Bukan Janda

Bukan Janda
Bersayap


__ADS_3

Hari ini Keenan bersiap siap untuk kembali ke kantor. Sudah dua minggu lamanya ia mengambil cuti untuk tidak pergi ke kantor karena baru saja kehilangan. Keenan memakai jas kantornya sambil bercermin di depan kaca.


Keenan mencari jam tangan koleksinya untuk ia pakai hari ini. Setelah memilih jam tangan Keenan merapikan penampilannya. Syafira yang baru saja selesai memandikan Azka dan Azkia menatap Keenan dengan heran.


"Tumben pake jas? Mau kemana Mas?" Tanya Syafira. Keenan menoleh dan menatap Syafira. "Mas mau balik lagi ke kantor. Waktu berkabung sudah selesai jadi Mas akan kembali bekerja lagi. Lagian Mas tidak bisa menyerahkan semua pekerjaan pada Bagas" jawabnya.


"Baiklah, Mas mau aku bawain sarapan?" Tanya Syafira pada Keenan. "Tidak usah, Mas bisa sarapan di kantor aja. Kamu harus ngurusin anak anak dulu kan." Ucapnya.


Syafira mengangguk, lalu ia merapikan kerah baju Keenan yang masih belum rapi. "Ini kalau pakai dasi bukan gini caranya Mas. Bentar aku perbaiki dulu" Syafira berjinjit dan membenarkan Dasi Keenan.


"Kamu ahli banget ya soal Dasi, Mas aja kurang bisa seperti kamu walaupun Mas yang pakai" ucap Keenan sambil terkekeh. Keenan menunduk sambil menatap Syafira yang lagi memperbaiki dasinya.


"Nah sudah siap, sekarang Mas udah rapi, udah ganteng. Dan pastinya udah siap pergi ke kantor" ucap Syafira sambil menatap Keenan. Keenan mengangguk lalu mencubit pipi Syafira dengan kecil.


"Terima kasih ya sudah membantu Mas memakaikan dasi. Pulangnya mau dibawain apa?" Tanyanya pada Syafira. " bakso, Sate, Soto, Permen karet, oh iya sama pembalut yang bersayap ya Mas"


"Banyak banget, kalau makanannya sih gak apa apa. Tapi harus banget ya pembalutnya juga?" Tanya Keenan. Seumur hidup ia belum pernah membeli pembalut seorang wanita. Kecuali popok bayi.


Syafira menatap Keenan dengan wajah nenggemaskan. Ia tahu Keenan tidak akan bisa menolaknya jika ia menunjukkan wajah Puppy Eyesnya. "Sekarang tidak mempan Ya"


Perkataan Keenan membuat imajinasi Syafira hancur. Ia mengerucutkan bibirnya. "Ayo lah Mas, emangnya mas mau kamar kita dipenuhi darah gara gara aku gak pake pembalut?" Tanya Syafira.


"Yaudah yaudah nanti Mas beliin. Tapi imbalannya apa dulu?' Ucap Keenan sambil menatap Syafira. Syafira berpikir sebentar kemudian membisikkan sesuatu di telinga Keenan.


"Bagaimana Mas, itu sangat menguntungkan Bagi kita berdua. Sama sama enak juga. Sama sama keluar dan yang pasti bikin keringatan" ucap Syafira pada Keenan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hmm boleh juga, tapi janji ya." Syafira menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Yaudah sana Mas pergi ke kantor. Aku mau ngurus anak anak dulu" ucapnya.


"Iya sayang" sebelum berangkat Keenan mencium kening Syafira dulu lalu mulai berangkat ke kantor.


Di sisi Lain, Alfon sedang di mandikan Oleh Riya di bak mandi khusus bayi. Mahendra menatapnya dari kejauhan. Ia nelihat Riya yang dengan sabarnya memandikan putranya.


Kebetulan saat itu Riya sedang memangkas celana yang ia pakai hingga sebatas paha membuat betis mulushya terlihat oleh Mahendra. Mahendra mengalihkan tatapannya. Dalam hati ia beristigfar. Mahendra mengambil kunci mobilnya untuk pergi ke makan Almarhum istrinya


Tidak lama kemudian, Mahendra sudah berada di depan makam istrinya. Ia membawa bunga yang dibelinya di pinggir jalan. Mahendra berdoa terlebih dahulu.


Baru lah setelah itu ia menaburkan bunga di atasnya. Raut wajah Mahendra berubah menjadi sendu. Ia masih tidak menyangka bahwa Mela meninggalkan dirinya lebih dulu.


"Hai Ma, Mama apa kabar disana? Maaf papa bari datang sekarang. Papa mau cerita sama Mama, Papa sudah menemukan ibu susu untuk Alfon Ma, Namanya Riya dia hampir mirip dengan mama."


"Riya merawat anak kita dengan baik Ma, dia menyusuinya dengan sepenuh hati. Seandainya kamu masih ada disini pasti kebahagiaan ini akan terasa lengkap."


"Ma, Papa sangat merindukanmu. Papa masih belum bisa melupakan Mama sampai saat ini. Papa sudah berjanji sama Mama untuk tidak pindah ke lain hati. Papa akan melakukannya. Papa tidak akan pernah berpaling dari mama meskipun ada wanita lain"


Mahendra termenung sebentar; ia mengingat kebersamaannya dengan Mela dari sejak pertama bertemu sampai sekarang. Ia masih sangat mencintai Mela meskipun kini dia telah tiada.


Mahendra tisak bisa menjadi seperti sekarang jika dulu tidak ada Mela. Mela selalu mendukung mahendra disaat saat terendah Mahendra. Pernah dulu Mahendra di tangkap polisi gara gara kesalah pahaman. Waktu itu Mahendra belum menjadi suami Mela.


Mela dengan segala kebaikannya membantu Mahendra keluar dari penjara dengan membayar uang tebusan pada polisi. Waktu itu Mahendra sangat tidak berdaya tapi Mela selalu berada disisinya.


Mela sangat berjasa dalam hidup Mahendra. Mahendra sangat bersyukur bisa mengenal Mela dan menjadikannya sebagai pasangannya. Itulah sebabnya Mahendra tidak berniat untuk menikah lagi. Hatinya sudah terisi dengan nama Mela saja.


Mahendra menatap ke arah langit yang sudah mendung. Ia memutuakan untuk pulang sja daripada dia kehujanan disini. Sebelum pulang Mahendra mencium batu nisan Mela. "Tenang disana Ma, Anak anak sangat sayang dengan Mama"


Mahendra berdiri dari jongkoknya kemudian pergi meninggalkan area pemakaman. Sementara itu Riya dan Syafira sedang menjaga anak anak di rumah.


Alfon di taruh di box bayi yang baru saja Mahendra belikan kemaren untuk di taruh di ruang keluarga. Azka dan Azkia menengok Alfon di dalamnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Mela saat dia masih hidup?" Tanya Riya tiba tiba sambil mengawasi anak anak.  Syafira menoleh dan menatap Riya.


"Kenapa tante bertanya begitu?" Tanya nya. "Tante hanya ingin tahu saja" jawab Riya. Syafira menundukkan kepalanya menatap lantai di bawahnya...

__ADS_1


"Mama Mela sangat baik denganku Tan, dia adalah ibu keduaku setelah ibuku sendiri" jawab Syafira. Ia merasa sedih ketika kehilangan Mela. Tak ada lagi ibu mertua yang selalu memberinys nasihat baik.


"Kelihatannya, Papa mertuamu juga sangat mencintainya" ucap Riya tiba tiba. Syafira mengangkat alisnya bersamaan. "Kenapa tante berkata seperti itu? Apa tante menyukai papa?" Tanya Syafira.


"Tante tidak tahu, tante hanya suka saja ketika Melihat Mahendra. Tapi mungkin ini belum bisa disebut suka juga. Mungkin tante cuma merasa kagum doang" ucap Riya


Dari arah luar pintu Mahendra mendengarkan semuanya. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa setelah tahu bahwa Riya menyukainya. Mahendra membuka pintu rumah sambil mengucapkan salam


Riya dan Syafira yang melihat kedatangan Mahendra terkejut. Riya takut Mahendra mendengar percakapannya dengan Syafira. Ia bersikap seolah olah tidak ada penbicaraan apapun dengan Syafira.


"Papa dari mana?" Tabya Syafira ketika melihat Mahendra. Mahendra menutup pintu kembali lalu menghampiri Syafira dan Ria kemudian ia duduk di sofa.


"Papa baru saja pulang dari makam Mamamu" jawab Mahendra. Syafira mengangguk mengerti sedangkan Riya hanya diam tak berbicara. "Bagaimana Alfon hari ini?" Tanya mahendra kepada Riya.


"Ah dia baik, hari ini dia sudah ninum asi selama tiga kali" jawab Riya sambil tersenyum kaku pada Mahendra. Mahendra melihat gelagat Riya yang aneh itu tapi ia tetap diam saja.


"Aku akan membawa Alfon sebentar" mahendra mengangkat Alfon dari box bayi dan menbawanya pergi. Riya bernafas lega setelqh Mahendra pergi.


"Tante; apa tante tidak merasa jika papa sudah mendengar semuanya?" Tanya Syafira pada Riya. Riya hanya mengangkat bahunya. Ia sendiri juga tidak tahu jawaban dari pertanyaan Syafura.


.


.


Keenan mengecek proporsal yang diajukan oleh salah satu karyawannya, Keenan mencoret bagian yang perlu diperbaiki dan membenarkannya. Kacamatanya yang bulat bertengger di atas hidungnyaa dengan mapan.


Keenan memijit pangkal hidungnya. Setelah lama tidak masuk kantor membuat pekerjaannya sangat menumpuk. Kalau tidak dibantu oleh Bagas mungkin Keenan masih belum menyelesaikannya.


Beberapa jam di kantor membuat Keenan merasa penat apalagi sebentar lagi ia juga akan mengurus kantor papanya. Pasti Keenan tambah sibuk sekali.


Pintu ruangan tiba tiba di ketuk dari luar, Keenan menyuruhnya Masuk. Sementara itu seorang wanita yang berpenampilan kumel datang menemuinya.


Wanita itu hanya tersenyum tipis lalu ia berlutut di hadapan Keenan. "Maafkan saya pak, Maaskan kesalahan saya di masa lalu. Maaf karena saya sudah menculik dan hampir mencelakakan anak bapak" lirih wanita itu.


Keenan tersenyum sinis. "Baru sekarang kamu menyesal? Gimana perasaan kamu setelah ada di penjara? Enak enggak? Atau mau nambah lagi. Lumaulyan kamu dapat tempat tinggal gratis" ucap Keenan


Wanita itu adalah Alesha, orang yang pernah menyelakainya Syafira di masa lalu. Dan wanita itu juga ysng terobsesi dengan dirinya. "Ampun pak, saya benar benar menyesal."


"Sebenarnya saya bisa memaafkanmu asalkan kamu juga harus minta maaf dengan istri saya. Karena dialah orang yang kamu celakakan untuk kegilaanmu" ucap Keenan.


"Saya akan meminta maaf pak, tapi tolong maafkan saya." Keenan berdiri dari kursinya kemudian menatap Alesha. "Pergilah saya memaafkanmu dan saya harap kamu benar benar menyesal dan meminta maaf pada istri saya atau saya akan menambah penderitaanmu lagi" ucap Keenan.


"Baik pak" jawab Alesha. Keenan menyuruh Alesha untuk segera pergi dari ruangannya. Keenan butuh istirahat; ia memutuskan untuk tidur di sofa ruangannya.


.


Beberapa jam kemudian jam pulang kantor telah tiba; Keenan memutuskan untuk segera pulang. Tapi sebelum itu ia berencana akan pergi ke supermarket untuk membelikan pembalut Syafira.


Keenan menjalankan mobilnya dan pergi ke supermarket terdekat dari kantornya. Setelah tiba disana ia masuk ke dalam supermarket dan mencari apa yang Syafira pesan.


"Cari apa Mas?" Tanya seorang kasir laki laki pada Keenan. Kasir itu melihat Keenan seperti kebingungan. "Saya cari pembalut Mas" ucapnya. Kasir laki laki itu tercengang mendengar Keenan menyari pembalut


"Mas beli pembalut untuk Mas sendiri?" Tanyanya penasaran. Keenan menatap Mas itu dan memjawab. "Bukan untuk saya Mas, tapi bust istri saya" jawabnya.


Sejujurnya Keenan sedikit malu mengatakan itu. Tapi ia membuang rasa malu nya jauh jauh. Senam ibu hamil aja dia gak malu, masa  beli pembalut buat istrinya Keenan malu.


"Mau cari yang tipe apa Mas?" Ucap Mas kasir itu kepada Keenan. "Saya cari pembalut yang bisa terbang" jawab Keenan. "Hah? Pembalut mana bisa terbang Mas" ucap iya.


"Istri saya butuhnya Pembalut yang bersayap, otomatis kalau bersayap itu pasti bisa terbang kan. Nah tolong carikan saya pembalut yang itu. Saya tidak tahu banyak tentang pembalut" jawab Keenan.


"Ikuti saya Mas" Keenan mengagguk. Lalu petugas kasir itu membawa keenan ke bagian rak yang berisi berbagai macam jenis pembalut. Keenan menyentuh salah satunya

__ADS_1


"Softex, protex, kalau yang merek kutex ada gak Mas, ini pembalutnya rata rata pake tex senua belakangnya  saya cari yang kutex aja Mas kalau ada?" Ucap Keenan.


"Mana ada Mas? Udah ambil yang ini saja. Mau yang ukuran berapa Mas?"


"Tubuh istri saya kurus Mas, yang L aja deh ukurannya"


Dalam hati petugas itu menertawakan Keenan karena kebodohannya dalam mencari pembalut. Mas kasir itu mengambil pembalut yang sesuai dengan permintaan Keenan.


"Ayo mas tinggal bayar saja" ucapnya pada Keenan. Keenan mengangguk kemudian ia mengikuti petugas kasir itu untuk membayar belanjaannya. "Berapa Mas totalnya?".


"15 ribu saja Mas" ucapnya. Keenan mengeluarkan kartu kreditnya dari dompetnya ksrena ia tak punya uang cash. Lalu Keenan menyerahkan kartunya pada petugas kasir itu.


Setelah menggesekkannya petugas kasiri tu mengembalikannya pada Keenan dan memberikan pembalutnya dengan kantong plastik.


"Lain kali sediain yang bisa terbang ya Mas, jangan cima punya sayap doang tapi gak bisa terbang. Kan percuma. Nanti kalau ada yang bisa terbang kabari saya. Saya borong semuanya' ucap Keenan sebelum pergi.


Petugas kasir itu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Baru kali ini ia menemukan pembeli seperti Keenan. Ia menggelengkan kepalanya kemudian membuka aplikasi tiktok dan bergoyang ala mamah muda.


Sehabis dari supermarket, Keenan mengelilingi kota untuk membeli pesanan Syafira yang lain. Walaupun jam masih menunjukkan pukul 5 sore, tapi sudah banyak pedagang yang menjual beraneka macam makanan di pinggie jalan.


Keenan melihat catatan pesanan Syafira di handphone nya, ia tidak mau ketinggalan sedikit pun. Karena hadiah yang akan ia dapat dari syafira sangat menggiurkan.


 bakso,


Sate,


 Soto,


 Permen karet,


pembalut yang bersayap"


"Jadi tinggal bakso, sate, sama soto doang nih.   Kenapa tadi gak sekalian beli permen karet sih" ucap Keenan ketika membaca daftar pesanan Syafira.


Keenan memilih untuk membeli bakso, soto dan sate terlebih dahulu. Sambil menunggu makanannya dibuat, Keenan pergi ke toko di sebrang jalan untuk membeli permen karet Syafira.


"Pak, ada permen karet gak?" Tanya Keenan pada pemilik toko tersebut. "Ada mas, mau beli berapa?" Pemilik toko itu balik bertanya pada Keenan. "Beli tiga bungkus aja pak" ucap Keenan lagi.


"Baik Mas' pemilik toko itu segera mengambil tiga bungkus permen karet lalu membungkusnya dengan kantong plastik. "Ini Mas" ucapnya sambil menyerahkannya pada  Keenan. "Berapa pak?" Tanua Keenan.


"Dua puluh lima ribu aja Mas"  Keenan merogoh dompetnya tapi ia lupa jika Keenan tidak punya uang cash. Di dompetnya hanya ada kartu kreditnya saja. "Kenapa Mas?"


"Bapak bisa menerima kartu kredit? Saya tidak bawa uang cash pak" ucapnya sambil menatap pemilik toko tersebut. "Tidak ada Mas, saya tidak menggunakan itu.  Keenan bingung harus membayarnya dengan apa sementara ia tidak punya uang cash.


'Kalau Mas tidak bawa uang cash, tidak usah bayar saja Mas. Saya ikhlas memberikannya buat Mas" ucap sang pemilik toko tersebut. Keenan terperangah mendengarnya. "Beneran pak?" Tanyanya. "Iya Mas"


"Kalau begitu terima kasih banyak ya pak" ucap Keenan pada pemilik toko tersebut" setelah itu Keenan akan mengambil pesanan nya yang lain. "Bakso, sate dan soto"


"Mas ini Bakso, sate dan sotonya sudah siap" ucap penjualnya. "Mohon maaf pak tapi saya tidak punya uang cash, bagaimana ya pak  saya hanya punya kartu kredit saja" ucap Keenan.


"Oh tidak usah Mas, saya tidak menjualnya pada Mas. Saya memberikannya. Dulu Mas ini pernah nolongin kita, yang paada berjualan di lampu merah dari satpol pp yang ingin menghancurkan barang-barang kami"


"Oh jadi bapak bapak ini penjual waktu itu ya?" Tanya nya "Iya Mas, sebagai rasa terima kasih kami ingin memberikan ini secara cuma cuma buat Mas' ucap si penjual sate.


"Terima kasih banyak pak, saya doakan semoga rizkj bapak bapak semua makin lancar'


"Amiin" jawab mereka semua.


setelah itu kemudian Keenan pulamg dengan membawa semua pesanan Syafira. Ia menaruh semua makanan dan pembalut syafira di mobilnya kemudian ia masuk ke dalam dan bergegas pulang.


setibanya di rumah, Rumah dalan keadaan Sepi. Mahendra dan Riya sedang tidak ada di rumah. bahkan Keenan juga tidak mendengar suara anak anaknya yang biasanya ia dengar setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2