
Di pagi hari, suasana rumah Mahendra sangat ramai karena adanya penghuni baru di rumah tersebut. Riya sedang bermain main dengan Azka dan Azkia sambil menggendong Alfon.
"Ude ude, edeknya au usu tuh" (Buda bude, adeknya mau susu tuh) ucap Azka pada Riya. Riya menatap Alfon di gendongannya dan memang benar, Alfon sedang kehausan. Mulutnya terus bergerak gerak dari tadi.
"Bude mau nyusuin adek dulu ya? Azka sama Azkia disini dulu sama bunda dan yang lainnya. Nanti main lagi sama Bude" ucap Riya memberi pengertian kepada anak anak kembar itu.
"Itut ude, kia au ikut. Kia au liat edek ecil" (Ikut bude, kia mau ikut. Kia mau liat adek kecil" "baiklah, ayo jalan pelan pelan ya. Azka mau ikut juga?" Azka mengangguk dengan cepat.
Riya mengajak Azka dan Azkia ke dalam kamarnya untuk menyusui Alfon. Sementara Keenan dan Syafira mereka sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton Tv.
"Papa mana Mas?" Tanya Syafira pada Keenan ketika tak melihat Mahendra dari tadi. "Papa lagi ke kantor, ia mau mengurus semuanya. Sebentar lgi kan papa mau memberikan perusahaannya padaku?"
Syafira mengangguk lalu ia menatap wajah Keenan. "Mas wajah kamu kok udah kerutan sih pasti kamu sering mengerutkan kening kan?" Tanya Syafira. "Mana?" Tanya Keenan.
Syafira menyentuh kening Keenan dan menghapus kerutan di dahinya. "Ini lo, mas kok gak nyadar sih. Padahal mas sendiri yang punya kerutan". "Mas mana bisa liat sayang?"
Syafira menyandarkan dirinya di dada Keenan. Sudah lama ia tidak bermesra mesraan dengan keenan karena sibuk mengurus kedua anak anaknya itu.
"Mas, aku sayang banget sana Mas" Keenan terkekeh kemudian ia mengecup kening syafira kemudian hidungnya. Lalu beralih lagi pada bibirnya. Keenan membawa tangan syafira agar mengalungkan tangannya di leher.
Lalu mereka saling berhadapan. "Beri Mas ciuman. Mas tidak pernah dapat jatah jadi ciuman pun boleh lah sebagai gantinya" ucap Keenan.
"Nanti ada yang liat Mas" ucap Syafira. Keenan melirik ke arah semua ruangan dan tidak melihat siapa siapa. "Tidak ada siapa siapa disini, ayolah satu ciuman saja." Rengek Keenan.
"Tidak ada yang akan melihat kita, anak anak sedang bersama ibu Riya. Dan papa lagi pergi ke kantor. Sekarang di ruangan ini hanya ada kita berdua" ucap Keenan. Tangannya menangkup wajah Syafira.
"Jadi, boleh?" Syafira mengangguk, Keenan mendekatkan wajahnya pada wajah syafira dan membungkam mulut Syafira dengan bibir seksinya. Keenan mencium syafira sambil memutar wajah mereka seperti di drakor yang pernah ia tonton dengan Syafira.
"Ish apa, apa kok akan bibil nda cih" (Ish papa, papa kok makan bibir bunda sih) Syafira dan Keenan terkejut mendengar suara anaknya. Mereka melepaskan ciumannya dan menatap anak tertuanya.
"Eh Azka ada disini Nak. Bukannya tadi sama bude Riya" Azka naik ke atas sofa lalu duduk di pangkuan Syafura. "Angan akan bibil nda, angi bibil nda habis imakan apa" (jangan makan bibir bunda, nanti bibir bunda habis dimakan papa)
Keenan dan Syafira yang terciduk sedang berciuman oleh anaknya wajahnya memerah. Mereka salting di depan anaknya sendiri. "Papa tadi cuma minta permen sama bunda, makanya papa makan bibir bunda" jelas Keenan dengan bahasa yang halus.
'Kalau itu ka au akan bibil nda ugq kalo ad pelmennya" (kalai begitu Azka mau makan bibir bunda juga kalau ada permennnya. Ucap Azka dengan wajah polosnya. Syafira menepuk bahu Keenan dengan kencang.
"Kamu sih Mas" ucapnya. Keenan hanya cengegesan kemudian menatap Azka dengan gemas. "Azka gak boleh makan bibir bunda, kan waktu kecil azka sudah makan dada bunda. Jadi bibir bunda buat papa aja yah.
"Ndak au, au ama nda aja. Alo ama apa, apa ebelin. Ka ndak uka. (Enggak mau, aku sama bunda saja. Kalo sama papa, papa nyebelin. Azka tidak suka)
"Azka, enggak boleh gitu ngomongnya sama papa. Ayo azka minta maaf dulu sama papa" ucap Syafira pada Azka. Syafira selalu mengajarkan kedua anak anaknya untuk tetap sopan dengan orang tua.
Meskipun Azka dan Azkia masih kecil. Tapi pendidikan itu harus ia tanamkan pada anak anak nya sejak kecil. Agar kelak ketika dewasa mereka sudah terbiasa.
Azka mengangguk, ia memeluk Keenan dengan tangan kecilnya. Keenan juga ikut memeluk Azka. Syafira ynag melihat anak dan suaminya sedang berpelukan. Perasaannya membuncah.
Tiba tiba Riya datang dan keluar dari kamar beserta Azkia di sampingnya. "Tante, Alfon sudah tidur?" Tanya Syafira ketika melihat Riya yang berjalan ke dekatnya.
Riya mendudukkan dirinya di sofa sebelum menjawab pertanyaan Syafira. Kemudian Riya memangku Azkia di pangkuannya. "Alfon baru saja tidur, tante sudah menidurkannya di box dalam kamar" ucap Riya.
"Ibu, Keenan boleh bertanya?" Tanya Keenan sambil menatap Riya. "Boleh, mau nanya apa?" Tanya Riya. "Sudah berapa lama ibu mengenal istri saya?" Tanya Keenan.
Riya menatap Syafira sekilas kemudian menjawab pertanyaan Keenan. "Saya sudah mengenal Syafira dari kecil. Semenjak dia lahir. Waktu Wina melahirkan saya juga ikut menemaninya." Jawabnya.
__ADS_1
"Sepertinya ibu sangat mengenal istri saya, makanya saya penasaran dan bertanya sama ibu" jawab Keenan lagi. "Dulu Syafira waktu kecil sangat nakal dia sering berantem dengan teman temannya bahkan memukul temannya. Syafira juga suka mencuri sandal milik tetangga di rumahnya sampai semua tetangganya mengeluh pada wina"
"Saya masih ingat dengan jelas kejadian itu." Keenan tertawa mendengar kisah syafira waktu kecil. Syafira melotot pada Riya yabg membongkar aib kecilnya. "Tante, kok dibongkar sih" kesalnya.
Riya terkekeh geli melihat Syafira yang kesal. "Tante hanya menjawab pertanyaan suamimu saja bukan membongkar aib mu sapi" jawab Riya. "Terserah tante saja deh"
"Assalamualaikum" tiba tiba Mahendra datang dengan membawa beberapa kantong belanjaan. Semuanya menoleh pada Mahendra yang baru saja tiba.
"Ini, saya membawakan makanan kesukaanmu" Mahendra menyerahkan satu bungkus soto betawi pada Riya. Riya menatap Mahendra. "Dari mana anda tahu saya suka soto betawi?"
Mahendra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Riya. Keenan meledek Mahendra. "Ah ibu palingan papa mencari tahu semua tentang ibu makanya papa bisa tahu" Keenan menggoda Mahendra.
"Tidak tidak, saya hanya diberi tahu wina saja." Elak Mahendra. Mahendra tidak sepenuhnya benar karena ia yang meminta Wina untuo memberi tahu semuanua tentang Riya.
"Keenan sudah mengenal papa dengan baik. Pasti papa bertanya pada ibu Wina kan? Jujur aja pa. Papa gak bisa berbohong dengan keenan"
Wajah Mahendra memerah, ia segera meletakkan soto betawi itu di tangan Riya dan pergi ke dalam kamarnya untuk menemui Alfon. Keenan tertawa terbahak bahak melihat tingkah papa nya yang malu malu kucing.
Keenan berharap Mahendra bisa bahagia setelah ditinggalkan oleh Mela. Keenan setuju saja kalau Mahendra ingin menikah lagi asal jangan sampai melupakan Mama nya. Karena Mela adalah istri pertama darinya dan ibu pertama dari putranya.
"Saya mau makan ini dulu, apa kalian juga mau? Saya bisa membaginya kalau begitu" ucap Riya menawarkan soto nya pada Keenan dan Syafira. "Tidak usah tante, syafira dan Mas Keenan sudah kenyang. DiMakan tante saja" jawab Syafira.
Riya mengangguk lalu ia membawa sebuskus soto betawinya ke dapur untuk ia makan.
.
.
Markas Lavenzi belakangan ini mulai sepi karena semua anggotanya sedang liburan bersama keluarga. Hanya menyisakan anggota inti saja. Siapa lagi kalau bukan Rangga, Dito, Reno, Farhan dan Kevan. Sedangkan Eka ia pergi ke rumah istrinya untuk menjemputnya dari sana.
"Main ke rumah Keenan aja yuk. Gue kangen si kembar" ucap Reno pada yang lainnya. "Boleh deh, yuk kita berangkat"
Suara deruman motor berhenti di Apartemen Keenan. Keempat anggota Lavenzi itu melepaskan helm nya dan turun dari atas motor. Keempat pemuda itu menatap Apartemen Keenan yang sudah kosong.
"Apartemen Keenan kok tiba tiba kosong?" Ucap Kevan. Karena Apartemen Keenan sangat sepi dan kelihatan seperti tidak ada penghuninya.
"Apa Keenan pindah rumah ya?" Tanya Dito. "Bentar deh, gue telfon Keenan dulu buat mastiin semuanya" ucap Farhan yang langsug diangguki oleh semuanya.
Farhan mencari kontak Keenan di ponselnya kemudian ia menelfonnya. "Halo Nan" "Kenapa Han?" Tanya Keenan dari sebrang sana. Farhan menatap semua teman temannya.
"Ini gue sama yang lain ada di depan apartemen lo, tapi kok kosong. Lo dimana emangnya?" Tanya Farhan sambil menunggu jawaban dari Keenan.
"Gue tinggal di rumah papa sekarang. Apartemen memang sengaja gue kosongin. Kalau lo mau kesini. Kesini aja sekarang mumpung gue lagi ada di rumah" ucap Keenan.
"Oke, gue dan yang lainnya otw nih." Farhan mematikan telfonnya kemudian menatap teman temannya secara bergantian. "Kuy kita ke rumah om Mahendra aja. Katanya keenan tinggal disana lagi" ucap Farhan.
"Kenapa Keenan bisa pindah kesana pagi?" Heran Dito. "Mungkin Keenan tidak ingin membiarkan om Mahendra tinggal sendiri. Kan om mAhendra baru saja kehilangan istrinya dan meninggalkan alfon bersamanya' ucapnya.
"Daripada lama lama disini mending kita pergi secepatnya. Biar cepat sampe juga" ucap Rangga. Semuanya mengangguk lalu naik ke atas motornya lagi dan segera pergi menuju Rumah Mahendra.
Dua puluh menit kemudian, Reno mengetuk pintu rumah Mahendra. Ia sudah bosan menggunakan bel jadi dia menggunakan cara yang paling praktis.
Syafira yang nendengar suara ketukan pintu langsung membuka pintunya lebar lebar. Ia melihat lima pemuda alias anggota Lavenzi sedang berkunjung ke rumahnya.
__ADS_1
"Ore, Ohan, Odit, Orang, kak Kevan ayo silahkan masuk" ucap Syafira. Syafira nenyingkat nama mereka dengan tambahan huruf O di depan namanya kecuali Kevan. Karena Kevan memintanya untuk memanggil kakak saja.
"Keenannya ada neng?" Tabya Reno pada Syafira. "Ada, bentar Syafria panggilin dulu" semuanya mengangguk lalu mereka menunggu Keenan di sofa ruang tengah.
Lima menit kemudian Keenan keluar dengan menggendong Azkia. Ia menatap teman temannya satu persatu. "Ada apa kalian kesini? Pasti lagi pada gabut kan. Kalau gak gabut mana mungkin kalian datang"
"Tau aja lo Nan, gue kesini karena kangen sama Azkia. Gak tau kalo yang lain" ucap Reno. Kemudian Reno mengulurkan tangannya pada Azkia tapi Azkia memalingkan wajahnya dari Reno dan malah menghampiri Kevan.
"Ren Ren, anak kecil aja gak mau sama lo' ucap Rangga. "Azkia itu sukanya sama yang kalem kayak Kevan jadi mungkin itu sebabnya ia memilih Kevan daripada Lo"
"Emangnya gue gak kalem Nan? Kata Nyokap gue, gue itu anak uang paling kalem kok" jawab Reno yang langsung ditoyor oleh Dito. "Itu sih kata nyokap lo, bukan kata Azkia
"Om Epan, ok ama ndak ain kecini ama om leno iga" (Om Kevan kok lama tidak main kesini sama om Reno juga) ucap Azkia sambil menatap Kevan. "Om Kevan sibuk sayang kalau Om Reno gak dibolehin keluar sama mamanya. Katannya takut diculik' jawab Kevan dengan bercanda
Reno hanya memutar bola matanya. "Om Kevan bohong sayang, Om reno selama ini lagi nyari hadiah buat Kia" ucapnya. "Adi yang benel yang ana, om leno apa om epan. Ata nda boomg itu osa. Adi ciapa yang agi boongin Kia"
(Om Kevan bohong sayang, Selama ini om Reno lagi nyari hadiah buat Kia)
(Jadi yang bener yang mana, om reno spa om kevan, kata bunda bohong itu dosa. Jadi siapa yang lagi bohongin Kia)
"Anak lo pinter banget ngomongnya Nan' icap Dito. "Keturunan gue tyh" jawab Keenan.
"Om Kevan yang lagi bohong sayang, Om Reno mana pernah bisa bohong sama Kia" kata Reno sambio menatap pipi chubby milik Kia. "Om evan nda oleh ohong lagi, anti idung om evan akin anjang ayak inocio"
(OM Kevan enggak boleh bohong lagi, nanti hidung om Kevan makin panjang kayak pinocchio" jawab Azkia dengan bahasa cadelnya.
'Iya deh, om Kevan janji"
"Lo berdua cocok jadi spealis anak kayak Keenan
Keenan dan teman temannya menghabiskan waktu dengan bermain bersama Azkia. Sedangkan Azka sudah tidur bersama Syafira di kamar. Azkia mengajak mereka untuk bermain boneka. Tentu saja semuanya mau bermain dengan Azkia.
"Om leno onekanya angan icubit anti ia kecakita au gak" (Om reno bonekanya jangan dicubit nanti dia kesakitan tau gak) ucap Azkia ketika melihat Reno mencubit cubit bonekanya.
"Tapi kan boneka benda mati Kia, jadi gak bisa merasa sakit" jelas Reno pada Azkia. Azkia berdiri lalu menghampiri Keenan dan memeluk lehernya. Kemudian mengadu pada Keenan.
"Apa om leno akal ama oneka itu, om leno cuka cubit oneka lucu kia apa. Olong ilangin ong ada om leno" (Papa, om Reno nakal sama boneka itu, Om feno suka cubit boneka luci kia papa. Tolong bilangin dong sama om Reno)
"Cie Azkia ngsdu sana bapaknya" ledek Dito pada Azkia. Tapi Azkia tidak mengerti dengan perkatana Dito jadi ia hanya diam saja sambip memeluk leher Keenan dengan erat.
"Ren jangan suka nyubitin Boneka deh, bikin kesal Azkia aja" ucapbya pada Reno. "Ya allah Nan, bonekanya aja gak protes gue cibit. Kok lo sama azkia yang protes. Nih gue coba lagi" Reno mencubit boneka Azkia dengan keras.
Bukannya bonekanya yang menangis tapi malah Azkia. Azkia menagis dengan keras karena Reno mencubit bonekanya. "Gara gara lo sih Ren, Kia jadi nangis kan"
Keenan berusaha menenangkan Azkia yang menangis di pelukannya. Ia melemparkan gulungan gertas yang ada di atas meja pada Reno karena telah membuat putrinya menangis.
"Tanggung jawab Lo Ren, udah gue bilangin jangan dicubit malah dicubit. Ngeyel sih" ucap Keenan pada Reno. Reno hanya menatapnya tak bersalah. "Sini Kia gendong sama om, nsnti om pukulin Om Renonya biar gak nakal lagi"
Azkia mengulurkan tangannya pada Dito. Dito mengambil alih Azkia dari gendongan Keenan. Kemduian ia pura pura memukul Reno dengan keras agar Azkia berhenti menangis.
Azkia berhenti menangia, ia tertawa nelihat Dito memukul mukul Reno. Sedangkan Kevan rangga dan Farhan hanya menggelengkan kepalanya melihat djto dan Azkia.
"Pukul lagi om renonya" Dito mengarahkan tangan Azkia pada kepala Reno agar memukulnya. Azkia pun memukulnya walau pukulan itu sangat tidak terasa bagi Reno.
__ADS_1
"Aduh sakitnya..." Reno pura pura mengaduh agar Azkia tertawa lagi. Azkia benar benar tertawa melihat Reno diperlakukan seperti itu. Sedangkan Keenan kembali tersenyum melihat putrinya tertawa lagi.
Kebahagiaan orang tua adalah melihat anak anaknya bisa bahagia dan tersenyum. orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak anaknya, mereka tidak pernah mengharapkan balasan apapun dari kita. mereka melakukannya dengan ikhlas tanpa harus dibayar. ingatlah, Ridho allah tergantung pada ridho orang tuamu.