
2 hari kemudian, Hari ini Keenan dan Syafira akan pergi ke makam Mela sebelum mereka berangkat ke korea besok. Keenan membeli banyak bunga untuk dibawanya ziarah ke makam ibunya.
Keenan sebenarnya juga mau mengajak Mahendra, tapi Mahendra bilang ia sudah berziarah kemarin dan lagi pula Keenan butuh privasi untuk berbicara sesuatu disana.
"Mas anak anak titip sama papa dulu aja ya, aku takut kalau mereka ikut ada kejadian seperti waktu itu" Syafira sempat mengajak anak anaknya berziarah ke makam ibu mertuanya.
Dan saat pulang dari sana badan Azka dan Azkia sangat panas. Mereka menangis terus dan tak berhenti. Sampai akhirnya Mahendra mengundang ustadz untuk mengecek keadaan cucunya.
Dan ternyata Azka dan Azkia diikuti oleh hantu yang berwujud nenek nenek, wajahnya sangat menyeramkan, dan matanya pun bolong. Hantu itu menyentuh badan si kembar hingga badan mereka panas dan menangis.
Ustadz itu pun mencoba mengusir hantu nakal itu, ia membacakan doa yang membuat hantu itu kepanasan dan segera pergi. Dan setelah kejadian itu Syafira tak berani lagi mengajak anak anaknya ke pemakaman.
"Iya sudah, anak anak biar bersama papa dulu. Ayo kita berangkat, ini makin siang cuanacanya juga makin panas" Syafira mengangguk. Ia mengambil selendang berwarna hitamnya dan menutupi rambut dan kepalanya dengan itu.
Keenan menekan remote mobilnya hingga berbunyi. Lalu ia membukakan pintu untuk Syafira. Syafira segera masuk ke dalam dan duduk. Baru setelah itu Keenan menutup kembali pintunya. Ia pun juga ikut masuk ke dalam mobil. Keenan mulai menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Syafira merasa sangat gerah sekali. Walaupun Ac nya dihidupkan. "Mas matiin dulu Ac nya, aku mau buka jendela. Panas banget soalmya" Keenan mengangguk dengan cepat ia mematikan Ac nya.
Lalu Syafira membula jendela mobilnya dan angin pun berhembus mengenainya. Rambut Syafira menjadi beterbangan karena terpaan angin. Syafira tersenyum. "Lebih bagus angin alami Mas dari pada Ac" ucapnya.
"Kamu suka angin? Tapi kami tidak mau masuk angin" kekeh Keenan. Syafira menatap Keenan. "Dari pada kamu Mas, tidak suka angin tapi sula buang angin sembarangan alias kentut" Syafira balik meledeknya.
Keenan tertawa kecil, ia mengambil tangan Syafira dan mengecupnya sekilas. "Nanti pas kita ke korea sekalian bulan madu lagi ya? Bulan madu untuk ketiga kalinya. Walaupun di tempat yang sama"
"Setiap hari kamu udah bulan madu kali Mas di kamar. Gak inget gimana kelakuan kamu pas aku tidur?" Sindir Syafira. Keenan hanya tertawa geli, setiap Syafira tidur Keenan pasti akan mengganggunya. Gangguan yang sangat geli bagi Syafira tapi nikmat bagi Keenan.
Lalu mobil mereka telah sampai di tempat pemakamam umum. Keenan san Syafira segera turun dari mobilnya. Keenan membantu Syafira merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu ia juga memperbaiki selendangnya hingga menutupi semua rambut Syafira.
"Jangan lupa bawa bunganya, biar Mas pegang bunga mawarnya." Keenan membeli bunga yang sudah dirangkai dan dihias, ia juga membeli bunga mawar yang siap digunakan untuk ditabur di sebuah pemakaman.
"Iya ini udah aku bawa" Keenan dan Syafira masuk ke dalam pemakaman. "Assalamualaikum ya ahlil qubur" mereka terua membaca doa itu sampai tiba di satu nisan yang bertuliskan nama Mela.
Keenan dan Syafira segera berjongkok di depan makam itu. Mereka membersihkan daun daun yang berada di atas makam itu sampai bersih. Lalu Keenan mulai berdoa. Syafira juga ikut berdoa bersama Keenan.
Hingga sepuluh menit kemudian mereka tekqh selesai berdoa, Keenan mengusapkan tangannya pada wajahnya. Lalu tangannya menyentuh papan nisan Mela. "Assalamualaikum Ma, Keenan datang"
Syafira melihat ke arah Keenan. "Maafkan Keenan kalau jarang berziarah ke mama. Maaf, Keenan juga tidak bisa membawa Alfon kesini. Keenan mau ngobrol banyak sama Mama hari ini. Tapi yang pertama, Keenan mau bilang kalau Keenan sangat merindukan mama." Mata Keenan terlihat berkaca kaca.
"Kadang Keenan masih menganggap kalau Mama itu masih bersama Keenan. Apa Mama bahagia disana? Apa doa yang selama ini Keenan kirim sudah sampai?"
"Keenan juga mau berterima kasih sama Mama, karena Mama Keenan bisa menjadi seperti ini. Mama selalu mendukung pilihan Keenan termasuk calon istri dulu" Keenan menoleh ke arah Syafira.
"Keenan ingin mama bahagia disana, Keenan yakin mama pasti bangga sama Keenan. Walaupun Mama sudah tidak ada di dunia ini tapi Mama masih tetap ada di dalam hati Keenan."
"Mama tahu? Papa bahkan menepati janjinya untuk tidak menikah lagi. Papa benar benar sayang sama Mama. Apalagi Alfon, Alfon sering bertanya tentang mama. Dimana Mama? Dimana Mama?"
Keenan terus berbicara dengan panjang lebar, ia menyuarakan isi hatinya. "Ma, Dulu Mama pernah bilang sama Keenan. Bahwa nilai 0 akan membawa Keenan pada kesuksesan? Mama benar. Sekarang Keenan sudah sukses, ini semua berkat Mama. Nilai 0 adalah nilai keberuntungan bagi Keenan."
Syafira mengelus bahu suaminya, ia tahu Keenan masih suka sedih ketika mengingat Mela. "Syafira tidak bisa bilang apa apa sama Mama, kecuali Syafira benar benar bangga dengan putra Mama" Syafira melirik ke arah Keenan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Putra Mama bisa menjadi orang yang yang sempurna di mata semua orang, dia bisa menjadi teman, sahabat, suami dan seorang ayah yang baik. Semoga Mama bisa mendengarkan apa yang Mas Keenan katakan."
Keenan meletakkan buket bunga lily di atas nisan Mela. Kemudian ia mengambil bunga mawarnya lalu menaburkannya dari ujung hingga ke ujung. Kini Nisan Mela dipenuhi taburan bunga.
Keenan menatap dan mengelus nisannya. "Semoga Mama ditempatkan di tempat yang terbaik oleh allah, terima kasih atas semua jasa Mama selama ini. Keenan tidak akan melupakannya. I love you Mom"
Syafira tersenyum, akhirnya mereka telah selesai berziarah. Keenan dan Syafira memutuskan untuk pulang khawatir Azka dan Azkia mencari mereka.
Keenan menatap gundukan tanah itu dengan tatapan yang sulit diartikan, rasanya berat meninggalkan Makam itu. Tapi Syafira menyadarkannya dan mereka pun bergegas pulang.
.
.
Setelah kejadian Farhan pingsan beberapa hari yang lalu. Reno dan Kevan merasa bersalah terhadapnya. Mereka sibuk bermain ps dan tak menyadari kalau Farhan pingsan sungguhan. Mereka kira Farhan hanya akting saja, karena Farhan memang suka akting pingsan atau yang lainnya.
Sebagai permintaan maaf, Reno dan Kevan memberikan Farhan hadiah. Mereka membungkusnya dengan hati hati. Dito yang tidak ikut membuat masalah juga ikut ikutan memberi hadiah.
"Eh tapi aneh gak sih kalau kita ngasih hadiah seperti ini apalagi Farhan tidak lagi ulang tahun" ucap Reno pada kedua temannya. "Ya gak juga sih, kan ini sebagai permintaan maaf aja."
"Iya sih, tapi gue kok merasa gak enak ya sama dia. Kayaknya gue udah berlebihan banget bercandanya" sesal Kevan. Dito hanya menatap mereka berdua dengan tatapan biasa. "Ingat prinsip Lavenzi, kalau salah minta maaf, kalau kalah jangan menyerah" ucap Dito.
"Yups lo betul banget. Ya udah ayo kita pergi ke rumah Farhan. Hadiah gue udah dibungkus nih. Semoga aja dia suka" ucap Reno sambip memasukkan hadiahnya pada paper bag yang ia bawa.
Sedangkan Kevan hanya dibungkus dengan plastik. "Ya udah yuk cabut" mereka bertiga segera keluar dari markas dan menaiki motornya masing masing. Tak lupa memakai helm agar aman saat mengebut nanti. Karena kebiasaan mereka tak pernah hilang, saat mereka pergi bersama pasti selalu mengebut. Entah ingin terlihat lebih unggul atau gimana hanya mereka yang tahu.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk mereka datang ke rumah Farhan. Mereka bertiga langsung turun dari mobil dan menaruh helmnya. Kevan menyugarkan rambutnya yang berantakan. Sedangkan Reno dan Dito menunggu Kevan.
Dito memutar bola matanya malas."Gunting aja tuh rambut sampai botak biar gak ribet" Reno tergelak. Selesai merapikan rambutnya Kevan turun dari motor. "Ya udajh tunggu apa lagi ayo kita masuk"
"Kita dari tadi nungguin Lo kali' Kevan terkekeh. Lalu mereka membunyikan bel hingga 3 kali. Sampai akhirnya Farhan membukakan pintu.
"Kalian? Tumben kesini cuma bertiga. Ayo masuk" Farhan membukakan pintunya dengan lebar. Lalu membiarkan mereka masuk ke dalam rumahnya yang super luas itu. Bagaimana tidak di katakan luas jika ruang tamunya saja sudah seperti lapangan bola, rumah Farhan juga dilengkapi dengan Lift. Karena rumahnya memiliki 5 lantai.
"Ayo duduk dulu biar gue siapin minum kalian" ketiganya mengangguk lalu dudk di sofa. "Gimana cara ngasihnya? Gengsi gue. Gue kan gak pernah ngasih dia hadiah, dulu sih pernah cuma ngasih 2 biji permen doang. Itu pun hasil nyolong punya anggota junior" ucap Reno.
"Ngasih mah tinggal ngasih. Tapi saran gue lo harus bikin dia seneng dulu. Kayak lo puji dulu atau gimana. Tapi caranya jangan sama kek gue. Biar gak samaan lo aja dulu yang ngasih pertama nanti" ucap Kevan.
"Ribet amat lo berdua, yang simple tuh gini." Dito menunjukkannya pada mereka berdua bagaimana cara memberikan hadiah itu pada Farhan.
Farhan kembali dengan membawa nampan dan tiga gelas jus mangga. Farhan meletakkannya di atas meja lalu duduk di sofa menghadap mereka. "Tuh minum aja dulu, gue yakin kerongkongan kalian haus"
"Thankz Han" ucap Dito dengan senyumannya. "Terima kasih Farhan" Kevan Dan Reno mengucapkannya dengan serentak membuat Farhan bingung. "Kenapa lo berdua?" Kevan dan Reno saling bertatapan. "Kita mau ngasih lo sesuatu"
Kemudian Reno dan Kevan mengeluarkan hadiah mereka dan memberikannya pada Farhan. Begitu pun dengan Dito. Merema menaruhnya di atas meja. "Apa ini? Kenapa tiba tiba kalian ngasih gue hadiah?" Farhan mengenyitkan dahinya bingung.
"Sebagai permintaan maaf karena udah buat lo pingsan beberapa hari yang lalu" ucap Dito mewakili kedua temannya itu. "Iya Han, Sorry ya kalau becanda gue waktu itu keterlaluan"
"Gue jadi merasa bersalah sama lo" sambung Reno.
__ADS_1
"Jadi karena itu lo bertiga ngasih gue hadiah?" Ketiganya mengangguk bersamaan. Farhan menghela nafasnya. "Waktu itu gue emang pingsan sih tapi gak lama kok cuma sebentar. Gue segera sadar, tapi habis pingsan gue ngantuk. Ya udah gue tidur di lantai"
[Flasback]
Farhan membuka matanya dan tersadar dari pingsannya kemudian ia melihat teman temannya yang asik bermain ps tanpa dirinya. Suara mereka yang berisik membuat Farhan jadi mengantuk.
Alhasil Farhan menutup matanya kembali dan tidur dengan nyenyak. Ia tak peduli kalau harus tidur di lantai. Karena Farhan tak kunjung Bangun, Kevan segera mengeceknya. "Woyyy Farhan beneran pingsan." Teriaknya pada teman temannya.
"Ya ampun, ayo kita bawa dia ke kamarnya" Kevan dengan dibantu yang lainnya menggotong tubuh Farhan ke dalam kamarnya. Untuk pergi ke kamar Farhan mereka harus naik tangga. Karena mereka tidak mungkin lewat lift karena kondisi lift nya hanya muat untuk 4 orang. Sedangkan mereka bertujuh.
Nafas mereka ngos ngosas karena setiap menaiki anak tangga lutut mereka terasa lemas. Farhan benar benar berat. Seandainya tidak takut dosa mereka ingin sekali melempar Farhan dari anak tangga.
"Cepat woyy kaki gue dah pegel nih" keluh Dito. Membuat teman teman yang lainnya mendengus. Dengan sekuat tenaga mereka monggotong Farhan hingga tiba di kamarnya.
"Cepat buka pintunya" perintah Reno. Salah satu dari mereka membuka pintunya dengan lebar. Lalu mereka membawa masuk Farhan ke kamarnya. "Gue udah enggak kuat lagi nih, mumpung kasurnya empuk mending kita lempar aja deh. Toh dia juga gak kesakitan" itu adalah ide dari Reno.
"Kalau dia sampe bangun gimana bang?' Tanya Junior mereka. "Bagus dong kalau bangun, itu artinya dia masih hidup" Kevan menjitak kepala Reno dengan keras. "Emangnya lo berharap teman lo mati gitu" "enggak gitu juga"
"Udah gak usah debat, dalam hitungan ke 3, kita lempar bersama sama". "1..2...3.... Emgghrrrrrr" mereka melempar tubuh Farhan ke atas kasur hingga sedikit terpental karena kasurnya yang empuk"
"Akhirnya udah beres, pegel nih tangan gue"
[Flasback Off]
"Jadi waktu kita gotong lo, lo tidur bukannya pingsan?" Tanya Reno.Farhan mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kalo gitu mah hadiahnya gak jadi" mereka bersiap untuk mengambil hadiah mereka kembali.
"Eittss barang yang sudah dikasih tidak dapat diambil. Dan sekarang hadian ini milik gue semua." Farhan mengambil semua hadiahnya dan membawanya ke pangkuannya. "Lo enak enakan tidur, gak tahu apa kita yang ngangkut lo sampai capek. Pake harus naik tangga lagi"
Farhan tersenyum memamerkan gigi putihnya. "Gue buka dulu deh dari kalian. Semoga aja hadiah lo bertiga bikin gue terharu atau senang gitu" Dito bersedekap dada sambil melihat ke arah Farhan yang akan membuka hadiah darinya.
Pertama Farhan merobek bungkusnye terlebih dahulu. Lalu ia menemukan sebuah kotak di dalamnya. Farhan membukanya dan ternyata isinya adalah jam tangan yang selama ini Farhan incar. "Lo beneran ngasih jam ini ke gue?"
"Iya? Gue tahu lo suka banget sama jam itu. Tapi di indonesia keburu habis. Gue nitip sama bokap gue di jerman jam tangan ini" Farhan memeluk Dito singkat. "Thankz Dit." Farhan menaruh jam tangannya.
Lalu ia membuka plastik milik Kevan yang ternyata di dalamnya berisi sebuah kotak lagi. Kevan mengamatinya dari jauh, ia tidak sabar menunggu reaksi Farhan. Cklek, Kotaknya berhasil ia buka.
Sekarang Farhan mendapatkan sebuah Jaket, Jaket Navy yang berbahan tebal. "Gue tahu lo cuma punya 1 jaket doang, dan itu pun jaket Lavenzi doang. Makanya gue beliin lo jaket." Ucap Kevan.
"Lo perhatian banget sama gue Van, thanks juga buat lo" Kevan mengangguk. "Nah sekarang giliran hadiah gue, tapi sebelum dibuka lo harus menyiapkan diri agar tidak kecewa dulu"
"Memangnya apa isinya?" Tanya Farhan dan Dito bersamaan. Reno tersenyum misterius lalu ia menyuruh Farhan membukanya. Farhan merobek bungkusan kertas kadonya. Farhan mengenyitkan dahinya ketika melihat sesuatu. Ia menatap Reno.
"Semoga hadiah itu bermanfaat bagi lo, harganya memang gak seberapa. Tapi dari pada lo merokok mending makan itu aja" ucap Reno menjelaskannya sebelum Farhan bertanya. "Emang apa sih hadiahnya?" Tanya Kevan.
"Permen kaki satu bungkus" ucap Farhan sambil mengangkat permen kakinya. Dito dan Kevan tertawa terbahak bahak. Tapi tidak dengan Farhan. Sepertinya Reno tahu kalau belakangan ini Farhan sering merokok diam diam.
"Hadiah lo bikin gue terharu Ren, terima kasih karena lo udah perhatian sama gue. Keenan benar, walaupun lo terlihat rese dan konyol tapi lo punya hati yang baik" Reno menepuk pundak Farhan.
"Dan sekarang karena lo bertiga udah ngasih hadiah, yok kita makan makan. Gue udah pesen makanan buat kita. Bentar lagi pasti datang"
__ADS_1
"Nah ini yang gue tunggu, kebetulan perut gue lagi laper" ucap Kevan. Semuanya hanya menggelengkan kepalanya.