Bukan Janda

Bukan Janda
Curiga


__ADS_3

Saat ini Keenan dan seluruh keluarganya berada di meja makan untuk sarapan pagi. Sambil menunggu makanannya Keenan bermain main dengan Alfon yang sudah bisa bercanda dengannya.


"Alfon mau makan?" Tanya Keenan pada adik kecilnya. Alfon tertawa sambil mengangkat tangannya dan meraba raba wajah Keenan yang ada di depannya. "Ba ba ba ba" ucap Alfon.


Keenan terkekeh melihat tangan mungil Alfon yang menempel di wajahnya. "Coba panggil kakak, Alfon coba panggil. Ka kak gitu" ucapnya pada Keenan. "Babababa"


Alfon masih belum bisa bicara dengan baik, umurnya yang masih 4 bulan hanya bisa bercanda,tertawa dan bermain main saja. "Belum bisa ya, nanti kalau udah gede coba lagi ya"


Mahendra berhenti membaca koran, ia melipatnya kembali dan menaruhnya di atas meja. Kemudian ia menyusul Keenan di meja makan. "Bagaimana dengan perkembangan kasusnya?" Tanya Mahendra.


Keenan yang masih bermain dengan Alfon menatap Mahendra sekilas. "Masih dalam proses penyelidikan, Ace masih terus melacaknya. Dan juga Keenan harus melakukan sesuatu lagi" jawab Keenan.


Mahendra mengangguk. "Papa juga menambahkan anak buah papa untuk bergabung dengan anak buahmu. Jika kamu membutuhkan mereka, panggil saja" ucap Mahendra.


Keenan mengangguk, lalu beberapa menit kemudian Syafira dan Riya menghentikan aktivitas ngobrol mereka dan mulai menyiapkan makanan di atas meja. "Mas, minggir dulu sedikit takut kena Alfon" ucap Syafira.


Keenan memundurkan kursinya dan memberi jalan untuk Syafira menyiapkan makanannya. Sementara Alfon ia mendudukannya di pangkuannya. "Kamu masak apa hari ini?"


"Tempe goseng, sayur asem sama daging bola bola" jawan Syafira sambil menatap makanannya. Riya mengatur semua piring dan sendok di meja makan.


Setelah semuanya selesai Syafira menyiapkan makanan untuk Keenan. Ia sudah tahu apa makanan yang disukai Keenan. Jadi tidak perlu bertanya Lagi. "Nih aku tambahin tempe gosengnya banyak banyak"


Keenan mengangguk. Kemudian mereka makan bersama dalam keheningan. Sambil memangku Alfon Keenan terus menyuapkan makanan dalam mulutnya. "Alfon udah dikasih makan?" Tanya Keenan.


"Belum, nanti aja kalau sudah mandi" jawab Riya. Karena biasanya Alfon tidak mau makan kalau belum mandi. Kebiasaan itu didapatnya dari ayahnya, Mahendra.


Mahendra tidak pernah makan atau sarapan kalau belum mandi. Dan itu sebabnya sifatnya menurun pada Alfon putranya. Keenan mengangguk lagi, lalu ia memakan makanannya sambil melirik alfon sebentar.


.


.


"Mas pergi ke kantor dulu. Kamu jadi kan hari ini ke rumah ibu sama ayah?" Ucap Keenan sambil melingkar tangannya di pinggang Syafira. Syafira mengangguk sebentar.


"Jadi, aku sangant merindukan si kembar." Jawab Syafira. "Tapi kamu perginya jangan seperti biasa, maksudku kamu harus melakukan penyamaran. Takutnya orang yang bernama Jack itu mengincar kamu"


"Mas tenang aja, aku sudah mengerti" Keenan beralih dan mencium kening istrinya. "Mas pergi ke kantor dulu, dan untuk masalah penculikan itu Mas sudah menyuruh orang untuk menyelidinya. Sebentar lagi kita akan menangkap pelakunya. Kemu tenang aja"


"Iya, Mas jaga diri baik baik. Di luar sana mungkin banyak musuh atau orang jahat yang mungkin juga akan mengincar Mas. Keenan mengangguk lalu ia bergegas pergi ke kantor.


.


Setelah Keenan pergi ke kantor, Syafira bersiap siap untuk pergi ke rumah ayah dan ibunya untuk bertemu si kembar. Sesuai dengan permintaan Keenan, Syafira melakukan penyamaran.


Ia merubah penampilannya seperti tante tante yang sering nongkrong di club. Tapi pakaiannya masih menggunakan pakaian tertutup. Syafira melirik dirinya di cermin.


"Kok aku kayak banci sih" ucap Syafira ketika menatap dirinya sendiri di cermin. Ia menjadi geli sendiri melihat penampilan terbarunya saat ini. Syafira pergi mengambil tas nya dan berpamitan pada Mahendra dan Riya untuk pergi.


"Tante, Pa Syafira berangkat dulu. Syafira mau pergi ke rumah ayah sama ibu." Ucapnya pada Mahendra dan Riya yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Riya dan Mahendra terkejut melihat penampilan Syafira.


"Kamu kenapa berpenampilan seperti ini Syafira?' Tanya Riya dengan heran.


Syafira meringis malu melihat Papa mertuanya dan tante nya menilai penampilannya. Apakah penampilannya separah itu?. "Ini aku disuruh Mas Keenan kok tan" jawab Syafira.


"Keenan menyuruh kamu berpenampilan seperti itu?" Heran Mahendra. Biasanya Keenan tak pernah meminta yang aneh aneh dengan istrinya, namun kenapa sekarang begini.

__ADS_1


"Mas Keenan meminta Syafira seperti ini untuk keamanan Syafira sendiri pa. Mas Keenan khawatir kalau penculiknya itu juga mengincar Syafira. Makanya Syafira disuruh menyamar" ucap Syafira.


"Memangnya harus seperti itu? Kenapa kamu tidak minta antar papa saja atau Body guard. Keenan pasti mengijinkannya kok' ucap Mahendra lagi.


"Syafira bisa pergi sendiri kok pa, lagian papa disini kan harus menjaga Alfon dan tante Riya" ucap Syafira sambip melirik ke arah Riya. Riya hanya melototinya sebentar.


Mahendra tertawa pelan. "Baiklah papa mengerti, tapi tunggu dulu. Papa ingin memberikan sesuatu kepadamu" kemudian Mahendra pergi sebentar dan mengambilkan sesuatu untuk menantunya.


"Ini, bawa lah ini untuk sekedar menjaga jaga." Mahendra memberikan Syafira sebuah pistol. Pistol itu adalah pistol Glock17 dimana itu adalah pistol yang terbaik,termahal dan paling mematikan.


Syafira mengernyitkan dahinya. "Untuk apa papa memberi Syafira pistol mainan ini?" Tanya nya dengan lugu. Riya hanya menepuk kepalanya dengan gemas. Melihat keluguan Syafira.


Mahendra menggelengkan kepalanya. "Ini bukan pistol mainan, ini pistol sungguhan. Lihatlah bentuknya. Pistol mainan tidak akan terlihat seperti ini" ucap Mahendra sambip memberikan pistol itu pada Syafira.


Syafira mengambil pistol itu dari tangan Mahendra kemudian menelitinya. Tangannya bergetar ketika ia memegang pistol itu. Benar, ini adalah pistol asli bukan pistol mainan seperti dugaannya.


"Ini..ini pistol sungguhan?" Syafira menatap Mahendra dengan raut wajah yang sulit diartikan. Mahendra mengangguk. "Pistol itu baru saja papa beli kemaren. Dan sekarang pistol itu adalah milik kamu" ucap Mahendra.


"Gunakan itu bila ada bahaya yang sedang mengancammu" tambah Mahendra lagi. Syafira mengangguk pelan lalu memasukkan pistol itu ke dalam tasnya seolah olah ia menaruh dompet.


"Kalau begitu Syafira berangkat ya pak, tante" Syafira mencium tangan mereka masing masing dan segera bergegas pergi. "Kira kira siapa yang mau ku tembak nanti?" Batinnya.


Saat ini Keenan sudah berada di kantornya. Ia memasuki ruangan kantornya tapi sepertinya ia melihat seseorang yang bukan karyawannya. Keenan mencoba untuk menghampirinya tapi orang itu malah kabur.


Keenan sangat yakin ada seseorang yang mencoba untuk mengelabuinya saat ini. Keenan bergegas untuk pergi ke ruangannya dan memanggil Bagas seperti biasa.


"Ada apa pak?" Tanya Bagas yang baru saja tiba di ruangan Keenan. "Apa di kantor kita ada OB baru?" Tanya Keenan. Karena orang yang ia lihat tadi berpakaian seperti OB.


"Tidak pak memangnya kenapa?" Tanya Bagas pada Keenan. "Sepertinya saya melihat ada seseorang yang bukan karyawan dari sini. Tolong kamu cek semua OB yang ada disini dan laporkan hasilnya pada saya" ucap Keenan.


Keenan khawatir orang itu akan membuat kekacauan di kantor maka dari itu ia akan menangkapnya sebelum terjadi sesuatu pada kantornya. Keenan tidak akan melepaskan orang itu.


Keenan tidak bisa duduk diam saja, ia harus segera bertindak. Keenan beranjak dari tenpat duduknya lalu keluar dari ruangannya dan menuju ke ruang CCTV. Disana ia akan menemukan yang sebenarnya.


Dengan langkahnya yang lebar Keenan sudah tiba di ruangan CCTV. Ia masuk ke dalam dan mengunci pintunya dari dalam. Keenan segera duduk di hadapan konputer dan mengotak atiknya sebentar.


Setelah beberapa menit Keenan mengecek CCTV di setiap ruangan, sampai saat ini ia belum menemukan sesuatu yang aneh. Tapi saat ia mengecek CCTV di bagian lobi kantor Keenan menemukan sesuatu yang janggal.


Seorang pria yang menggunakan jaket hitam dan Memakai masker terlihat masuk ke dalam ruangannya itu. Dan itu terjadi pada jam 5 pagi. Keenan terus memperhatikan gerak gerik orang tersebut.


Seorang OB terlihat memergoki pria tersebut. Dan sepertinya terjadi adu mulut di antara mereka hingga pria itu memukul OB itu sampai pingsan dan menyeret tubuhnya entah kemana. Dan setelah itu pria yang tadu merubah pakaiannya dengan pakaian milik OB.


Sekarang Keenan tahu bahwa orang yang ia lihat tadi itulah penyusupnya. Baiklah, Keenan akan mengikuti permainannya. Jika dia datang kesini untuk bermain main maka Keenan akan mengikutinya.


Keenan menyalin rekaman CCTV itu dan memindahkan pada ponselnya. Setelah itu Keenan keluar dari ruangan itu dan berjalan untuk melakukan seseuatu. Sesuatu yang hanya dirinya saja yang tahu.


Bagas mengumpulkan semua OB untuk diperiksa, bahkan si pria misterius itu juga ada disana. Bagas menatap mereka secara bergantian. Menurutnya tak ada yang aneh.


Lalu ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Bagas menoleh dan ternyata itu adalah Keenan. Bagas menunduk hormat padanya. "Bagaimana?" Tanya Keenan sambil berpura pura tidak tahu.


"Tidak ada yang aneh pak, sepertinya mereka semua adalah OB kita. Tidak ada orang lain seperti yang dimaksud bapak" ucap Bagas sambil menatap Keenan. Keenan menepuk bahu Bagas dengan pelan. "Kamu salah"


Keenan menatap mereka satu persatu. "Kamu salah Bagas, di antara mereka yang ingin bermain main dengan saya. Bahkan setelah mereka tahu saya adalah siapa. Saya sangat salut dengan keberanian orang itu"


Seorang pria tengah meremas jarinya dengan gugup tanpa ada yang menyadarinya sedikit pun. "Saya minta buat yang merasa OB di perusahaan saya tunjukkan stempel di tangan kalian. Karena stempel itu adalah bukti bahwa kalian memang OB disini.

__ADS_1


Semua OB mengangkat tangannya dan menunjukkan stempelnya pada Keenan. Hanya ada seseorang yang tidak mengangkat tangannya. "Dan kamu, kenapa kamu tidak mengangkat tangan?" Tanya Keenan.


"Tangan saya sakit pak" jawabnya. Keenan tersenyum sinis. "Bodoh". Kemudian ia berjalan menghampiri orang itu kemudian mengambil kedua tangannya dan tidak menemukan satu tanda stempel pun.


"Jangan mencoba bermain main dengan saya atau kamu akan tahu akibatnya. Katakan apa tujuanmu dan siapa yang menyuruhmu" bisik Keenan di telinga orang tersebut. Tubuh pria itu menegang.


"Apa maksud bapak?" Tanya nya. Keenan sangat gemas sekali dengan orang tersebut. "Setidaknya kalau kamu ingin bermain main dengan saya. Kamu harus memastikan bahwa diri kamu pintar dan tidak bodoh seperti ini"


"Cepat katakan apa tujuanmu dan siapa yang menyuhmu?" Desak Keenan. Pria itu tak bergeming ia melirik ke arah sekitarnya dan mencoba untuk kabur. Tapi segerombolan body guard datang menghadang langkahnya. Ia dikepung.


"Tangkap dia dan bawa ke tempat yang saya ucapkan tadi" ucap Keenan pada keempat body guard nya itu. "Baik tuan" jawab Mereka. Tubuh pria itu langsung diseret oleh Keenpat body guardnya. "Pak apa apaan ini, saya gak salah pak"


"Mana ada maling ngaku maling" gumam Keenan. Kemudian setelah itu Keenan membubarkan barisan OB yang lainnya kemudian menatap Bagas. "Belajarlah dari sini Bagas, air yang kelihatan tenang bukan berarti tidak ada buayanya." Setelah mengucapkan itu Keenan langsung pergi.


.


Syafira sedang berada di dalam taksi, sampai saat ini masih tidak ada orang yang mengenalinya. Bahkan tetangga nya yang paling akrab dengan dia pun tak mengenalnya. Syafira bernafas lega.


Supir taksi itu melirik ke arah Syafira sebentar. "Tante, ini rumahnya dimana. Saya belum hafal jalanan sini soalnya" ucap supir itu pada Syafira. Syafira melotot. "Tante...tante..saya bukan tantemu bang" ucapnya.


"Ah iya maaf ibu, habisnya anda seperti seumuran dengan tante saya" jawab supir taksi itu lagi. Ingin rasanya Syafira menabok kepala supir itu. Supir itu sepertinya umur 25 tahunan otomatis tantenya di atas 50 tahun dong. Masa Syafira harus disamain dengan orang yang berumur 50 tahun.


Syafira menggelengkan kepalanya. "Kenapa bu?" Tanya nya. "Tidak apa apa"


Beberapa menit kemudian mobil taksi itu berhenti di depan rumah Tio dan Wina. Syafira segera turun dari mobil taksi dan membayar ongkosnya. "Ini pak" supir itu menerimanya sambil berterima kasih lalu segera pergi.


Setelah itu Syafira melirik tas nya. "Pistol tetap aman dalam jangkauanku. Setidaknya untuk saat ini" gumam Syafira. Setelah itu Syafira membunyikan bel rumah tempat tinggalnya dahulu.


Hanya butuh beberapa detik untuk pintunya terbuka. Dan terlihatnya Wina yang membukakan pintu. "Astaganaga dragon ayam ayam eh" latah Wina ketika melihat penampilan Syafira.


Syafira tertawa keras mendengar latahan ibunya yang sudah lama tak ia dengar. Wina menatapnya kaget. "Maaf, Anda siapa?" Tanya Wina sambip menatap penampilan Syafira dari atas sampai bawah.


Syafira berniat untuk mengerjai ibunya. Ia mengambil pistol dari dalam tas nya dan menunjukkannya pada Wina. Ingat, Syafira hanya menunjukkannya bukan menodongkannya.


"A..apaa.. ini .tolong jangan tembak saya." Syafira tertawa cekikikan. Ibunya ini terlalu naif untuk dikerjai, masa ada penjahat yang tadi tertawa keras. "Ini Syafira bu bukan penjahat"


"Hah? Kamu mengada ada ya. Anak saya cantik tidak emm maaf seperti kamu. Kelihatannya kamu adalah seorang tante tante bukan anak remaja" ucap Wina. Syafira memutar bola matanya malas.


"Ini beneran Syafira Bu" ucap Syafira meyakinkan Wina. Sementara Wina ia tercengang dibuatnya. Tangannya menyentuh wajah Syafira kemudian menarik rambut palsunya. Dan ternyata benar, di hadapannya saat ini adalah Syafira.


"Ya allah Nak, Kenapa kamu berpenampilan seperti itu" teriak Wina. "Nanti syafira jelasin sekarang Syafira masuk dulu. Syafira udah kangen banget sama si kembar" ucap Syafira.


"Ya udah ayo masuk, bersihkan dulu wajahmu. Nanti cucu ibu mengira kamu badut bukan bundanya" tambah Wina.


"Iya iya Bu" jawab Syafira.


Setelah itu Syafira masuk ke dalam rumahnya dan pergi ke kamarnya dulu untuk membersihkan wajahnya. Syafira melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.


Ia membuka engsel pintunya dengan pelan lalu membuka pintunya dengan lebar. Sudah lama ia tidak menempati kamarnya ini. Syafira menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit langit rumah.


Syafira lalu bangkit dari tidurnya dan bergegas  untuk membersihkan wajahnya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak anaknya. Syafira merasa bersalah karena harus menitipkan mereka pada Kakek dan neneknya.


Setelah selesai mencuci wajah, Syafira segera turun ke bawah dan mencari Wina. Ia menemukan Wina sedang berada di dapur. "Ayah sama anak anak kemana bu?" Tanya Syafira sambil menghampiri Wina.


"Lagi bermain di belakang, sama kamu susul. Nanti ibu juga mau nyusul kesana" jawab Wina. Syafira mengangguk lalu pergi untuk menyusul anak anaknya.

__ADS_1


__ADS_2