Bukan Janda

Bukan Janda
Akhir sebuah kisah [END]


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Rangga, semua anggota Lavenzi datang menghadirinya. Mereka semua membawa pasangan masing masing, tapi bukan pasangan seutuhnya. Melainkan pasangan untuk menemani kondangan saja. Semuanya mengajak Ibu mereka masing masing kecuali Eka yang masih mengajak anak dan istrinya.


"Aduh Ren, kamu tuh ya. Kondangan bukannya ngajak pasangan malah ngajak Mama. Ngeliat pengantin wanita nya Mama malah pengen cepat cepat punya menantu. Kamu kapan tuh menyusul Si Rangga" omel Ibu Reno.


Reno menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sebentar lagi Reno pasti nyusul Ma. Reno lagi nyari calon dulu buat Reno" ucapnya kembali. Belinda, Ibu Reno menggelengkan kepalanya. "Dari dulu kamu terus bilang begitu tapi mana buktinya."


"Sabar Ma, Lagian nyari pasangan itu harus pelan pelan. Biar lambat tapi langgeng selamanya dari cepat tapi cerai secepatnya" ucap Reno. Bukan hanya Mama nya saja yang ingin mendapat menantu, Reno juga ingin mendapatkan pasangan.


Tiba tiba fokus semua tamu teralihkan oleh kedatangan seseorang. Bahkan musik yang sempat diputar tadi dihentikan juga. Keenan datang bersama Syafira dan kedua anak kembarnya.


Keenan yang memakai Jas hitam dan kemeja putih serta dasi kupu kupu di lehernya, Syafira memakai gaun putih selutut dan sedikit riasan di wajahnya. Sedangkan Si kembar, mereka hanya menggunakan baju biasa saja tapi masih pantas untuk datang ke kondangan. Mereka sangat lucu dengan pakaian bergambar upin ipin itu.


Keenan dan Syafira menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan sang pengantin yang duduk di pelaminan pun juga ikut melihat ke arah mereka.  "Ternyata Pak Keenan Aldebaran datang juga." Bisik semua orang.


"Istrinya sangat cantik ya? Apalagi anak anak mereka sangat lucu" berbagai pujian mereka dapatkan ketika memasuki gedung tempat Rangga menikah. Dengan melingkarkan tangannya di lengan Keenan, Syafira tersenyum pada semua orang.


Keenan dan Syafira menghampiri sepasang pengantin itu. "Selamat ya Bro, akhirnya Lo nikah juga. Semoga cepat dapat momongan dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah" ucap Keenan sambil memeluk Rangga singkat.


"Terima kasih Nan, kayaknya Lo lebih populer disini daripada gue sebagai pengantin pria nya" ucap Rangga sambil tertawa. "Enggak juga, lagian disini tokoh utama nya adalah kalian berdua" ucap Keenan membuat Rangga mengangguk.


Syafira menyalami pengantin wanitanya. "Selamat ya Mbak, semoga pernikahannya selalu diberkahi allah dan langgeng terus" ucap Syafira. Pengantin wanitanya tersenyum seraya mengangguk. "Sepertinya kamu masih muda? Umur berapa?" Tanyanya.


"Enggak terlalu muda kok Mbak, cuma 22 tahun aja" jawab Syafira. Nazwa, sang pengantin wanita hanya ber oh ria ketika tahu bahwa umur Syafira masih muda.


"Ya sudah kalau begitu, gue mau gabung sama yang lain" ucap Keenan. Rangga mengangguk. "Nikmati pestanya Nan, jangan sungkan sungkan" ucap Rangga. Si kembar yang sedari tadi diam meminta digendong pada Keenan.


"Apa, endong Ka" (Papa, Gendong Azka). Azka mengangkat kedua anak kembarnya dalam gendongannya. Sepertinya mereka lelah karena berjalan terlalu lama tadi.


"Azkia aku aja yang gendong Mas" ucap Syafira. "Tidak usah, nanti penampilan kamu kusut kalau harus menggendong Azkia. Biar aku saja yang menggendong anak anak"


Syafira mengangguk, lalu mereka turun dan bergabung bersama anggota Lavenzi yang lain. Keenan menghampiri Reno yang sedang bersama Ibunya. "Halo Tante, apa kabar?" Keenan menyapa belinda dengan hangat.


Selama ini Keenan mengenal semua ibu dari teman temannya. Bahkan sangat akrab, mereka bahkan menganggap Keenan seperti anak nya sendiri kalau Keenan bermain ke rumah anak anak mereka.


Belinda tersenyum lalu memeluk Keenan. "Tante baik baik saja, sudah lama ya kamu tidak pernah datang ke rumah. Tante terus nanyain kamu sama Reno" ucap Belinda sambil menatap Keenan.


"Maaf tante, belakangan ini Keenan sangat sibuk jadi tidak bisa main ke rumah tante" ucap Keenan. "Tuh Ren, contohlah Keenan. Udah ganteng, baik, sopan, punya istri cantik lagi. Apalagi anak anak kembar."


Reno memutar bola matanya malas.


Kemudian Belinda pergi bergabung bersama ibu ibu yang lainnya. Belinda bergabung bersama ibu Farhan, Dito, Reno dan Rangga. Mereka membicarakan tentang putranya masing masing.


"Mas, ingat gak waktu kita nikah dulu. Resepsinya disiapin oleh teman teman Mas. Dan kita hanya memilih temanya saja. Rasanya dulu resepsi kita walau sederhana tapi sangat membekas di pikiranku." Ucap Syafira sambil menatap Keenan.


Keenan mengangguk. "Pernikahan itu gak perku mewah yang penting cukup sah aja dan hubungan tetap langgeng. Itu yang paling penting. Dan Mas bersyukur saat ini masih bisa berada di samping kamu. Bersama anak anak dan bersama keluarga kita"


Syafira melihat ke arah Rangga dan Nazwa yang sedang menyalami para tamu, keduanya terlihat sangat serasi. Walaupun mereka dijodohkan tapi mereka sangat bahagia. Mungkin mereka memang saling mencintai.


Setelah semua tamu sudah pulang, Rangga memutuskan untuk menemui teman temannya  yang masih belum pulang juga. "Pengantin baru datang nih" ucap Dito pada yang lainnya. Mereka membuka jalan dan menyuruh Rangga bergabung bersama mereka, termasuk Keenan.


"Gimana? Enak gak jadi pengantin" tanya Eka ketika Rangga duduk di sampingnya. Rangga menoleh sebentar dan menatap semua temannya. "Belum sekarang Mah, enaknya nanti malam. Kalau sekarang capek berdiri terus nyalamin semua tamu"


"Lo emang pengantin kurang ajar Rang, masa istri Lo ditinggal di atas pelaminan" ucap Keenan ketika melihat Nazwa yang masih duduk di kursi pelaminan. "Dia masih capek, gue nyuruh dia duduk dulu. Gak tega gue ngeliatnya" ucap Rangga.


"Kak Rangga sama mbak Nazwa saling mencintai kan?" Tanya Syafira penasaran. Rangga mengangguk. "Tapi dari mana kamu tahu?" Tanya nya. "Kelihatan dari mata kalian" jawab Syafira.


Beberapa menit kemudian, Nazwa ikut bergabung bersama mereka. Dengan gaun pengantinnya yang lebar ia berjalan pelan pelan. Ia ingin mengenal teman teman suaminya. "Rang, bantuin tuh bini lo" ucap Reno.


Rangga menolehkan kepalanya dan terkejut melihat Nazwa yang berjalan ke arahnya. Nazwa terlihat kesulitan. Rangga beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan menghampiri Nazwa.


"Kenapa gak manggil aku sayang? Susah lho jalan pakai gaun pengantin kayak gini" ucap Rangga dengan perhatian. Nazwa tersenyum kecil. "Tidak apa apa, aku ingin bergabung bersama kamu Mas."


"Iya, tapi jangan jalan Ya.Aku gendong aja" Dengan susah payah, Rangga menggendong Nazwa dan membawanya bergabung dengan semua teman temannya. "Nah, sekarang turun"

__ADS_1


"Sini mbak gabung sama aku aja" ucap Syafira. Syafira membantu Nazwa berjalan ke arahnya dan duduk bersama. "Ini anak anak kamu?" Tanya Nazwa melihat ke arah Azka dan Azkia yang ada di pangkuan Keenan.


"Iya Mbak, itu anak anak aku" jawab Syafira. Rangga menatap Nazwa. "Tenang aja yang kalau mau nanti malam kita bisa proses kok. Siapa tahu dikasih juga sama allah" ucapnya yang langsung disorakin anggota Lavenzi lainnya.


"Untuk dapat anak kembar ada resepnya Rang, mau tahu gak?" Ucap Keenan pada Rangga. "Resep? Emangnya resep makanan?" Sahut Farhan. Sedangkan Rangga menatap serius Keenan.


"Apa resepnya?" Tanya nya. Keenan tersenyum jahil. "Lakuinnya jangan di atas kasur, tapi di kamar mandi. Terus posisinya jangan berdiri, jangan duduk dan jangan jongkok apalagi berbarik"


"Terus gimana cara mainnya kalau begitu?" Tanya Eka. "Mau masukin gimana kalau gitu?" Reno juga ikut ikut bertanya dengan pertanyaan yang ambigu. Syafira menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang sedang mempermainkan mereka.


"Lakuin aja sambil nyungsep terus masukinnya ke dalam botol air" jawab Keenan lalu tertawa dengan keras. "Gak lucu" ucap semuanya dengan kompak. Nazwa melirik ke arah Syafira. "Mbak boleh nanya gak?" Tanya berbisik.


"Mau nanya apa Mbak?" Nazwa melihat ke arah kaum adam yang sedang sibuk mengobrol. "Emm itu anu pas pertama kali kamu ngelakuinnya, sakit enggak?" Tanya Nazwa dengan pipinya yang merah.


Keenan mendengar hal itu, ia menggoda Rangga. "Tuh Rang, mainnya jangan kasar kasar nanti malam. Kasian Nazwa nya nanti dia kabur ngeliat burung lo" Rangga menatapnya kesal.


Diam diam ia menguping pembicaraan istrinya dengan Syafira. "Sakit lah Mbak, kalau ngelakuin pertama kali nanti di bagian bawah mbak keluar darah" ucap Syafira. Ia tidak sadar jika ucapannya membuat Nazwa takut.


"Benar begitu? Mbak pernah nonton film nya kok kelihatannya enak ya?" Syafira membulatkan matanya, ia menatap Nazwa dengan antusias. "Mbak pernah nonton film gituan?" Tanya nya.


Nazwa mengangguk, ia memang pernah menontonnya dan itu pun secara tidak sengaja. Waktu itu ia meminjam ponsel Rangga hingga menemukan Film itu di dalam ponselnya. Karena penasaran Nazwa langsung membuka dan melihay film itu.


"Uh...ah...." Nazwa menutup mulutnya. Pemandangan yang ada di ponsel itu membuatnya sangat jijik. Seorang pria dan wanita terlihat sedang beradu kelamin. Nazwa dengan cepat mematikan filmnya dan mengembalikannya kembali.


"Nontonnya dimana mbak?" Tanya Syafira. "Di ponselnya Mas rangga. Banyak banget pokoknya video gituannya" Nazwa memang terlalu polos hingga ia menyebarkan aib suaminya sendiri.


Rangga terkejut mengetahui kebenaran itu. Pantas saja waktu itu Nazwa terlihat seperti orang yang kebelet pipis ternyata itu penyebannya. Mulai sekarang Rangga akan menghapus semua video laknatnya itu.


.


.


Keenan dan Syafira baru saja pulang dari pesta pernikahan Syafira. Keenan membawa Syafira ke Villa yang dulu dibelinya di sekitar pantai. Ia akan menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya.


Lalu beberapa menit kemudian mereka telah sampai dan turun dari mobil bersamaan. "Apa, ok ndak pulang ke lumah etemu opa?" (Papa kok enggak pulang ke rumah ketemu Opa?") Tanya Azkia.


Keenan tersenyum lalu mencubit pipi mungil Azkia dengan pelan. "Kita lagi liburan sayang, Azkia mau kan liburan sama papa, sama bunda sama abang juga" ucapnya. Azkia mengangguk dengan semangat. "Yeaayyy liburan, elalti anti Kia etemu ama akak Eysa dong pa" (Berarti Nanti Kia ketemu sama kakak Keysa dong pa)


"Kakak Keysa?" Tanya Syafira. Azkia mengangguk. "Ata akak Eysa, ia au ajak Kia ain sambil libulan" (Kata Kakak Keysa, Kia mau diajak main sambil liburan) ucap Azkia. Sekarang Syafira mengerti. Keysa pasti datang dalam mimpi Azkia sehingga Azkia bisa tahu tentang Keysa.


"Kenapa?" Tanya Keenan. Syafira menggeleng seraya tersenyum. "Dulu Keysa pernah datang dalam mimpiku, katanya dia minta ijin buat ngajak si kembar bermain. Aku hanya diam saja karena pada saat itu aku berpikir itu hanya sekedar mimpi saja"


"Tapi nyatanya itu bukan mimpi Kan, dibilang kenyataan bukan kenyataan. Mungkin halusinasi aja sih lebih tepatnya" ucap Keenan. Syafira mengangguk.


"Ya udah yuk masuk ke dalam" Keenan membuka pintu Villa nya dengan lebar dan mengajak Syafira dan si kembar masuk ke dalam. Ruangan dalam Villa nya masih samgat bersih karena Keenan selalu menyuruh orang membersihkannya tiap tiga hari sekali.


"Mau istirahat di sini dulu apa mau langsung ke kamar aja?" Tanya Keenan sambil menatap Syafira. "Langsung ke kamar aja Mas, aku mau ganti baju dulu" Keenan mengangguk lalu ia pergi ke kamarnya bersama Syafira.


Setelah tiba di kamar, Azka dan Azkia langsung naik ke atas kasur dan bermain loncat loncatan. "Hati hati jatuh sayang" ucap Syafira sambil mengawasi mereka. "Iya nda" jawab mereka.


"Kamu ganti baju dulu gih, biar aku yang jagain si kembar" Syafira mengangguk lalu ia pergi ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju. Keenan melihat anak anaknya yang masih betah loncat loncatan.


"Azka, Azkia berhenti dulu. Sini papa mau ngomong sama kalian" Azka dan Azkia langsung berhenti dan duduk dengan tenang. "Iya apa?" (Iya papa) "Anak pintar"


"Sekarang papa mau tanya, kalian lebih sayang Papa atau Bunda?" Tanya nya dengan lembut. Ia penasaran dengan jawaban si kembar. Apa mereka akan menjawabnya dengan serius atau malah sebaliknya.


Azka dan Azkia menggeleng secara bersamaan. "Nda ayang apa ama nda" jawab Azka. Keenan mengangkat alisnya bersamaan. "Memangnya Azka sayang sama siapa?"


"Sama olang tua Ka dan Kia. Kalo apa ama nda melasa olang tua Ka dan Kia belalti Ka ama Kia ayang apa ama nda. Ayang emuanya" (Sama orang tua Azka dan Azkia. Kalau papa sama Bunda merasa orang tua Azka dan Azkia berarti Azka sama Azkia sayang papa bunda. Sayang semuanya"


"Kalau disuruh milih papa sama bunda, Azka mau ikut siapa?" Tanya Keenan lagi. Azka menggelengkan kepalanya. "Ka au ama dua duanya, Ka ndak au ilih ilih olang tua. Cemuanya Ka Ayang, apa ladi dedek Kia" (Azka mau sama dua duanya, Azka enggak mau milih milih orang tua. Semuanya Azka sayang apalagi dedek Kia)


Keenan mengelus kepala Azka dengan sayang. Sementara Azkia membaringkan dirinya di kasur sambio berguling guling. Beberapa menit  kemudian Syafira kembali dari kamar mandi dengan keadaan sudah berganti pakaian. Gaun yang ia pakai tadi, ia simpan di atas kasur.

__ADS_1


"Kamu sama anak anak tunggu disini ya, Mas ada urusan sebentar" ucap Keenan. "Urusan apa Mas? Katanya berlibur kok masih ada urusan" heran Syafira. Keenan tersenyum lalu ia mengecup kening Syafira lama. "Sebentar saja sayang"


Syafira mengangguk lalu ia membiarkan Keenan pergi entah kemana. "Nda nda Kia au susu" (Bunda bunda kia mau susu) ucap Azkia pada Syafira. Syafira berjongkok di bawah kasur dan menatap Azkia. "Bunda gak bawa susu sayang, lupa. Gimana kalau permen susu aja? Bunda sudah beli nih. Mau gak?'"


"Iya nda au" (Iya bunda, mau)


Syafira mengambil beberapa buah permen dari dalam tas nya dan memberikannya pada Azkia. 


Sambil menunggu Keenan kembali Syafira menemani anak anak mereka bermain.


Dua jam kemudian, Keenan baru kembali. Ia masuk ke dalam Villa dan menemui Syafira yang sedang menyuapi Si kembar dengan biskuit. Syafira mendongakkan kepalanya dan menatap Keenan. "Mas, sudah kembali"


Keenan mengangguk perlahan lalu ia berjalan mendekatin Syafira. "Ayo ikut Mas, Mas sudah menyiapkan sesuatu buat kalian. Tapi sebelum itu pakaikan si kembar jaketnya agar tidak kedinginan"


Syafira mengangguk, ia mengambil jaket untuk si kembar dan memakaikannya. "Memangnya Mas menyiapkan apa sih?" Tanya nya dengan raut wajah yang bingung. "Ada pokoknya dan Mas yakin kamu pasti suka"


Keenan membawa Syafira dan anak anaknya ke tepi pantai, angin berdesir dan mengenai tubuh mereka. Saat itu hari masih sore dan sebentar lagi matahari akan terbenam. "Masih jauh ya Mas? Ini udah di pantai Lho" ucap Syafira.


"Sebentar lagi" jawab Keenan. Lalu Keenan menundukkan kepalanya dan menatap kedua anaknya. "Azka sama Azkia capek enggak jalannya?"


"Ndak apa" (Enggak papa)


Setelah itu Keenan menghentikan langkahnya tepat di depan tenda yang ia buat. Tenda itu dihiasnya seperti pelaminan. Di sekelilingnya terdapat bunga bunga yang ditabutkan. Dua kursi besar dan dua kursi kecil yang berada di samping tenda itu.


"Apa ini Mas?" Tanya Syafira. Ia menatap takjub sesuatu yang telah disiapkan oleh suaminya itu. "Ini adalah akhir dari kisah kita, Ayo kita duduk di kursi itu. Kita akan menutup kisah kita dengan sebuah Kenangan"


"Maksudnya?"


"Foto keluarga, lihatlah aku sudah menyiapkan kameranya disana" Syafira melihat ke arah yang ditunjuk Keenan. Keenan menyiapkan kamera lengkap dengan tripotnya agar bisa memotret dengan sempurna. "Jadi gimana, Si Janda mau berfoto bersama Om Keenan?" Keenan tiba tiba berlutut di hadapan Syafira sambil memberikan setangkai bunga mawar yang ia petik tadi.


"Apa lagi ap tuh" (papa lagi apa tuh) bisik Azkia.


"Iem dek, apa agi bucin ama nda" (Diem dek, papa lagi bucin sama bunda) jawab Azka.


"Bucin tu apa?" Azka menggeleng tidak tahu. Ia hanya pernah mendengar kata kata itu dari Mahendra. Azka dan Azkia masih menonton kedua orang tua mereka.


"Baiklah om, dengan senang hati Janda akan menerima tawaran ini. Keenan tersenyum lalu mengambil tangan Syafira untuk diciumnya kemudian memberikan bunganya pada Syafira.


"Ayo kita ambil foto sekarang, sebentar lagi ada sunset. Kita harus menikmatinya" Syafira mengangguk lalu ia mengajak anak anaknya untuk duduk di kursi kecil yang Keenan siapkan.


"Sudah siap?" Tanya Keenan. Syafira mengangkat jempolnya. Keenan pun mengatur kameranya.


"Dalam hitungan ke 5 Kamera ini akan memotret kita" Keenan dengan cepat berlari dan duduk di kursinya. Kemudian mereka mengambil foto dengan berbagai macam gaya.


Pertama Keenan merangkul lengan Syafira, kemudian Keenan memegang kepala Syafira dengan ekspresi yang menggemaskan. Sedangkan si kembar yang tak tahu sedang difoto mereka hanya diam saja. Sambil sesekali kursi mereka bergoyang akibat pergerakan orang tua mereka.


"Azka sini duduk di pangkuan bunda, Azkia sama papa ya" ucap Syafira yang langsung diangguki oleh keduanya. Dengan cepat mereka kini berada di pangkuan orang tuanya.


Tiga puluh menit kemudian


Azka dan Azkia sudah mengantuk, Keenan menidurkan mereka di dalan tenda. Tenda yang Keenan buat cukup besar dan luas sehingga cukup untuk ditempati oleh 4 orang.


"Sebentar lagi Sunset, ucapkan harapanmu di masa depan dan aku akan mengucapkannya juga." Ucap Keenan. Syafira nengangguk, lalu beberapa menit kemudian matahari sudah mulai terbenam. Keenan dan Syafira meneriakkan harapannya masing masing.


"AKU INGIN ANAK ANAKKU BISA BAHAGIA SEPERTIKU"


"AKU INGIN SEMUA ORANG YANG KU SAYANG BISA BAHAGIA"


Setelah berteriak, mereka saling menolehkan kepalanya. Keenan menatap Syafira dengan mesra begitu pun dengan Syafira. Mereka hanyut dalan tatapan yang begitu dalam sampai akhirnya Keenan menempelkan bibirnya pada bibir Syafira dan ********** seperti biasa.


Syafira membalas ciuman Keenan. Mereka berciuman di tengah tengah sunset. Keenan melepaskan ciumannya lalu berbisik. "I love you Syafira Anindita putri"


"I love you too Keenan Aldebaran Bright".

__ADS_1


Lalu mereka kembali berciuman. Bibir mereka saling bertautan dan saling menikmati. Mungkin ini adalah akhir kisah dari mereka. Berawal dari tatapan mata dan diakhiri dengan ciuman.


__ADS_2