
Suara tawa menggema di sebuah apartemen. Syafira dan Hana menertawakan kelakuan suami mereka. Keenan dan Bagas melakukan adu panco keduanya tidak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya mereka berdua berbuat curang.
Keenan menggunakan kedua tangannya untuk menang lalu diikuti oleh Bagas. Keenan tidak ingin kalah, akhirnya ia menggelitik leher Bagas yang membuat pertahanannya goyah. Dan Keenan pun berhasil menumbangkan Bagas.
Keduanya tidak seperti bos dan karyawan melainkan seperti sepasang sahabat.
"Saya menang"
"Enggak, bapak curang. Berarti saya yang menang"
"Tapi kan tidak ada peraturan tentang curang. Jadi fiks saya yang menang"
"Gak bisa gitu dong pak" protes Bagas.
"Udah lah Mas ngapain ribut masalah gituan kek anak kecil aja" ucap Syafira.
Keenan menghela nafasnya lalu matanya melihat ke arah Syafa yang sedang memakan puding. Menggemaskan.
"Bagas, saya boleh pinjam anak kamu?"
Bagas berdecak kesal, memangnya dia pikir anaknya itu apa sampai dipinjam segala. Tapi ia tetap mengizinkan. Bagas tahu itu adalah inisiatif Keenan yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Hana memberikan Syafa pada Keenan. Keenan mengambil dan mendudukkannya di pangkuannya. Ia mencium pipi gembul milik Syafa.
Syafa tertawa geli karena bulu bulu halus Keenan menempel di pipinya. "Jeli om" ucapnya.
"Apa katanya?" Keenan bertanya pada Bagas.
"Ya ampun pak, masa bapak gak ngerti bahasa anak kecil. Jeli itu maksudnya geli." Ucap Bagas.
"Dulu kamu juga gitu lho bang, malah kamu selalu bertanya sama aku setiap Syafa bicara"
"Itu kan dulu sekarang kan enggak" kilah Bagas.
'Sama aja lah bang"
Syafira terkikik geli melihat pembicaraan orang dewasa yang ada di depannya itu. Lalu ia mengalihkan perhatiannya pada Keenan yang bermain main dengan Syafa.
Hati Syafira menghangat. Bibirnya melengkungkan senyuman tipis. Lalu Keenan menatap Ke arahnya. "Kenapa sayang?"
Syafira menggeleng lalu berpindah dan duduk di sebelah Keenan. "Mas sudah cocok jadi ayah. Nanti Mas mau dipanggil ayah atau papa?"
"Ayah boleh juga sih, tapi kalau papa lebih keren. Entahlah, biar mereka yang menentukan. Kalau mereka nyaman memanggil ayah kenapa tidak?"
Syafira mengangguk.
Bagas melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Bagas mengode Hana untuk pulang.
"Pak, hari sudah sore. Saya dan Hana pamit pulang dulu. Kapan kapan saya pasti mampir lagi kesini dengan Syafa."
"Baiklah kalau begitu"
Keenan mengembalikan Syafa pada Hana lalu mengantar mereka sampai ke depan.
Setelah mengantar Bagas sampai depan, Keenan dan Syafira kembali ke dalam. Keenan merebahkan dirinya di sofa. Ia memandang langit langit rumahnya.
Sofa yang ditiduri Keenan bergoyang, Syafira duduk di sampingnya. Ia mengelus dahi Keenan yang mengerut. Ingin rasanya ia mencium dahi Keenan tapi tidak bisa. Perutnya sudah besar, ia tidak bisa menunduk lagi.
"Elusan kamu selalu bikin Mas nyaman dan tenang."
"Gantian dong Mas, kayaknya baby nya mau dielus sama papanya"
Keenan menegakkan tubuhnya lalu menghadap ke arah Syaifira. Ia merangkul tubuh syafira dan mendekapnya di dadanya. Ia mengelus perut Syafira.
Setiap kali melihat perut Syafira, Keenan selalu meringis. Ia takut kedua anaknya tiba tiba keluar dari perut ketika ia tidak ada. Keenan memutuskan untuk mengambil cuti sampai Syafira melahirkan.
__ADS_1
____________________________________________
Beberapa hari kemudian, Mela dan Mahendra yang baru saja pulang dari luar negeri langsung datang mengunjungi Keenan dan Syafira. Mereka ingin mendengar perkembangan calon cucunya.
Bukan hanya Mela dan Mahendra saja, Tio dan Wina juga ada disana. Mereka tidak sabar menunggu kelahiran si kembar.
Syafira duduk dengan diapit oleh kedua ibunya. Satu ibu yang melahirkannya dan satu lagi ibu dari orang yang dicintainya.
"Ini Mama udah belikan box bayi buat anak kamu nanti"
"Ibu juga udah beliin baju baju bayi. Karena ibu belum tahu jenis kelamin bayi kembarmu ibu belikan yang khusus cowok dan cewek."
"Terima kasih, Mama sama ibu sudah merepotkan diri untuk membeli perlengkapam bayi untuk Syafira'
"Sama sama sayang"
Kemudian mereka mengobrol tentang perusahaan Tio yang kini sudah berkembang pesat berkat kerja sama dengan perusahaan milik Mahendra.
Saat semuanya sedang mengobrol Syafira merasakan mules yang hebat di perutnya. Saat ia melirik ke bawah cairan bening mengalir dari pahanya.
"Arrhhhggg"
Mendengar rintihan Syafira, sontak semuanya menoleh pada Syafira. Mata Wina membulat melihat cairan bening yang mengalir.
"Air Ketubannya sudah pecah, Syafira mau melahirkan"
"Keenan cepat gendong istrimu, biar papa yang menyiapkan mobil" ucap Mahendra.
Keenan mengangguk lalu mengangkat tubuh Syafira dengan kedua tangannya. Keenan melihat peluh yang membasahi wajah Syafira. Ia jadi tidak tega.
"Sakitttt Mas"
"Iya sayang, sabar ya. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang"
Sementara Mela dan Wina, mereka mengambil peralatan yang dibutuhkan Syafira ketika di rumah sakit. Mereka juga membawakan baju ganti untuk Syafira dan bayi kembarnya.
____________________________________________
Syafira mencengkram lengan Keenan dengan kuat sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Wajah cantiknya kini dipenuhi dengan keringat. Keenan mengusap wajah Syafira lalu mencium keningnya seraya membisikkan sesuatu.
"Kamu harus bisa sayang, Mas yakin kedua bayi kita ingin segera digendong. Ayo ikuti kata dokter"
Mata Syafira yang sayu berusaha untuk tetap terbuka. Tenaganya sangat lemah. Saat mendapat semangat dari Keenan ia mengejan dengan sekuat tenaga.
"Emmmmmmm....aaaaaaaa"
Akhirnya Syafira berhasil mengeluarkan satu bayi nya. Membuat Keenan bernafas lega.
"Ayo bu, tinggal satu bayi lagi" ucap Dokter.
Lagi lagi Syafira mengejan dengan sekuat tenaga sampai akhirnya suara tangisan bayi menggema di ruangan itu.
"Alhamdulillah bayi ibu kembar laki laki dan perempaun. kalau begitu saya akan bawa bayi ibu untuk dibersihkan"
Syafira mengangguk lemas. Sedangkan Keenan, ia menangis terharu. Bayi yang tersimpan di dalam perut Syafira akhirnya keluar juga. Keenan menggenggam tangan Syafira.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena kamu telah melahirkan anak anak kita" Keenan mencium telapak tangan Syafira bertubi tubi. Hingga membuat Syafira melengkungkan senyumnya.
"Aku sangat bahagia Mas"
Keenan menempelkan tangan Syafira ke pipinya.
Satu jam kemudian, Dokter telah memberikan kedua bayi kembar kepada ibunya untuk disusui. Syafira dengan senang hati menerimanya. Dengan hati hati ia menggendong bayi nya. Dan bayi satu lagi digendong oleh Keenan.
Setelah menyerahkan bayi nya, Dokter dan perawat pun keluar. Meninggalkan mereka berdua di dalam.
__ADS_1
Syafira menyingkap kaos nya lalu mengarahkan dada nya pada bayi nya. Bayi Syafira mengenyot dada Syafira dengan kencang. Syafira berpikir itu wajar.
Keenan meneguk ludah ketika melihat putranya mengenyot dada Syafira. Apalagi Dada Syafira kini lebih besar dan menantang dari pada saat kehamilannya. Keenan menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh mengikuti nafsunya.
"Mas, lebih baik kamu adzanin dulu putri kita. Habis itu aku juga mau menyusuinya"
"Iya sayang"
Setelah mengadzani sang putri, kini Keenan mengadzani putranya. Sedangkan putrinya berada dalam rengkuhan sang ibu untuk disusui.
Selesai menyusui, tiba tiba anggota keluarga lainnya datang dan masuk ke ruangan itu. Mereka adalah, Mahendra, Mela, Alvin, Tio dan Wina.
Sedari tadi mereka hanya diam di luar kamar, menunggu pasangan sejoli itu menyelesaikan aktivitas privasinya.
"Mama boleh gendong bayi kalian?" tanya Mela.
Syafira mengangguk lalu memberikan putrinya kepada Mela. Sedangkan Wina ia sudah menggendong putra mereka.
"Kalian sudah menyiapkan nama untuk mereka?" tanya Tio yang langsung disetujui oleh Alvin dan Mahendra.
"Sudah pa, Yang cowok Azka Junior Bright dan yang cewek Azkia permata Bright" jawab Keenan.
Syafira terkejut, darimana suaminya bisa mendapat nama seindah itu. Padahal ia belum menyiapkan apapun. Apa selama ini diam diam Keenan memikirkannya. Memikirkan hal itu membuat ia bangga pada suaminya.
"Nama yang indah" sahut Mahendra.
Alvin mendekat pada Wina dan menengok bayi mungil itu. Lalu ia membandingkan wajah Azka dan Azkia dengan wajah Keenan. Semuanya mirip. Tidak ada yang mirip dengan Syafira.
"Kok Azka sama Azkia mirip Lo semua ya? Sedangkan Syafira yang melahirkannya tidak ada miripnya sama sekali"
Tio dan Mahendra juga ikut membandingkan. Dan memang benar semuanya sama. Mata, hidung dan bibir sama dengan Keenan.
"Ya iyalah, kan gue buatnya pakai bismillah makanya persis kek gue."
Alvin memutar bola matanya. Lalu menghampiri Syafira. Ia mengelus rambut halus milik Syafira. "Selamat ya Sa sekarang kamu sudah menjadi ibu, Abang masih enggak nyangka sekarang abang punya keponakan luci seperti mereka"
Syafira tersenyum jahil. "Jangan cuma ucapin selamat dong bang, abang juga harus nikah dan nyusul Sasa."
"Nah iya Vin, kamu kapan nikah? Tante juga pengen punya cucu dari kamu tahu"
"Cepat kenalin ke Om Vin kalau udah ada calonnya"
"Dia mana mungkin ada calon pa, gak ada yang mau sama dia" tambah Keenan.
"Semuanya harap tenang, sebentar lagi Alvin juga bakal nyusul Sasa kok"
Mata Wina berbinar cerah. "Kapan Vin?"
"Kapan kapan tante" jawabnya dengan cengengesan.
Semuanua menatap Alvin dengan tatapan kesal. Tiba tiba Azkia menangis. Mela berusaha menenangkannya tapi tetap saja menangis.
"Sini tan, Alvin mau coba gendong siapa tahu Azkia diem"
Mela memberikan Azkia pada Alvin. Alvin menggendongnya dengan hati hati.
Saat berada di gendongan Alvin, Azkia yang tadinya menangis langsing diam. Bahkan bayi mungil itu tersenyum.
"Ternyata Azkia mau digendong om nya" ucap Mela.
"Abang udah pantes jadi ayah, cepetan nikah dong bang" ucap Syafira.
"Entar dulu, Abang mau kawin baru nikah"
Pletakk
__ADS_1
Kepala Alvin dijitak dari belakang oleh Tio. "Mulutmu itu ya, berdosa banget"
"Hehe maaf om"