
Setelah selesai melakukan resepsi pernikahan, Kini Keenan dan Syafira sudah berada di kamar hotel. Mereka ingin menghabiskan waktu berdua selama sehari tanpa ada yang mengganggu. Dan itu semua atas kemauan Keenan.
"Om, minggir aku mau lepasin gaun" ucap Syafira. Sedari tadi Keenan terus mengurungnya dengan kedua tangannya.
"Buka disini aja" jawab Keenan.
"Enggak mau, malu. Ayo om lepasin ya" bujuk Syafira.
Keenan langsung melepaskan tangannya dari tubuh Syafira. Ia membiarkan istri nya itu pergi untuk melepaskan gaunnya. Sedangkan Syafira, ia langsung pergi ke kamar mandi.
Syafira berusaha membuka gaunnya dari belakang, namun ia tidak bisa. Syafira bingung ia harus apa, karena ia tidak bisa melakukannya sendirian. "Apa aku minta tolong sama om Keenan aja?" batinnya.
Akhirnya Syafira memanggil Keenan dari dalam kamar mandi. "Om" panggilnya.
"Kenapa sayang?" Sahut Keenan.
"Bantuin aku ngelepasin gaun"
Mata Keenan terbuka lebar. "Ini kesempatan dirinya untuk bisa modus sama istrinya itu"
"Oke bentar"
Keenan masuk ke dalam kamar mandi dan menemukan Syafira yang masih belum bisa melepaskan gaunnya. "Ini gimana cara bukanya?" tanya nya.
"Om tarik aja resleting nya dari atas soalnya tanganku gak nyampe tadi"
Keenan menarik Resleting gaun Syafira secara perlahan lahan. Ia membuka nya sedikit demi sedikit sampai punggung mulus Syafira terlihat. Keenan benar benar terpesona dengan punggung indah milik istrinya itu. Ia mengecup dan memberikan tanda kepemilikan di bagian punggung Syafira.
"Om geli" ucap Syafira.
Keenan tak mempedulikannya, ia membalikan tubuh Syafira sampai mata mereka bertubrukan. Tanpa pikir panjang, Keenan langsung mencium bibir Syafira dengan cepat. Kali ini bibirnya tak tinggal diam, ia ikut bermain main bersama bibir Syafira.
Syafira diam mematung, meskipun ia pernah berciuman seperti ini dengan Adit. Tapi tentu saja rasanya berbeda. Ciuman Keenan lebih lembut dan memabukkan.
Perut Syafira tiba tiba berbunyi, membuat Keenan menghentikan ciumannya. "Kamu lapar hmm?"
Syafira tertawa kecil lalu mengangguk. Keenan mengacak acak rambut Syafira. "Baik lah, aku akan memesan makanan untuk kita. Kamu segera lah berganti baju"
"Iya"
Setelah Keenan keluar, Syafira segera melepaskan gaun nya. Dan memakai piyama nya.
Kemudian Syafira keluar dan melihat banyak makanan ada di atas samping tempat tidur mereka. "Om, kenapa banyak banget makanannya"
"Iya, katanya kamu mau aku ajarin olahraga di kasur. Jadi kamu harus makan yang banyak biar kuat" ucap Keenan menahan tawa.
"Oh gitu ya, ya udah deh yuk kita makan"
Setelah itu Syafira dan Keenan menghabiskan semua makanannya. Syafira memakan makannya dengan cepat, sepertinya ia kelaparan sekali. "Pelan pelan aja makan nya, nanti kamu tersedak" ucap Keenan.
"Aku lapel bat om" ucap Syafira dengan kata kata yang tak jelas.
"Iya, tapi pelan pelan saja. Nanti kalau kurang kita bisa pesan lagi"
Syafira mengangguk dengan cepat. Dan menghabiskan makanannya. Setelah makanannya habis, Keenan menaruhnya di tempat cuci piring dan mencucinya. Kemudian ia menyusul Syafira di atas kasur.
"Mau mulai sekarang olahraganya?" tanya Keenan.
"Emang gimana om caranya?"
Keenan tersenyum Evil, lalu ia menaiki tubuh Syafira. Ia tidak bisa terlalu dekat dengan Syafira karena terhalang oleh perut besar Syafira. "Seperti ini" ucap Keenan.
Mata Syafira melotot, sepertinya ia mengerti apa yang dimaksud Keenan. "Om jangan gitu ih, aku malu"
"Kamu malu?? Tapi saat melakukannya dengan Adit kenapa kamu tidak malu?"
Kata kata Keenan sangat menohok di hati Syafira. Ia benar benar tak menyangka Keenan akan berkata seperti itu. Syafira mendorong tubuh Keenan dengan sangat keras. Kemudian ia pergi ke kamar mandi dan mengunci diri.
Syafira menangis di dalam kamar mandi. Sementara Keenan ia merasa bersalah karena melontarkan kata kata itu pada Syafira. Seharus nya ia tidak mengatakan itu.
"Arhhgggg"
Keenan menyusul Syafira ke kamar mandi. Ia mengetuk pintu nya berkali kali. "Sayang, buka pintu nya. Aku minta maaf, tidak seharusnya aku mengatakan itu"
Syafira tidak menjawab nya. Ia masih tak bergeming di tempatnya. Sementara Keenan ia terlihat khawatir dari luar.
"Sayang, aku benar benar minta maaf. Aku tidak berniat untuk mengatakan hal seperti itu. Tolong buka pintunya okeyy" ucap Keenan.
Syafira membuka pintu nya, wajahnya sembab karena menangis. Keenan langsung membawa Syafira ke dalam pelukannya dan mengelus elus rambutnya.
"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi"
Keenan terus mengecup puncak kepala Syafira. Syafira menangis di pelukan Keenan. "Apa yang dikatakan om memang benar, aku tidak malu saat melakukannya dengan Adit, sedangkan bersama om aku malu. Tapi asal om tahu, aku melakukannya dengan Adit di bawah alam sadarku. Aku benar benar tak bisa berpikir jernih pada saat itu, tubuhku sangat panas dan selalu bergairah"
"Maaf, tolong jangan ingat kejadian itu lagi."
Keenan membawa Syafira ke atas kasur dan ia menidurkan Syafira. Keenan ikut merebahkan dirinya di samping Syafira. Keenan meletakkan kepala Syafira di dekat dada nya. "Tidur lah, dan lupakanlah semuanya"
"Enggak, ini kan malam pertama kita. Om.."
"Tidak, aku bisa menunggunya. Aku akan menunggu saat kamu benar benar siap melakukannya"
Apa yang dikatakan Keenan tidak sejalan dengan pikirannya. Karena sedari tadi adik kecil nya sudah bangun. Tapi Keenan berusaha keras untuk tidak menerkam Syafira saat ini.
"Tapi apa om yakin? Aku merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah perutku" ucap Syafira.
"Tidak ada, itu hanya perasaanmu saja. Cepat lah tidur"
"Iya, selamat malam om"
"Malam juga sayang"
Di tempat lain
Rena dan Adit sedang makan malam bersama di rumah Adit. Adit telah menghiasi meja makan dengan bunga bunga dan lilin yang indah. "Kamu suka?"
"Suka banget" jawab Rena.
__ADS_1
Adit memegang tangan Rena dan mengelusnya. Ia menatap wajah Rena saat dirinya sedang makan. Melihat Adit terus menatap nya Rena akhirnya bertanya.
"Kenapa kamu terus menatapku?"
"Kamu cantik malam ini" jujur Adit.
Rena tersenyum, ia bahagia dengan Adit. Ia sangat menyesal karena telah menyuruh kekasihnya itu melakukan hal hal kotor.
"Terima kasih ya dit"
"Buat apa?"
"Karena kamu masih bersamaku saat ini"
Adit merapikan helai rambut Rena ke belakang telinganya. "Tidak usah berterima kasih"
Tiba tiba, darah menetes dari hidung Rena. Adit terkejut sekaligus khawatir. Rena kini pingsan dan jatuh tersungkur di lantai.
Adit segera menggendong Rena dan membawa nya ke rumah sakit. Ia membawa Rena masuk ke dalam mobilnya.
"Rena, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?" batin Adit sambil menyetir mobilnya.
Adit sudah tiba di rumah sakit, ia menggendong Rena dan membawanya masuk ke rumah sakit.
"Suster suster" teriak nya.
Beberapa orang suster datang sambil membawa brankar rumah sakit. Adit meletakkan Rena di atas brankar dan mendorongnya.
Ketika Adit akan masuk ke ruangan nya, ia dicegah oleh suster. "Maaf pak, sebaiknya bapak tunggu disini saja. Biar dokter yang memeriksanya"
Adit meremas tangannya, ia benar benar tidak mengerti dengan Rena. Kenapa dia bisa seperti ini? Apa ini ada hubungannya ketika dia pergi ke singapura?
Adit hanya bisa menunggu dan menunggu. Saat itu Dokter yang memeriksa Rena telah keluar. Adit berdiri dan bertanya "Bagaimana kondisi kekasih saya dok?" ucap nya.
"Seharusnya saya hanya memberi tahu nya pada keluarganya, tapi karena disini hanya ada anda maka baik lah saya akan memberitahukannya"
Dokter berhenti sejenak sebelum mengatakannya. "Kekasih Anda terkena kanker otak stadium akhir"
Adi terkejut dan terpukul mendengar hal itu. "Apakah dia bisa sembuh dok?"
Dokter menggeleng "Sangat kecil kemungkinannya untuk sembuh, karena ini sudah stadium akhir. Kemungkinan Pasien bisa bertahan selama tiga bulan lagi" ucap Dokter itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu, pasien sudah sadar. Anda bisa masuk"
Setelah Dokter pergi, Adit menjatuhkan dirinya di lantai. Ia benar benar tak menduga hal ini akan terjadi pada Rena. Adit menangis, air matanya keluar dengan sangat deras. Ia menatap ruangan Rena. "Sanggupkah aku melihatnya" batinnya.
Adit menghapus air matanya, kemudian ia masuk ke ruangan Rena. Adit melihat Rena terbaring lemas di ranjang rumah sakit dengan infus yang terpasang di tubuhnya.
"Adit" panggil Rena.
Adit mendekat ke arah Rena, ia duduk di kursi dan menggenggam tangan Rena. "Sejak kapan kamu mengidap penyakit ini Ren?" tanya Adit. Ia berusaha mati matian untuk tidak menangis di depan Rena.
"Sejak awal kita pacaran aku sudah mengidap penyakit ini. Aku sengaja tidak memberi tahumu karena aku tidak mau membuatmu khawatir"
"Jadi ini alasan kamu pergi ke singapura? Kamu pergi berobat?"
Rena menangis terisak isak. "Mungkin kah ini karmu buat ku dit? Karena aku telah jahat sama Syafira"
Adit diam tak menjawab, ia tak tahu harus berkata apa pada kekasihnya itu.
"Adit kalau aku sudah tiada.."
"Please Ren jangan katakan itu, aku yakin kamu pasti akan sembuh" Adit memberi semangat pada Rena.
"Tolong jangan memberi aku harapan dit, karena aku tidak dapat disembuhkan lagi. Aku hanya bisa bertahan selama beberapa bulan"
Rena menangis, rasanya ia tidak sanggup meninggalkan Adit. "Adit, aku boleh minta satu permintaan?" ucap Rena.
"Apa? Ayo katakan? Aku akan berusaha memenuhinya"
"Saat aku tiada nanti, tolong jangan beri tahu Syafira. Aku tidak ingin membuat dia sedih karena aku"
Adit terlihat berpikir sebentar. "Baik lah, akan ku penuhi"
Rena mengangkat jari kelingking nya. "Janji?"
Adit tersenyum, lalu melingkarkan jarinya di jari Rena sebagai ungkapan Janji.
"Sekarang kamu tidurlah, supaya besok kamu sudah pulih. Aku akan menjagamu, aku tidak akan kemana mana"
"Terima kasih"
Lalu Rena memejamkan matanya, Adit terus menatap wajah Rena. Ia mengelus kepala Rena sampai dirinya mengantuk. Adit pun ikut tidur bersama Rena.
Di hotel
Keesokan harinya, Syafira menggeliatkan badannya. Tubuh nya terasa berat, kemudian ia melihat Keenan yang sedang melingkarkan tangannya di perutnya. Syafira berusaha melepaskan tangan Keenan dari tubuhnya, tapi bukannya terlepas malah semakin erat.
Keenan membuka matanya "Good morning my wife"
Syafira menjawab "morning too my husband"
"Kiss dulu dong" ucap Keenan.
Cup
Keenan tersenyum. Lalu ia mencium kening Syafira lama. "Sayang, aku minta maaf atas semalam" ucap Keenan.
"Tidak apa apa, aku tahu om tidak sengaja mengatakannya"
"Sekarang kita harus pulang, kita harus mengemas pakaian. Dua jam lagi kita terbang ke korea" ucap Keenan.
"Kita jadi ke korea om?" tanya Syafira.
"Jadi dong, kan bulan madu kita"
"oh iya, saat perjalanan kita nanti. aku akan membawa dokter, takutnya terjadi apa apa sama kamu. Dan juga kita akan terbang menggunakan pesawat pribadi papa."
__ADS_1
"iya om, aku ikut apa yang om katakan saja"
Keenan menarik hidung Syafira dengan gemas. Ia bersyukur karena sudah memiliki Syafira sepenuhnya.
"Ya udah kalau gitu aku mau pesan makanan dulu ya om"
Keenan mencegahnya. "Biar aku aja yang memesan, kamu gak boleh kelelahan. Lebih baik kamu bersiap siap dan mandi supaya tidak bau" canda Keenan.
"Aku tidak bau kok" ucap Syafira. Ia mencium kedua bagian ketiaknya. Keenan terkekeh melihat istri nya mencium ketiaknya sendiri.
"Iya kamu enggak bau, aku cuma bercanda sayang"
"Berani ya jahilin istri sendiri"
Syafira menggelitik Keenan hingga membuatnya tertawa keras. "Udah, cukup sayang. Aku mau memesan makanan dulu. Kamu mandi ya?
Terus mandi nya hati hati lantainya licin. Jangan sampai kamu jatuh"
"Siap bos"
Setelah itu Keenan pergi ke luar dan memesan makanan. Lima belas menit kemudian, Keenan sudah selesai masak. Ia menaruh nya di piring dan menghidangkannya di atas meja.
"Sayang, udah belum mandi nya? Makanan sudah datang" ucap Keenan.
Tapi tak ada jawaban, Keenan khawatir pada syafira. Jadi ia menyusul Syafira ke kamar.
"Sayang"
Syafira muncul dengan handuk yang melingkar di tubuhnya dan rambut yang masih basah. "Ada apa om?"
Keenan mengalihkan pandangannya. "Makanannya sudah siap, kalau kamu sudah selesai segera ke meja makan"
"Oke om"
Keenan segera keluar dan menutup pintu nya. "Pagi pagi ada yang menggoda iman" ucapnya sambil mengelus dada.
Beberapa menit kemudian, syafira telah selesai bersiap siap.
Ia menyusul Keenan di meja makan.
"Om"
"Ayo sini duduk kita makan"
Syafira tersenyum tipis lalu duduk bersama Keenan. Mereka berdua makan dengan tenang sesekali Keenan menjahili Syafira.
Setelah selesai makan, Keenan segera mandi. Karena setelah ini mereka akan pergi untuk bulan madu ke korea.
Setelah semuanya selesai, Keenan dan syafira pulang ke rumah. Mereka akan mengemas barang dan juga berpamitan pada kedua orang tua mereka.
"Om, kita pergi ke rumahku dulu ya" ucap Syafira di dalam mobil.
"Iya sayang"
Mobil mereka telah sampai di rumah Syafira. Syafira dan Keenan segera turun. Mereka berdua mengetuk pintu. Pintu terbuka dari dalam.
"Syafira, Nak Keenan. Ayo masuk" ucap Wina.
"Makasih bu" jawab Keenan.
Syafira dan Keenan pun masuk. "Bu, Syafira tidak lama disini. Syafira hanya ingin mengemas barang barang syafira dan sekaligus pamit untuk bulan madu"
"Tidak apa apa, ibu mengerti kok"
"Ya udah syafira ke atas dulu ya bu"
Wina mengangguk. Kemudian Keenan bertanya "Ayah dimana bu?"
"Lagi membaca koran, ayo kamu hampiri saja"
"Baiklah bu"
Keenan menghampiri Tio yang sedang membaca koran di ruang tengah. Keenan memberi salam pada Tio. "Assalamualaikum ayah"
Mendengar suara Keenan, Tio meletakkan korannya dan menoleh pada Keenan. "Waalaikumsalam"
Keenan mencium tangan Tio. Lalu duduk di sampingnya. "Keenan kesini mau pamit sama ayah, Keenan sama Syafira mau pergi bulan madu"
"Baiklah, ayah doakan semoga kalian selalu bahagia"
"Terima kasih ayah"
Lalu Syafira muncul dengan membawa koper. Keenan membantu Syafira dengan mengambil kopernya.
"Baiklah, ayah, ibu kami pamit dulu" ucap Syafira pada Tio dan Wina.
Syafira memeluk kedua orang tuanya satu persatu. Begitu pun dengan Keenan. Setelah itu mereka segera pergi.
Kali ini Keenan dan Syafira pergi ke rumah Keenan. Setelah tiba disana Keenan mendapati rumah nya kosong. Orang tua nya tak ada di rumah.
"Papa sama mama tidak ada di rumah. Coba aku telfon dulu ya" ucap Keenan..
"Iya om"
"Halo pa, ma. Mama sama papa dimana?"
( )
"Oh gitu, ya udah Keenan sama Syafira pamit mau bulan madu ya"
( )
Ok
"Papa sama mama lagi ada urusan, jadi kita langsung berangkat aja ya"
Syafira mengangguk, setelah mengemas barangnya. Keenan dan Syafira pergi ke bandara dan berangkat bulan madu dengan menaiki pesawat pribadi nya Mahendra.
__ADS_1