
Keenan memarkirkan mobilnya di halaman depan Apartemennya. Ia membuka pintu mobilnya dan turun. Saat Keenan berjalan menuju ke arah pintu, ia mendengar suara tawa seseorang. Dan yang pasti itu bukan istrinya karena suaranya milik laki laki.
Mata Keenan turun ke bawah, ia memandangi sepatu itu. Baru lah ia sadar kalau mungkin di dalam ada Kakak ipar nya yang paling rese itu.
Keenan menghembuskan nafasnya dengan pelan.
Keenan memasukkan paswordnya lalu mulai masuk ke dalam. Saat Keenan masuk ke dalam ia menemukan istrinya yang sedang tidur di atas sofa dengan Alvin yang duduk di sebelahnya sambil menonton Tv. Sedangkan Azka dan Azkia tidur nyenyak dalam box bayi.
Keenan melangkahkan kakinya mendekat. "Syafira sudah tidur?"
Alvin yang mendengar suara Keenan menoleh. Lalu menatap Syafira sekilas. "Dia baru saja tertidur, dari tadi si kembar rewel. Sasa terus menggendong mereka secara bergantian sampai tangisan mereka reda"
Keenan berjalan dan duduk di lantai. Ia melihat wajah Syafira yang tidur. Keenan mengusap rambut Syafira pelan dan mencium kening dan kedua matanya.
"Kamu pasti lelah ya merawat si kembar sendirian?"
Syafira menggeliat pelan lalu membuka matanya. Ia mengucek kedua matanya lalu membukanya dengan perlahan. "Kamu sudah pulang Mas?"
"Mas membangankanmu ya? Tidur lagi gih. Nanti si kembar aku yang jagain kalau mereka bangun"
"Tapi kan kamu harus balik ke kantor?'
"Enggak, aku gak balik lagi ke kantor. Pekerjaanku sudah selesai."
Keenan menaruh tas nya di atas meja lalu menggendong Syafira dengan brydal style. Mau tak mau Syafira harus mengalungkan tangannya di leher Keenan.
"Mas, aku jalan sendiri aja. Kamu pasti lelah pulang kerja"
Keenan tersenyum kecil. "Rasa lelahku hilang karena bisa melihat kamu dan si kembar. Tenang aja Mas masih kuat kok"
Syafira membenamkan dirinya di dada Keenan.
Keenan berjalan dan membawa Syafira ke kamarnya. Alvin yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa mengelus dada. "Kenapa gue selalu jadi nyamuk buat orang lain sih? Kenapa gak orang lain aja yang jadi nyamuk buat gue"
____________________________________________
"Kita tidak bisa menerima uang Keenan ini" ucap Eka.
"Iya Bang, makanya gue punya rencana gimana kalau kita belikan hadiah lainnya saja." Jawab Rangga.
"Hadiah apa kiranya yang cocok dan tidak akan ditolak lagi sama dia?" tanya Reno.
Farhan mengetuk jarinya di dahinya. Lalu tiba tiba sebuah cahaya datang merasuki pikiran Farhan yang terlalu kotor untuk ditempati.
"Aha, gue punya ide nih"
"Apaan?" tanya anggota lainnya.
"Gimana kalau kita belikan popok bayi saja? Azka dan Azkia kan pasti memakainya kalau udah gedean dikit"
"Popok? Uang itu akan kita belikan popok semuanya gitu" ucap Dito.
"Iya, dengan uang ini kita bisa membeli dua truk popok untuk si kembar" jawab Farhan.
Reno tiba tiba berdiri lalu menatap Farhan dengan tatapan nyalang. Lalu seketika ia bertepuk tangan. "Bravo, ide lo benar benar brilian banget Han. Gue sebagai Majikan lo sangat bangga"
Farhan memukul bokong Reno dengan keras. "Gue gak mau punya majikan buluk kek lo"
"Sekata kata lo dah han"
"Jadi fix nih beli popok dua truk?" tanya Kevan.
Semuanya mengangguk tanpa terkecuali. Termasuk Farhan sang pemberi ide itu.
"Yodah gue pesen popokya secara online, kebetulan gue punya kenalan yang kerja di pabrik popok" ucap Dito.
"Cepetan"
____________________________________________
Kedua buah truk telah tiba di depan Apartemen yang luas. Reno beserta yang lainnya turun untuk mengetuk pintu apartemen Keenan.
"Siapa yang ngetuk nih?" ucap salah satu dari mereka.
"Lo aja dah"
Mereka mengetuk pintu secara bergantian. Sampai sang empu rumah membukakan pintunya. Keenan dengan piyama tidurnya membukakan pintu untuk mereka.
"Buset Nan, masih sore udah pake piyama aja" ucap Kevan.
"Hmm, kalian rame rame datang kesini ada apa? Jangan bilang cuma mau ketemu sama gue doang"
"Geer lo, karena lo udah nolak kambing dari kita. Maka sebagai gantinya kita memberikan itu buat lo"
Farhan menunjuk kepada truk yang mengangkut popok yang dibeli mereka. Mata Keenan membulat kaget.
Ia mengucek matanya barang kali ia salah melihat. Dua truk dengan isi popok bayi bertengger di halaman Apartemennya. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Gak usan nolak lagi, kalau sampe lo nolak gue piting pala lo" ucap Dito sebelum Keenan menghujani mereka tatapan yang menghunus.
"Lo pikir rumah gue gudang apa? Ini mau ditaruh dimana" ucap Keenan.
"Lo kan punya kamar yang kosong di dalam, kenapa gak ditaruh disana saja?" ucap Eka mengangkat suara. Kalau Eka yang bersuara pasti akan dituruti oleh Keenan. Itu lah pikir mereka.
"Gue terima satu truk nya aja deh, sisanya buat kalian aja. Kalian lebih membutuhkannya daripada Azka dan Azkia"
Keenan menghampiri salah satu supir truk dan meminta bantuannya untuk menurunkan dan mengangkat semua popok itu pada kamar yang kosong. Ia sendiri tidak yakin kalau popok ini akan muat disana. Karena jumlahnya sangat banyak.
Setelah mengangkut semua popoknya supir truknya pun pamit dan meninggalkan apartemen Keenan.
"Nah, kan sudah diterima. Sekarang giliran lo semua urusin tuh popok kalian. Gue mau nemenin bini tidur. Byee"
Keenan menutup pintunya dan berbalik masuk ke kamar. Sedangkan anak anak Lavenzi pada berdebat tentang masalah popok itu.
"Ini mau dikemanain popoknya? Sayang banget kalau dibuang" tanya Kevan.
"Kalian semua ada yang punya keponakan yang masih kecil kan? Ambil saja beberapa dan berikan kepada keponakan kalian" ucap Eka.
"Tapi kan sisanya masih banyak bang?" tambah salah satu dari mereka.
"Sisanya kita sedekahkan saja" jawab Reno
"Maksudnya?"
Reno tersenyum miring lalu menatap temannya satu persatu. "Kalian akan tahu nanti, ayo ikuti saja gue"
____________________________________________
Dan di sinilah mereka berada, di pinggir jalan raya dengan sebuah truk berisi popoknya. Reno menulis sesuatu di sebuah karton lalu menempelnya di samping kanan truk itu
"Bagi ibu ibu yang membutuhkan popok untuk anak anaknya, segera mampir kesini. Karena hari ini kami bagi bagi popok gratis" begitulah isi tulisannya.
Reno memandang puas pekerjaannya, sedangkan yang lainnya menatapnya tak percaya. Reno melihat tukang parkir di sebrang sana dan ia menyebrang jalan hanya untuk meminjam sebuah pengeras suara.
"Ini kita disini ngapain?" bisik Dito
__ADS_1
"Udah serahin aja sama Reno semua, kita ikuti aja permainannya sepertinya ini menarik ketimbang duduk diem di markas" jawab Kevan dan Farhan
"Menarik pala lo gundul, panas gini" ucap Eka.
Reno kembali dengan membawa pengeras suara. "Buat apa Ren?"
"Gue mau nyanyi tolong kalian putar instrumen wali cari jodoh, kalian harus ikut goyang ya biar makin asyik"
"Boleh juga tuh, ayo hidupkan musiknya"
Salah satu dari mereka meghidupkan musiknya. Lalu saat tiba bagian untuk menyanyi Reno mengangkat pengeras suaranya dan mendekatkan pada mulutnya.
"Apa salahku
Apa salah temanku
Hidup kita penuh lawakan
Tak ada yang mau yang menginginkan popok bayi
Tuk jadi dipakai anaknya
Tuk jadi dibeli ibunya
Tuk jadi bahan promoan
Timur ke barat, terus lurus langsung nyungsep
Tak juga ada yang mau
Dari musim kuaci sampai musim anak ayam
Tak kunjung aku dapatkan
Oh tuhan? Ini kah cobaan
"Goyanggggggg"
"Asekkk"
"Yhuuuuu"
"Mantap Ren".
Seketika mereka menjadi pusat perhatian banyak orang. Bahkan banyak juga yang merekam aksi konyol mereka.
"Ibu ibu bapak bapak siapa yang punya anak bilang aku
Aku yang tengah bagi bagi popok gratis
Karena cuma diriku yang kaya dengan popok
Pengumuman pengumuman siapa yang mau bantu aku bagi bagi popok
Kasihani diriku yang penuh dengan popok
"Monggo, ibu ibu yang mau popok segera mengantri. Semua pasti kebagian."
Bukan hanya ibu ibu yang mengantri, bahkan semua kalangan ikut mengantri. Mulai dari bapak bapak, kakek kakek, nenek nenek, bahkan anak kecil. Mereka semua suka yang namanya gratisan makanya mereka ikut mengantri
Dito dan yang lainnya membagi bagikan popoknya dengan minimal satu orang dapat tiga bungkus popok
"Okee kita lanjut nyanyinya."
Tak juga ada yang mau
Dari musim kuaci sampai musim anak ayam
Tak kunjung aku dapatkan
Oh tuhan? Ini kah cobaan
"Ibu ibu bapak bapak siapa yang punya anak bilang aku
Aku yang tengah bagi bagi popok gratis
Karena cuma diriku yang kaya dengan popok
Pengumuman pengumuman siapa yang mau bantu aku bagi bagi popok
Kasihani diriku yang penuh dengan popok.
Wooo oooh oooh ohoo
Penuh dengan popok
Woo oohhh ohhh ohh
Punya banyak popok
Wooo ooo hooo
Kaya dengan popok.
Orang yang tengah mengantri untuk mendapatkan popok bertepuk tangan dengan keras.
"Bang, boleh minta fotonya gak?" seorang remaja yang Reno taksir berumur 17 tahun datang meminta foto padanya.
"Boleh dek"
Gadis itu mengambil posisi berdekatan degan Reno lalu mengambil fotonya.
"Makasih bang"
"Kamu tidak mau mengantri dapetin popok?"
"Enggak bang, lagian aku juga gak punya adik atau ponakan yang masih bayi. Semuanya udah pada gede" jawabnya.
"Lho gak apa apa? Kan bisa kamu simpen buat popok anak anak kita nanti"
Pipi gadis itu memerah, ia segera pergi dari hadapan Reno. Sedangkan Reno tertawa kecil, digoda begitu saja sudah kabur apalagi dengan hal lain. Seperti tidur bareng maksudnya.
"Ren, bantuin dong. Ini masih banyak popok yang harus dibagi bagiin. Lo naik ke atas gih biar kita gak naik turun buat bagiinnya" teriak Rangga.
"Asyiap bosque, tunggu sebentar. Reno titisan wali akan segera melaksanakan perintahmu"
.
.
.
Tak terasa sudah 5 jam mereka menghabiskan waktu di jalan hanya untuk membagi bagikan popok. Mereka semua tepar di jalanan. Truk nya juga sudah hilang dari pandangan mata.
"Semuanya pada haus, Han lo beli air kardusan sana. Tuh di depan ada indomaret" ucap Reno.
__ADS_1
"Kenapa gue?" Protesnya.
"Lo tadi cuma banyak bacot gak bantuin sama sekali. Udah cepetan sono, sebelum gue tendang muka lo dari sini"
Mau tak mau Farhan berdiri. Ia berjalan ke indomaret sendirian, tanpa ada yang menemani. Hanya udara yang setiap hari menemani hidup Farhan. Ck sungguh mengenaskan.
Farhan mengambil satu buah air kardus, lima buah minuman bersoda dan satu buah susu kemasan cokelat berukuran besar. Farhan menyerahkan barang barangnya di depan kasir.
Dan kebetulan kasirnya adalah seorang wanita muda.
"Ini mau dibungkus Mas?"
"Iyalah mbak, cantik cantik kok oon sih" jawabnya.
"Selow mas"
"Eh mbak, saya boleh bertanya?" ucap Farhan.
"Mau nanya apa Mas?"
"Itu susunya kok bisa gede ya mbak?"
"Hah?"
"Itu lo susu yang dipegang mbak"
Kebetulan bagian kanan tangannya kasir itu memegang susu nya sendiri. Sedangkan yang kiri memegang susu kemasan cokelat. Mbak kasir itu salah paham.
Plakkk
"Mas nya jangan kurang ajar ya, sampe ngatain susu saya gede segala. Nih bawa belanjaannya saya sudah gak sudi lihat wajah Mas"
Farhan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia mengerti kenapa dirinya mendapat tamparan gratis. Mungkin mbak kasir itu mengira ia membicarakan tentang susu padat miliknya.
"Berapa totalnya mbak?"
"Tidak ada yang perlu ditotal, cepat bawa belanjaannya dari sini. Lama lama saya gampar lagi nih Mas nya"
Dengan buru buru Farhan mengangkat kardus airnya dan belanjaannya yang lain lalu segera keluar dari indomaret. Seketika ia tersenyum. "Di balik tamparan gratis, tentu saja juga dapat belanjaan gratis" batinnya.
Farhan berjalan menghampiri mereka. Dan menaruh kardus berisi air di depan semua teman temannya. "Nih bagi yang haus ambil sendiri, satu orang satu biar pada kebagian semua"
"Yoi"
Farhan juga melempar minuman kaleng bersoda atau lebih tepatnya Fanta pada lima sohibnya. Eka, Reno, Dito, Kevan, dan Rangga. Mereka menangkap nya dengan kedua tangannya.
Sementara dirinya meminum susu yang ia beli tadi.
"Han, pipi lo kok merah? Perasaan pas dari sini gak merah kek gitu deh" ucap Rangga yang menyadari hal itu. Seketika semuanya melirik Farhan.
"Iya, itu kek bekas tamparan" jawab yang lainnya.
"Emang tadi gue dapat tamparan dari mbak kasirnya" jawab Farhan dengan enteng.
Reno yang meneguk minumannya langsung berhenti dan menatap Farhan. "Gimana ceritanya lo bisa ditampar?"
"Tadi mbak nya kan lagi megang susu ini sama susu nya sendiri, terus gue bilang gini. Mbak, itu susu nya kok bisa gede? Padahal maksud gue kan susu yang ini. Mbak nya aja yang berpikiran negatif sama gue. Mungkin dia mikirnya gue ngomongin susu dia."
"Bwahahahahahaha"
Bukannya dapat prihatin, Farhan malah ditertawakan oleh teman temannya.
"Lagian lo ngomong susu di depan cewek, pasti salah paham lah"
"Ya kan gue nggak tau, tapi yang lebih menarik adalah. Semua belanjaan ini gue gak perlu bayar"
"Terus gratis gitu maksud lo?" Ucap Kevan.
"Bisa dibilang gitu, soalnya tadi gue nanya totalnya malah dibilang gak usah ditotal. Mbak nya menyuruh gue untuk segera membawa barang barang belanjaan ini, dia bilang muak sama gue"
"Ish ish ish, untung lo teman gue Han" heran Dito.
"Udah sore nih, bentar lagi mau adzan magrib. Mendingan kitq pulang kuy"
"Ya udah ayo, badan gue udah lengket banget nih karena panas panasan tadi"
____________________________________________
"Anak Bunda sudah pada mandi semua, Azka dan Azkia sudah wangi" Syafira duduk di ruang tengah, sambil mengajak Azka dan Azkia mengobrol. Keenan yang baru saja melakukan shalat magrib langsung menyusul Syafira.
"Azka sama Azkia belum tidur?" tanya nya pada Syafira.
"Dari tadi siang mereka tidur terus mas, makanya sekarang mereka belum tidur. Udah puas tidur soalnya"
Keenan mengangguk. Tiba tiba notif handphone mereka berbunyi secara bersamaan. Keenan dan Syafira mengeluarkan handphone masing masing lalu membukanya.
"Sebuah video viral, sekumpul anak geng motor terlihat sedang membagi bagikan popok gratis. Bahkan salah satu dari mereka ada yang menyanyi"
[Video Reno Bernyanyi]
Keenan dan Syafira saling menatap satu sama lain. Lalu kembali menyaksikan video Reno yang viral.
"Mas nyuruh mereka kayak gitu??" tanya nya.
"Mana mungkin aku nyuruh mereka berbuat aneh kek gitu, Mas sudah cerita kan perihal mereka membawa dua truk popok untuk Azka dan Azkia. Nah mas cuma nerima satu truknya. Dan mungkin saru truk lagi mereka gunain untuk bersedekah seperti itu" jelas Keenan.
"Tapi aku suka suaranya oren, walaupun amburadul tapi lama lama enak juga buat didengar" ucap Syafira.
Ia mengklik tulisan download dan setelah selesai tersimpan lah video itu di galerinya.
"Ngapain di download sih sayang? Gak berfaedah juga"
"Buat hiburan aja Mas, lumayan kalau aku lagi bosen di rumah tinggal liat video oren ini"
"Nanti kapan kapan Mas mau bikin studio musik di apartemen kita ini? Biar kamu selalu mendengar suara Mas."
"Janji loh ya?'
"Iya, Mas janji"
Syafira tersenyum hangat dan menunjukkan giginya yang rapi.
Dalam hidup hanya ada dua pilihan
Antara kebahagiaan dan kesedihan.
Itu tergantung dari kamu sendiri.
Bila kamu memilih jalan yang tepat maka kebahagiaanlah yang akan kau dapat.
Namun jika sebaliknya, hanya kesedihan yang dapat kau raih.
Maka dari itu jalanilah hidupmu dengan sebaik mungkin.
Jangan sampai salah langkah
__ADS_1