Bukan Janda

Bukan Janda
Panik


__ADS_3

Pagi hari, di rumah orang tua Syafira. Wina dan Tio menghabiskan sarapannya ditemani oleh keponakan mereka, Alvin. Entah ada angin apa Alvin tiba tiba datang ke rumah Tio. Padahal Syafira tidak ada disana.


"Jadi kamu kesini mau ada apa Vin?" tanya Tio.


"Alvin hanya merindukan om dan tante. Terlebih Syafira." jawab Alvin.


Tio mengangguk seraya mekasukkan suapan terakhirnya ke mulut. Lalu Tio melirik ke arah Wina. "Apa kamu dapat kabar dari Syafira? Sejak kemarin Syafira tidak menelfonku. Aku jadi khawatir padanya


Wina menatap suaminya lalu menjawab "Aku tidak tahu, biasanya Syafira selalu menelfonku di pagi hari"


Alvin yang mengerti dengan kekhawatiran mereka mencoba menenangkan. "Om sama tante tenang aja, sebaiknya kita pergi ke Apartemen mereka nanti. Biar semuanya jelas"


"Om setuju"


"Kamu benar Vin"


Ketiganya menghabiskan sarapan dengan tenang. Meskipun tersirat sedikit kekhawatiran pada Syafira, Alvin berusaha menutupinya.


____________________________________________


Sedangkan Keenan dan Syafira mereka asyik menikmati udara  segar di korea. Syafira memaksa Keenan untuk berjalan jalan tadi. Ia ingin menikmati kesempatan ini selagi berada di korea.


"Om, kita ke Namsan tower yuk?"


"Namsan? Tempat apa itu?"


Syafira menjelaskan kepada Keenan apa itu Namsan tower.


" Namsan tower itu tempat bersejarah yang dimiliki oleh Seoul, yaitu sebuah menara komunikasi dan pengamatan yang terletak di Mountain Namsan, pusat kota Seoul, Korea Selatan. Dibangun pada tahun 1969"


Keenan hanya mengangguk saja, memangnya apa pentingnya hal itu. Mau Namsan di gunung atau langit Keenan tidak peduli. Tapi karena Syafira mengajaknya kesana jadi mau tak mau ia sedikit bertanya.


"Terus kita mau ngapain disana?"


"Disana tuh ada gembok cinta sayang, konon katanya dipercaya sebagai doa agar rasa cinta pasangan yang namanya tertera di gembok itu akan bertahan dan abadi. Aku mau nyoba memasang gembok kita disana?"


"Sebenarnya aku tidak percaya sih, tapi demi kamu. Ya udah yuk kita ke Namsan"


Syafira tersenyum cerah, ia tahu suaminya tak bisa menolak. Syafira mengecup pipi Keenan. "Saranghae" bisiknya.


Keenan merangkul Syafira di pelukannya lalu pergi mencari taksi untuk pergi ke Namsan. Saat dalam perjalanan menuju ke Namsan, handphone Keenan berdering. Ia melihat ada panggilan dari Bagas.


"Halo"


"Halo pak, saya ingin memberi tahu kan sama bapak kalau pembahasan pembangunan rumah sakit sudah selesai pak. Saya sedikit mengerti dengan konsep bapak jadi Saya menggantikan bapak. Maaf pak kalau saya lancang"


"Tidak, justru saya bangga sama kamu. Kamu dapat diandalkan. Sebagai gantinya, bulan ini saya akan memberikan kamu bonus"


"Terima kasih pak"


Keenan menutup telfonnya sepihak. "Siapa?" tanya Syafira.


"Bagas, orang kepercayaanku di kantor"


"Sayang, nanti kalau kita sudah tiba disana. Aku digendong aja ya. Katanya kalau kita menggendong pasangan disana, maka cinta nya akan semakin kuat"  Syafira berusaha menguji Keenan dengan mengatakan hal itu. Ia  menebak kalau Keenan akan menolaknya.


"Oke, apapun keinginanmu akan ku lakukan"


Keenan menatap Syafira dalam. "Aku tadi bercanda kok" ucap Syafira dengan tidak enak hati. Ia sadar diri tubuhnya sangat berat untuk digendong Keenan.


"Sekali kamu meminta atau menyuruh tidak dapat kamu tarik lagi. Aku akan tetap menggendongmu."


Keenan mengelus pipi Syafira dengan lembut. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Syafira.


Cup


"Mulai sekarang, bibir ini adalah sebuah perintah bagiku. Sekali bibir kamu mengatakan itu, maka itu lah yang terjadi"


"Kamu kayak psikopat aja deh"


Keenan tergelak, padahal menurutnya tindakannya barusan sangat romantis. Ia pernah searching di google tentang cara menjadi pria romantis. Dan salah satunya apa yang dilakukan Keenan tadi.  Mencium dan menuruti semua permintaannya.


"Kamu suka kan aku gituin?"


Syafira tersipu malu, ia memalingkan wajahnya ke arah lain "Pipi merahmu sudah menjawab semuanya" ucap Keenan sambil tertawa.


"Dasar nyebelin"


"Bahagia ku sederhana, bisa melihatmu tersenyum dan tertawa saja aku sudah bahagia" batin Keenan


Tio, Wina dan Alvin kini sedang menuju ke Apartemen tempat Keenan dan Syafira. Mereka bertiga sangat megkhawatirkan Syafira.


"Coba kamu telfon  Syafira" ucap Tio membuka pembicaraan.


"Iya mas"


Wina menelfon ke nomor Syafira. "Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi"


"Bisa?"


Wina menggeleng. "Kalau begitu ke nomor Keenan?"


Wina mencoba lagi, kali ini ia menelfon nomor menantunya. "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, coba lah beberapa saat lagi"


"Tidak bisa juga Mas, aku takut terjadi sesuatu sama mereka"


"Kamu tenang dulu, mereka pasti baik baik saja" ucap Tio.


Sementara Alvin ia hanya menjadi pendengar pembicaraan dari om dan tante nya. Alvin menghela nafasnya. "Semoga aja kamu baik baik saja Sa" batinnya.


Beberapa menit kemudian, Mereka telah sampai di Apartemen Keenan. Ketiganya turun dari mobil lalu mencoba membunyikan bel. Tak ada jawaban. Tio mencoba nya berkali kali tapi tetap saja tak ada jawaban.


"Sepertinya tidak ada orang di dalam sana Mas."


"Aku coba hubungi Mahendra dulu, siapa tahu Syafira dan Keenan ada disana" ucap Tio.


Tio mengeluarkan handphone nya lalu mengetik nomor Mahendra dan menelfonnya.

__ADS_1


"Halo Tio, Ada apa?"


"Apa Keenan dan Syafira sedang berada di rumahmu?"


"Tidak, Kenapa?"


"Aku dan istriku mencarinya di Apartemen. Namun mereka tak ada"


"Apa? Bagaimana bisa?. Aku akan segera kesana"


Mahendra mematikan telfonnya dengan cepat. Lalu memanggil istrinya. "Ma, Mama" teriaknya.


"Ada apa pa?"


"Keenan dan Syafira hilang"


"Apaaaa, bagaimana bisa pa"


"Nanti saja jelasinnya sekarang kita harus pergi ke Apartemen Keenan. Mela mengangguk lalu ia bersiap siap.


Tio dan Wina mondar mandir di Apartemen Keenan sambil menunggu kedatangan Mahendra.  "Om dan Tante sebaiknya tenang dulu, Alvin yakin mereka baik baik saja"


"Tante harap sih begitu Vin"


Mahendra dan Mela datang dengan tergopoh gopoh. Bahkan Mela sampai salah memakai alas kaki saking terburu burunya. Yang Kanan pakai sandal sepit dan yang kiri menggunakan sepatu hak tinggi.


Alvin sebenarnya ingin tertawa, namun ia tahan. Mana berani ia menertawakan ibu mertua adiknya dalam keadaan seperti ini. Bisa bisa ia kena gampar nantinya.


"Gimana jeng? Apa mereka masih belum ketemu?" ucap Mela.


"Belum Jeng"


"Ya ampun Keenan, kamu dimana sih sebenarnya Nak" ucap Mela dengan khawatir.


"Apa perlu kita lapor polisi?" usul Mahendra.


Semua orang mengkhawatirkan Keenan dan Syafira, tetapi yang dikhawatirkan malah bersenang senang.


"Sayang, ayo gantung gembok nya di sebelah sini"


Keenan menurut, ia menggantung gembok miliknya di tempat Syafira tadi. "Setelah itu Syafira mengambil handphone nya"


"Sayang, kita selfie yuk"


"Kamu aja"


"Ayolah, kapan lagi kita bisa kesini"


"Ya udah ayo"


Keenan dan Syafira mengambil foto Selfie sebanyak mungkin. Lalu Syafira mengunggah salah satu foto nya di instagram miliknya dengan caption


[Foto]


My husband❤


Syafira juga mengetag instagram milik Keenan.


"Sekarang giliran aku, Aku mendengar kalau orang yang berciuman di sini maka hubungannya tidak akan pernah ada masalah"  ucap Keenan sok tahu. Ia hanya mengarang cerita untuk modus pada istrinya itu.


"Benarkah? Kok aku baru tahu"


"Aku tadi baca baca di google" ucap Keenan dengan terkekeh.


"Jadi gimana?"


"Gimana apanya?"


"Mau gak ciuman disini"


Syafira melihat ke sekelilingnya yang penuh dengan orang yang menggantung gemboknya. "Malu" ucap nya.


"Gak usah malu, pemandangan seperti ini sudah biasa bagi mereka"


Tanpa menunggu lama, Keenan langsung mempertemukan bibir Syafira dengan bibirnya.ia menekan tengkuk Syafira dan memperdalam ciumannya.


Aksi mereka mendapat banyak tepuk tangan dari orang di sekitarnya. Keenan melepaskan ciumannya dengan nafas yang terengah engah.


Syafira langsung memeluk Keenan dan menyembunyikan wajahnya di dada Keenan. Saat ini ia benar benar malu. Keenan tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan istrinya itu. Ia melepaskan pelukannya lalu menggendong Syafira dengan brydal style.


"Sayang"


Syafira melingkarkan tangannya di leher Keenan. "Gimana?"


"Aku tidak bisa berkata apa apa selain mengatakan aku mencintaimu dan aku berharap aku selalu bisa bersamamu sampai akhir nafas nanti"


"I love you Keenan Aldebaran Bright"


"I love you too Syafira Anindita putri"


Mahendra dan Tio berada di kantor polisi, mereka melaporkan atas kejadian orang hilang.


Mahendra dan Tio dimintai keterangan oleh seorang polisi berperawakan gendut dan berkumis.


"Sejak kapan putra dan putri bapak hilang?"  Polisi dengan name tag Rudi memegang bolpoin dan kertas.


"Sejak kemaren pak" Tio menjawab sesuai dengan apa yang ia tahu.


"Apakah putri dan putra kalian sudah menikah?"


"Mereka berdua itu sepasang suami istri pak"


Polisi itu mengangguk lalu meletakkan bolpoin dan meremas kertas nya. Kemudian membuangnya ke tempat sampah.


Mahendra menggeram melihat hal itu, bagaimana polisi bisa mengabaikan hal ini. "Kasus sudah terselesaikan"


Mahendra menggeram tak terima, ia memegang kerah baju polisi itu. "Bapak apa apaan, saya kesini mau melapor tapi malah seperti ini"

__ADS_1


Tio berusaha melepaskan cengkraman Mahendra dari baju polisi itu. Sementara itu Polisi nya hanya menatap Mahendra dengan wajah yang datar.


"Begini ya pak, Putra dan putri bapak kan sudah menikah. Jadi mereka menghilang bukan tanpa alasan. Mungkin mereka sedang berbulan madu atau pergi ke suatu tempat"


Tio berpikir, apa yang dikatakan Polisi itu masuk akal juga. Mahendra melepaskan cengkramannya lalu menatap ke arah Tio. Tio mengajak Mahendra pergi.


"Tio, apa mungkin anak anak kita sedang berjalan jalan tanpa sepengetahuan kita?"


"Mungkin saja, kamu tahu kan anak anak kita itu penuh kejutan." jawab Tio.


"Sebaiknya kita lacak saja, aku bisa melacak keberadaan mereka berdua"


Tio berhenti sejenak lalu menatap Mahendra dengan tajam. "Kenapa?" Mahendra merasa seperti tersangka kejahatan saat ditatap seperti itu.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang, kalau gitu kan kita tidak perlu susah payah melapor ke polisi"


Mahendra tertawa pelan lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku lupa, maklum lah faktor umur".


"Oh iya umur kamu kan udah Tua"


"Kamu juga dong"


Mereka tertawa bersama, ketegangan mereka sudah menghilang. Tio dan Mahendra kembali pulang untuk melacak keberadaan Keenan dan Syafira.


Wina dan Mela berada di rumah Mahendra. Mereka saling berpelukan. Mereka berdua saling menghibur. Sementara Alvin ia hanya menjadi kacang untuk mereka berdua.


Pintu terbuka dan masuk lah kedua suami mereka. Wina dan Mela langsung berdiri. "Bagaimana? Apa polisi sudah bertindak?" tanya Wina.


"Ayo katakan"


"Polisi tidak akan bisa membantu kita, saat ini aku akan melacaknya."


Mahendra mengajak Tio ke ruangannya. Ruangan yang tak pernah dimasuki siapapun selain dirinya.


Mahendra menghidupkan alat pelacaknya lalu mulai melacak keberadaan Keenan. Mahendra dan Tio melihat ke arah monitor. Lalu monitor itu menunjukkan ke sebuah titik terang. Mahendra lalu mengklik nya, lalu keluarlah keterangannya. "Seoul, korea selatan"


Mahendra menggelengkan kepalanya, sedangkan Tio ia tak mengerti sama sekali. "Jadi bagaimana?" tanya nya.


"Kita keluar dulu, aku akan menjelaskannya disana"


Tio dan Mahendra kembalu ke ruang tengah. Lalu duduk di sofa. Mahendra menatap semuanya dengan senyuman. Melihat suaminya tersenyum dalam keadaan seperti itu membuat Mela geram. Ia langsung menggeplak bahu Mahendra.


"Bisa bisa nya kamu tersenyum saat anak anak kita menghilang"


"Mereka bukan menghilang begitu saja, mereka sedang membuatkan cucu untuk kita"


Alvin tak mengerti apa yang dimaksud oleh Mahendra. "Maksud om, gimana?"


"Jadi Mereka saat ini sedang berada di korea selatan. Kalau bukan untuk bulan madu? Untuk apa lagi"


"Apa Mereka berdua pergi mengunjungi makam Keysa?" ucap Wina tiba tiba. Membuat semua orang menoleh padanya.


"Apa yang istriku katakan sepertinya memang benar" ucap Tio.


"Tapi kenapa handphone mereka tidak ada yang bisa dihubungi?"


Mahendra mengangkat kedua bahunya, lalu ia melirik ke arah kaki istrinya. "Mama ngapain pake sandal jepit sama sepatu hak tinggi seperti itu"


Akhirnya Alvin benar benar tertawa. Ayah mertua dari Adiknya ini mewakili apa yang ingin ia katakan.


Tio memukul Alvin karena menertawakan besannya. Alvin hanya menyengir seraya meminta maaf. "Sorry om"


Mela melirik ke arah kakinya. Ia merasa malu karena hal itu. Diam diam Mela mencubit pinggang Mahendra.


Handphone Alvin berbunyi, Alvin segera mengangkatnya. "Halo"


"Abang, ini Sasa"


"Sasa" teriak Alvin.


Semua orang menoleh padanya lalu Alvin menghidupkan louds speakernya. "Kamu dimana sa, semua orang khawatir sama kamu sekarang"


"Khawatir sama sasa, memang sasa kenapa?"


Ingin rasanya ia menggigit Adiknya itu. Setelah menghilang begitu saja bisa bisa nya Adikya berkata seperti itu.


"Kamu menghilang begitu saja bersama suamimu. Sebenarnya kalian ini kenapa?"


Syafira terkekeh dari sebrang sana. "Maaf, Sasa pergi korea karena Sasa merindukan Keysa. Awalnya Sasa pergi sendirian tapi Suami sasa menyusul begitu saja"


Mela mendekatkan dirinya pada telfon Alvin. "Sayang tolong katakan pada Keenan, kalau pulang nanti ia akan disambut dengan meriah"


"Keenan disini Ma, sambutan seperti apa?"


"Sambutan pemakaman kamu"


Keenan meringis. "Mama bisa aja deh"


"Ma, Pa, Ibu, Ayah, Abang, kita berdua mau minta maaf karena telah membuat kalian khawatir"


"Tidak apa apa, lain kali kabari ibu dan mertuamu" ucap Wina.


"Tapi Keenan senang membuat kalian khawatir. Itu tandanya kalian semua menyayangiku?"


"Najissssss" jawab mereka dengan kompak.


Keenan hanya terkekeh, ia memeluk istrinya dengan erat. Lalu mematikan telfonnya.


"Aku gak bisa bayangin betapa khawatirnya mereka pada kita"


"Sama, aku bahkan membayangkan reaksi mama"


"Sayang"


"Apa?"


"Kita mungkin bisa menghilang dari dunia, tapi kita tak bisa menghilang dari cinta kita. Kita akan tetap bersama selama lamanya"

__ADS_1


"So sweet nya suamiku"


"For you"


__ADS_2