Bukan Janda

Bukan Janda
Ziarah kuburan


__ADS_3

Selama seminggu, Keenan masih terbaring di rumah sakit. Ia selalu ditemani Syafira di sisinya. Setiap hari Syafira selalu pulang ke Apartemen dan memasak untuk Keenan. Belakangan ini Keenan sedikit rewel. Ia tidak mau memakan makanan yang bukan dari masakannya.


Syafira dengan senang hati melakukannya, ia ingin Keenan cepat pulih dan sehat kembali. Ia sudah sangat merindukan Keenan.


Syafira sedang mengupas kulit buah apel lalu memotongnya menjadi banyak bagian. Syafira mengambilnya dengan garpu lalu menyuapi Keenan.


"Ayo mas makan dulu buahnya"


Keenan menggeleng, selama seminggu ia berada di rumah sakit Keenan terus merengek agar ia bisa pulang keApartemen. Tentu saja Syafira melarangnya dengan tegas. Bahkan sampai ada perdebatan kecil di antara mereka.


Syafira menghela nafas lelah. Lalu tiba tiba ia mempunyai ide cemerlang. Syafira menelfon Alvin dan menyuruhnya ke rumah sakit. Alvin yang saat itu sedang melakukan Gym terpaksa harus berhenti dan membersihkan diri. Kemudian pergi ke rumah sakit.


"Ayo dimakan sedikit saja"


"Aku bosan disini, kasurnya sempit gak bisa ngelonin kamu. Temboknya putih gak ada warna kesukaanmu, terus apa ini, tanganku yang biasanya terpasang jam mahal sekarang harus dipasang infus kayak gini"


Syafira menurunkan pandangannya ke arah perutnya. "Kamu ya yang membuat ayah seperti itu" ia mengelus perut ratanya.


Beberapa saat, Alvin datang dan masuk tanpa harus mengetuk pintu dulu. "Ada apa sa kok kamu memanggil abang kesini"


Syafira tertawa kecil. "Abang duduk di sofa aja dulu"


Alvin mengangguk, ia menghempaskan dirinya di sofa yang empuk itu. Syafira mencoba menggoda Keenan. "Mas yakin gak mau buahnya?"


Keenan terlalu gengsi untuk mengatakan iya, alhasil iya hanya menjawab gelengan kepala. Padahal mulutnya sangat tergoda dengan buah apel itu.


"Ya sudah kalau Mas tidak mau"


Syafira berdiri lalu menghampiri Alvin yang saat itu sedang mengipasi dirinya sendiri. Syafira menusukkan garpu ke buah Apelnya lalu mengarahkan ke mulut Alvin.


"Ayo bang, buahnya dimakan kamu aja. Suamiku tidak menyukainya"


Syafira melirik ke arah Keenan, tentu saja Keenan langsung mengalihkan pandangannya.


Alvin memakan Apel yang disuapi Syafira tadi. Matanya terbuka lebar lalu menatap Syafira tak percaya.


"Ini manis banget Apelnya, kamu beli dimana Sa"


Syafira ikut mencoba, ia mengambil salah satu buahnya lalu memasukkan ke dalam mulut dan menguyahnya. Apa yang dikatakan Alvin memang benar, buah itu sangat manis dan segar.


"Iya bang, buahnya manis banget. Tadi aku belinya di pasar dekat rumah abang itu lho"


Alvin mengambil beberapa buah lagi lalu memakannya dengan cepat. Sedangkan Keenan, ia hanya bisa meneguk ludah ketika Alvin memakan buah Apel itu.


"Kalau mau itu bilang Mas, jangan diam saja"


"Mas gak mau kok"


"Cobain dulu nih"


Syafira kembali ke tempatnya semula lalu menyuapi Keenan buah Apel. Keenan mencoba nya dalam satu gigitan. "Bravo"


"Manis banget, suapi aku lagi"


"Siap Mas"


Alvin sudah biasa ia dikacangi oleh pasangan itu. "Sa, Abang gak mau disuapi lagi nih?"


Syafira hanya cengengesan sambil menunjukkan gigi nya yang putih pada Alvin. "Aku lagi nyuapin suami aku bang, kalau abang mau, ini kupas sendiri lalu makan sendiri


Syafira melempar dua buah Apel pada Alvin yang langsung ditangkap dengan cepat. "Ini nih Adek durhaka yang selalu manggil abangnya pas butuh doang, eh pas udah selesai ditinggalin gitu aja" sungut Alvin.


Syafira yang merasa tersindir langsung menjawab. "Baperan amat sih bang"


"Bukan baper tapi abang tuh gak bisa lihat ke uwu an kalian terus"


"Makanya abang cari pasangan biar tidak sendirian terus."


"Nanti deh abang pikirin lagi"


Keenan menatap Syafira dengan lekat, hari ini Syafira kelihatan cantik dengan rok setengah lutut dan kaos bergambar Lee min ho. Syafira juga memakaikan bando di rambutnya. Membuat Keenan semakin gemas terhadapnya.


"Kenapa liatin aku terus? Ayo dimakan buah apelnya"


"Kenyang, aku mau liatin kamu aja. Kamu juga lebih manis dari Apel"


Keenan berhasil membuat Syafira tersipu, wajah Syafira yang sangat putih, kini memerah karenanya.


Keenan menarik wajah Syafira dan menggigit pipi Syafira dengan gemas. Sungguh, dari tadi ia ingin melakukan itu.


"Mas, malu ih dilihatin abang"


"Resiko orang jomblo" ucap Keenan dengan tanpa beban.


"Lo sakit masih aja ngeselin, dah lah mending gue pergi aja daripada jadi setan di antara kalian"


"Baguslah kalau begitu"


Alvin memutar bola matanya kemudian ia mengambil bantal kecil di sebelah tubuhnya lalu ia mengambil dan melemparkannya pada Keenan, tepat di bagian kepalanya. Setelah melakukan itu tentu saja Alvin kabur, ia tidak mau menjadi sasaran empuk dari Adik iparnya itu.


"Abang kamu ngeselin ya"


Syafira mengelus pipi nya yang sempat digigit Keenan tadi. "Kenapa?"


"Kenapa? Ini pipi aku pasti bakal melar kalau Mas gigit terus"


Keenan terkekeh, lalu ia membuka kaosnya dan hanya bertelanjang dada. Keenan sangat gerah.

__ADS_1


Seorang suster datang membawakan obat dan air putih untuk Keenan. Ia meletakkan nya di samping tempat tidur Keenan. Suster itu tak kunjung pergi, ia malah pura pura merapikan sesuatu tapi matanya terarah pada perut Keenan yang sangat menggoda.


Syafira cemburu? Tentu saja iya. Tangannya sangat gatal untuk menggaruk wajah suster itu. Namun ia berusaha mengendalikannya. Ada cara lain untuk menegur suster itu.


" suster ngesot, ngapain ngelihatin perut suami saya"


Karena ketahuan suster itu jadi salah tingkah kemudian ia segera pergi. Suster itu takut pada  Syafira yang memelototinya.


"Kenapa sayang?"


"Aku gak suka aja lihat tuh suster ngesot ngelihatin perut kamu. Ini milikku dan hanya aku yang boleh memegangnya"


Keenan senang mendengar hal itu. Sebenarnya dari tadi ia sadar kalau suster itu melirik perutnya. Namun ia biarkan saja. Karena ia tahu istrinya tidak akan tinggal diam. Dan seperti dugaannya, Syafira menegur suster itu. Bahkan matanya sampai melotot.


"Tenang aja, selamanya aku akan menjadi milik kamu"


"Oh iya kamu belum cerita sama aku tentang pertemuan kamu dengan Adit dan pergi ke makam Rena"


"Oh iya aku lupa cerita"


(Flasback)


Reno dan Farhan mengantarnya ke rumah Adit.   Mereka berjalan beriringan. Farhan di sebelah kanan dan Reno di sebelah kiri. Seandainya saja Syafira bukan istri Keenan. Pasti ia terpesona dengan ketampanan kedua lelaki tersebut. Namun karena iya sudah memiliki Keenan, hal itu tak mempan baginya.


Syafira mengetuk pintu rumah Adit. Butuh beberapa menit untuk Adit membuka pintunya. 


Adit mengerti kalau yang datang itu Syafira tapi kalau dua curut itu ia masih belum paham.


Adi membukakan pintu nya lalu menyuruh mereka bertiga masuk ke dalam rumahnya. "Kalian ada apa kesini?"


"Ck gak ada basa basinya dulu, seenggaknya tawarin minum atau apa kek"


"Tau tuh, tidak berperiketamuan"


Syafira menahan malu akibat ulah teman suaminya itu. Sedangkan Adit ia mengangguk lalu memanggil pembantunya untuk membuatkan minum untuk mereka. Pembantunya pun datang dan membawa apa yang dipesan Adit.


"Ini Den, silahkan dinikmati"


"Terima kasih bi" ucap Syafira.


"Sama sama non"


Setelah itu Farhan dan Reno langsung menghabiskan minumannya, lain hal nya dengan Syafira yang meminum minumannya sedikit.


"Aku kesini mau nanyain sama kamu, dimana makam Rena"


"Mau ngapain?" tanya Adit.


"Mau buang kentut, itu saja pake ditanya. Ya mau Ziarah lah" sahut Farhan.


"Ssttt, ohan diem dulu"


"Thank you Dit, ngomong ngomong apa kamu sekarang baik baik saja?"


Adit mengehela nafasnya lalu menceritakan kejadian demi kejadian yang telah ia lalui saat kehilangan Rena. Adit bahkan menceritakan kalau saat ini ia sedang berpacaran dengan Ana.


"Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu Dit"


"Thankz"


"Kalau gitu kita pamit pulang, habis ini aku akan pergi ke makam Rena"


"Baiklah kalau begitu, maafkan aku karena tidak bisa menemanimu"


"Tidak apa apa, lagi pula sudah ada dua orang di sampingku."


Adit berbisik pada Syafira. "Mereka siapa?"


"Teman teman suamiku"


Reno dan Farhan mendengar apa yang dibisiki Adit. "Kalau mau berbisik tuh suaranya harus pelan bro"


"Udah udah, kalau gitu kita pulang dulu. Terima kasih atas informasinya."


Adit hanya tersenyum, lalu ia mengantar Syafira sampai ke depan. Setelah itu Syafira masuk ke dalam mobil dan pergi bersama Reno dan Farhan.


Sepanjang perjalanan jangan harap suasana nya akan sepi atau hening. Nyata nya tidak, Reno dan Farhan menyetel lagu DJ dengan suara keras. Bahkan mereka ikut menyayi dengan suara yang pas pasan.


"Nasib apa aku bisa melihat kegilaan mereka"


Perjalanan dari rumah Adit menuju ke pemakaman Rena hanya butuh waktu 15 menit. Jaraknya memang tidak jauh dari rumah Adit.


Setelah tiba di pemakaman, Reno mencari tempat parkir dan memarkirkan mobilnya di tempat yang aman. Lalu keduanya turun bersama dengan Syafira.


"Mau masuk sekarang?" Reno melihat ke arah Syafira yang sedang menerung.


"Iya"


"Ayo"


Syafira dan kedua pendampingnya itu masuk ke dalam pemakaman dan mencari keberadaan nisan Rena. Adit bilang nisan Rena ada di paling pojok, jadi Syafira menuju ke tempat yang diberi tahu Adit.


Dan benar saja, salah satu Nisan tersebut bertuliskan nama Rena. Syafira lalu mendekat ke nisan Rena lalu berjongkok di dekatnya.


Syafira menatap sendu pada nisan sahabatnya tersebut. Ia merasa sangat menyesal karena di masa masa terburuknya Rena, Syafira tidak bisa menemaninya.


"Hai Ren..Ini aku Syafira"

__ADS_1


Reno dan Farhan juga ikut berjongkok di samping nisan Rena. Keduanya hanya menatap Syafira.


"Kenapa kamu memendam semuanya sendiri Ren, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu punya penyakit kanker. Aku merasa jadi sahabat terburuk Ren. Maafkan aku"


Syafira menjedanya sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. Cukup lama ia tao berbicara akhirnya ia membuka suaranya lagi.


"Aku datang kesini hanya ingin mengucapkan maaf dan terima kasih Ren. Meskipun aku sempat kecewa sama kamu, tapi aku memaafkanmu Ren. Aku berharap semoga kamu tenang disana."


Syafira melirik pada Reno dan Farhan. "Kamu tahu gak Ren, sekarang aku punya banyak teman lagi. Salah satunya dua orang yang ada di sampingku ini. Aku menganggap mereka seperti kakakku sendiri. Mereka selalu baik sama aku Ren. Aku bersyukur bertemu mereka"


Reno dan Farhan tersentuh mendengar tuturan dari Syafira. Reno mengelus bahu Syafira, ia sangat menyayanginya. Jangan salah paham dulu, Reno dan semua teman temannya menyayangi Syafira seperti mereka menyayangi adik mereka sendiri.


"Aku berharap kamu bisa bahagia disana Ren, aku akan selalu mendoakanmu dari sini. Kamu adalah satu satunya sahabatku Ren"


Syafira menghapus setetes air mata yang sempat jatuh dari pelupuk matanya. Ia tidak ingin Reno dan Farhan melihatnya menangis.


"Neng cantik, sekarang kita mulai berdoa yuk. Aku yakin saat ini dia sedang menunggu doa darimu"


"Iya"


Syafira mulai berdoa dengan dipimpin oleh Reno, dalam setiap doa nya Syafira selalu menyebut nama Rena di hatinya.


Setelah selesai mendoakan Rena, Syafira menyentuh nisan Rena. Lalu ia berpamitan pulang.


"Ren, aku pulang dulu ya. Kapan kapan aku kesini lagi, aku harus banyak banyak istirahat. Setelah aku kehilangan janin pertamaku, akhirnya aku hamil lagi Ren. Dadah Rena"


Syafira pulang bersama Reno dan Farhan


(Flasback off)


"Jadi begitu ceritanya" ucap Syafira.


"Sekarang gimana perasaanmu? Apakah sudah lega saat sudah berziarah ke makam Rena"


Syafira mengangguk, ia menyembunyikan kepalanya di sela sela ketiak Keenan. Syafira sangat menyukai aromanya. Entah itu harum atau bau tapi Syafira sangat menyukainya.


Keenan terkikik geli saat melihat Syafira mencium aroma ketiaknya. Istrinya itu sangat unik sekali. Seandainya saja ia tidak terbaring dan terluka seperti ini ia pasti akan menerkam Syafira sekarang juga.


Di sela sela kegiatan mereka berdua Syafira teringat kalau Keenan belum minum obat. Ia menegakkan tubuhnya lalu menatap Keenan. Keenan yang ditatap seperti itu mengernyitkan dahi nya.


"Ada apa?"


"Mas belum minum obat kan. Ayo minum obat dulu"


"Kemaren kan udah"


"Itu kan kemaren, sekarang beda lagi"


Kalau sudah begini Keenan tak bisa apa apa selain menurutinya. Ia mengambil obat nya lalu memasukkan ke dalam mulutnya lalu meminum air putih sehingga obatnya turun ke dalam perutnya.


"Nah sudah kan"


"Suami siapa sih ini gemoyy banget, aku suka deh kalau Mas nurut kek gini"


"Gemoyy? Bahasa apa itu?"


"Bahasa bayi"


"Kamu hebat ya selain bahasa tubuh, indonesia, inggris, dan korea kamu juga bisa bahasa bayi"


Syafira terkekeh kecil. Lalu tiba tiba Mela dan Mahendra datang.


"Apa Papa sama Mama mengganggu kalian?" Mela menutup pintunya lalu berjalan mendekati Keenan.


"Enggak Ma, mama gak pernah mengganggu kita. Justru kita sangat senang kalau mama sama papa ada disini"


Mahendra tersenyum, lalu ia mengisyaratkan Mela untuk membawa Syafira keluar. Karena ada hal yang ingin ia katakan pada Keenan.


Mela mengangguk mengerti, lalu Mela tersenyum pada Mela. "Sayang temani mama ke kantin rumah sakit yuk, mama belum makan siang. Sekalian kita makan siang bareng"


"Iya Ma"


"Mas aku mau menemani mama dulu ya"


"Iya sayang"


Setelah kedua wanita itu pergi, Mahendra menatap Keenan. "Ada apa pa?"


Mahendra memberikan gambar Zayn dan kedua temannya. Dalam gambar itu mereka dalam keadaan tidak baik baik saja. Terbukti dari tubuh mereka yang sangat kurus sehingga tulang tulangnya terlihat menonjol.


"Mereka kenapa pa?"


"Mereka sudah positif pemakai narkoba, dan mereka sudah dalam tahap kecanduan. Dan itu akibatnya karena mereka menggunakan barang haram itu. Mereka tersiksa sendiri saat mereka tidak bisa menghisap benda itu lagi. Mereka mengamuk di dalam penjara sampai polisi harus memisahkan mereka bertiga"


"Aku bingung harus bereaksi apa pa, haruskah kita bersyukur"


"Jangan bersyukur harusnya ber istighfar. Ingat Keenan, allah tidak suka melihat hambanya bahagia di atas penderitaan orang lain"


"Papa tahu kesalahan mereka sangat besar, tapi bukan berarti kita harus membalasnya. Papa sempat datang ke kantor polisi dan mengancamnya agar mereka ketakutan. Tapi maksud papa baik, papa ingin mereka menyesali atas perbuatannya itu. Papa sangat menyayangkan sikap mereka. Seharusnya anak seumuran mereka berada di sekolah, bukan di penjara"


Keenan terdiam, ia merasa tertohok atas perkataan Mahendra. Mahendra menepuk bahu Keenan dengan pelan. "Papa hanya ingin kamu bisa memaafkan mereka, itu saja"


"Iya Pa"


Jangan pernah menyimpan dendam pada orang yang telah berbuat jahat pada kita, sebaliknya kamu harus berbuat baik pada Mereka. Karena cepat atau lambat hati mereka akan luluh dengan kebaikan kita.


Ingat

__ADS_1


Api tidak akan bisa padam kalau kita menyiramnya dengan minyak gas


Sebaliknya Api akan padam kalau kita menyiramnya dengan air.


__ADS_2