
Esok harinya Keenan tidak pergi ke kantor karena Weekend. Apartemen Keenan sudah dipenuhi dengan keberadaan para orang tua mereka. Keenan menatap Mela yang sedari tadi berkacak pinggang dan menatapnya. Keenan akan meghindar tapi sebelum itu, Mela berhasil memegang baju belakangnya.
Keenan berbalik lalu melihat wajah ibunya yang sudah seperti kepiting rebus. Mahendra yang disebelahnya hanya menyikapinya dengan santai sesekali tertawa. Menertawakan nasib Keenan.
Keenan menelan ludah, kali ini Mela mungkin akan melakukan apapun padanya. Dan tepat di hitungan ketiga Mela langsung menjambak rambut Keenan dengan kuat.
"Sebutkan kesalahanmu!"
Keenan meringis menahan sakit. "Tidak ada yang salah"
Mela semakin menjadi, kali ini mengambil penjepit pakaian lalu menjepit hidung mancung Keenan sehingga ia sulit untuk bernafas. "Akui kesalahanmu di depan mertuamu dan papamu atau mama telan kamu hidup hidup"
"Eh iya ma"
Keenan berlutut di hadapan Ayahnya dengan wajah yang memelas, tapi tak mempan. Mahendra hanya mengacuhkannya. Sesekali ia harus memberikan pelajaran pada Keenan supaya tidak berbuat hal seperti ini lagi. Enak aja Kemarin semuanya mengkhawatirkannya sedangkan dia malah enak enak di korea.
Keenan tak menyerah kali ini ia berlutut di depan kedua mertuanya. Ia menangkup kedua tangannya. "Ayah, ibu, nyawa kalian ada di tangan aku. Eh maksudnya nyawaku ada di tangan kalian jadi tolong maafkan aku"
Wina melepaskan penjepit pakaian dari hidung Keenan. "Sudah lah, ibu tahu ini bukan murni kesalahanmu"
"Kali ini ayah maafin kamu"
Keenan melirik ke arah Mela sambil tersenyum penuh kemenangan. Mela masih belum puas menghukum Keenan ia mencari sapu tapi tak kunjung menemukannya. Karena sebelum Mela datang, Keenan sudah menyembunyikannya.
"Cari apa ma" Keenan berdiri dan menghampiri Mela.
"Dimana kamu taruh sapu nya?"
"Disini tidak ada sapu sapu mah"
"Jangan bohong kamu" hardik Mela.
"Apa yang dikatakannya memang benar Ma, sapu nya tidak ada karena disembunyikan sama dia" Syafira yang sedari tadi memperhatikan akhirnya ikut menjawab.
"Oh jadi begitu Keenan"
"Udah napa Ma, lihat rambut Keenan banyak yang rontok karena jambakan mama, terus hidung mancung Keenan sudah pesek karena mama juga. Harusnya itu sudah cukup buat jadi hukumannya. Aku tahu kok mama segitu sayangnya sama aku sampai melakukan hal kayak gitu"
"Mama sayang sama kamu? Ngimpi. Mama tuh sayangnya sama menantu mama yang cantik ini"
Keenan memutar bola matanya malas, lalu ia duduk di samping Syafira. "Apa ada yang mau diceritakan lagi Keenan?" tanya Mahendra.
"Keenan rasa tidak apa pa"
"Lalu bagaimana dengan kejadian kemarin. Kejadian dimana seorang bocah hampir melecehkan Syafira"
Tio dan Mahendra menatap Keenan dengan tajam. Kali ini mereka berdua sangat serius karena ini sudah menyangkut keselamatan dan keamanan putri mereka.
"Keenan rasa itu tidak perlu di ceritakan pa, karena kan pelakunya sudah di penjara. Dan Keenan akan mencari tahu tentang pelaku nya dan ada hubungan apa ia dengan istriku"
"Itu bukan alasan yang tepat" ucap Mahendra.
"Kalau sampai Syafira terluka, ayah tidak akan mengizinkan kamu untuk bertemu Syafira"
"Ayah, itu bukan kesalahan suamiku. Itu hanya insiden yang tak disengaja." ucap Syafira membela Keenan.
"Sengaja atau tidak tetap saja dia tak becus" ucap Mahendra
"Kalian harusnya percaya pada Keenan, suamiku. Dia tak akan mungkin membiarkan istrinya terluka. Selama ini dia selalu melindungiku. Dia melakukan apa saja untuk kebahagiaanku. Jadi tolong, kalian jangan menyalahkan dia karena kejadian ini. Ini di luar kendalinya. Suamiku bukan tuhan yang tiap saat bisa menolongku" Syafira mengatur nafasnya yang terengah engah karena berbicara panjang tadi.
Semuanya diam tak ada yang berani menjawab. Lalu Syafira pergi ke kamarnya. Sedangkan Keenan menatap mereka satu persatu.
"Ayah, ibu, Pa, Ma, Keenan tahu dulu Keenan pernah menyebabkan Syafira terluka. Tapi itu dulu Ma, sekarang Keenan sedang berusaha untuk melindunginya. Jadi tolong berikan kesempatan pada Keenan" Keenan berdiri lalu menyusul Syafira ke kamar
"Aku rasa kita salah, seharusnya kita mempercayai Keenan. Bagaimana pun dia adalah suami Syafira. Dia lebih berhak atas istri nya daripada Kita" ucap Tio.
"Kamu benar, sepertinya kita terlalu keras"
"Mama juga bersalah karena telah menghukum Keenan seperti itu" ucap Mela dengan menundukkan kepalanya.
"Kita semua sama sama salah disini. Tidak ada yang perlu menyalahkan dan disalahkan. Kita seharusnya tidak ikut campur dalam masalah rumah tangga mereka" ucap Wina.
Semuanya menghela nafas lalu kemudian memilih pulang dari Apartemen Keenan.
Syafira menangis di dalam kamarnya, ia sangat tidak menyukai ketika suaminya diperlakukan seperti itu. Ia menangis terisak isak.
Keenan masuk ke dalam kamar, ia melihat Syafira menangis sesegukan. Keenan menghampirinya lalu menangkup kedua pipinya. Hati nya terasa sakit saar melihat Syafira menangis di depannya.
"Jangan menangis"
Syafira memeluk Keenan dengan erat. "Seharusnya mereka tidak berbicara seperti itu sama kamu"
Keenan mengelus rambut Syafira dengan pelan, sesekali ia mengecup puncak kepalanya. "Aku tahu sayang, mungkin mereka terlalu khawatir sama kamu jadi mereka bersikap seperti itu"
"Se khawatir apapun itu, aku tetap tidak suka melihat suamiku diperlakukan seperti itu. Mereka tidak mempercayaimu sebagai suamiku. Aku tidak suka itu" Syafira memukul dada Keenan dengan pukulan kecil.
Keenan tak bisa menjawab perkataan Syafira jadi ia hanya memeluknya dengan erat. "Sekarang kamu berhenti menangis ya, aku mau pesan makanan lalu kita makan berdua"
Syafira menghapus sisa sisa air matanya di pipinya. Ia memegang kedua pipi Keenan lalu mengecupnya secara bergantian. "Kamu suamiku sampai kapan pun tetap suamiku dan kamu milikku, tidak akan pernah kubiarkan orang orang yang mengganggu milikku"
"Iya sayang, aku adalah milikmu"
Keenan mengambil handphone nya lalu memesan beberapa makanan. Ia memilih beberapa makanan kesukaan Syafira.
"Sambil menunggu, yuk kita turun ke bawah"
Syafira menggeleng, ia tidak siap untuk bertemu kedua orang tua nya. "Aku tidak ingin melihat mereka saat ini"
"Sayang, mereka sudah pulang. Jadi sekarang hanya ada aku dan kamu"
"Serius?"
"Iya sayang"
"Ya udah gendong" Syafira mengulurkan tangannya pada Keenan.
Keenan tersenyum melihat sikap manja istrinya itu. Ia langsung menggendong Syafira speerti karung beras.
__ADS_1
"Aku bukan beras kenapa digendong seperti ini" protes Syafira. Keenan hanya tertawa sambil turun ke ruang tengah.
Setelah tiba di ruang tengah, Keenan menurunkan Syafira di sofa. Keenan berlutut di hadapan Syafira. Ia mencium kedua mata Syafira. "Jangan pernah menangis lagi, okay"
Ting nong
Bel Apartemen berbunyi, Keenan pergi untuk membukakan pintu nya. Lalu ia melihat beberapa temannya datang dengan membawa banyak makanan.
"Halo bos"
"Kalian datang sepagi ini?"
"Iya, kita juga sekalian mau memberikan ini pada neng cantik" ucap Reno.
"Ya udah ayo masuk"
Kevan, Dito, Reno dan Farhan masuk ke dalam Apartemen Keenan. "Hai Neng cantik, apa kabar?"
Mendengar suara Reno, Syafira menoleh padanya. "Oren sama Ohan disini? Kalian ngapain?" ucap Syafira dengan wajah kebingungan.
"Kita disini untuk menjagamu , oh iya ini ada beberapa makanan untuk kamu"
Mereka meletakkan beberapa kantong plastik makanan di depan Syafira. "Banyak banget, terima kasih ya"
"Sama sama"
Makanan yang Keenan telah tiba, Keenan menyiapkannya sendiri di dapur. Lalu ia mengajak istri dan teman temannya untuk makan. Beruntung ia memesan banyak makanan tadi.
Sekarang di meja makan sudah penuh dengan kehadiran teman temannya. Keenan mengambilkan nasi dan ikan untuk Syafira. Ia menyuapinya dengan tangannya.
"Ayo makan"
Syafira menerima suapan tangan dari Keenan, ia memakannya dengan cepat. Hal itu tak luput dari pandangan teman temannya.
"Enak ya kalau punya pasangan, makan aja disuapin. Mana pakek tangan lagi" Gumam Farhan yang masih bisa di dengar Kevan.
"Makanya cari pacar sana, kalau gak langsung cari calon istri lalu bawa dia ke KUA, beres deh"
"Lo pikir segampang itu"
"Ya usaha dulu ogeb"
Kemudian mereka semua memakan makanannya dengan tanpa suara. Hanya ada dentingan sendok dan garpu.
Beberapa saat kemudian setelah mereka selesai makan. Keenan membawa piring kotor ke dapur lalu mencucinya. Lalu mereka kembali ke ruang tengah.
Keenan duduk di dekat Syafira sambil merangkulnya. "Gue mau pergi sebentar, kalian bisa jagain istri gue kan" Keenan menatap mereka satu persatu.
"Emangnya lo mau pergi kemana?"
"Gue mau nyelidikin tuh bocah, gue pengen tahu apa motif nya melakukan hal itu pada Syafira"
"Ya udah, lo pergi aja biar kita yang jagain Neng cantik disini" Reno mengedipkan matanya pada Syafira. Membuat Syafira tertawa kecil.
"Sayang, aku tinggal ya. Aku pergi nya gak lama kok"
"Iya"
Keenan mencium Syafira tepat di keningnya. Lalu ia pergi berganti baju dan mengambil kunci mobilnya. Setelah itu Keenan segera pergi.
Sepeninggal Keenan semuanya diam begitu saja. Sampai salah satu dari mereka bersuara.
"Kita mau ngapain? Bosen kan kalau diam terus kek gini" ucap Dito.
"Gimana kalau kita main Adu pantun, yang kalah harus dihukum. Hukumannya ditentukan oleh pemain yang menang" usul Syafira.
"Boleh boleh aja sih, ya udah langsung aja"
"Gue duluan ya" ucap Reno
Semuanya mengangguk.
"Pergi ke pasar beli tahu
Di jalan bertemu pak asep
Gak usah diberi tahu
Kalau gue emang cakep"
Seketika semuanya ngakak tanpa terkecuali. "Nah giliran gue
Pergi ke mall membeli papan
Di dalam ada kecap manis
Nama gue Farhan
Yang berwajah tampan dan manis"
Dilanjutkan oleh Syafira.
"Pergi ke laut bertemu ikan hiu
Ikan hiu makan kedondong
Aku mau bilang i love you
Tapi sayangnya bohong"
"Anjir ngejlep banget pantun lo neng"
"Biasa aja"
Kali ini giliran Dito, ia sudah menyiapkan pantunnya dari tadi.
"Burung walet burung gagak
__ADS_1
Minum air dalam gentong
Bagaimana bisa gue gak ngakak
Melihat Farhan giginya ompong"
"Bagus banget pantun lo to" puji Reno. Sementara Farhan hanya mendengus kesal. Ketika semuanya sudah selesai kini giliran Kevan. Semuanya melihat ke arahnya.
"Ayo Van, keluarin pantun lo"
Kevan hanya menyengir "Gue gak bisa pantun"
Reno menepuk bahu Kevan "Sebagai gantinya lo harus dihukum"
Bahu Kevan merosot mendengar hal itu. Lalu ia menatap semua teman temannya dengan tatapan memelas. Tapi semuanya pura pura tidak melihat.
"Yang pertama ngasih hukuman aku dulu ya" ucap Syafira.
"Silahkan neng cantik"
Syafira mengambil sesuatu dari dapur lalu kembali lagi. Ia membawa lima cabe rawit lalu menyerahkannya pada Kevan. Kevan meneguk ludahnya. "Ini dimakan?" tanya nya sambil melirik ke arah Syafira.
Syafira mengangguk disertai senyuman manisnya. "Udah lo makan aja biar cepat, lo kan belum dapat hukuman dari kita" ucap Dito.
"Enak aja lo ngomong, hukumannya hanya boleh satu. Makan cabe doang abis itu gak usah"
"Iye gue bercanda cepetan makan"
Kevan menatap mereka satu persatu lalu ia mulai berdoa. "Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa ala riskika afdgortu birahmatika ya arhamar rahimin, Amin"
"Lo pikir lo lagi buka puasa apa?"
Kevan mulai memasukkan semua cabe ke dalam mulutya. Awalnya terasa biasa saja tapi setelah ia mengigit dan menguyahnya. Mulutnya seperti terbakar. Kevan mencari air
"Eittss, gak boleh minum air" ucap Syafira.
Dito, Reno, Farhan hanya bisa menertawakan Kevan tanpa membantunya. Mereka merasa kasihan dengan Kevan.
Kevan mengipasi mulutnya dengan tangannya sendiri. Wajahnya penuh dengan keringat. "Huh hah huh hah"
"Gue..Rela..kepedesan..demi..kamu..Neng...asalkan kau..bahagia" ucap Kevan.
"Yee si monyet malah ngegombal"
"Laporin Keenan aja bro"
"Diam semuanya, kasihan juga Om Kevan nya."
"Kamu baik amat neng" ucap Kevan.
"Kasian kalau gak ditambahin cabe nya"
Dito, Reno dan Farhan tertawa lagi. Perut mereka terasa kram karena banyak tertawa. Dipikir pikir mereka ada untungnya juga menjaga Syafira. Karena berkat Syafira, hari ini semuanya tertawa ngakak.
Di tempat lain, Keenan berhenti di sebuah cafe. Ia mengajak Alvin untuk bertemu dengannya. Sudah 10 menit semenjak ia tiba di cafe tapi Alvin belum datang juga.
Tak lama kemudian Alvin datang, ia mencari keberadaan Keenan. Keenan yang melihat Alvin langsung melambaikan tangannya sehingga Alvin bisa melihatnya.
Tanpa basa basi Alvin langsung duduk di hadapan Keenan. Ia menyeruput minuman Keenan karena kehausan.
"Jadi, sekarang apa rencana lo?"
"Gue udah nyuruh anak buah gue untuk mencari tahu tentang bocah itu, bocah itu pernah menelfon Syafira waktu itu. Kita tunggu aja, dalam beberapa menit kita pasti akan tahu segalanya"
Alvin mengangguk lalu ia menghabiskan minuman Keenan dengan cepat. Membuat Keenan menggelengkan kepalanya.
"Kalau lo udah tahu tentang dia, mau lo apain?" tanya Alvin.
"Gue akan bikin perhitungan sama dia"
"Asal lo tahu, dia sudah bebas dari kemaren. Polisi hanya memberikan peringatan saja karena dia masih berstatus pelajar. Dan juga karena dia masih belum melakukan kejahatannya pada Syafira"
"Bagus kalau begitu, gue udah nyiapin rencana lain"
Seorang pemuda berpakaian serba hitam datang ke meja makan dengan membawa sebuah berkas.
"Ini Tuan, semuanya sudah tercatat disini"
"Terima kasih, nanti bayarannya saya transfer ke rekening kamu"
"Baik Tuan"
Keenan mulai membuka berkas tersebut dan menemukan beberapa fakta
Nama Zayn Almalik,
Usia 18 tahun
Zayn al malik merupakan adik kelas Syafira Anindita putri saat SMA dulu. Diketahui bahwa Zayn al malik begitu tergila gila dengan Syafira.
Karena obsesinya terhadap Syafira, Zayn bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya. Zayn al malik diketahui tinggal di perumahan Ningrat blok A nomor 18. Ia hanya hidup sendirian. Kedua orang tua nya sudah lama berpisah."
Kira kira begitulah yang tertulis dalam berkas itu.
"Cihh bocah ingusan itu rupanya menyukai istriku"
Alvin merebut berkas itu lalu membacanya dengan teliti. Setelah membacanya ia mengepalkan kedua tangannya. Kalau Zayn bebas, masih ada kemungkinan untuk ia melakukan sesuatu yang lain pada Syafira.
"Jadi, lo mau bantu gue kan? Gue mau memberi pelajaran sama nih bocah. Selama ini gue gak pernah menggunakan kekuasaan gue untuk menghancurkan seseorang. Tapi kali ini gue harus melakukannya" Keenan tersenyum sinis.
"Gue pasti bantu lo, gue juga gak mau tuh bocah nyakitin adek gue lagi"
Keenan membisikkan rencananya pada Alvin, membuat Alvin mangut mangut mengerti. "Lo yakin?"
Keenan mengangguk mantap. "Untuk membuat lawan kita kalah, kita harus melakukan sesuatu"
Alvin baru tahu kalau Keenan mempunyai sisi lain. Alvin pikir Keenan itu orangnya tenang, dan santai. Tapi kali ini ia melihat sisi lain dari Keenan.
__ADS_1
.