
"1..2..3...."
Keenan mengangkat barbel yang agak sedikit lebih besar dan berat. Ia melakukan itu untuk menjaga otot tubuh dan otot lengannya. Keenan tidak mau Syafira kecewa terhadap bentuk tubuhnya nanti.
Napas Keenan mulai ngos ngosan, ia tetap melanjutkan meskipun sudah kelelahan. Setelah beberapa menit kemudian ibunya datang menghampiri nya dengan membawa sebuah jus jeruk.
"Minum dulu gih, lagian kamu kok tumben mengangkat barbel sampe satu jam gini. Biasanya kamu cukup tiga puluh menit" ucap Mela.
Keenan yang merasa kehausan langsung mengambil jus yang diberikan ibunya dan langsung meminumnya sampai habis.
"Keenan ngelakuin ini cuma mau menjaga kebugaran tubuh aja Ma, biar dikira Hot gitu sama si janda"
Mela menggelengkan kepalanya, lalu ia duduk di samping Keenan. "Mama dengar hari ini Syafira mau periksa kandungan, kamu tidak mau menemani?"
"Dari mana mama tahu kalau Syafira akan periksa kandungan hari ini?" tanya Keenan.
"Mama tuh tadi lagi telfonan sama Jeng Wina. Terus dia bilang kalau nanti siang mau memeriksa kandungan Syafira. Kamu temani gih, kamu kan calon suaminya" ucap Mela.
Keenan mengangguk singkat sebelum menjawab. "Ya udah Keenan mau mandi dulu dan siap siap"
"Oke"
Di lain tempat
Syafira sedang menyiram bunga di taman belakang rumahnya. Bunga itu adalah bunga pemberian almarhum neneknya. Syafira sangat menyayangi bunga itu sama seperti ia menyayangi neneknya sendiri. Setiap hari Syafira selalu menyiram dan merawatnya dengan sepenuh hati. Menurut Syafira, ia masih bisa merasakan kasih sayang neneknya dari bunga itu.
Setelah menyiram bunga, Syafira masuk ke dalam rumahnya. Ia bergegas membersihkan diri dan mandi.
Beberapa saat kemudian, Syafira sudah selesai mandi. Ia memilih pakaian yang agak longgar karena perutnya sekarang sudah semakin membesar. Dan baju baju lainnya kebanyakan sudah tidak muat lagi.
Setelah memilih pakaian ia langsung memakainya dan keluar dari kamar. Ia menemui kedua orang tua nya di bawah. "Ayah, ibu Syafira berangkat ke cafe dulu" ucap nya.
"Ke cafe? Sayang hari ini kamu ada jadwal periksa kandungan kan?" ucap Wina.
"Lagian perut kamu sudah membesar, kamu tidak boleh kecapean. papa akan carikan orang yang bisa mengurus cafe mu." ucap Tio.
"Tapi ayah.."
"Tidak ada tapi tapian sayang, ini semua demi kebaikanmu. Ayah tidak mau kamu sampai kelelahan karena mengurus cafe mu itu"
Syafira hanya bisa mengangguk, padahal ia ingin sekali tetap bisa mengurus cafe nya itu. Namun ia bisa berbuat apa? Dirinya sudah hamil 6 bulan dan itu artinya ia harus banyak banyak beristirahat.
"Oh iya tadi ibu nelfon Jeng Mela, calon mama mertuamu itu. Ibu tadi bilang kalau kamu akan memeriksa kandungan, mungkin nanti Keenan akan menemanimu" ucap Wina.
Benar saja, Keenan langsung menghubunginya. Syafira pergi sedikit menjauh dari kedua orang tua nya. "Janda, mama bilang hari ini kamu mau cek kandungan?" ucap Keenan.
"Iya om"
"Biar aku saja yang menemani kamu. Soalnya mama hari ini minta diajarin membuat kue sama ibu kamu" jawab Keenan lagi.
"Baiklah kalau begitu, jam sepuluh om sudah harus jemput aku."
"Oke"
__ADS_1
Syafira langsung mematikan telfon nya. Karena jam masih menunjukkan pukul 8, Syafira memutuskan untuk browsing tentang kehamilan dan bayi bayi. Ia juga membaca artikel tentang melahirkan seorang anak.
"Wanita akan mengeluh kesakitan saat akan melahirkan seorang bayi. Ia butuh seorang suami di sampingnya untuk menemaninya. Karena kehadiran suami bisa membuatnya semangat"
"Aku belum punya suami, masa aku harus minta ditemani sama ayah. Bisa bisa aku digampar sama ibu" gumam Syafira.
Lalu Syafira melanjutkan membaca artikelnya. "Saat melahirkan, seorang wanita akan merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan bisa mengancam nyawa. Tapi setelah melahirkan sang buah hati, seorang wanita pasti akan tersenyum, dan bahagia".
"Aku gak peduli sesakit apapun itu, aku harus kuat menghadapinya. Demi anakku, ayah, ibu dan Om Keenan"
Syafira memegang perutnya, ia membayangkan bagaimana masa depannya bersama Keenan dan Anaknya.
Sementara Adit, ia bersiap siap untuk menjemput Rena dan mengantarnya ke bandara. Tak dapat dipungkiri bahwa ia masih peduli pada gadis itu. Meskipun gadis itu yang menyebabkan semua masalah ini, Adit masih tetap memiliki secuil rasa padanya. Tapi Adit berusaha menutupinya.
Adit ingin bertanggung jawab pada Syafira, karena bagaimana pun juga itu semua adalah kesalahannya. Tapi sepertinya Adit tidak akan bisa diterima lagi oleh Syafira. Syafira sudah dimiliki oleh orang lain.
Adit berada di ambang dilema, di satu sisi ia masih mencintai Rena dan di sisi lain ia ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Adit akui kalau Rena seharusnya tidak melakukan ini padanya. Ia juga sangat menyesali perbuatan dari mantan kekasihnya itu.
Adit mengambil kunci mobilnya dan pergi ke rumah Rena. Ia menjalankan mobilnya dengan mengebut.
Setibanya di rumah Rena, Adit melihat rumah Rena sudah kosong. Adit memanggil Rena, tapi nihil tak ada jawaban sama sekali.
Adit melirik ke seluruh rumah, ia pikir pasti Rena meninggalkan sesuatu. Matanya menemukan sesuatu. Surat, Adit menemukan surat di bawah pintu rumah Rena.
Adit mengambilnya dan membacanya
"Adit, mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi. Maaf aku tidak sempat memberi tahumu. Aku minta maaf kalau aku membuatmu mendapat masalah itu. Aku pergi dit, dan aku tidak akan kembali lagi. Aku ingin kau bertanggung jawab pada Syafira, dan katakan padanya kalau aku benar benar menyesal dit. Aku tidak berani mengatakan maaf secara langsung pada Syafira. Jadi tolong sampaikan padanya kalau aku benar benar minta maaf. I love you Adit and Good bye"
Adit menyandarkan dirinya di mobilnya. "Kalau pun aku tanggung jawab sama Syafira, itu percuma. Syafira sudah menjadi milik orang lain dan lagi pula aku tidak mencintainya. Rena kenapa kau meninggalkan aku sendirian, aku tahu kalau selama beberapa hari ini aku selalu kasar sama kamu. Tapi bukan berarti kamu bisa meninggalkanku begitu saja"
Tanpa sadar air mata Adit menetes begitu saja. Hatinya begitu lemah, ia sudah tak kuat menahan semuanya sendiri. Cepat atau lambat ia harus menemui Syafira.
Adit masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi.
Jam 09.30
Keenan pergi ke rumah Syafira untuk menemani cek kandungan. Kali ini ia tidak menggunakan motor kesayangannya. Keenan menggunakan mobil baru nya yang ia beli kemarin khusus untuk berjalan bersama Syafira. Keenan rela mengeluarkan uang 10 Miliar hanya untuk membeli mobil itu. Menurutnya harga mobil itu tidak sebanding dengan keselamatan dan keamanan Syafira.
Keenan masuk ke dalam mobilnya dan mulai menjalankannya.
Setelah sampai di rumah Syafira, Keenan turun dari mobilnya. Lalu ia memperhatikan penampilannya di spion mobilnya. Keenan menggulung kemeja nya sampai lengan, kemudian membuka satu kancing kemejanya, sehingga ia benar benar terlihat tampan.
"Perfect" gumamnya.
Setelah itu Keenan berjalan ke rumah Syafira dan mengetuk pintu nya. Wina yang mendengar ketukan pintu langsung membukanya.
"Eh nak Keenan, ayo silahkan masuk" ucap Wina.
"Terima kasih tante" jawab Keenan.
"Kamu duduk dulu ya, tante mau manggil Syafira dulu"
__ADS_1
"Iya tante"
Sementara Keenan menunggu, Wina pergi ke kamar Syafira dan memanggilnya.
"Sayang, di bawah ada nak Keenan."
Syafira yang saat itu sedang asyik membaca artikel pun berhenti. Ia turun dari kasur nya dan bersiap siap.
"Syafira sudah siap bu"
"Ya udah ayo ke bawah"
Syafira dan Wina turun ke bawah dan menemui Keenan. "Nak Keenan, tante titip Syafira ya. Tante mau pergi ke rumah mama kamu, mama kamu minta diajarin cara membuat kue"
"Iya tante, apa perlu Keenan antar?" tanya Keenan.
"Oh tidak usah, tante sudah pesan taksi. Ya sudah kalau gitu tante pergi dulu"
Setelah Wina pergi, Keenan mengalihkan pandangannya ke arah Syafira. Keenan menatap Syafira dari atas sampai bawah. Keenan melihat Syafira dengan pakaian yang sedikit longgar.
"**** Dia benar benar seksi saat berpakaian seperti itu" Gumam Keenan.
Syafira yang melihat Keenan terus menatapnya melambaikan tangan di depan wajah Keenan. "Om, kenapa menatap aku terus sih"
Keenan tersadar dari lamunannya. "Enggak kok, kamu udah siap?" tanya Keenan mencoba mengalihkan perhatian.
"Iya aku udah siap kok" ucap Syafira
"Ya udah yuk berangkat"
Keenan menggandeng Syafira dan keluar dari rumahnya. Dan mereka berpapasan dengan tetangga Syafira. Keenan dan Syafira terus berjalan, tapi langkah mereka terhenti ketika mendengar pembicaraan tetangganya itu.
"Neng Syafira, belum nikah kok udah hamil"
"Atau jangan jangan dia suka main sama om om ya bu" jawab ibu ibu yang satunya.
"Bisa jadi bu"
"Duh gak nyangka ya bu, saya kira Syafira itu gadis baik baik. Eh ternyata dia wanita penghibur"
Keenan yang merasa geram pun langsung menghampiri ibu ibu yang menggosipkan Syafira. "Syafira, hamil bukan karena om om. Dia hamil anak saya, dan saya juga yang menghamilinya. Saya minta ibu ibu berhenti menggosipkan Syafira. Atau ibu ibu mau saya hamili juga?"
Mendengar perkataan Keenan, mereka ketakutan dan langsung pergi. Syafira menghampiri Keenan. "Om, kenapa om bilang seperti itu. Padahal om tidak melakukannya. Aku tidak ingin om mendapat citra yang buruk dari orang orang"
Keenan menatap Syafira lalu memegang kedua bahunya. "Janda, aku tidak kuat melihat kamu dihina seperti tadi. Aku tidak ingin kamu mendengar hal itu lagi. Biar lah aku yang menanggung nya."
Syafira menangis terharu, ia sangat beruntung karena memiliki dan dimiliki laki laki seperti Keenan.
"Om, aku tidak tau harus membalas semua perbuatan baik om padaku" ucap Syafira.
"Aku tidak meminta kamu membalasnya. Aku hanya minta kamu selalu tersenyum. Itu saja.
Syafira menyunggingkan senyum terbaiknya. Membuat Keenan tersenyum senang. Lalu Keenan membawa Syafira masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi.
__ADS_1
"Tidak peduli seberapa banyak orang yang membencimu, aku tetap akan mencintaimu---Keenan Aldebaran Bright"
"Bukan hanya fisikmu yang indah, tapi perbuatanmu juga----Syafira anindita putri"