
Rangga dan Nazwa sedang dalam perjalanan menuju hotel. Mereka akan menginap disana untuk sementara waktu, karena Rumah yang sudah disiapkan Rangga masih belum siap sepenuhnya. Rangga menoleh pada Nazwa.
"Apa kamu bahagia menikah denganku?" Nazwa menatap Rangga sambil lalu ia mengambil tangan suaminya dan menggenggamnya. "Kenapa tidak? Aku sangat bahagia dengan pernikahan ini. Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku juga bahagia, dulu aku selalu iri dengan kehidupan Keenan yang sudah bahagia bersama istrinya. Dan sekarang rasa iri itu sudah hilang karena aku memiliki dirimu"
Nazwa tersenyum, jantungnya berdebar dengan kencang saat bersama Rangga. Awal pertemuannya dengan Rangga adalah ketika ayahnya mengajak makan malam bersama keluarga Rangga. Dan di situ lah mereka bertemu hingga mereka saling mengenal satu sama lain.
Karena merasa keduanya sangat cocok, Ayah Rangga memutuskan untuk menjodohkan keduanya. Dan langsung disetujui oleh ayah Nazwa. Dan mereka pun sepakat menjodohkan Rangga dengan Nazwa.
"Aku tidak bisa memanggil namamu seperti dulu lagi. Sekarang kamu adalah suamiku, jadi aku harus memanggilmu apa?" Rangga tersenyum. "Panggil sayang aja boleh, kalau Mas nanti sama aja kayak istrinya Keenan" ucap Rangga.
Nazwa mengangguk, lalu mereka meneruskan perjalanan dengan keheningan. Rangga fokus menyetir dan menatap ke depan. Sedangkan Nazwa sibuk menatap Rangga dari samping.
Meskipun Rangga tidak terlalu tampan, tapi Nazwa sangat menyukai suaminya. Tubuhnya yang atletis dan dada nya yang nyaman untuk menjadi sandaran. Jujur saja Nazwa tidak pernah melihat Rangga dari segi fisiknya.
Nazwa merasa nyaman saat bersama Rangga. Rangga tidak seperti laki laki lainnya yang suka cium peluk bebas. Rangga sangat menjaga dirinya. Ia tak mau menyentuh Nazwa sebelum mereka terikat dengan kata halal dan sah.
Setelah tiba di hotel, Rangga dan Nazwa turun dari mobil. Rangga menggenggam tangan Nazwa dan membawa mereka masuk ke dalam hotel. Sebelum itu, Rangga tidak perlu bersusah payah untuk melakukan check in di hotel. Hotel yang ia datangi adalah hotel milik ayahnya. Jadi Rangga bebas keluar masuk dalam hotel itu.
"Kita ambil kunci dulu ya, habis itu kita langsung ke kamar" ucap Rangga. Nazwa mengangguk lalu mereka pergi ke resepsionist untuk meminta kunci kamar. "Pak Rangga, ada yang bisa saya bantu pak?"
Resepsionist itu langsung mengenali Rangga ketika ia datang. Rangga tersenyum. "Saya minta kunci satu kamar VIP" ucapnya. "Baik pak, tunggu sebentar"
"Kenapa harus Vip? Bukan kah kamar biasa juga bagus?" Tanya Nazwa pada Rangga. Rangga sedikit mendekatkan tubuhnya pada Nazwa. "Bukan kah malam pertama itu harus indah? Kita akan melakukannya di kamar Vip saja. Disana juga kedap suara, jadi kita bebas melakukan apapun yang kita mau"
Ucapan Rangga membuat Nazwa malu, pipinya yang putih bersih menjadi merona akibat ulah Rangga. Rangga tertawa kecil lalu ia kembali menatap Resepsionist tadi.
"Ini pak kuncinya dan ini kartu akses bapak" Rangga mengambilnya sambip mengucapkan terima kasih. "Ayo kita pergi" ucapnya lagi. Nazwa mengangguk dan mengikuti Rangga.
Rangga memasukkan kartu Aksesnya kemudian memutar kuncinya. Setelah itu pintu kamarnya pun mulai terbuka. Rangga dan Nazwa masuk ke dalam kamar itu. Nazwa mengelilingin kamar itu.
Di dalamnya ada satu buah kasur yang sangat luas, satu Tv, Dua sofa berukuran besar dan masih banyak lagi. Nazwa terpesona dengan interior kamar hotel ini yang sangat mewah. "Bagaimana? Apa kamu suka?" Tanya Rangga.
Rangga memeluk Nazwa dari belakang.
"Suka banget sayang, Makasih" Rangga terkejut. Ia membalikkan tubuh Nazwa hingga berhadapan dengannya. "Coba panggil aku lagi" ucap Rangga. "Sayang?" Nazwa mengulangi lagi.
"Bagus, aku suka kamu memanggilku begitu. Boleh aku..." Rangga menyentuh Bibir Nazwa dengan pelan. Sedari tadi ia sangat tergoda untuk mencicipinya. Rangga ingin tahu bagaimana rasa ciuman yang sesungguhnya.
Meski malu Nazwa tetap menganggukkan kepalanya. Rangga pasti sudah menahan lama untuk dirinya. Nazwa akan memberikannya sekarang jika Rangga mau. Rangga pun melakukannya.
"Anggota kita sisa 27 orang yang masih single. Kalian kapan nyusul mereka?" Reno dan anggota Lavenzi lainnya sedang berduduk ria di dalam markas. Sepulang dari pernikan Rangga mereka langsung ke markas.
"Gak usah nanya orang kalau lo sendiri aja belum ada niatan nyusul" Singkat tapi sangat pas di hati Reno. Reno memang belum ada niatan untuk mencari wanita lagi. Ia masih ingin membahagiakan dirinya terlebih dahulu sebelum membahagian istrinya.
"Tante Belinda juga sering nanyain status lo mulu. Udah lepas jomblo atau belum. Kalau lo emang belum ada niatan buat nikah, lo jelasin baik baik sama nyokap Lo"
"Kenapa pada bahas ginian sih, umur kita masih panjang bro. Kita masih 25 tahun Man. Belum terlambat buat nikah. Ngapain buru buru amat sih" Farhan memang paling sensitif jika teman temannya mulai membahas tentang pernikahan.
"Farhan benar, lagian jodoh itu sudah ada yang ngatur. Santai aja, kalian pasti kebagian jodoh kok." Timpal Dito. Semua anggota Lavenzi mengangguk setuju. "Dari pada lo semua berdebat mending ikut gue" ucap Kevan pada yang lainnya.
"Kemana?" Tanya Reno. "Nangis di pojokan" jawab Kevan dengan asal. Dan membuat Reno dan Dito mendengus kesal karenanya. "Gimana? Mau ikut gak. Lumayan ngilangin rasa gabut lo semua"
"Gue ikut" ucap Farhan. "Lo gila Han, lo mau ikutan Kevan nangis di pojokan?" Ucap Dito pada Farhan. "Lebih gila lagi lo, Kevan gak mungkin ngelakuin hal sebodoh itu. Jadi gue mau ngikutin rencananya aja" jawab Farhan.
"Apa sih rencana Lo Van sebenarnya?" Tanya Reno penasaran. Kevan tersenyum menyerigai. Tapi tidak ada yang menyadarinya. "Kalau lo semua penasaran, ayo ikut gue. Dijamin gak akan rugi buat kalian." Kevan berjalan keluar dengan diikuti Farhan dari belakang.
"Ikutan yuk, daripada bosen di Markas" ajak Dito pada akhirnya. "Ya udah ayo, sebelum mereka pergi jauh". Semua anggota Lavenzi memutuskan untuk ikut dengan Kevan. Entah kemana tujuannya yang penting mereka ikut.
Semua anggota Lavenzi memakai jaket kebanggaannya. Hari ini mereka tampil dengan berbeda. Mereka semua juga menggunakan bandana di kepala dengan tulisan Lavenzi. Dan itu semua ide dari Reno, pemimpin baru mereka.
Dua puluh tujuh motor memenuhi jalan raya, dan itu adalah ulah anggota Lavenzi. Hingga membuat pengendara lainnya kesal karena tidak bisa mendahului mereka. "TUJUAN LO KEMANA SIH VAN" teriak Reno. Motor mereka berdua tidak terlalu jauh jaraknya hingga Kevan bisa mendengar teriakan Reno.
"UDAH LO IKUT AJA DULU, NANTI KALIAN SEMUA PASTI TAHU SENDIRI" kemudian mereka fokus mengendarai motornya masing masing. Kevan memimpin jalan tersebut. Teman temannya pasti akan terkejut nanti.
Motor Kevan berhenti di sebuah taman bermain anak anak, Kevan melepaskan helm nya lalu turun dari motornya. Temannya yang lain juga ikut melakukan hal yang sama.
"Lo ngapain berhenti disini Van" tanya Farhan penasaran. Ia melihat ke arah sekitarnya yang banyak dipenuhi oleh anak anak yang sedang bermain. "Inilah tujuan gue, gue mau main disini. Lumayan buat ngilangin stress. Liat tuh disono ada ayunan, ada kuda kudaan, ada lapangan bola"
Farhan membuka mulutnya lebar, mereka jauh jauh dari markas mengikuti Kevan ternyata tujuannya hanya kesini. Taman bermain. Farhan yakin sepertinya Kevan mengalami MKKB.
__ADS_1
"Lo MKKB ya Van sampe datang kesini?" Tanya nya pada Kevan. Kevan tak mengerti dengan MKKB yang dimaksud Farhan itu. "MKKB apa itu?" Tanya nya.
"MASA KECIL KURANG BAHAGIA" Dito, Farhan dan Reno mengucapkannya secara bersamaan. Kevan hanya menyengir lebar. "Iya gue emang MKKB kok, soalnya pas kecil aku banyakan senangnya tapi kurang bahagianya. Jadi begini deh hasilnya"
"Idiot"
"Udah lah, gue mau main dulu. Kalau lo semua mau disini ya udah. Gue pergi dulu byeee." Kevan melangkahkan kakinya menuju ke taman bermain itu. Ia sedikit berlari untuk lebih cepat sampai ke sana.
"Gimana?' Tanya Reno. "Dah terlanjur nyampe sini. Susul Kevan aja yuk' ucap Dito. Farhan dan Reni mengangguk lalu mereka menyusul Kevan pergi ke taman bermain itu.
.
.
"Terus dorong gue Han, dorong sekuat kuatnya"
Reno ketagihan bermain ayunan. Ia meminta Farhan untuk terus mendorongnya. Farhan pun menjadi kesal karena sedari tadi Reno tidak mau bergantian. "Lo yang minta ya" ucap Farhan.
Farhan menarik Reno ke belakang lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga. "Yuhuuuuuuuuuu" Reno berteriak kegirangan sebelum akhirnya. "GUBRAKKKK"
Reno jatuh ke tanah dengan posisi yang memalukan. Dito, Farhan dan Kevan yang melihat Reno nyungsep seperti itu menertawakannya. Mereka tertawa tanpa membantu Reno yang sedang malu dilihatin orang orang di sekitarnya.
"Aduh ini kok pahit, apaan sih" Reno masih belum bangun juga. Ia merasa ada yang pahit di mulutnya tapi ia tidak tahu apa. Seketika ia sadar, Reno jatuh dengan wajahnya yang menempeli kotoran ayam.
"Huaaaa, gue nyium tai ayam. Bantuin gue woyyy" Reno mencak mencak sendiri di tempatnya. Mulutnya belepotan dengan kotoran ayam. Sebelum membantu Reno Farhan menertawakannya terlebih dahulu sampai puas.
"Makanya kalau main tuh gantian, gue terus yang dorong lo tadi. Kualat kan akhirnya" Farhan memberikan sebotol air yang ia temukan di jalanan tadi. Entah itu milik siapa Farhan asal mengambilnya saja.
"Gimana Ren rasanya? Mantap gak?" Goda Dito. "Oh lo mau tahu rasanya To, bentar gue transfer dulu" Reno memeluk Dito dengan erat sambil memonyongkan bibirnya. "Sini pipi Lo? Biar gue transfer tai ayamnya nih"
"Woyy No, lepasin gue. Gue kagak mau tai ayam. Cukup buat lo aja" Dito berusaha mendorong kepala Reno agar menjauh darinya. Tapi bukan Reno namanya jika ia tidak berhasil.
Cupp
Reno mencium pipi Dito dengan suara kecupannya yang terdengar. Apalagi ditambah dengan bumbu bumbu pemanis yang menyertainya. Reno pun melepas pelukannya.
'Hoeeeekkkkk" Dito menahan dirinya untuk tidak muntah sekarang. Bau nya sangat menyengat di hidungnya. Membuat yang lain menatapnya kasihan. Sementara Reno ia tertawa terbahak bahak. Lalu ia mengambil air pemberian Farhan tadi lalu digunakannya untuk mencuci mulut dan wajahnya.
"Nih, bersihin dulu" Dito dengan cepat mengambil air itu lalu membersihkan pipinya sampai bersih. Ia masih kesal dengan Reno yang seenaknya memberi tai ayam pada wajahnya.
"Udah cukup main ayunanya, mending kita coba mainan yang itu" Kevan menunjuk ke arah sepeda motor kecil yang biasanya digunakan anak anak. "Lo yakin mau main itu? Itu kecil banget astag*" ucap Farhan.
"Justru itu, karena bentuknya kecil itu bisa menjadi tantangan buat kita. Ayo kita balapan pake motor motoran itu. Kalau lo semua menang gue siap ngasih 1 juta. Tapi kalau lo kalah, lo harua ikutin semua perintah gue" tantan Kevan.
Reno, Farhan dan Dito saling menatap sebelum akhirnya mereka mengangguk. "Oke, siapa takut. Gue yakin gue pasti bisa menang" ucap Reno dengan yakinnya.
Kevan mengangguk. "Ayo kita buktikan". Reno, Farhan, Dito dan Kevan menyewa motor motoran kecil itu untuk mereka gunakan selama beberapa menit ke depan. Mereka mengeluarkan selembar uang berwarna merah untuk menyewa 4 motor kecil itu.
"Udah nyerah aja sebelum kalian kalah dan malu" ucap Kevan sambil menatap teman temannya. "Menyerah? Seorang pemimpin Lavenzi tidak kenal dengan apa itu menyerah. Yang ada itu berjuang bukan menyerah"
"Gak usah banyak omong. Kita langsung buktikan saja" ucap Farhan. "Oke"
Dalam hitungan ketiga mereka memulai pertandingan kecilnya itu. Farhan dan Dito terlihat kesulitan mengendaraiya karena ukurannya yang kecil itu.
Sedangkan Kevan dan Reno mereka terlihat bersaing. Reno menambah kecepatannya untuk bisa mendahului Kevan. Tapi Kevan tak mau kalah ia mengengas motornya dengan penuh
"Ngenggggggggggggg" itu bukan suara motornya, melainkan suara Kevan yang mendalami perannya sebagai pembalap motor kecil. Dito dan Farhan masih tertinggal jauh. Mereka lebih memilih pelan pelan saja toh ujung ujungnya akan kalah juga.
Sedangkan Reno, tiba tiba motor yang ia tumpangi berhenti. Sepertinya bahan bakarnya habis.
Reno memilih menyerah saja, ia membiarkan Kevan menang dengan mudah. Kevan sudah melewati garis finish ia menatap teman temannya sambil tersenyum bangga. "Apa gue bilang, lo semua pasti kalah dan gue yang menang"
Reno dan Dito tak menghiraukannya. "Sekarang apa mau Lo?" Tanya Farhan. Karena perjanjian awalnya adalah kalau mereka kalah, harus menuruti semua perintah Kevan. Farhan tidak bisa membayangkan dirinya menjadi tukang suruh Kevan.
"Oke, karena gue yang menang. Duit ini gue simpan kembali di kantong gue. Dan lo semua harus nurutin perintah gue" Kevan menatap mereka satu persatu sambil menunjuk dengan tangannya.
"Ya udah cepetan, apa perintah lo?" Tanya Reno yang mulai tidak sabar. "Gampang, lo semua cuma harus minta foto sama orang orang yang ada disini. Minimal satu orang 1 foto aja. Kalian juga harus mintain nomor handphone nya dan gombalin dia. Ingat, hanya boleh dilakukan pada cewek saja. Cowok jangan. Ntar gue dikira temenan sama homo lagi"
"Sebanyak itu kah perintah lo?" Tanya Dito. Kevan menganggukkan kepalanya dan meyakinkan mereka. "Oke, gue lakuin. Gue kan laki laki sejati, selalu menepati apa yang dikatakannya" ucap Farhan sambil menepuk dadanya.
"Sok, cepat lakuin"
__ADS_1
[AKSI RENO]
Mata Reno melirik kesana kemari mencari mangsa yang harus ia tangkap. Ia tak menemukan gadis remaja ibu ibu pun boleh. Reno berjalan mendekat ke arah mereka. "Punten bu" sapanya.
Ibu ibu itu menoleh pada Reno. "Kenapa Nak?' Tanya nya. Reno tersenyum lalu mengambil handphonenya dari dalam saku nya. "Saya boleh minta foto bareng ibu?" Ibu ibu itu mengernyitkan dahinya. "Buat apa ya?"
"Saya disuruh teman saya buat foto sama orang cantik bu, dan menurut saya ibu cantik kok" Reno memulai terlebih dahulu aksi gombalnya. Ibu ibu tersenyum malu. "Boleh deh, siapa tahu Mas nya cocok jadi suami kedua ibu"
"Astaghfirullah, berdosa lo Ren godain bini orang. Tapi kan udah nanggung, lanjutin aja lah" Reno mengambil posisi dan berfoto bersama ibu ibu itu. "Terima kasih bu, ngomong ngomong saya boleh minta nomor hp ibu?"
"Oh boleh boleh Mas, ini nomornya" ibu ibu itu langsung memberikan nomornya dan langsung dicatat oleh Reno. "Sekali lagi terima kasih Bu.'
"Iya Mas, kalau mau nelfon jam 10 malam aja ya, suami ibu sudah tidur kalau jam segitu. Nanti ibu temanin kamu bobo"
Reno tersenyum canggung lalu segera pergi. Ia bergidik ngeri melihat aksi genit ibu ibu itu.
[AkSI FARHAN]
"Nek, Boleh minta foto?" Ucap Farhan ketika melihat nenek nenek yang sedang duduk di taman menemani cucunya bermain. "Foto itu apa ya cu? Dan kenapa minta foto sama nenek. Nenek gak punya foto cu, nenek cuma punya cucu. Dan Nenek gak akan pernah ngasih cucu nenek pada siapapun. Nenek sayang sama cucu nenek." Nenek itu berbicara dengan panjang lebar membuat Farhan tercengang di tempatnya. Kemampuan bicara nenek itu sangatlah fasih tidak seperti nenek nenek pada umumnya, meski ubannya sudah penuh tapi nenek itu masih sehat dan bugar.
"Saya cuma mau mengambio gambar nenek saja, boleh ya Nek?" "Ya sudah, boleh saja" Dengan cepat Farhan mengambil foto bersama nenek itu. "Nenek punya ponsel gak?" Tanya Farhan ragu karena setahu nya nenek nenek tak pernah punya handphone di masa tuanya.
"Ada cu, sebentar nenek ambilkan dulu" Nenek itu meraba ke dalam kaosnya lalu mengeluarkan iphone 11 nya. Farhan semakin syok saja mengetahun fakta yang ada di depannya ini. "Nenek nenek milenial" batinnya.
"Boleh minta nomor hp nya gak nek?" Nenek itu mengangguk lalu ia menyebutkan nomornya dengan cepat. "Itu nomor nenek."
"Terima kasih Nek, oh iya saya boleh ngomong sesuatu sama nenek?"
"Ngomong apa lagi cu?" Farhan menatap ke arah sekelilingnya dan memastikan tidak ada orang. "Walaupun rambut nenek sudah uban, tapi hati nenek masih kuat. Maksudnya, Masih kuat buat nerima hati saya"
"Maksudnya cu?" Nenek itu tidak mengerti dengan apa yang Farhan katakan, Farhan bersyukur sekali. "Tidak ada nek, kalau begitu saya pamit pergi dulu dan terima kasih atas waktunya"
[AKSI DITO]
Dito melihat ke anak kecil yang ia taksir masih Smp itu. Ia mendekat ke arahnya untuk melakukan aksinya.
"Permisi dek" ucapnya dengan nada yang dilembut lembutkan agar anak itu tidak takut terhadapnya. "Iya om, ada apa ya?" "Om cuma mau minta foto kamu, boleh?" Anak kecil itu mengangguk dengan cepat.
"Cklek"
Dalam satu kali klik Dito sudah mendapatkan satu foto. "Adek punya nomor handphone?' Tanya nya lagi. Anak itu menggeleng. "Apa om mau beliin?" Tanya anak itu. Dito menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Enggak, om cuma nanya aja kok."
"Om mau ngomong kamu dengerin baik baik ya"
Anak itu mengangguk dengan cepat. "Kamu tahu gak perbedaan antara bidadari sama kamu apa?" Anak kecil itu berpikir sebentar sebelum menjawab. "Kalau bidadari cantik kalau aku jelek" jawabnya dengan polos. Dito tertawa pelan.
"Salah, jawabannya adalah tidak ada perbedaan. Karena kamu dan bidadari sama. Sama sama cantik"
"Terima kasih om"
"HEH KAMU NGAPAIN SAMA ANAK SAYA" Dito melirik ke arah pria berkumis tebal yang tak lain adalah ayah dari anak itu. "Ampun pak saya cuma ngomong sama anak bapak sebentar"
"PERGI KAMU SEBELUM SAYA TENDANG PAN*** KAMU ITU" Dito segera berdiri dan lari terbirit birit
.
.
.
"Nih kita udah nyelesain semua tugas dari lo"
Farhan, Reno dan Dito menunjukkan bukti mereka. Kevan mengangguk lalu memberikan jempolnya pada mereka.
"Target kalian siapa saja?"
"Nenek nenek
Ibu ibu
Anak anak"
__ADS_1
Jawab mereka bersamaan.