
Pagi ini Deno bangun seperti biasa, ia mencium aroma masakan yang menyengat dari arah dapur. Dengan hanya menggunakan Boxer Deno pergi ke dapur dan mencari keberadaan istrinya.
Deno melihat Riya yang sedang menggoreng ikan. Deno berjalan menghampirinya dan memeluknya dari arah belakang. "Morning sayang" ucapnya dengan suaranya yang serak.
Riya tidak perlu menoleh lagi, ia tahu siapa pelakunya.
"Morning too Mas, cepat mandi dulu. Aku masih menggoreng ikan buat kita sarapan nanti" Deno menumpu kepalanya di atas bahu Riya sambil melingkarkan tangannya di tubuh Riya.
"Aku masih ingin lihat kamu masak" ucapnya. Riya tak berbicara lagi, ia membiarkan suaminya melakukan sesuka hatinya. Beberapa menit kemudian ikan yang ia goreg sudah matang, Riya mematikan kompornya lalu berbalik ke arah suaminya yang masih memeluknya.
"Kok masih pake boxer sih Mas, mendingan kamu ke kamar dulu habis itu kita sarapan. Atau kamu bisa langsung mandi dulu. Masa cuti kamu kan udah habis, nanti kamu harus berangkat ke rumah sakit lagi"
"Enggak, masih belum. Besok baru aku kembali kerja. Sekarang kan masih tanggal 11. Dan aku ngambil cuti sampai tanggal 12. Jadi hari ini aku akan tetap di rumah" Riya mengangguk.
"Ya udah. Mas yakin mau sarapan cuma pake boxer doang?" Riya melihat tubuh Deno yang begitu bagus dari atas sampai bawah. Apalagi bagian tubuh Deno ada roti sobeknya itu membuat Riya salah fokus.
"Yakin, ayo siapkan sarapannya. Aku akan menunggu di meja makan" Deno berjalan ke arah meja makan. Lalu Riya mengambil piring dan meletakkan ikan yang ia goreng tadi di atas piring.
Setelah semuanya selesai, Riya menghidangkan semuanya di atas meja. Piring daj gelas pun sudah ia siapkan. Riya menata semua makanannya dengan Rapi. Ada Nasi, Ikan gurame, kepiting dan tidak lupa sayur bayam yang akan melengkapi makanan mereka.
"Siapin makananku seperti biasa ya" ucap Deno. Riya mengangguk, lalu ia mengambilkan nasi untuk Deno dan memberikan lauknya di atas nasinya. Beberapa bulan bersama Deno membuat Riya tahu bahwa porsi makanan Deno lebih sedikit dari pada orang pada umumnya. Saat ditanya alasannya apa Deno hanya menjawab sedang diet.
"Ini Mas" Riya menyerahkan makanannya pada Deno. "Terima kasih" Riya mengangguk. Lalu ia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Deno memakan makanannya dengan lahap, masakan Riya sangat enak baginya. Bahkan melebihi dari masakan Sofi ibunya.
"Mas, sore nanti aku ijin yah. Aku mau ketemu Alfon, aku kangen sama dia" ucap Riya. Mulai sekarang apapun yang ia lakukan harus mendapat persetujuan dari suaminya. Karena sekarang Riya sudah bersuami.
"Boleh, sekalian aku ikut ya. Aku juga ingin bermain dengan anak kamu itu" Riya tersenyum lalu mengangguk.
.
__ADS_1
.
Hari ini adalah hari kebengkatan Keenan dan Syafira ke korea, mereka sudah memacking barangnya sejak kemarin. Jadi hari ini mereka tinggal berangkat. Syafira dan Keenan juga mengajak si kembar bersama mereka. Mereka tidak mungkin meninggalkan keduanya bersama Mahendra.
"Pa, Keenan berangkat dulu. Nanti kalau Keenan sudah sampe disana. Keenan akan langsung menghubungi papa" pamit Keenan pada Mahendra. "Baiklah, kalian hati hati di jalana. Ke bandaranya biar sopir saja yang mengantar kalian"
"Syafira pamit yah pa, papa jaga diri disini. Ingat, papa juga gak boleh makan makanan yang mengandung kolestrol lagi. Nanti papa kumat lagi" ucap Syafira. Mahendra hanya tertawa. "Tenang saja, nanti papa minta si bibi yang masakin"
Mahendra menyewa 1 pembantu di rumahnya. Ia tidak ingin merepotkan anak dan menantunya jika mereka tak ada. "Baiklah kalau begitu kita berangkat pah. Azka Azkia ayo salaman sama Opa."
Azka dan Azkia langsung mencium tangan Mahendra. "Kita berangkat ya opa, opa jangan sedih. Nanti kalau Kia pulang kia bawain opa oleh oleh yang banyak"
"Iya opa, Nanti Azka juga belikan opa banyak hadiah." Mahendra berjongkok di hadapan mereka lalu memeluknya satu persatu. "Opa tidak minta oleh oleh, yang penting kalian selamat sampai tujuan itu sudah membuat opa senang"
Setelah berpamitan, Keenan mengangkut barang barang mereka ke dalam bagasi mobil.
2 jam kemudian, Keenan dan Syafira sudah berada di bandara. Sopir mereka juga telah meninggalkannya. Keenan dan Syafira bersiap siap untuk chech in dulu. Mereka menggendong si kembar demi keamanan mereka.
"Ya udah terserah, ayo kita check in dulu. 20 menit lagi pesawan akan lepas landas. Syafira mengangguk lalu mereka pergi check in. "Nda kita mau naik pesawat ya?" Tanya Azkia.
"Iya sayang kita naik pesawat sama bunda dan ayah. Kita mau ketemu Kak Keysan disana. Kia senang kan?" Azkia mengangguk. Ini adalah pertama kalinya Keenan mengajak anak anaknya bepergian jauh. Biasanya ia menitipkan mereka pada Mahendra.
Tapi karena Mahendra sekarang sudah mempunyai Alfon yang harus dijaga. Keenan memutuskan untuk membawa anak anaknya saja, lagian ia juga sekalian mau berlama lama disana. Mumpung ada kesempatan.
Setelah melakukan check in, Keenan dan Syafira segera naik ke atas pesawat. Mereka mencari tempat duduk sesuai dengan yang ada di tiket mereka. "Itu, kita duduk disana. Kursi nomor 151 dan 152" ucap Keenan.
"Ya udah ayo kita kesana" setelah itu mereka duduk di kursinya masing masing. Keenan dan Syafira mendudukkan Si kembar di tengah tengah mereka. "Papa nanti Azka kalau besar mau nerbangin pesawat. Biar pesawatnya terbang."
"Azka mau jadi pilot?" Tanya Keenan sambil menatap putranya. "Pilot itu apa?" Tanya Azka dengan polosnya. "Pilot itu orang yang nerbangin pesawat. Nanti kalau Azka mau nerbangin pesawat harus jadi pilot dulu"
__ADS_1
Azka mengangguk. "Iyah Azka mau jadi pilot biar hebat kayak papa Mario." "Kia juga mau jadi pilot papa" Azkia ikut ikutan berbicara. Azka menatap sang adik. "Kamu perempuan, gak boleh jadi pilot."
"Tapi kan aku mau nemanin abang" Azkia mengerucutkan bibirnya. "Azkia jadi pramugari aja." Sahut Syafira yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
"kalau pramugari nanti bisa nemani abang bunda?" Syafira mengangguk dengan cepat. Kalau ada pilot harus ada pramugari juga. Insya allah kalau Azkia rajin rajin berdoa, nanti Azkia bisa satu pesawat sama abang. Iya enggak bang?"
"Iya dong Bund, tapi nanti kalau Kia nya nangis atau takut. Azka gak mau tanggung jawab."
Azkia berdiri lalu berkacak pinggang di depan Azka. "Kia bukan penakut, Abang tuh yang penakut. Sama kecoa aja takut hihi" Azkia terkikik geli membuat wajah Azka cemberut.
Keenan dan Syafira saling bertatapan. Tangan mereka saling bertautan, mereka saling melempar senyum. "Setelah pesawat ini terbang, kisah kita akan benar benar berakhir."
"Walaupun kisah kita tidak seindah romeo dan juliet. Tapi kisah kita cukup mengukir di hati kita."
"Kita akhiri kisah kita dengan pernyataan cinta"
"I love you Syafira Anindita putri"
"I love you too Keenan Aldebaran Bright"
Tepat saat mereka mengatakan itu, pesawat mereka benar benar terbang. Kini mereka bisa melihat gumpalan awan di atas langit.
Syafira Anindita putri
Keenan Aldebaran Bright, sosok laki laki senpurna yang datang dalam hidupku. Dia datang tanpa kuharapkan, membawa sejuta kebaikan dalam dirinya. Dia berhasil memikatku hanya dengan sebuah tatapan mata. Dia adalah laki laki kedua yang aku cintai setelah ayahku sendiri. Dan laki laki ini sekarang berada du sampingku, dia lah suami tercintaku.
Keenan Aldebaran Bright
Syafira anindita putri, seorang perempuan yajg berhati lembut, dia seperti hujan yang sehabis jatuh dan bangkit laki. Awal pertemuanku dengan dia adalah di jalan raya melalui tatapan mata. Parasnya yang cantik dan hatinya yang putih bersih membuatku tertarik padanya. Hingga aku membawanya dan mengenalkannya pada orang yang kucintai. Ibuku.
__ADS_1
.