Bukan Janda

Bukan Janda
Lagi dan Lagi


__ADS_3

Seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka. Ia adalah Stevano adrian, pemilik dari cafe ini. Pak Stev menyambut mereka dengan baik, karena sebelum datang kesini Tio sudah mengabarinya terlebih dahulu.


"Selamat datang Pak Tio" ucap pak Stev sambil menyalami Tio.


"Kau itu sahabatku, jadi jangan panggil aku pak. Aku jadi merasa tua saja" ucap Tio.


Stev dan Tio adalah sepasang sahabat. Mereka mulai bersahabat saat masih SMA dulu. Persahabatan mereka berlanjut sampai sekarang.


Dulu Stev hanya anak orang miskin, dia tak mampu untuk melanjutkan kuliah. Pekerjaan ayah Stev dulu adalah seorang pemulung. Namun atas kebaikan Tio. Tio membiayai kuliah Stev. Tio ingin Stev bisa sukses bersamanya.


Stev tertawa mendengar perkataan Tio. Ia memeluk sahabatnya lalu mempersilahkan duduk. Tio, Wina dan Syafira duduk di tempat yang telah disiapkan.


"Bagaimana kabarmu dan keluargamu?" tanya pak Stev pada Tio.


"Seperti yang kau lihat,Kami baik baik saja. Lalu bagaimana denganmu?" ucap Tio.


Pak Stev tersenyum. "Aku baik baik saja,sama seperti mu"


"Oh iya perkenalkan ini istriku Wina dan ini putriku Syafira" ucap Tio sambil memperkenalkan istri dan anaknya pada pak Stev.


Pak Stev tersenyum pada wina dan Syafira.


"Putri mu sangat cantik sekali, dia sangat mirip denganmu" puji Pak Stev.


"Tentu saja, siapa dulu ayahnya" bangga Tio.


Mereka semua tertawa kecil tanpa terkecuali.


"Oh iya kedatanganku kesini, Aku ingin menyewa cafe ini untuk putriku. Dia ingin bekerja" Ucap Tio sambil menoleh pada Syafira. Yang dibalas dengan senyuman tipis oleh Syafira.


Pak Stev mengernyitkan dahi nya. "Kenapa harus menyewa, putri mu bisa menggunakan nya tanpa sewa, anggap aja ini cafe mu sendiri" ucap Pak Stev.


"Tidak usah pak, kami tidak enak." Sahut Wina.


"Iya om, Syafira juga tidak enak sama om" lanjut Syafira.


"Tidak usah sungkan, aku bisa sukses seperti ini karena bantuan dari Tio. Anggap saja ini sebagai bentuk balas budi dariku" jawab Tio


"Tunggu sebentar" Pak Steve pergi ke dalam cafe nya. Dan keluar sambil membawa sebuah kertas.


"Ini sertifikat cafe ini" Pak Steve menyerahkannya pada Syafira.


Tio dan Wina saling menatap. Mereka berdua tidak bisa menolak. Akhirnya mereka menerimanya juga walau dengsn sedikit paksaan.


Syafira menerima sertifikatnya dari tangan Pak Steve. "Terima kasih banyak om" ucap Syafira.


Steve tersenyum tipis, melihat anak sahabatnya ini.


Setelah selesai memberikan sertifikat mereka berbincang bincang sampai lupa waktu. Mereka membicarakan tentang pekerjaan, hobi, bahkan lelucon.


Syafira melihat ke arah jam nya. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Satu jam lagi Syafira akan menemui Adit.


Syafira memberi kode pada ayah nya agar cepat pulang. Tio yang mengerti akan kode dari Syafira langsung berkata.


"Stev, terima kasih atas kebaikanmu. Kami mau pamit dulu." Ucap Tio.


"Kenapa terburu buru?" tanya Pak Stev.

__ADS_1


"Soalnya setelah ini kami masih ada keperluan  lain Stev" jawab Tio.


"Baiklah kalau begitu" ucap Pak Stev pada akhirnya.


"Baiklah, kami pergi dulu" ucap Tio.


Sebelum pergi Tio memeluk pak Stev dengan erat. Wina juga menyalami nya. Sedangkan Syafira ia bersalim pada pak Stev.


"Kalian hati hati di jalan" pesan pak Stev. Tio mengangguk.


Di perjalanan pulang.


"Ayah,  om Stev itu teman sma ayah?" tanya Syafira.


"Iya, Stev itu adalah teman ayah waktu sma. Dia adalah teman terbaik ayah. Ayah tidak berteman dengan siapa pun selain dia." Jawab Tio.


"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Wina.


"Syafira hanya penasaran bu" ucap Syafira.


Kemudian mereka telah sampai di rumah. Mereka semua turun dari mobil. Syafira langsung pergi ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak di kasur.


Syafira tertidur lelap. Mungkin dia kelelahan saat perjalanan tadi. Ia terlihat begitu nyenyak saat tidur. Sampai akhirnya ia terbangun karena suara ponsel nya.


Ternyata pesan dari adit. Adit mengatakan kalau dia akan segera tiba di cafe kyle. Syafira hanya membaca nya tanpa berniat untuk membalas.


Syafira bersiap siap untuk bertemu dengan Adit. Ia mengganti pakaian nya dengan menggunakan rok yang panjangnya sebatas lutut dan menggunakan Kaos bermotif bunga.


Syafira pergi ke luar dan menemui ayah dan ibu nya.


"Syafira, kamu mau pergi kemana?" tanya wina.


"Ayah tadi langsung pergi lagi. Ia di telfon sekretaris nya agar ke kantor" jawab Wina.


"Ya udah Syafira pamit dulu ya bu" dengan cepat Syafira mengambil tangan ibunya dan mencium nya. Kemudian Syafira segera pergi dengan terburu buru.


"Sebenarnya siapa yang ingin ditemui mu nak" batin Wina.


Syafira pergi ke cafe dengan menggunakan taksi. Kemudian setelah sampai ia segera turun dan membayarnya. Syafira berjalan masuk ke dalam cafe. Matanya mencari keberadaan Adit. Kemudian ia menemukanmu adit di meja paling ujung.


Tanpa butuh waktu lama, Syafira langsung saja menghampirinya.


"Kamu sudah nyampek?" tanya Adit.


"Belum" jawab Syafira dengan kesal. Sudah tau dirinya ada disini masih bertanya. Mungkin Sebelum Kesini Adit kejedot pintu kepalanya.


Adit yang merasakan kekesalan Syafira segera berdeham. "Ayo duduk, ada yang ingin ku bicarakan denganmu,ini tentang dirimu" ucap Adit.


Syafira pun segera duduk di depan Adit. "Sebelum kita berbicara, lebih baik kita pesan makanan dulu" ucap Adit.


Syafira mengangguk menyetujui. Adit memanggil pelayan dan mengatakan pesanannya. "Aku mau Sosis udang  minum nya Jus jambu, kamu mau pesan apa?" Tanya Adit pada Syafira.


"Sama kan saja dengan mu" jawab Syafira.


Pelayan itu mencatat semua pesananya lalu pergi. Tak lama kemudian makanan pun datang. Adit dan Syafira langsung memakannya sampai habis.


Setelah selesai makan, Adit menatap Syafira.

__ADS_1


"Maafin aku fir, aku tau anak yang ada dalam kandunganmu itu adalah anak ku. Tapi maaf aku gak bisa bertanggung jawab padamu. Aku akan menikahi pacarku." Ucap Adit dengan tatapan sendunya.


Syafira sudah menduga, bahwa Adit mengajak nya bertemu untuk membicarakan hal ini.


"Kamu brengsek dit, seharus nya aku tidak pernah bertemu denganmu" Syafira menahan air mata nya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Adit.


Di sisi lain. Keenan sedang makan di cafe, cafe dimana Adit dan Syafira berada. Keenan selesai makan dari tadi. Tapi ia tidak ingin pulang ke rumah nya karena di rumahnya ia merasa sangat membosankan.


Keenan melihat lihat keadaan cafe itu, sampai akhirnya matanya tertuju pada seorang gadis.


"Bukan kah itu janda? Mengapa dia ada disini? Dan siapa laki laki itu?" Gumamnya.


Keenan berpindah tempat. Ia mencari tempat yang lumayan dekat dengan meja Syafira. Keenan mendengarkan semua yang di katakan Syafira.


"Maafin aku Syafira" ucap Adit.


"Maaf kamu bilang, memang nya dengan kata maaf aku bisa segampang itu memaafkan dan melupakan semuanya. Kalau kamu tidak menjebakku aku tidak mungkin seperti ini dit " ucap Syafira.


Adit hanya terdiam, ia tahu ini semua salahnya. Tapi ia tidak mencintai Syafira. Ia hanya mencintai pacarnya. Ia melakukan hal itu dengan Syafira karena suatu hal.


Tanpa berkata apa pun lagi, Adit meninggalkan Syafira sendirian. Tes, Air mata yang ditahan sejak tadi akhir nya jatuh dan mengalir di pipi Syafira.


Keenan yang melihat kepergian adit lagsung menghampiri Syafira.


"Janda" Panggilnya.


Syafira menoleh, ia merasa familiar dengan panggilan itu.


"Om ngapain disini?" Tanya nya


"Seharus nya aku yang nanya sama kamu, kenapa kamu bisa ada disini dan kenapa kamu menangis" sebenarnya Keenan sudah tahu alasannya. Tapi ia ingin mendengar langsung dari mulut Syafira.


"Nggak apa apa kok" jawab Syafira. Kali ini ia ragu untuk menceritakan nya pada Keenan, karena ini berhubungan dengan pelaku yang membuat masalah ini.


"Mau aku beli kan permen, susu atau lolipop?" tanya Keenan.


Syafira menatap horor ke arah Keenan. Bisa bisanya ia menawarkan makanan anak kecil.


"Om pikir aku anak kecil apa" jawab nya dengan ketus.


"Kamu bukan anak kecil tapi bocah" jawab Keenan.


"Dari pada kamu nangis gak jelas disini. Mending kamu ikut aku" ucap Keenan. Ia menarik tangan Syafira.


"Om, tunggu dulu" cegah Syafira.


"Kenapa lagi?" tanya Keenan


"Aku belum membayar makanannya" ucap Syafira sambil nyengir.


Dengan cepat Keenan mengeluarkan kartu kredit nya dan membayar makanan Syafira dan cowok brengsek tadi itu. Dia pergi tanpa membayar makanannya. "Dasar cowok kere" gumam Keenan.


Setelah selesai.


"Om, kenapa om yang bayarin sih. Kan aku yang makan" protes Syafira.


"Gak usah bawel, sekarang kamu cukup ikut aku aja"

__ADS_1


Keenan melanjutkan tarik menariknya. Entah kemana ia akan membawa Syafira.


#Kalau kalian jadi Syafira, apa yang akan kalian lakukan pada adit?


__ADS_2