Bukan Janda

Bukan Janda
Alvin dan tingkahnya


__ADS_3

Keenan pergi ke kantor dengan menumpang di mobil Bagas, alasannya karena ia malas menyetir. Alhasil kini Bagas menjadi supir dadakan. Bagas melirik Keenan yang duduk di belakang.


"Kenapa liatin saya? Kamu suka sama saya?"


Bagas tertawa sumbang, ia sudah tak segan lagi bersama Keenan. Karena Keenan selalu baik padanya.


"Mana mungkin saya menyukai Bapak, istri saya lebih menggoda di rumah"


Keenan hanya memutar bola matanya lalu mengambil dompet dari sakunya. Keenan mengambil beberapa lembar uang berwarna Merah.


"Nih buat beli bensin, sisa nya bonus buat kamu karena telah dipukuli Saya"


Bagas mengambilnya dengan cepat lalu memasukkan ke dalam saku jas nya. Ia menyunggingkan senyum di bibirnya. Tidak sia sia ia menjemput dan dipukuli Keenan.


"Terima kasih Pak, saya selalu suka direpotkan bapak.


Keenan menggelengkan kepalanya, ternyata Bagas orangnya sangat Asyik. Cocok lah buat dijadiin teman kantor. "Kalau begitu saya akan terus merepotkanmu"


Bagas mengangguk, lalu mobilnya telah sampai di depan kantor. Keenan turun dari mobil lalu masuk ke dalam ruangannya tanpa menunggu Bagas.


Bagas menutup pintu mobilnya lalu memperbaiki jas nya yang kusut. Ia segera masuk ke dalam kantor.


Saat tiba di ruangannya, Keenan sudah melihat orang yang ingin bertemu dengannya. Orang itu berbalik dan menatap Keenan dengan senyuman khas nya.


"Apa kabar Al, sudah lama kita tidak bertemu"


Tanpa menjawab pertanyaan Nando, Keenan langsung duduk di kursinya. "Kenapa kamu sangat ingin bertemu denganku?"


Keenan tahu, Nando bukan lah tipe orang yang rela meluangkan waktu untuk hal hal yang tak penting.


Nando tertawa lalu mengangkat kaki nya dan menyilangkannya di paha sebelah kanannya. "Kamu seperti tidak tahu aku saja Al, aku kesini cuma ingin bekerja sama denganmu. Perusahaanmu sangat besar    hampir setara dengan perusahaanku. Kalau perusahaan kita bekerja sama pasti akan meghasilkan sesuatu uang wow"


Kali ini Keenan yang tertawa. Lalu menatap Nando dengan tajam. "Kamu pikir aku bodoh, dengan membiarkanmu bekerja sama denganku maka perusahaanku hancur. Aku sudah tahu niatmu Nando. Kamu terlalu mudah untuk dikendalikan" sinis Keenan.


Nando mengepalkan tangannya tapi wajahnya tidak menunjukkan kalau dia sedang marah. "Apa maksudmu Al? Niatku? Memangnya aku punya niat apa dengan perusahaanmu"


Keenan melempar sebuah koran yang memberitakan tentang dirinya. Dalam koran itu tertulis bahwa perusahaan milik Nando sudah bangkrut. Itu karena Nando menjual saham saham yang bukan miliknya. Sehingga semua pemilik saham merasa murka dan memutus kerja samanya.


"Jangan pernah memanfaatkan perusahaanku hanya untuk perusahaan kecilmu itu."


"Brengsek, aku akan membalas kesombonganmu Al."


Keenan tersenyum smirk lalu menepuk bahu Nando. "Aku tunggu anjing kecil"


Nando yang merasa dipermalukan meghempas tangan Keenan dengan cepat lalu segera pergi. Ia kira Keenan akan percaya dan membantunya. Tapi tidak, Keenan bukan lawan yang pantas untuknya.


"Sialan kau Al"


Keenan tersenyum puas dengan kemarahan Nando tadi. Saat Keenan mengetahui kalau Nando yang akan bertemu dengannya. Ia segera mencari tahu apa motif nya sehingga Nando benar benar ingin bertemu dengannya. Dan ternyara hal licik lah yang ingin ia lakukan.


"Jangan pernah bermain main dengan seorang Keenan Aldebaran Bright, karena aku tidak akan pernah kalah dan terkalahkan oleh siapapun"


Dalam dunia bisnis, hanya ada sebuah pepatah. Hancurkan lawanmu sebelum dia menghancurkanmu. Seperti yang dilakukan Keenan sekarang.


___________K_____E______E_______N_____A__N


Syafira mengambil beberapa bungkus Snack yang tersedia di dalam kulkas. Ia membawa nya ke kolam Renang dan menemui Alvin yang sedang berenang.


Syafira memasukkan kakinya ke dalam air sembari menggoyangkannya. Ia membuka salah satu Snack dan memakannya.


Alvin berenang kesana kemari, ia melepaskan beban nya yang terpendam. Selama beberapa minggu ini Alvin selalu menemani ayahnya di kantor agar ia semakin mengerti tentang dunia bisnis.


Alvin muncul ke permukaan air lalu mengusap rambutnya yang basah. Alvin berenang ke tepian dan menghampiri Syafira.


Syafira asik memakan Snack nya sampai tidak menyadari Alvin mendekatinya. Alvin berenang perlahan lahan dan mengagetkan Syafira.


"Dor"


"Eh ayam ayam ayam" latah Syafira.


Alvin tertawa melihat Syafira latah karena dirinya. Syafira mengerucutkan bibirnya sebal.


"Abang bisa gak sih gak usah ngagetin Sasa"


"Yer sorry habisnya kamu sibuk dengan snack mu, suapin abang dong. Abang juga mau"


Syafira mengambil snack nya lalu menyuapkannya pada Alvin. Tidak tanggung tanggung ia menyuapkan semuanya ke dalam mulut Alvin sampai tidak muat lagi.


"Hhmmmag mulhtuttt"


Alvin berusaha menelan dan menguyah snack yang ada di mulutnya. Ini semua gara gara adik kesayangannya itu.


"Nih bang minum dulu"


Alvin merebutnya dan meminum semuanya tanpa menyisakan sedikit pun. "Jahat bener kamu sama abang"


"Sekali kali gitu lho bang"


Alvin naik ke atas lalu mengambil handuknya dan mengeringkan rambutnya. Lalu ia duduk di damping Syafira.


"Kapan kapan kamu ikut Abang ke rumah ya. Masa Abang terus yang datang ke rumah kamu"


"Iya iya aku juga kangen sama om dan tante"


____________________________________________


"Tendang ke sebelah kiri"


"Oper"


"Woyy dodol lo jangan ngerebut bola tim gue"


"Ah bodoh lah"


"Dikit lagi dikit lagi....Gollllllll"

__ADS_1


Alvin berteriak karena tim bola yang ia dukung berhasil mencetak gol. Alvin menari nari tak jelas. Ia bahkan membuat gerakan aneh.


Syafira hanya bisa memaklumi kelakuan Alvin yang seperti orang gila. Alvin heboh sendiri saat menonton bola di Tv. Sedangkan Syafira hanya mendengarkan musik.


"Sa ambilin abang air minum"


"Abang kan bisa ambil sendiri"


"Abang gak mau lewatin Ronaldo sa, dia jago banget nendangnya. Yuhuuuuuu Gol lagi bung"


Syafira hanya berdecak kesal lalu mengambilkan air untuk Alvin. "Nih minum, hati hati masih panas"


Alvin mengambilnya lalu meminumnya. Tapi matanya melotot seperti mau keluar. Alvin menyemburkan air yang diminumnya. Lidahnya terasa terbakar karena air yang ia minum adalah air panas.


"Kenapa sih bang?"


Alvin menoyor kepala Syafira dengan gemas. "Kamu mau bikin abang mati? Air nya panas sasa"


"Lah kan tadi Sasa sudah bilang kalau air nya panas. Soalnya sasa tadi mendidihnya dulu di kompor supaya kumannya hilang"


"Kamu terlalu pintar Sa, abang salut" ucap Alvin yang akhirnya mengalah.


"Sasa emang pinter"


Alvin kembali melanjutkan nonton bola kali ini tidak ada teriakan lagi. Syafira sudah mewanti wanti Alvin agar tidak berisik.


Hari sudah mulai petang, Keenan cepat cepat membereskan dokumennya lalu memasukkannya ke dalam tas. Keenan merasa bersalah karena harus meninggalkan Syafira di Villa nya.


Keenan pergi ke ruangan Bagas dan menemukan bagas yang bersiap akan pulang.


"Kenapa pak?"


"Ayo antar saya pulang, dari pada saya pesan taksi. Mending minta diantar sama kamu"


"Ya sudah karena saya baik hati, saya akan mengantarkan bapak"


"Bacot kamu ya"


"Astaghfirullah pak, bapak diajari siapa bicara seperti itu. Jangan pak, bapak adalah bos. Bisa hancur reputasi bapak kalau mengatakan hal seperti itu di depan karyawan lain"


Keenan memiting leher Bagas lalu merangkulnya layaknya seorang sahabat. "Yok ah, kasian istri saya sudah menunggu di Villa"


"Istri saya juga sudan nunggu saya pak"


"Tapi istri saya yang lebih oentig"


____________________________________________


Setelah tiba di Villa nya Keenan turun dari mobil Bagas. Keenan menepuk bahu Bagas. "Makasih, kamu hati hati di jalan. Jangan sampai kecelakaan dan mati. Kalau kamu mati saya kehilangan karyawan sebaik kamu di kantor"


"Amit amit pak, saya masih mau hidup"


"Ya sudah saya masuk dulu"


Setelah Keenan masuk, Bagas memutar mobilnya dan segera pulang. Hari ini Bagas terlalu banyak bercanda dengan Keenan. Bagas senang bisa akrab dengan bos nya itu.


Keenan melompat dari belakang lalu duduk di sebelah Syafira membuat Syafira terlonjak kaget. "Ya ampun Mas, duduk biasa aja bisa gak sih."


"Mas kangen sama kamu"


Keenan mengambil alih kepala Syafira dan menaruhnya di bahunya. Ia a mengecup kepala Syafira begitu lama.


Alvin tak mempedulikan kedua sejoli itu, ia sibuk menonton televisi.


"Mas lebih baik mandi dulu, biar aku siapin air hangatnya"


"Iya"


Sementara Syafira pergi menyiapkan air hangat, Keenan merentangkan kaki dan tubuhnya sampai mengenai kaki Alvin. "Woyy mandi sono, jangan nyentuh gue sebelum lo udah mandi."


"Berisik amat lo"


"Bodo, cepetan Mandi. Gue gak tahan sama bau lo" Alvin sedikit menjauh dari Keenan. Ia bercanda tentang Keenan yang bau.


Keenan bangun dan memeluk Alvin dengan erat, membuat Alvin merasa jijik dan geli secara bersamaan. "Diem bisa gak sih, gue cuma meluk kakak ipar gue doang. Emangnya salah?"


"Ya setidaknya lo mandi dulu lah kalau mau meluk gue, lagian pelukan sesama cowok itu gak normal tau"


"Bodoamat"


Alvin lelah berdebat dengan Keenan jadi ia hanya membiarkannya. Entah apa yang ada di pikiran Syafira nanti saat melihat adegan itu.


Syafira sudah menyiapkan air hangat sekarang ia akan memanggil Keenan. Tapi apa yang ia lihat, Keenan terlihat memeluk Alvin dengan kedua tangan dan kakinya.


"Sejak kapan mereka berdua akur?" Gumamnya.


"Mas air nya sudah kusiapkan, cepetan Mandi"


Seketika Keenan melepaskan pelukannya dan berdiri dengan tegak. "Oke, Mas mandi dulu. Kamu gak mau ikutan?"


"Jangan aneh aneh deh Mas"


Keenan hanya menyengir lalu tatapannya jatuh pada Alvin yang fokus menonton sinetron. Keenan langsung mengacak acak rambut kakak iparnya kemudian pergi dengan tawa nya.


"Suami kamu itu kayak bunglon deh. Sifatnya berubah ubah"


"Meskipun begitu, aku tetap bangga degan suamiku. Dia adalah satu satunya laki laki yang bisa menerimaku apa adanya. My husband"


Alvin mengelus puncak kepala Syafira. "Abang nginep disini aja ya, sudah tanggung kalau mau pulang sekarang"


Syafira mengangguk, lalu ia melihat handphone Alvin tergeletak di sampingnya. Diam diam Syafira membuka nya dan menemukan satu foto seorang wanita yang menarik perhatiannya.


Syafira membuka foto itu dan menzoom nya agar kelihatan jelas. Dalam foto itu wanita tersebut tersenyum dengan memamerkan lesung pipinya sehingga kelihatan sangat manis.


Syafira menaruh kembali handphone Alvin di tempatnya. Syafira berdeham sambil menahan senyum. "Abang kapan mau ngenalin   calon kakak ipar pada Sasa?"

__ADS_1


Alvin mengernyitkan dahi nya bingung, ia mematikan televisinya dan duduk dengan menghadap Syafira.


"Maksud kamu apa? Abang gak ngerti?"


"Abang ngaku aja deh. Abang udah punya pacar kan?"


"Kamu ngintip handphone abang?"


Syafira menganggukan kepalanya sambil tersenyum menggoda. Syafira menepuk kepala Alvin dengan pelan. "Akhirnya Abang Sasa udah gede"


"Iya Abang baru gede, tapi kamu tetap saja masih bocah"


"Abang ish nyebelin banget"


Alvin lari mengelilingi meja makan demi menghindari pukulan Syafira. Meraka terus kejar kejaran seperti kucing dan tikus. Membuat Keenan yang sudah selesai mandi dan sudah rapi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Alvin berlari dan bersembunyi di belakang Keenan. Syafira menghembuskan nafasnya lelah. Ia tak lagi mengejar Alvin melainkan memeluk Keenan.


"Mulai deh Manjanya"


"Abang diem ya, peluk aja sana pacar abang"


"Pacar? Lo udah punya pacar? Gue kira lo homo"


"Gaje lo, oh iya gue nginap disini. Dimana kamar gue?"


"Ngelunjak lo, tuh kamar lo ada di atas sebelah kiri"


"Gue ke atas dulu, capek gue lihat kalian berdua"


"Huuuu" sorak Syafira.


Syafira mendongakkan kepalanya, ia menatap wakah Keenan yang lebih tinggi darinya. Syafira memeluk pinggang Keenan. "Apa?"


"Aku mau es krim"


"Tengah malam begini?"


"Iya"


"Besok aja ya sayang, sekarang udah malam. Lagian gak baik makan es krim tengah malam. Nanti kamu sakit" Keenan mengusap pipi gembul Syafira, yang selalu menggemaskan di matanya.


"Janji ya besok?"


"Iya"


"Ya sudah, ayo kita ke meja makan. Aku akan memasak sesuatu untuk Mas"


"Kamu tidak capek?"


"Bukan aku yang capek, tapi Mas. Mas kan baru aja pulang dari kantor. Ayo"


Keenan mengangguk, ia pergi ke meja makan dan duduk disana. Sementara Syafira ia pergi ke dapur dan memutuskan untuk membuatkan Keenan nasi goreng.


Selama beberapa menit Syafira bergelut dengan kompor dan wajan akhirnya ia selesai masak. Syafira mencicipi Nasi gorengnya dengan tangannya.


"Rasanya gak mengecewakan"


Syafira mengambil piring dan meletakkan nasi gorengnya disana. Ia juga menambahkan telur ceplok dan sosis di sisi Nasi gorengnya. Syafira sangat puas dengan hasil masakannya.


Syafira menghampiri Keenan di meja makan. Ia membawa nasi gorengnya dengan nampan, ia juga menyediakan air putih untuk Keenan minum.


"Makanannya sudah siap"


Aroma Nasi goreng itu sangat menggoda Keenan. Keenan mengambil nampannya dari tangan Syafira. "Pasti enak nih"


"Cobain dulu"


Keenan mengambil satu sendok nasi goreng dan mulai kencobanya. Matanya berbinar cerah. "Enak"


"Habisin dan selamat makan suamiku"


"Terima kasih istriku"


Syafira menemani Keenan sampai nasi gorengnya telah habis dimakan Keenan.


Keenan menyelesaikan makannya dengan minum segelas air putih. Ia meminumnya dengan beberapa kali tegukan dan menghabiskannya.


"Alhamdulillah, Mas sudah kenyang."


Syafira membawa piringnya ke tempat cuci piring dan mencucinya. Setelah itu ia kembali pada Keenan.


"Mas, tidur yuk"


"Kamu ngantuk?"


"Enggak, aku mau meluk Mas sampai pagi"


Keenan terkekeh lalu menggendong Syafira dan membawanya ke kamar. Keenan meletakan Syafira di atas kasur. Ia mengurungnya degan kedua tangannya.


"Mas mau apa?"


"Mas mau kamu"


"Syafira capek Mas"


"Emagnya Mas mau ngapain kamu kok kamu bilang capek"


Wajah Syafira memerah karena malu. Ia mengira Keenan akan melakukan itu padanya.


Keenan tahu apa yang ada di pikiran istrinya itu. Ia tersenyum.


"Ayo kita tidur, besok kita balik ke Apartemen"


"Iya Mas"

__ADS_1


Keenan membawa Syafira ke pelukannya dan bersiap masuk ke dalam dunia mimpi.


 


__ADS_2