Bukan Janda

Bukan Janda
Menikah


__ADS_3

"Keenan kamu apain calon mantu mama?"


Seketika Keenan langsung melepaskan gigitannya. Ia menoleh ke arah kedua orang tua nya. "Wah bisa bisanya mama dateng pas lagi kek gini"


Syafira menjauh sedikit dari Keenan, ia merasa malu pada calon mertuanya. Mela dan Mahendra mendekati Keenan, dan tanpa aba aba Mela langsung menjewer telinga Keenan.


"Bagus ya, belum sah udah gigit gigitan"


Keenan mengaduh kesakitan, "Keenan cuma gemas sama pipinya ma, apa salah"


"Gemas sih gemas tapi gak perlu gigit juga kali. Lihat tuh pipi nya jadi merah kan" ucap Mela sambil melihat ke arah pipi Syafira.


Padahal pipi Syafira merah bukan karena gigitan Keenan, melainkan karena malu. "Udah ma, kasian Keenan. Baru kecelakaan udah dapat jeweran"


Keenan mendapat belaan dari Mahendra. Ia tersenyum senang. "Papa memang terbau"


"Apa kamu bilang? Papa bau? Gak jadi deh nolongin kamu. Lanjutin aja ma sampe puas"


"Siap"


Mela menjewer Keenan dengan kuat. Karena tak tega akhirnya Syafira angkat bicara. "Emm Tante, Om Keenan gak salah kok. Jangan dijewer ya, kasian om Keenan"


Mela melepaskan tangannya dari telinga Keenan dan menghampiri calon menantunya itu. "Aduh sayang kamu baik banget sih"


Syafira tersenyum tipis. "Keenan, papa khawatir kalau kamu gak segera menikah. Bisa bisa kamu gagal menahan diri. Jadi papa dan mama memutuskan kalian akan menikah minggu depan"


Syafira dan Keenan tentu saja kaget. Karena ini tidak sesuai dengan apa yang diinginkan mereka. Keenan bersiap akan protes. "Pa, kalau aku menikahi Syafira dalam keadaan hamil. Apa kata orang orang nanti"


Mahendra tertawa kecil mendengar Keenan berbicara seperti itu. "Kamu lupa siapa papa?


Papa bisa menutup mulut orang orang dengan uang kalau mau"


"Emangnya om itu siapa? Superman? Batman? Atau Manusia setengah ikan?" celetuk Syafira tiba tiba.


Tadi Mahendra bilang "kamu lupa siapa papa" itu membuat Syafira salah mengerti.


Keenan dan Mela tertawa terbahak bahak mendengarnya. Sedangkan Mahendra Bingung menjelaskannya. Masa ia harus bilang "saya itu orang yang paling kaya nomor satu se indonesia" bisa bisa ia di cap sebagai calon mertua sombong.


"Bukan, om itu adalah orang tua terbaik sepanjang masa. Jadi sebagai orang tua yang baik om akan melancarkan pernikahan kalian berdua"


Syafira mengangguk mengerti. "Jadi bagaimana? Apa kalian setuju nikah minggu depan?"


Keenan menatap Syafira dengan ragu. Ia takut gadisnya itu tak setuju. Syafira mengangguk ke arah Keenan sembari tersenyum. Itu artinya Syafira sudah setuju.


"Baiklah pa, kami setuju. Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahannya?" tanya Keenan.


"Kamu tidak perlu khawatir, ada orang yang akan mempersiapkan semua pernikahan kalian. Lihat lah keluar"


Keenan dan Syafira menatap keluar ruangan. Dimana semua anggota Lavenzi berkumpul.


"Kalian?"


"Yah kita yang akan membantu persiapan pernikahan lo Nan" ucap Reno mewakili yang lain.


"Iya Nan, selama ini lo telah berjuang buat kita, buat Lavenzi. Kali ini giliran kita yang akan membantu lo"


"Masuk lah kalian"


Semua anggota Lavenzi masuk ke dalam ruangan Keenan tanpa terkecuali. "Gue bener bener ngucapin banyak terima kasih buat kalian semua, terima kasih sudah peduli sama gue" ucap Keenan.


"Keenan, papa sama mama pergi ke ruang dokter dulu. Papa ingin menanyakan kapan kamu boleh pulang"


"Baiklah pa"


Mela dan Mahendra pun pergi. Syafira duduk di samping Keenan. "Neng cantik, mau jalan jalan sama oren gak?" Goda Reno.


"Gak mau, Oren tuh bau. Jauh jauh sana" ucap Syafira sambil menutup hidungnya.


"Wah lo belum mandi ya Ren, pantas aja tadi di mobil bau apek" ucap Farhan.


"Hooh, gue kira bau kentut eh ternyata Reno belum mandi"


"Mungkin Reno kekurangan air di rumahnya makanya ia tidak mandi"


"Guys nanti sumbangin air kamar mandi kalian ke rumah Reno"


"Enak aja, gue itu udah mandi tahu. Nih buktinya"


Reno mengapit sebelah tangannya ke ketiaknya dan menciumkannya pada semua teman temannya. "Huekkk, bau amat sih Ren"


Semua anak anak lavenzi menutup hidungnya sambil menjauh dari Reno. "Oren dari pada bikin bau ruangan ini mending keluar deh"


"Neng cantik, Oren gak bau kok"


Reno mendekati Syafira perlahan lahan. Sementara Keenan ia menunggu apa yang akan dilakukan Reno pada gadisnya. Reno telah berada tepat di hadapan Syafira. Syafira menutup hidung dan matanya. "Kenapa? Mau dicium ya? Sini sini dengan senang hati"


"Nih anak udah mulai ngelunjak"


Keenan mengambil kaos nya yang ia pakai semalam. Lalu memukul Reno dengan kaosnya itu. "Berani banget lo godain gadis gue? Punya nyawa berapa?"


"Gawat Ren, pawangnya ngamuk tuh" batinnya.


"Maaf nan, tadi khilap. Cuma pengen godain neng cantik doang kok" ucap Reno sambil nyengir. Padahal dalam hatinya ia merasa ketakutan yang luar biasa.


"Mulai sekarang lo harus jauh jauh dari gadis gue, minimal  jaraknya harus 10 meter."


"Ya ampun nan apa salahku" ucap Reno dengan dramatis.


"Apa salah dan dosaku Keenan, hingga kau tega menjauhkanku dari neng cantik, apa kamu  cemburu padaku bilang saja bilang saja" Reno bernyanyi.


"Sorry Nan, kita harus mengantar monyet ini ke kandangnya. Kita pulang dulu ya"


Rendi menyeret Reno dengan paksa. Kelakuannya sungguh memalukan bagi semua anak anak Lavenzi. Umurnya aja yang sudah tua tapi kelakuannya masih bocah.

__ADS_1


"Sudah sayang, Reno nya sudah pergi kok" ucap Keenan dengan lembut.


Syafira melepaskan tangannya dari mata dan juga hidungnya. Lalu ia bernapas lega.


"Aku boleh pegang perut kamu?" tanya Keenan.


Syafira mengangguk. Keenan menyentuh perut Syafira dengan tangannya. Perasaannya campur aduk ketika menyentuhnya. "Walaupun dia bukan anak kandungku, tapi aku akan menganggapnya seperti anak kandungku"


Tiba tiba mereka berdua dikejutkan oleh kedatangan seseorang. "Syafira"


Keenan dan Syafira menoleh. "Adit?"


Adit berjalan mendekati Keenan dan Syafira. Keenan langsung membawa Syafira ke dekatnya.


"Ngapain kamu kesini dan tahu dari mana Syafira ada disini" ucap Keenan dengan ketus.


"Aku tadi ngikutin Syafira sampai aku tahu   kalau dia ada disini" ucap Adit dengan matanya yang menatap Syafira.


"Turunkan matamu kalau gak mau ku colok" ucap Keenan.


"Oh maaf"


"Untuk apa kamu mengikutiku?" tanya Syafira.


Adit terdiam sebentar, lalu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam kantongnya. "Aku hanya ingin memberikan ini"


Syafira mengambil kertas itu dan mulai membacanya. Setelah itu Kertas itu beralih di tangan Keenan. Keenan juga ikut membacanya.


"Cih setelah apa yang dia lakukan, dengan mudahnya ia meminta maaf" ucap Keenan.


"Tenang aja, aku udah maafin Rena" ucap Syafira yang membuat Keenan kaget.


"Janda, kamu apa apaan sih. Masa dengan gampangnya kamu memaafkan dia. Apa kamu tidak ingat apa yang pernah dilakukannya padamu, apa kamu..."


"Sttt" Syafira menutup mulutnya dengan tanganya.


"Aku bukan tipe orang pendendam, kalau orang itu benar benar tulus mau minta maaf maka aku akan memaafkannya"


Adit tercengang mendengar jawaban Syafira. Betapa baik nya gadis itu. Adit merasa sangat menyesal karena telah melakukan hal itu pada gadis sebaik Syafira.


"Lalu apa lagi yang kau inginkan?" tanya Syafira.


"Aku ingin meminta sesuatu darimu"


"Minta apa? Bogeman? Pukulan?" ucap Keenan.


Syafira mencubit pinggang Keenan dengan keras. Kekasihnya itu sangat menyebalkan saat ini. "Katakan saja" ucap Syafira.


"Aku ingin setelah kamu melahirkan anak ini, kamu tidak memisahkan nya dari aku. Bagaimana pun aku adalah ayah kandungnya" ucap Adit sambil melirik ke arah Keenan.


Keenan tertawa mendengar perkataan Adit. "Sebagai laki laki aku sangat malu mengenal dan melihatmu di depanku. Seharusnya kamu ganti gender kamu jadi waria"


"Om" tegur Syafira. Dari tadi Keenan terus mengucapkan kata kata menyebalkan


"Aku tidak akan memisahkanmu dari anakku" ucap Syafira pada akhirnya.


Adit bernapas lega, dengan refleks ia memeluk Syafira. Syafira menegang, karena Adit langsung memeluknya dengan tiba tiba.


Sedangkan Keenan ia memalingkan wajahnya. Pemandangan di depannya sangat membuatnya kesal.


Adit melepaskan pelukannya dan berterima kasih sama Syafira. "Oh iya Syafira, selamat ya sebentar lagi kamu akan menikah.


"Darimana kamu tahu?" heran Syafira.


"Aku mendengar semuanya dari tadi"


"Yaudah kalau gitu aku pamit pulang dulu. Terima kasih karena kamu sudah memaafkanku dan Rena" ucap Adit.


Ketika Adit akan pergi Syafira meghentikannya. "Adit" panggilnya.


Adit menoleh "Ada apa?"


"Aku tahu kamu masih cinta sama Rena. Perjuangkan dia, dia berhak bahagia sama kamu"


Adit tidak tahu hati Syafira terbuat dari apa. Ia bahkan begitu peduli pada kebahagiaan Rena.


"Terima kasih Fir"


Adit pun segera menghilang dari pandangan Syafira. Kini Syafira menoleh ke arah Keenan yang sibuk memalingkan wajahnya.


"Om"


Keenan tak menjawab. Syafira memanggilnya sekali lagi. "Om"  tapi tetap saja Keenan tak menjawabnya.


"Sayang, jangan ngambek dong" ucap Syafira berusaha membujuk Keenan.


Keenan tersenyum, tapi ia tak menunjukannya pada Syafira. Masih belum di respon akhirnya Syafira mencoba cara lain.


Cupp


Syafira mencium pipi Keenan. Ciuman itu berhasil membuat Keenan menoleh. "Kenapa mencium aku? Cium saja pria kere itu" ucap Keenan.


"Tentu saja aku mencium om, om kan  kekasihku. Dan pria kere yang om


maksud itu adalah temanku"


"Bentar, om cemburu ya?" tanya Syafira.


"Cemburu? Siapa yang cemburu. Aku cuma tidak suka aja" elak Keenan. Ia terlihat seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta.


Syafira tertawa kecil, ternyata kekasihnya itu sangat pencemburuan sekali. "Udah dong jangan ngambek gitu. Bentar lagi kita bakal nikah lho dan om juga bakal jadi ayah masa kelakuannya kayak anak kecil"


Mendengar kata nikah, Keenan langsung tersenyum. "Tadi ngambek sekarang senyum senyum, dasar om om labil" ucap Syafira.

__ADS_1


"Labil labil gini tapi kamu sayang kan" goda Keenan.


"Enggak juga, aku sayangnya cuma sama Keenan Aldebaran Bright bukan om om menyebalkan sepertimu"


"Kamu semakin hari semakin manis sih. Aku harap anak yang ada di dalam perut mu adalah perempuan. Agar dia bisa cantik sepertimu" ucap Keenan.


Mela dan Mahendra sudah keluar dari ruangan dokter. Dokter memperbolehkan Keenan untuk pulang, karena kondisi nya juga sudah mulai membaik dan tidak ada luka parah.


"Pa, kita besok harus ngomong sama calon besan kita kalau anak anak kita nikahnya dipercepat" ucap Mela.


"Iya, besok kita undang mereka ke rumah. Kamu setuju?"


"Setuju dong pa"


Mela dan Mahendra masuk ke ruangan Keenan. "Keenan, kamu sudah boleh pulang sekarang. Jadi ayo, mama bantu kamu siap siap"


"Kok cepat amat ma?"


"Emangnya kamu mau lama lama di rumah sakit" ucap Mela.


"Enggak"


"Ya udah ayo"


Mela membantu Keenan beres beres dan bersiap untuk pulang. Setelah selesai Mela dan Mahendra mengajak Syafira dan Keenan untuk pulang bersama.


Di dalam mobil, Syafira dan Keenan duduk di kursi belakang. Keenan menaruh kepala Syafira di dadanya. Lalu ia memejamkan matanya.


Mela menyenggol Mahendra "pa, tuh liat kelakuan anak papa"


Mahendra melihatnya dari kaca mobil. "Persis seperti kita dulu ya ma pas masih pacaran"


Mela tersenyum mengenang masa masa pacaran dahulu. Banyak kenangan manis yang ia ingat. Mahendra menggenggam tangan Mela dengan lembut.


 "Ma, kayak nya Keenan butuh adik, kita buatin yuk nanti malam"


"Apa? Enggak mau. Keenan itu udah gede pa" ucap Mela menolak.


"Nolak suami itu gak baik lho ma"


"Iya iya"


"Jadi mama mau?"


Mela mengangguk.


Keenan berbisik pada Syafira "Nanti kalau kita nikah, kita juga buatkan adik ya buat anak kita nanti"


"Belum juga lahir om, udah bahas hal begituan"


"Ya ini kan namanya rencana masa depan sayang"


"Terserah om deh"


Mahendra pergi ke rumah Syafira dulu untuk mengantarnya pulang sekaligus mengundang calon besannya untuk makan malam di rumahnya besok.


Setelah tiba di rumah Syafira, semua nya turun dari mobil. Keenan mengetuk pintu rumah Syafira, yang langsung dibuka oleh Wina.


"Eh ada jeng Mela, pak Mahendra ayo silahkan masuk"


"Terima kasih"


"Silahkan duduk" ucap Wina.


Wina pergi memanggil Tio di kamarnya dan kembali lagi dengan bersama Tio.


Syafira menuntun Keenan untuk duduk, karena ia khawatir Keenan belum pulih sepenuhnya.


"Lho Keenan, bukan kah Kamu lagi sakit?" tanya Tio.


" Alhamdulillah saya sudah sembuh om, tadi kata dokter saya sudah boleh pulang" jawab Keenan.


"Maafin om dan tante ya karena tidak bisa menjenguk kamu, kebetulan tadi tante dan om ada urusan bisnis mendadak" ucap Wina.


"Tidak apa apa tante" jawab Keenan.


Lalu Tio menatap ke arah Mahendra. Mereka bersalaman. "Kedatangan kami kesini selain mengantar calon mantu pulang, kami ingin mengundang kalian untuk makan malam di rumah kami besok malam, sekaligus ingin membicarakan sesuatu" ucap Mahendra.


"Baiklah, besok saya dan istri saya akan datang" ucap Tio seraya tersenyum.


Mahendra dan Mela berdiri. "Kalau begitu saya dan keluarga saya pamit dulu"


"Baiklah, terima kasih karena telah mengantarkan putri saya pulang"


"Tidak masalah"


Syafira dan kedua orang tuanya mengantar keluarga Keenan sampai depan. Mahendra menepuk dan memeluk Tio sebagai tanda perpisahan. Wina dan Mela hanya berpelukan.


Sedangkan Keenan dan Syafira "Om sampai rumah harus istirahat, gak boleh lakuin apapun selain istirahat. Supaya om cepat cepat sembuh"


"Iya, kamu juga. Jaga calon anak kita" ucap Keenan.


Syafira mengambil tangan Keenan dan mencium nya layaknya seorang istri pada suaminya. Keenan mengacak acak rambut Syafira dan masuk ke dalam mobil.


Setelah Keenan dan keluarganya pulang. Syafira pamit pergi ke kamarnya. "Ayah, ibu Syafira mau istirahat dulu" ucapnya.


"Baik lah"


Syafira pun pergi ke kamar nya dan beristirahat.


"Tubuhmu mungkin bisa dimiliki semua orang, tapi tidak dengan hatimu. Hatimu hanya bisa dimiliki olehku"--------------------------Keenan Aldebaran Bright.


"Jangan terluka, luka mu adalah hal yang paling menyakitkan bagiku"----------------------Syafira Anindita putri

__ADS_1


__ADS_2