
Keesokan harinya, Syafira terbangun pada jam 4 subuh. Ia bangun dan langsung membersihkan diri. Setelah itu Syafira merapikan tempat tidurnya sambil bersenandung kecil. Syafira turun ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk nya dan kedua orang tua nya.
Orang tua nya masih belum bangun, jadi Syafira memakan sarapannya sendirian. Kemudian ia menulis sesuatu dan meletakkan di meja makan.
"Syafira izin jalan jalan" tulisnya.
Syafira ingin menikmati waktu sendirian, tanpa kehadiran Keenan dan kedua orang tua nya. Ia benar benar ingin sendirian.
Syafira mengambil tas nya dan mulai berjalan ke luar rumah. Syafira menatap ke arah langit yang masih gelap, bahkan matahari pun belum muncul.
Syafira memutuskan pergi ke taman, tempat dimana ia dan Keenan bertemu. Syafira duduk di bangku taman.
Tanpa sadar air matanya menetes, Syafira tidak tau apa yang menyebabkan dirinya menangis. Tapi yang pasti karena ia terlalu lama berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya. Syafira sangat rapuh, ia merasa dirinya sangatlah bodoh.
"Maafin Bunda sayang, maafin bunda karena menangis. Kamu pasti tidak suka kan kalau bunda menangis. Tapi biarkan bunda menangis untuk hari ini saja. Bunda akan meluapkan rasa sakit yang selama ini bunda pendam"
Syafira berbicara pada janin yang ada di dalam kandungannya. Sungguh, ia masih belum bisa melupakan apa yang dilakukan Rena dan Adit terhadapnya. Ia memang memaafkan keduanya, tapi ia masih belum bisa melupakannya.
Syafira menangis sendirian di bangku taman, ia teringat dulu saat masih kecil.
(Flasback)
"Ayah, Sapila mau es klim"
Tio menggendong Syafira dan memutar mutarnya. "Anak ayah mau es krim rasa apa? Biar ayah belikan"
"Mau lasa coklat ayah"
"Baiklah, ayo kita beli"
Setelah itu Tio membelikannya dua bungkus es krim cokelat dan memberikannya pada Syafira. Syafira memakannya dengan lahap sampai bibirnya belepotan karena es krim.
Tio tersenyum melihat putrinya yang asyik makan es krim. Ia mengelus rambutnya dan berkata "Syafira mau janji gak sama ayah" ucap nya.
"Janji apa ayah?" tanya Syafira.
"Janji kalau suatu saat Syafira akan menjadi wanita yang hebat, yang kuat dan sukses. Syafira harus mewujudkan cita cita. Oh iya cita cita Syafira mau jadi apa?"
"Syapila mau jadi doktel ayah"
"Bagus, ayah doakan kamu bisa dokter dan sukses suatu saat nanti
(Flasback off)
Rasanya menyakitkan karena ia tidak bisa mewujudkan impiannya dan janjinya pada ayahnya. Syafira saat ini bukan gadis yang kuat dan hebat seperti apa yang diinginkan Tio. Melainkan ia wanita yang berpura pura tegar untuk menghadapi kenyataan yang ada.
Keenan melihat semuanya, ia melihat ketika Syafira menangis sendirian di taman. Kebetulan tadi subuh ia pergi ke rumah Syafira, tapi ia melihat Syafira keluar dari rumah dan pergi sendirian. Keenan mengikutinya, ia ingin tahu Kemana gadisnya itu pergi dengan waktu sepagi ini.
Ternyata Syafira pergi ke taman, Keenan bersembunyi di balik pohon. Ia ingin melihat apa yang dilakukan gadisnya itu. Keenan melihat Syafira menangis sendirian. Ia benar benar tak tega.
Setelah sekian lama, akhirnya Keenan keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Syafira. Keenan menepuk bahu Syafira, dan berhasil membuat Syafira menoleh.
"Om, kenapa om ada disini" ucap Syafira sambil menghapus air matanya.
"Harusnya aku yang nanya sama kamu, kamu ngapain sepagi ini ada di taman" ucap Keenan.
"Aku sedang menikmati udara segar" bohong Syafira.
"Udara segar apa yang bisa membuat orang menangis?" ucap Keenan lagi.
Syafira tersenyum lalu menatap wajah Keenan. "Syafira tidak menangis kok"
Keenan menarik Syafira ke dalam pelukannya. "Aku tahu kamu menangis, menangislah di pelukanku. Keluarkan semua beban yang selama ini kau tanggung sendiri" ucap Keenan.
Syafira menangis lagi, kali ini suara tangisannya juga terdengar. Membuat Keenan semakin mengeratkan pelukannya. Ia tidak tega melihat gadisnya rapuh seperti ini.
"Sudah, sekarang sudah cukup. Kamu tidak boleh menangis terlalu lama. Jangan sampai janin yang ada di dalam kandunganmu juga ikut sedih dan menangis"
Syafira menghapus air matanya.
Kini matanya bengkak karena menangis sedari tadi. "Om, mataku bengkak" rengeknya.
"Bagaimana tidak bengkak, kamu dari tadi menangis terus"
Syafira mengambil bedak dari dalam tas nya kemudian ia memoleskan pada matanya agar terlihat baik baik saja. Walau pun tidak bisa menutupi semua nya tapi setidaknya bisa mengurangi.
"Sekarang katakan, apa aku harus menghajar adit, atau membuatnya masuk rumah sakit?" ucap Keenan.
"Tidak usah om, lagi pula aku sudah memaafkan dia"
"Kalau kamu sudah memaafkan dia, lalu kenapa kamu menangis" ucap Keenan.
Syafira menyentuh dada nya sambil berkata "Hati aku sakit om, setiap kali aku mengingat semuanya, hati aku sakit. Rasanya seperti ditikam oleh pisau, atau bahkan lebih dari itu"
"Aku berjanji padamu janda, aku tidak akan pernah membuatmu menangis. Kalau aku gagal maka aku akan menarik janjiku dan berjanji kembali"
"Sama aja bohong" ucap Syafira.
"Lihat lah, sudah jam 6 pagi. Karena kamu menangis mataharinya cepat keluar. Ia ingin melihatmu tersenyum bukan tangisanmu" ucap Keenan sambil menatap ke atas langit.
"Iya om benar juga" jawab Syafira.
"Mau pulang atau jalan jalan sebentar?"
"Pulang aja deh om, aku takut ayah sama ibu khawatir di rumah" jawab Syafira.
"Ya udah ayo"
Keenan mengantar Syafira pulang ke rumahnya. Untung saja tadi ia mengikuti Syafira. Kalau tidak mungkin gadis nya itu akan diculik tuyul.
"Lain kali jangan keluar pagi pagi seperti itu. Nanti kalau kamu diculik tuyul siapa yang susah" ucap Keenan.
"Tuyul itu suka nya nyuri uang om bukan menculik manusia"
"Tapi kan tuyulnya bisa jadi suka sama kamu, terus dia pengen bawa kamu pulang dan dinikahin. Emang kamu mau nikah sama tuyul" ucap Keenan menakut nakuti Syafira.
"Kalau tuyul nya ganteng sih aku mau om. Seperti di drama korea gitu lho. Ada alien yang jatuh cinta sama manusia. Nah kalau di kehidupan nyata mungkin tuyul yang jatuh cinta sama manusia"
"Ya udah, kalau gitu aku aja yang jadi tuyul nya"
"Om jadi tuyul seperti goblin aja ya?" Ucap syafira.
__ADS_1
"Goblin? Apa itu?"
"Gob*** and ngeselin" ucap Syafira.
"Dasar kamu"
Keenan meninggalkan mobilnya di rumah Syafira, ia tidak memakai motornya kalau bersama Syafira.
Alhasil kini Keenan mengantar Syafira pulang dengan berjalan kaki.
Setelah tiba di rumah Syafira, syafira mengajak Keenan untuk masuk.
"Syafira, kamu dari mana saja. Ibu sangat khawatir sekali denganmu?" tanya Wina ketika melihat anak gadisnya pulang.
"Syafira jalan jalan di taman ma, dan kebetulan Syafira juga ketemu om Keenan disana"
Wina mengangguk. "Nak Keenan ayo duduk. Sebentar tante ambilkan minuman dulu"
Kemudian Wina pergi ke dapur mengambil minuman untuk Keenan. Keenan pun duduk di sofa bersama Syafira. "Nanti malam kamu harus dandan yang cantik, okey"
"Kalau gak dandan gimana? Apa om masih suka sama aku?"
"Hei apa maksud kamu. Tanpa dandan pun kamu sudah kelihatan cantik. Aku minta kamu berdandan hanya agar kamu terlihat sangat cantik seperti bintang di langit. Bintang selalu terang dan menyinari yang lainnya. Begitu pun dengan kamu, aku ingin kamu malam ini bersinar dan menyinari semua orang" ucap Keenan dengan panjang lebar.
"Kalau aku bintang nya, om jadi apa?"
Keenan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kalau kamu bintangnya aku jadi langitnya. Aku tidak ingin menjadi bulan, karena bulan tak bisa selamanya berada di samping bintang"
Syafira tersenyum mendengar perkataan Keenan. "Om dapat dari mana kata kata itu?" tanya Syafira. Ia begitu kagum dengan kata kata indah itu.
"Copas dari google" jawab Keenan dengan entengnya.
"Ih gak kreatif"
"Biarin, yang penting cintaku yang kreatif"
Wina kembali dari dapur membawa segelas minuman.lalu ia memberikannya pada Keenan.
"Silahkan diminum nak Keenan" ucap nya.
"Terima kasih tante" jawab Keenan.
"Kalau begitu tante ke dalam dulu. Kamu mengobrol lah dengan Syafira"
"Iya tante"
Kemudian Wina meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
"Om, aku penasaran deh. Tadi om kenapa bisa tahu kalau aku ada di taman, gak mungkin cuma kebetulan kan" ucap Syafira.
"Tadi sehabis shalat subuh aku pergi ke rumahmu, terus aku liat kamu keluar dari rumah. Jadi aku ikutin deh"
"Oh jadi gitu" Syafira mangut mangut mengerti.
"Om pasti belum sarapan kan, aku ambilin sarapan dulu ya buat om" ucap Syafira.
Syafira langsung pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk Keenan. Untung saja tadi ia memasak banyak. Syafira mengambil Nasi dan lauk pauk nya. Kemudian ia juga menyediakan air putih. Lalu ia membawanya pada Keenan.
"Nih om dimakan dulu"
"Ini kamu yang masak?" tanya Keenan sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Iya, kenapa?"
"Enak banget, nanti kalau kita nikah kamu masakin aku tiap hari ya"
"Iya, iya"
Keenan menghabiskan makanannya lalu meminum air putihnya. Setelah itu Syafira membereskan piring kotor dan gelasnya. Syafira membawa nya ke tempat cuci piring dan mencucinya. Lalu kembali lagi.
"Janda, aku pulang dulu. Jangan lupa, nanti malam dandan yang cantik. Oh iya kalau boleh Request baju nya jangan pakai yang ketat, perutmu udah besar. Terus make up jangan sampai menor ya. Lipstiknya usahakan warna pink"
"Iya om tenang aja"
Keenan mencium kening Syafira lama, lalu pulang. Sepeninggal Keenan, Syafira pergi ke dalam kamar nya dan mulai memilih pakaian. Ia menyiapkannya dari sekarang agar nanti malam ia tinggal memakainya.
Skip, Malam hari.
"Keenan, bantuin mama nyiapin makanan" teriak Mela dari arah dapur.
"Ma, mama minta tolong sama papa aja ya. Keenan mau siap siap dulu. Malam ini Keenan harus ganteng di mata calon mertua dan calon istri"
"Dasar narsis" ucap Mela.
Akhirnya Mela memanggil Tio dan meminta bantuannya.
Di kamar, Keenan memperhatikan penampilan dirinya. Ia memakai jas warna hitam dan di dalamnya menggunakan kemeja putih. Ia seperti seorang pangeran saat ini.
"Kurasa aku tidak kalah ganteng seperti leminco leminco itu" ucap Keenan.
Di rumah Syafira
"Sayang, sudah siap belum. Ayah sama ibu nunggu di mobil ya?" teriak Wina.
"Iya bu, bentar lagi Syafira selesai kok"
Malam ini Syafira mengenakan dress berwarna biru. Dress itu tidak ketat dan cukup longgar. Syafira mengurai rambut panjangnya. Ia memberikan pita di bagian kanan rambutnya. Membuatnya terlihat semakin cantik.
Setelah semuanya siap, Syafira turun dan menyusul kedua orang tua nya di mobil. Syafira masuk ke dalam mobil. "Ayah, ayo berangkat."
"Baiklah"
Tio pun menjalankan mobilnya dan segera pergi ke rumah calon besannya. Perjalanan mereka hanya butuh beberapa menit saja. Mereka telah sampai di rumah Keenan.
Tio, Wina dan Syafira turun dari mobil. Mereka mulai mengetuk pintu rumah Keenan.
Tok tok tok
Mendengar ketukan pintu, Mela langsung membuka pintunya. "Jeng Wina, pak Tio, Syafira ayo masuk"
Tio dan Wina tersenyum, lalu masuk bersama Syafira. "Silahkan duduk dulu ya"
__ADS_1
"Pa, calon besan kita sudah sampe" teriaknya.
"Iya bentar" jawab Mahendra.
Mahendra turun dari atas dan menemui Tio dan keluarganya. "Sudah lama?" tanya nya.
"Tidak kok, kami baru saja datang".
"Oh iya ma, Keenan mana" ucap Mahendra.
"Sebentar mama pang.."
Belum sempat Mela menyelesaikan pembicaraan. Keenan turun dari kamarnya dengan gagah. Rambutnya sangat rapi, wajah tampan nya semakin tampan. Dan ditambah lagi senyuman manisnya. Membuat Syafira melongo di tempatnya.
"Om Keenan itu pangeran atau apa sih. Ganteng banget" batinnya.
"Halo tante, om" sapa Keenan kepada Wina dan Tio.
"Halo, wah hari ini kamu semakin terlihat tampan saja" puji Tio.
"Syafira sampai tak mengedipkan mata lho karena melihat nak Keenan" tambah Wina.
Keenan terkekeh, rasanya ia ingin mencubit pipi Syafira yang saat ini sedang Blushing. Lalu Keenan duduk di samping kedua orang tua nya.
"Baik lah, sebelum kami memulai pembicaraan. Lebih baik kita makan malam dulu, istri saya sudah menyiapkan banyak makanan khusus malam ini" ucap Mahendra.
"Iya, semoga saja pak Tio dan Jeng wina memyukai masakan saya" lanjut Mela.
Tio dan Wina saling berpandangan dan tersenyum. "Kami pasti menyukai nya masakan jeng Mela" jawab Wina.
"Baiklah, mari kita pergi ke meja makan" ucap Mela.
Semua orang pergi menuju meja makan, kecuali Keenan dan Syafira. Kedua nya masih diam disana.
"Janda" panggil Keenan.
"I..iya om" Syafira sedikit gugup malam ini. Karena ini pertama kalinya ia melihat Keenan memakai jas seperti itu.
"Malam ini kamu benar benar terlihat seperti bintang, bintang di langit juga bintang di hati aku"
Syafira tersipu malu, mendengar pujian Keenan. Wajahnya sangat panas karena Keenan.
"Ya udah sekarang kita menyusul mereka yuk"
Keenan mengambil tangan Syafira dan menggenggamnya. Keenan membawa Syafira pergi ke meja makan dan menemui keluarga lainnya.
"Syafira, Keenan ayo duduk. Kita makan malam bersama" ucap Mela.
Keenan dan Syafira pun duduk dengan saling berhadapan. Makan malam mereka diselangi dengan tawa canda mereka. Hingga acara makan malam nya selesai.
Setelah selesai, semua orang pergi ke ruang tengah. Kali ini Mahendra akan mengatakan hal yang sangat serius dengan calon besannya.
"Pak Tio.."
"Berhenti panggil pak, panggil nama saja. Sebentar lagi kita akan menjadi besan" ucao Tio.
"Ah iya, Tio. Kami mengundang kalian kesini karena ada hal yang ingin kami bicarakan pada kalian"
"Apa itu?"
"Saya memutuskan untuk mempercepat pernikahan Keenan dengan Syafira. Ini demi kebaikan mereka berdua. Dan saya pastikan tidak akan ada orang yang berani mencemooh Syafira karena menikah dalam keadaan hamil"
"Lalu, kapan saat yang cocok untuk pernikahan mereka" tanya Tio.
"Minggu depan" jawab Mahendra.
Wina dan Tio terkejut mendengar jawaban Mahendra. "Minggu depan, bukan kah itu terlalu singkat. Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahannya?" Ucap Wina.
"Persiapan pernikahan akan diurus oleh teman teman Keenan. Mereka menawarkan diri untuk membantu dalam persiapan pernikahan ini" ucap Mahendra.
"Oh iya Keenan dan Syafira juga sudah menyetujuinya" tambah Mela.
Tio menatap ke arah Syafira, syafira menganggukan kepala.
"Baiklah kalau begitu, saya dan istri saya juga setuju"
"Alhamdulillah" ucap Mahendra, Keenan dan Mela secara bersamaan.
"Ma, pa, tante, om, saya izin berbicara dengan Syafira sebentar"
"Baiklah" jawab Tio.
Sementara kedua calon besan itu berbincang bincang. Keenan membawa Syafira ke luar rumahnya.
"Om kenapa membawaku kesini?"
"Lihatlah ke atas"
Syafira melihat ke atas. Dan betapa terkejutnya ia melihat lampion lampion yang beterbangan di atas langit. Pemandangan itu sangat indah. Syafira tak memedulikan yang lainnya, ia hanya sibuk menatap lampion di atas.
"Kamu suka?"
"Ini om yang menyiapkan sendiri?" tanya Syafira. Yang dijawab anggukan oleh Keenan.
"Aku suka banget om"
Kemudian Keenan berlutut di hadapan Syafira. Ia mengeluarkan sebuah cincin berlian yang ia pesan khusus Syafira. Cincin itu adalah cincin yang paling mahal di antara cincin lainnya. Harga nya setara dengan sebuah rumah.
"Syafira Anindita putri, dulu aku melamarmu sebagai tunanganku. Tapi kini aku melamarmu menjadi istriku. Jadi, Will you marry me?"
Syafira menutup mulutnya tak percaya, ia benar benar tak menyangka Keenan akan melakukan ini padanya. Tanpa menunggu lama lagi Syafira menjawab. "Yes, i will"
Keenan tersenyum bahagia lalu memasangkan cincin nya di jari manis Syafira. Kemudian ia mencium tangan Syafira dengan romantis.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan menggema. Disana sudah ada Tio, Wina, Mahendra dan Mela.
Keenan menggengam tangan Syafira. "Lihat, semua orang bahagia, kita juga bahagia"
Syafira tersenyum, malam ini adalah malam terbaik baginya.
__ADS_1
" Malam ini kamu benar benar terlihat seperti bintang, bintang di langit juga bintang di hati aku"---------------------Keenan Aldebaran Bright
"Perjalanan hidup kita sangat panjang, jadi, ayo kita hidup bersama"---------------Syafira Anindita putri