat Riya was was. Ia bersiap memegang sapunya dengan erat lalu membukakan pintunya kemudian langsung memukul orang yang berada di dengan itu dengan sapu nya.
"Pergi sana kau penculik" "aduh ampun jangan pukul saya" suara itu adalah suara wanita. Riya menghentikan pukulannya dan menatap Wanita asing di depannya itu.
"Kamu siapa? Dan kesini mencari Siapa?" Tanya nya. "Nama Saya Alesha bu kedatangan saya kesini ingin bertemu dengan bu Syafira" Riya menatap Alesha dengan tak yakin. Riya mengira Alesha adalah seorang pengemis karena pakaiannya yang compang camping.
"Ada yang nyariin kamu tuh, katanya namanya Alesha" ucap Riya. "Alesha? Kayaknya Syafira pernah dengar namanya tan" Riya mengendikkan bahunya. "Temui saja dulu siapa tahu dia orang yang kamu kenal"
Syafira mengangguk lalu mengembalikan Alfon pada Riya.
Kemudian setelah itu baru ia menemui orang yang ingin bertamu dengannya. Syafira melihat seorang wanita yang berpakaian compang camping sedang duduk di lantai.
"Anda siapa ya?" Alesha menoleh dan mendongakkan wajahnya pada Syafira. Lalu dengan cepat ia berlutut di hadapan Syafira sambil menangis.
Syafira terkejut melihatnya mengapa wanita ini tiba tiba berlutut di hadapannya. Syafira merasa tidak enak dengan perlakuannya yang seperti itu. Kemudian Syafira menyuruhnya berdiri.
"Tolong jangan seperti itu, saya gak nyaman. Berdiri lah dan katakan apa yang ingin kamu katakan padaku" ucap Syafira. Alesha berdiri dan menatap Syafira tepat di matanya.
"Apa ibu tidak mengenali saya?" Ucap Alesha dengan wajah yang berkaca kaca. Syafira mencoba mengenali wajah wanita itu yang memang sangat tidak asing di matanya.
"Kamu...Alesha bukan?" Tanya Syafira. Ia mengingat wajah itu. Wajah itu adalah wajah yang sama ketika dulu Syafira disiksa oleh nya dan hampir membunuh calon bayi kembarnya.
"Ada apa kamu kesini dan kenapa sekarang kamu bisa menjadi seperti itu?" Ucap Syafira. Alesha menunduk lalu ia menceritakan semuanya pada Syafira.
Tentang dia yang berada di penjara dan dipukul habis habisan oleh teman satu selnya. Dan juga Alesha semakin dibuat menderita oleh Keenan yang waktu itu sangat marah karena dia hampir membunuh calon bayinya.
"Jadi Mas Keenan juga membuatmu semakij menderita?" Tanya Syafira. Saat ini merekq sedang berada di taman belakang rumah Mahendra yang super luas itu.
"Iya Bu, sampai akhirnya semua kekayaan saya sudah habis dan sekarang saya menjadi gembel seperti ini" Alesha menatap dirinya sendiri dengan wajah yang menyedihkan.
__ADS_1
"Saya sebenarnya sudah memaafkanmu sejak lama. Saya sudah tidak menyimpan dendam lagi sama kamu. Karena saya tahu hukuman dari penjara san tuhan saja sudah cukup membuatmu menyesal"
"Saya benar benar menyesal bu, selama ini saya diselimuti oleh kegelapan hingga tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk saya"
Syafira menoleh dan menatap Alesha. "Sekarang bagaimana keadaanmu. Kamu tinggal dimana selama ini jika rumahmu saja sudah disita oleh bank"
"Saya tinggal di bawah jembatan Bu, karena disana saya bisa mencari tempat untuk berlindung dari panas dan hujan" jawab Alesha.
Syafira merasa kasihan dengan hidup Alesha yang sekarang sudah hancur. Syafira masuk ke dalam rumah dan mengambilkan sesuatu untuk diberikan pada Alesha. Ia tidak tega melihat Alesha seperti itu.
"Ini, ini adalah beberapa pakaian saya yang baru saja saya beli. Tapi sekarang pakaian ini akan menjadi milik kamu. Pakailah dan ganti bajumu dengan ini. Kemudian ini ada sedikit uang untuk kamu agar bisa mencari tempat tinggal yang layak"
"Setelah perbuatan jahat saya pada ibu, saya rasa saya tidak pantas menerima ini Bu" ucal Alesha. Ia begitu tersentuh dengan kebaikan Syafira padanya.
Syafira tersenyum. "Kamu pantas menerima ini karena mulai sekarang kamu adalah temanku. Dan sebagai seorang teman aku akan selalu menolong dan membantu temanku sendiri"
Alesha menangis haru, ia memeluk Syafira dnegan erat sambil mengucapkan terima kasih berkali kali. "Terima kasih Bu". Syafira melepas pelukannya lalu menatap Alesha. "Jangan panggil saya Bu, panggil nama saja. Sepertinya kamu lebih tua sedikit dari saya" ucap Syafira.
Alesha tersenyum. "Baik bu eh maaf Syafira"
"Ya sudah sekarang kamu ganti baji dulu di kamarku habis itu turun ke meja makan. Aku aoan membuatkan makanan untuk kamu.
"Kamu memang baik Syafira aku menyesal telah menyakiti orang sebaik kamu" Syafira mengambil tangan Alesha dan memegangnya. "Sudahlah tidak ada yang perlu disesali yang penting masa lalu dijadikan pengalaman saja agar tidak diulangi lagi" ucap Syafira. Alesha tersenyum membalas perkataan Syafira.
Sedangkan Keenan dan Mahendra saat ini sedang berada di cafe. Setelai selesai dengan urusan kantor mereka sepakat untuk bertemu di cafe. Mereka akan membicarakan kembali tentang pelaku penculikan Azka.
"Jadi gimana, Apa Detektif yang kamu sewa itu akan datang hari ini?" Tanya Mahendra sambil meminum kopi yang ia pesan.
"Tentu saja, sebentar lagi dia akan datang" ucap Keenan sambil menatap Mahendra. Mahendra hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah yang lain.
"Maaf saya terlambat" seorang laki laki dengan pakaian serba hitam datang ke arah meja mereka sambil membawa sesuatu di tangannya. Mahendra menatapnya. "Apakah Anda Tuan Ace?" Tanya nya.
"Iya benar" jawab orang itu yang ternyata adalah Ace, salah satu detektif yang sangat disegani oleh Keenan. Karena dekektif ace tidak pernah gagal dalam melakukan tugasnya
"Silahkan duduk, biar saya pesankan minuman untuk anda" ucap Keenan yang langsung diangguki oleh Ace. Kemudian Keenan memesankan minuman ace pada pelayan dan setelah siap pelayan pun mengantarkan minumannya pada meja mereka.
"Silahkan dinikmati minuman Anda" ucap pelayan wanita itu dengan ramah. "Terima kasih" ucap Ace dengan senyumnya yang ramah. Kemudian Ace meminum minumannya dengan cepat sebelum ia menangani masalah kliennya.
"Jadi bagaimana? Apa yang bisa saya bantu untuk kalian?" Ucap Ace sambil menatap Mahendra dan Keenan secara bergantian. "Kami ingin mencari seseorang tetapi kami tidak mempunyai data apapun tentang dia, hanya satu yang kami tahu. Dia mempunyao tato naga dan garuda" ucap Mahendra.
"Apakah selain itu ada lagi yang kalian ketahui?" Tanya Ace pada mereka. Keenan menggelengkan kepalanya. Kemudian Ace mengeluarkan selembar kertas dan mencatat salah satu cirinya.
"Saya tidak bisa memastikan bahwa saya akan menemukan orang itu. Tapi saya akan mengusahakannya. Karena dengan data yang sedikit seperti ini sangat sulit untuk menemukan orang yang kalian maksud"
"Saya mempercayaimu melebihi detektif lainnya. Saya percaya kamu bisa menangani kasus ini dengan baik" ucap Keenan. Ace menundukkan kepalanya sambip mengucapkan terima kasih.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk kasus ini. Dan mungkin saya perlu sedikit bantuan dari anda pak Keenan Aldebaran Bright. Dengan bantuan anda, maka kasus ini semakin mudah"
"Bantuan apa yang anda inginkan?" Tanya Keenan. Mahendra menyaksikan percakapan mereka dalam diam sambil menyesap kopinya yang sudah dingin.
"Kekuasaan, itu yang saya butuhkan dari anda" jawab Ace sambil tersenyum. Keenan mengerti dengan apa yang dimaksud Ace ia membalas senyuman Ace dengan penuh arti. Hanya Mahendra yang tidak mengerti apa arti dari senyuman mereka.
"Kenapa kalian tersenyum itu? Ada rahasia apa di antara senyum kalian itu? Apa senyum kalian bisa menyelesaikan masalah ini?" Tanya Mahendra dengan pertanyaan yang bertubi tubi.
"Tidak, hanya saja senyum kami adalah senyum keberhasilan. Anda hanya tinggap menunggu saja" jawab Ace sambil menatap Mahendra. Sedangkan Keenan terkekeh geli melihat Mahendra yang tampam sepertu orang bodoh.
__ADS_1
Katakanlah ia durhaka karena berani menyebut papa nya bodoh. Kemudian setelah itu Ace berpamitan pulang karena ada hal lain yang harus ia urus. Keenan memeluk Ace sebelum ia benar benar pergi sambil membisikkan sesuatu. "X.L.F gunakan itu untuk menangani kasus ini" bisik Keenan.
Ace tersenyum seraya mengangguk. "B.T.V. itu adalah jawaban buat anda. Keenan tersenyum. hanya mereka lah yang tahu apa itu X.L.F dan B.T.V.