
Disaat Syafira dan Keenan keluar dari kamar dengan menggendong si kembar. Mereka melihat Mahendra yang berusaha menenangkan Alfon yang terus menangis.
"Alfon kenapa pa?" tanya Keenan. Mahendra mengangkat kepalanya dan menatap Keenan. "Sepertinya Alfon haus, papa bingung harus gimana" ucap Mahendra sambil menenangkan Alfon.
"Keenan gak tega pa, kalau Alfon harus minum susu formula. Lebih baik kita mencari orang yang mau menyusui Alfon. Dan kita beri mereka hadiah"
"Syafira juga setuju pa, air asi adalah yang terbaik dari pada susu formula" ucap Syafira menambahkan.
Mahendra mengangguk berpikir bahwa apa yang mereka katakan memang benar. Mahendra menatap Alfon yang masih menangis. "Sabar ya sayang, papa akan carikan ibu susu untuk kamu"
"Keenan, coba kamu hubungi Bagas untuk mencari ibu susunya. Papa yakin Bagas bisa menemukannya dengan cepat" ucap Mahendra kepada Keenan.
Keenan menurunkan Azka dari gendongannya kemudian mengambil handphone nya dari dalam saku celananya, kemudian Keenan menekan beberapa angka dan menghubunginya.
"Tuttt tutttt tuttt Sisa pulsa anda tidak dapat mencukupi untuk melakukan panggilan, segeralah isi ulang"
"Yalelah pake abis lagi pulsanya, yang pinjam pulsa hp dong" ucap Keenan. Syafira memberikan handphone miliknya pada Keenan.
Kemudian Keenan memindahkan nomor Bagas pada Handphone Syafira dan mulai menghubunginya. Sekali dua kali tidak diangkat tapi ketika ketiga kalinya baru diangkat.
"Halo Bos, ada apa?" Sebuah suara muncul daro dalam handphone milik Syafira. "Gas, tolong carikan seorang ibu susu untuk adik saya" ucap Keenan.
"Boleh bos, tapi jangan panggil saya gas lah. Emangnya saya gas LPG apa" jawan Bagas. "Iya oya, kalau udah dapet segera hubungi saya"
"Oke bos"
Keenan segera mematikan panggilannya dan menyerahkan kembali handphone nya pada Syafira. "Gimana?" Tanya Mahendra. "Bagas bilamg iya tunggu aja kabar darinya Pa" ucap Keenan.
"Pa, biar Syafira aja yang gendong Alfon. Siapa tahu Alfon bisa diam" ucap Syafira menawarkan diri. Ia kasihan dengan Mahendra yang terlihat frustasi karena tidak bisa mendiamkan putranya.
Mahendra memasrahkan Alfon pada Syafira. Saat Alfon telah berada di gendongan Syafira, Alfon berhenti menangis dengan sendiri. Bahkan Keenan dan Mahendra pun sampai tak percaya.
Alfon begitu tenang di gendongan Syafira. Syafira menatap Keenan dan Mahendra secara bergantian. "Sekarang aku tahu kenapa Alfon terus menangis" ucapnya pada Mahendra dan Keenan.
"Kenapa?" Tanya mereka berdua secara bersamaan.
"Ibu pernah bilang padaku kalau pelukan dan dekapan seorang ibu bisa menenangkan dan menghangatkan bayi. Karena perempuan pertama yang menggendong Alfon adalah aku mungkin Alfon merasa bahwa aku adlah ibunya" jelas Syafira.
"Keenan masih beruntung sempat merasakan kasih sayang seorang ibu, sedangkan Alfon. Ia sudah tidak bisa merasakan bahkan melihatnya juga"
"Tapi papa tenang saja, Kita dan semua anggota keluarga lainnya akan membantu papa merawat Alfon walai tanpa seorang ibu. Di luar sana banyak duda yang bisa mengurus anaknya sendirian" ucap Keenan
"Kami ngatain papa kamu sendiri dengan sebutan duda Keenan?" Ucap Mahendra dengan matanya yang menatap Keenan. Keenan mengangkat alisnya bersamaan.
"Keenan benar kan?"
"Duda itu buat orang yang sudah ditinggalkan istrinya tapi papa tidak, sampai kapanpun Mama mu tidak pernah meninggalkan papa. Mamamu masih ada di hati papa"
"Papa hebat, Alfon pasti bangga punya papa seperti papa" puji Syafira.
Mahendra tertawa kecil. "Eh Alfon sudah tidur saja? Sini Nak biar papa yang naruh Alfon di box bayi" Syafura mengangguk. Setelah itu Mahendra membawa Alfon ke dalam kamarnya untuk diletakkan di box bayi.
"Apa apa, Ka au alan alan"(Papa papa Azka mau jalan jalan) keenan berjongkok di hadapan Azka. "Jalan kalan kemana Nak?" "Aman" (Taman)
"Kalau Azkia gimana? Mau jalan jalan juga" tanya Keenan. Azkia menggeleng. "Kia au ama nda ja" (Kia mau sama bunda aja)
"Gimana? Kita jalan jalan bentar yuk. Ngabisin waktu dengan si kembar. Besok kan kita harus pindah pindah?" Ajak Keenan.
"Boleh, yuk sayang kita jalan"
Keenan dan keluarga kecilnya sedang pergi menuju taman dekat rumah Mahendra. Baru kali ini mereka bisa jalan bersama seperti ini. Terkadang memghabiskan waktu dengan keluarga adalah hal yang terbaik.
Keenan menggengam tangan Syafira sambil menggendong Azka, mereka kelihatan seperti pasangan yang sangat bahagia hingga membuat orang orang di sekitarnya sangat iri.
Mereka telah tiba di taman, suasana taman saat itu sangat ramai. Banyak anak kecil dan orang tuanya yang sedang hermain main disana. Keenan mengajak syafira untuk duduk di salah satu kursi taman itu.
"Azka sama Azkia diduk disini ya sayang, jangan gendong gendong terus. Liat tuh teman teman kamu pada jalan sendiri" ucap Syafira pada kedua anak anaknya.
Azka melihat ke arah semua anak anak yang sedang bermain dengan bersama orang tua nya. Kemudian Mata Azka tidak sengaja melihat seorang bapak bapak yang sedang menjual balon.
"Nda, Ka au eli iu"(Bunda, Azka mau beli itu)
Tangan Azka menunjuk pada bapak bapak itu. Syafira mengikuti arah tangan Azka dan melihatnya.
"Azka mau balon?" Tanya Keenan.
"Ka au eliin kia alon, oalnya kia uka alon" (Azka mau beliin Kia balon, soalnya kia suka balo) Syafia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh anak kembarnya itu.
"Bener Kia suka balon?" Tanya Syafira.
__ADS_1
Enel nda" jawab Azkia dengan logat cadelnya. Keenan dan Syafira saling bertatapan. "Mas, darimana Azka tahu kalau Azkia suka balon?" Tanya nya.
"Mas juga gak tahu, mungkin ada ikatan batin di antara mereka, mereka kan kembar' jawab Keenan sambil mengelus puncak kepala Azka dan Azkia secara bergantian.
"Ya udah ayo kita beli balon sama sama" ucap Syafira. Mereka berempat berjalan menuju penjual itu dan berniat untuk membeli balon.
Dalam hitungan menit mereka sudah tina di penjual balon itu. "Pak, balonnya berapaan?" Ucap Syafira kepada bapak bapak yang menjual balon itu.
"Sepuluh ribuan neng" jawab bapak itu.
"Azka mau balon juga?" Tanya Syafira. Azka mengangguk dengan cepat. "Alou pin pin nda" (Balon upin ipin bunda).
"Kia uga nda, kia au alon upin pin ama ayak abam"(Kia juga bunda, kia mau balon upin ipin sama kayak abang)
"Baiklah tunggu sebentar ya. Bunda mau bilang dulu. Emm pak, Balon upin ipin nya empat ya" ucapnya. "Siap neng" jawab bapak bapak itu.
Keenan mengangkat alisnya bersaman. "Kok empat" ucap Keenan. Syafira menatapnya sebentar sebelum ia menajwab pertanyaan Keenan. "Dua nya lagi buat kita, kira couple an balon aja. Biar seru" ucap Syafira.
Keenan tertawa karena Syafira. "Kenapa ketawa? Ada yang lucu" tanyanya. Keenan mengangguk beberapa kali. "Dulu aja kamu bilang gak suka upin ipin sekarang malah mau beli balonnya" ucap Keenan.
"Ish biarin napa sih selera orang kan bisa berubah. Setelah aku liat liat ternyata dua botak itu lucu juga Mas. Nanti aku mau download ah video dua botak itu" ucap Syafira.
"Kamu mau nonton upin ipin? Ajak Mas juga ya" ucapnya sambil cengengesan. Syafira hanya memutar bola matanya. "Ini balonnya neng" bapak itu menyerahkan empat balon upin ipin pada Syafira yang langsing ditsrimanya.
"Berapa pak totalnya?" tanya Keenan.
"40 ribu saja Mas"
"Bapak kalau jualan disini laku terus?" Tanya Keenan basa basi sambil mengeluarkan dompetnya. "Enggak juga Mas, kadang hannya laki satu atau dua buah. Sering juga tidak laku sama sekali"
"Kenapa bapak berjualan balon?"
"Mau bagaimana lagi, saya punya tanggungan anak tiga di rumah. Mereka harus sekolah kalau saya tidak menjual balon saya juga tidak bisa memberi merekan makan dan menyekolahkan mereka"
Syafira menatap bapak bapak itu dengan iba. "Anak anak bapak umur berapa?"
"Yang paling tua umur 15 mbak, yang kedua 13 dan yang paling bungsu masih 7 tahun" jawab bapak itu. Ia merenungi meratapi nasibnya sendiri.
Keenan mengambil benerapa lembar uang berwarna merah kemudian menaruh dompetnya kembali "Pak saya ada sedikit rejezi buat bapak tolong diterima ya"
"Tapi Mas..."
"Diterima saja pak, kami ikhlas memberikannya. Semoga dagangan bapak cepat laris dan anak anak bapak selalu sehat" ucap Syafira.
"Amiin" ucap Syafira dan Keenan secara bersamaan. "Kalau begitu kami permisi dulu ya pak" "iya mas, silahkan"
Setelah membeli balon Syafira memakaikan gelang yang di tali balon itu pada kedua anak kembarnya kemudian ia juga ikut memakainya bersama Keenan.
"Sepertinya kita adalah keluarga upin ipin deh" jcap Keenan. Syafira terkikik geli, sekarang selera syafira menjadi turun. Dari drakor menuju kartun upin ipin.
"Ayo kita duduk disana saja Mas, di rumput rumput hijau itu. Disana bagus kek nya kalau dijadikan tenpat untuk duduk duduk santai" ucap Syafira.
"Hmm yaudah deh"
Keenan dan Syafira menuju tempat yang dipenuhi rumput runput itu, disana juga tidak terlalu terkena Matahari. Jadi si kembar bisa duduk dengan tenang disana.
"Nda kia au ain uda udaan ama apa ama abam ka uga. Kia au ayak meleka" dengan susah susah Azkia berbicara pada Syafira.
"Papa capek sayang" jawab Syafira. Azkia terlihat seperti mau menangis akhirnya Keenan memilih untuk bermain kuda kudaan bersama mereka. Dari pada Azkia menangis disini.
Keenan mengambil posisi merangkak dan meminta Syafira untuk menaikkan anak anak pada punggungnya. Alhasil Syafira mengangkatnya satu persatu dan meletakkan mereka di atas punggung Keenan.
Syafira juga dengan sigap memegangi mereka takut mereka sewaktu waktu jatuh. "Azka dan Azkia siapa" tanya Keenan. "Iaaaapppppp apap' jawab mereka dengan kompak.
"Baiklah, kita berangkat cuzzzz"
Dengan berlahan lahan Keenan bergerak bahkan Syafira juga ikut bergerak karena dirinya sedang memegang anak anak. "Azka pegangan sama papa ya, Azkia juga pegangan sama abang biar gak jatuh"
Azka dan Azkia tidak menjawab, mereka tertawa karena menaiki Keenan yang seperti kuda. "Nda sselu anget, ini nda aik uga"(Bunda, seru banget. Sini bunda naik juga"
Mata Keenan melotot, jika Syafira ikut naik maka habislah tubuhnya. Meskipun Keenan sudah sering berolahraga tapi tetap saja ia tidak bisa menampung berat badan Syafira.
"Bunda boleh ikutan nih?" Syafira melirik jahil ke arah Keenan. "Oleh anget nda, ayo nda aik, mda uuk di akang kia" (Boleh banget bunda, ayo bunda naik. Bunda duduk di belakang kia)
"Ya sudah kalo begitu bunda naik ya? Boleh kan Mas" Syafira mengedipkan sebelah matanya pada Keenan. "Tapi kamu jangan duduk beneran ya? Aku gak kuat"
"Gak seru mah kalo gitu, aku juga ikut naik. Ya ya ya?" Syafira menunjukkan puppy eyesnya pada Keenan yang membuatnya tidak bisa menolaknya
"Ya udah naik" Syafira tersenyum penuh kemenangan. Dengan hati hati ia duduk di belakang Azkia kemudian ia memegang kedua anal anaknya agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Azka, ayo kudanya suruh jalan" ledek Syafira.
"Uda ayo alan, ita uah au angkat" (Kuda ayo jalan kita sudah mau berangkat) Keenan mendengus pelan, bisa bisanya ia dijadikan kuda kudaan oleh mereka.
Keenan pun meringkik meniru suara kuda. Membuat Syafira tak dapat menahan tawanya. Syafira meledakkan tawanya di sela sela menaiki Keenan.
"Ayo sayang kita nyannyi sama sama ya"
Pada Hari Minggu kuturut ayah ke kota
naik delman istimewa kududuk di muka
Kududuk di samping pak kusir yang sedang bekerja
mengendalikan kuda supaya baik jalanya, Hei!
tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda
"Tuk tuk tuk" suara Azka.
"Tik tik tik" suara Azkia.
"Tok tok tok" suara Syafira.
"Guk guk guk" nah ini baru suara Keenan. Semua orang yang ada di sekitar tertawa melihat kelakuan keluarga kocak itu. Sampe ada salah satu dari mereka yang mendekati Syafira .
"Dek, kasian lo abangnya dinaikin" ucapnya pada Syafira.
Syafira menunjuk pada dirinya sendiri dan menatap Keenan. "Abang? Dia bukan abang saya bu. Dia suami saya dan kedua anak ini juga anak saya" ucapnya sambil menunjuk Azka dan Azkia.
"Aduh maaf ya mbak, saya kira mbak adiknya. Kelihatannya masih muda sih hehe. Kalau begitu saya pamit dulu"
"Dikira aku harus tua kali ya biar dikira istri kamu Mas" ucap Mas.
"Enggak lah, biarkan mereka berkata apa. Yang penting kamu milik Mas dan Mas milik kamu"
Syafira hanya menyengir. "Nda, Ka aus" ucap Azka pada Syafira. "Azka haus? Ya udah yuk kita turun dulu dari punggung papa"
Syafira menurunkan Azka dan Azkia secara bergantian. Setelah kedua anaknya telah turun Keenan menegakkan tubuhnya. Tubuhnya terasa pegal karena menopang tubuh mereka.
"Bunda beli air dulu ya, Azka sama Azkia sama papa dulu" ucapnya pada kedua anaknya. Azka dan Azkia hanya mengangguk saja. "Mas, jaga mereka ya. Aku mau beli air di sana" ucap Syafira.
"Iya udah sana, jangan lama lama nanti si kembar nyariin kamu." Syafira mengangguk kemudian ia mengambil dompetnya dan segera pergi untuk membeli air minum.
"Bu beli air botolnya dua" ucap Syafira ketika tiba di warung yang menjual air itu. "Ini neng" jawab ibu itu sambil menyerahkan dua botol air minum pada Syafura.
"Berapa nih bu?" tanya Syafira.
"Lima belas ribu saja Neng" Syafira mengambil uang berwarna biru dan menyerahkannya. "Kembaliannya buat ibu saja" ucapnya. "Terima kasih neng" Syafira mengangguk seraya tersenyum.
Setelah membeli air minum untuk Azka dan Azkia, Syafira kembali lagi pada mereka. "Nih sayang, bunda bukain ya" Azka mengangguk.
Syafira membukakan air minum itu untuk Azka.
"Sebelum minum Azka harus baca apa?" tanya nya pada Azka. "Ismillahillahmanillahim" Azka mengusap tangannya pada wajahnya lalu menatap Syafira "udah nda"
Keenan terkekeh pelan melihat tingkah lucu dan menggemaskan putranya itu. Keenan memangku Syafira di pangkuannya. "Azkia mau minum ?" Tanya Syafira pada Azka.
Azkia menggeleng. Ia memilih memainkan tangannya di pipi Keenan. Azkia menusuk nusuk pipi Keenan dengan jarinya. "Ipi apa eyek, anyak ulunya ayak nyet nyet" (Pipi papa jelek, banyak bulunya kayak monyet)
Seketika Syafira tertawa, putranya memang sangat cerdas. "Papa enggak jelek, Azkia yang jepek"
"Apa"(papa)
"Azkia"
"Apa okoknya apa ang jeyekkkkkkkk" (Papa, pokoknya papa yang jelekkkkkkkk)
Hari sudah semakin siang, Keenan dan Syafira memutuskan untuk pulang. Sudah cukup hari ini mereka bersenang senang.
Sekembalinya Keenan dan Syafira dari taman, rumah dalam keadaan sepi. tidak ada tanda tanda keberadaan dari Mahendra. Keenan mencari Mahendra di kamarnya namun dia tak menemukannya.
"Kemana papa pergi?" batinnya.
"papa sudah ketemu Mas?" tanya Syafira.
Keenan menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Syafira tadi. "Kayaknya papa lagi keluar deh sama Alfon, tapi Mas juga gak tahu mereka pergi kemana"
__ADS_1
"Mungkin Papa ada keperluan lain dan harus membawa Alfon Mas, kan papa tidak mungkin meninggalkannya sendirian"
"kamu benar juga"