
Hari ini adalah Weekend, itu sebabnya Keenan tidak pergi ke kantor. Keenan membantu Syafira mengurusi kedua bayi nya. sesekali ia mengajak Azka dan Azkia mengobrol.
"Mas hati hati ngiketnya, jangan sampai kekencangan" peringat Syafira ketika melihat Keenan mengikat tali dari kainnya.
"Iya Mas ngerti kok"
Saat Keenan sudah selesai mengikatnya, ia menggendong Azka dan menimangnya sebentar. "Timang timang anak papa, Azka yang gantengnya mirip sama papa"
Tanpa disuruh tiba tiba Azka tersenyum, walaupun hanya sekilas tapi itu cukup untuk membuat Keenan tertawa bahagia. "Gemesin banget sih anak papa kalau udah senyum"
Syafira yang selesai dengan Azkia berjalan mendekat pada Keenan. Keduanya berdiri secara berdampingan. "Azka dan Azkia walaupun keduanya beda gender, tapi wajahnya benar benar mirip ya Mas."
Keenan mengangguk. "Oh iya nanti papa sama mama mau datang kesini, orang tua kamu juga kayaknya bakal dateng juga" ucap Keenan
"Bagus dong, kalau mereka datang kesini tiap hari atau tiap minggu. Baby z pasti dengan cepat beradaptasi dengan kakek neneknya" jawab Syafira.
Keenan tersenyum. "Gimana sama asi kamu? Keluar terus kan asi nya buat si kembar" tanya Keenan sambil memperhatikan dada Syafira.
"Iya Mas, setiap aku selesai makan Asi nya pasti keluar dengan sendirinya kadang kadang.
Mungkin efek dari makanannya yang membuat asi ku bertambah banyak"
"Syukur deh. Kamu harus makan lebih banyak lagi karena Azka dan Azkia sama sama butuh Asi. Terus jaga pola makannya, jangan sampai makan yang aneh aneh. Karena bisa berdampak pada baby Z"
Syafira terkekeh pelan, suaminya ini kadang bisa beralih profesi. Dari seorang direktur, kadang berubah menjadi Dokter dan penasihat yang baik. Suaminya adalah sosok yang langka di dunia. Mungkin dia terlahir setiap 5 abad sekali.
"Kenapa tersenyum?" tanya Keenan.
"Tidak apa apa"
"Itu mulut Azkia kenapa bergerak gitu?" tanya Keenan ketika melihat mulut putrinya yang seperti sedang mengenyot.
"Dia ingin asi, tadi pagi cuma Azka yang minum asi."
Syafira membuka kancingnya dan mengeluarkan dadanya. Azkia langsung melahapnya dan mengenyotnya dengan kencang.
"Asi itu rasanya seperti apa sih? Kenapa Azka sama Azkia pada doyan banget" ucap Keenan dengan wajah tanpa bebannya.
Syafira terkikik geli. "Setahu aku sih, Asi itu lebih enak daripada susu formula atau lainnya. Asi itu kan keluar dari pabriknya langsung. Jadi terasa menyegarkan dan manis"
"Kenapa? Mas mau nyoba minum asi juga"
"Enggak lah, Mas kan udah pernah minum asi"
"Kapan?" Syafira mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.
"Waktu bayi" jawabnya singkat.
Syafira tertawa pelan, ia takut mengganggu Azkia yang masih minum asi darinya. "Pelan pelan sayang ngenyotnya, Abang lagi gak mau minum kok"
"Enakan mana kenyotan aku dengan kenyotan si kembar?" Tanya Keenan ambigu.
"Maksudnya?"
Keenan menyeringai lalu mendekatkan wajahnya pada Syafira. "Tidak usah pura pura lupa, dulu sebelum Azka dan Azkia lahir. Tiap malam kan aku yang selalu ngenyot dada kamu".
Syafira menahan nafasnya selama beberapa detik. Baru lah ia sadar. Syafira mendorong wajah Keenan dengan kedua jarinya. "Apa sih Mas, pertanyaannya kok gitu"
"Jawab aja dulu?"
"Enakan si kembar, kalau si kembar tidak banyak protes kayak Mas."
"Kapan aku protes?"
"Kapan kamu bilang?"
(Flasback)
"Jangan banyak gerak, nanti Dada kamu lepas dari mulutku. Biarkan seperti ini saja" ucap Keenan dengan suaranya yang sedikit serak.
"Hmm"
"Itu yang kiri jangan ditutupin, mau aku remes sekalian"
"Hmm"
"Kamunya jangan tidur, kalau tidur sama aja aku main sama patung"
"Iya iya"
(Flasback off)
"Masih gak inget juga?" tanya Syafira.
"Ingat kok, gak mungkin aku melupakan hal sepeting itu" jawab Keenan dengan cengengesan
"Kapan mereka datang mas?"
"Mungkin bentar lagi"
Tepat saat Keenan mengatakan itu. Bel pun berbunyi. "Nah mungkin itu mereka"
Keenan berjalan untuk membukakan pintu dengan Azka yang digendongnya. Ia membuka pintu nya dengan lebar. "Mau ketemu si kembar kan? Ayo masuk dulu Ma, pa, Ayah, ibu"
"Terima kasih Nak keenan" jawab Wina dengan senyumnya.
Syafira merasa ada langkah kaki yang mendekat, dengan terburu buru ia melepaskan dadanya dari mulut Azkia dan menutupnya dan menutupnya dengan rapat. Beruntung mereka tak sempat melihatnya dari depan tadi.
"Apa kabar Ma, Pa?" tanya Syafira pada Mela.
__ADS_1
"Kabar Mama sama Papa haik baik saja, bagaimana denganmu? Apa selama ini si kembar membuatmu kesulitan" tanya Mela.
Syafira menggeleng, karena nyatanya saat ia hamil mereka, ia tidak pernah merasa kerepotan selain ngidam yang aneh aneh. Saat sudah lahir pun begitu, mereka tetap kalem.
"Sini Ibu mau gendong Azkia duluan" ucap Wina yang sedari tadi memperhatikan percakapan putrinya dengan besannya. Syafira sedikit membungkuk lalu menyerahkan Azkia pelan pelan.
"Dia baru saja tidur" ucap Syafira. Memang Azkia adalah bayi nya yang sangat suka tidur. Biasanya ia akan tidur setelah minum asi. Berbeda dengan Azka, Azka tidak akan tidur atau minum asi sebelum ia benar benar haus dan bosan.
Syafira sebagai ibu yang melahirkan mereka sangat mengerti dengan sifat mereka. Dalam usianya yang hampir 20 tahun dia sudah mempunyai kedua bayi yang sangat menggemaskan.
Di luar sana mungkin umur segitu masih aktif aktif menjadi menjadi siswa kuliahan dan suka bermain di luar. Lain hal nya dengan Syafira, di umur yang sangat muda ia sudah punya tanggung jawab untuk mengurus suami dan kedua buah hatinya.
"Sini, Mama juga mau gendong Azka" ucap Mela tidak mau kalah dengan Wina. Keenan juga ikut memberikan putranya pada Mela. Akhirnya kedua nenek baru itu menggendong cucunya dengan rasa senang.
"Liat deh pa, wajahnya hampir sama dengan wajah Keenan pas masih bayi dulu" ucap Mela dengan antusias.
Mahendra juga ikut menanggapi. "Tapi masih lebih tampan Azka loh Ma, dulu pas Keenan lahir kan kita masih belum kaya seperti ini. Jadi dulu penampilannya seperti bayi yang terbuang di pinggir jalan" jawab Mahendra dengan sedikit berbisik pada Mela.
Mela terkikik geli karena perkataan Mahendra. Sedangkan Keenan hanya menatap mereka dengan datar. Bagaimana bisa mereka membicarakannya saat dirinya tepat berada di samping orang tuanya.
"Azkia sangat menggemaskan, ibu jadi pengen bawa dia pulang"
Perkataan Wina membuat jiwa dalam Mela meronta ronta. "Mama juga pengen bawa Azka pulang. Kalau bisa keduanya juga mama bawa"
"Gak bisa lah jeng, harus adil dong."
"Ya adil lah Jeng, aku bawa pulang Azka dan Azkia. Kamu bawa pulang Syafira dan Keenan aja"
Tio memutar matanya, sedangkan Mahendra hanya tertawa kecil. Kapan lagi ia bisa melihat istrinya berdebar dengan besannya sendiri?
"Mari kita duduk saja, biarkan mereka berbicara seperti itu. Nanti kalau lelah juga pasti akan berhenti sendiri" ucap Mahendra pada Tio. Tio mengangguk lalu ia dan Mahendra berjalan ke arah sofa dan duduk di atasnya.
Mahendra juga mengisyaratkan Keenan dan Syafira untuk duduk bersama mereka dan membiarkan kedua nenek nenek rempong itu melanjutkan debatnya.
"Gak bisa, Keenan dan Syafira mana bisa digendong gendong. Mereka udah pada gede. Pokoknya harus adil. Kalau kamu Azka aku Azkia, kalo kami Azkia aku yang bawa Azka"
"Gak bisa gitu dong, Mereka kan produk anak aku, Keenan. Coba kalau Keenan tidak membuatnya pasti mereka tidak akan jadi" jawan Mela.
"Tapi kan yang nampung mereka di dalam perut itu Syafira, ia membawanya ke mana mana sampai 9 bulan. Kadang ia merintih kesakitan karena kehamilannya yang sudah membesar"
"Tapi Kan..."
"SUDAH DIAAAAAAAAAAAAAM" Syafira berteriak dengan sekuat tenaga dan berhasil menghentikan perdebatan mereka.
"Mama sama Ibu tidak akan bisa membawa mereka kemana mana, mereka masih kecil. Masih butuh asi. Memangnya kalau mereka mau minum asi apa mama dan ibu akan memberikannya?" Ucapnya dengan tegas. Sedari tadi ia jengah dengan perdebatan mereka.
"Tentu saja Mama pasti akan memberikannya, walaupun tua begini. Mama masih bisa memberikannya Asi" jawab Mela.
"Kamu tahu ibu kan? Asi ibu lebih baik dari asi mama mertua kamu. Mending ibu aja yang bawa mereka"
Syafira sudah pasrah, ia menatap suaminya dengan lemas. "Ayo kita amankan peliharaan masing masing" ucap Tio pada akhirnya.
Tio menarik Wina agar mundur dari hadapan Mela. Begitu pun dengan Mahendra. Syafira dan Keenan memutuskan untuk mengambil Azka dan Azkia dari gendongan mereka. Bisa bahaya jika mereka bertengkar sambil menggendong kedua anaknya.
"Peliharaanku Aman"
"Aku juga"
Ketenangan hanya berlaku satu menit sebelum aksi menjambak terjadi di antara mereka. Wina memegang kedua telinga Mela dan menariknya dengan kuat.
Sedangkan Mela menarik rambut Wina yang disanggul rapi. Keduanya tak ada yang mau mengalah.
"Ma, gak usah kayak gitu. Mama udah tua harusnya malu sama umur. Apalagi dilihatin sama anak anak" Nasihat Mahendra.
"Kamu juga Wina, bisa bisanya kamu bertengkar dengan besanmu sendiri" ucap Tio.
Wina dan Mela sama sama menatap suami mereka dengan tatapan yamg tajam. Kedua bola mata mereka seakan menusuk wajah mereka dan menghancurkannya berkepimg keping.
"Fiks papa angkat tangan"
"Aku juga"
"Udah lah, Ayah sama papa mendingan kita ke belakang saja. Biarkan mereka seperti itu" ucap Keenan pada akhirnya.
Tio dan Mahendra mengangguk lalu pergi bersama Keenan dan Syafira ke belakang rumah mereka.
____________________________________________
"Azkia ayo coba senyum sama opa, opa sudah melihay senyum abangmu. Opa ingin lihat senyuman azkia. Ayo nak senyum" ucap Tio berbicara dengan Azkia.
Azkia hanya menatap wajah Tio dan tidak berniat untuk tersenyum. "Nanti kalau Azkia senyum kalau udah gede opa beliin es krim mau gak?"
Azkia menarik kedua sudut bibirnya. Membuat Tio terkekeh karena berhasil membuat Syafira tersenyum padanya.
Keenan duduk di samping ayah mertuanya. Ia memperhatikan interaksi antara cucu dan kakek itu. "Dua hari lagi, Keenan mau melaksanakan akikah untuk Azka dan Azkia yah. Keenan harap Ayah bisa datang dan membimbing Keenan untuk melalukannya. Karena Keenan tidak pernah punya pengalaman apapun tentang Akikah"
Tio menoleh pada Keenan. "Ayah pasti akan membantumu. Dulu ayah sama seperti kamu? Semasa Syafira kecil diakikahkan ayah juga minta bimbingan pada orang tua ayah."
"Kalian mengobrol tanpa mengajak aku?" ucap Mahendra yang baru saja muncul dengan Azka.
"Maaf Pa, papa habis darimana?'
"Mengajak Azka mencari udara segar di sekitar apartemen kamu itu. Kalian lagi bicarain apa?"
"Akikah untuk Kedua Baby Z" jawab Tio singkat.
"Kamu sudah menyiapkan segalanya kan Keenan?" tanya Mahendra.
"Sudah pa, semuanya sudah siap"
__ADS_1
Syafira datang dengan membawa beberapa cemilan untuk mereka. "Ini pa, maaf Syafira tidak punya cemilan lain selain ini" ucap Syafira pada Mahendra.
"Tidak apa apa, ini saja sudah cukup"
Kemudian mereka berempat berbincang bincang dengan asyik, bahkan sampai salah satu dari mereka tertawa terpingkal pingkal.
"Waktu itu benar benar lucu" jawab Mahendra sambil berusaha menghentikan tawanya.
Dari arah lain, Wina berjalan ke arah mereka dengan Mela yang berada di rangkulannya. Keduanya saling merangkul dan tersenyum satu sama lain.
"Halo semuanya"
Semuanya menoleh tanpa terkecuali. Mahendra merasa ada yang aneh dengan mereka berdua. "Kenapa kalian tiba tiba akur?"
"Kami sudah puas berantemnya. Lihatlah hasil karya kami"
Mela menunjukkan telinganya yang benar benar memerah, sedangkan Wina menunjukkan rambutnya yang acak acakan dan banyak yang rontok.
"Harusnya bukan jambak jambakan aja Mah, kenapa enggak saling banting aja kayak di sinetron terbaru itu" ucap Keenan mengusulkan. Syafira mencubit pinggamg Keenan dengan keras.
"Mas pikir mama kita petinju apa sampe harus banting bantingan segala"
"Ya kan biar seru, siapa tahu viral juga kayak Reno. Kalau viral kan judulnya *Seorang Mertua dan ibu dari Keenan Aldebaran Bright seorang pengusaha ternama terlihat sedang adu kekuatan*"
"Terserah kamu Mas"
"Wah boleh juga tuh kapan kapan Mama mau belajar taekwondo"
"Ajak aku juga ya jeng?"
"Pasti"
"Apaan mama belajar taekwondo, senam biasa aja kadang pinggangnya encok. Sekarang sok sok an mau belajar taekwondo" cibir Mahendra.
Mela melotot pada Mahendra agar ia tetap diam. "Mana ada aku encok, kalau Mama sering encok papa pasti gak mungkin main sama mama di malam hari"
Kali ini semuanya menatap Mela dengan tak percaya. Kemana urat malu Mela saat mengatakan itu? Sungguh, Keenan rasanya ingin menenggelamkan diri mendengar mama nya mengatakan hal itu. Terlebih di depan kedua mertuanya.
"Ma, jaim dikit bisa gak sih? Malu tau gak" ucap Mahendra.
"Kenapa malu? Lagian disini sudah pada menikah semua. Jadi mereka mengerti lah pembahasan kita"
"Mama itu terlalu blak blakan tau gak" ucap Keenan pada akhirnya. Mela mengabaikan perkataan Keenan dan memilih untuk duduk di samping Mahendra. Sedangkan Wina berada di sebelah Tio.
"Aku ingin memberi tahu kalian sesuatu" ucap Mela sambil menunduk. Ia memainkan jari jari tangannya karena merasa gugup. Karena hal ini pasti membuat semua orang terkejut. Terlebih suaminya, dia pasti tidak akan percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Apa?" tanya Mahendra.
Mela menghembuskan nafasnya. "Seminggu ya lalu Mama pergi ke rumah sakit..."
"Mama sakit?"
"Kok kamu gak bilang aku sih?
"Sakit apa jeng?"
"Iya, parah gak?"
"Mama kenapa nyembunyiin semuanya dari kita?"
Semuanya merecoki Mela dengan berbagai pertanyaan. Mela khawatir, kalau hanya dengar kata rumah sakit mereka bisa seheboh ini. Lalu bagaimana dengan berita yang akan ia sampaikan.
"Mama enggak sakit."
"Lantas?" Ucap Tio. Ia sedikit tertarik dengan apa yang dikatakan Mela.
"Sebelumnya aku enggak tahu ini kabar bahagia atau mengejutkan bagi kalian" ucap Mela.
"Ma, gak usah buang buang waktu. Cepat katakan saja. Keburu Baby Z nangis nanti" ucap Keenan.
"Iya sabar, Mama mau menarik nafas dulu"
Mela mengambil nafas yang dalam lalu menghembuskannya. Ia berusaha menghilangkan rasa grogi nya karena ditatap sedemikian oleh Mahendra.
"Dari pada Mama mengatakannya lebih baik mama menunjukkan nya secara langsung"
Mela mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang dari dalam tas nya. Kemudian memberikannya pada Mahendra.
"Apa ini?" tanya nya.
"Buka saja"
Mahendra membukanya dengan perlahan lahan. Sepuluh detik setelah kotak itu terbuka. Mahendra menatap Mela dengan dalam. Mela mengangguk. Langsung saja Mahendra berdiri dan mengangkat tubuh Mela tinggi tinggi.
Semua orang yang ada disana bingung kenapa Mahendra sebahagia ini. Ada apa sebenarnya dalam kotak itu. Keenan mengambilnya dan memeriksanya sendiri.
Test pack yang menunjukkan dua garis, itu artinya positif hamil. Keenan menatap Mela tak percaya. Di usia nya yang tak lagi muda, Mela akan hamil lagi.
"Apa itu Mas"
"Test pack" jawabnya.
"Jadi Mama hamil?" tanya Syafira lagi.
Keenan mengangguk lemas. Benar kata Mela, ini mungkin kabar bahagia sekaligus mengejutkan baginya. Saat anak itu lahir pasti usianya akan terpaut jaih dari Keenan. Umurnya saja saat ini sudah 27 tahun.
"Makasih ya? Selain mendapat cucu. Aku juga mendapatkan anak dari kamu" Mahendra mengecup kening Mela berkali kali.
Mela meneteskan air matanya, ia tidak menyangka suaminya akan sebahagia ini.
__ADS_1