
Keenan menerima kambingnya dengan tangan terbuka, tapi dia tidak menerimanya begitu saja. Ia mengganti uang mereka dengan dua kali lipat. Karena Bagaimana pun Aqiqah itu adalah tanggungannya sebagai seorang ayah.
Awalnya mereka menolak uang dari Keenan, tapi karena bosan dengan rengekan Keenan akhirnya mereka menerimanya. Tentu saja dengan wajah yang bersungut sungut.
Para orang tua sudah kembali ke kediamannya masing masing, meninggalkan anak cucunya bersama teman temannya. Lagi pula mereka bisa datang kapan saja. Hanya Alvin yang bertahan disana.
Eka menggendong Azka dan menimangnya. Melihat wajah Azka ia jadi teringat waktu anaknya baru saja lahir ke dunia.
"Gue mau gendong Azkia dong" ucap Reno. Ia iri dengan Eka yang bisa menggendong dan mengajak bayi mungil itu berbincang.
"Emangnya Oren bisa?" tanya Syafira sedikit ragu.
Reno mengangguk. "Aku pernah menggendong keponakanku dulu, jadi sedikit bisa lah."
Syafira mengangguk lalu menyerahkan Azkia pada Reno. Reno menggendongnya dengan hati hati, ia takut Azkia terluka. "Duh cantiknya keponakan om, cepat gede yah? Biar bisa nikah sama om" ucap Keenan.
"Jangan pedofil Ren"
"Keenan juga gak mau punya mantu kayak lo"
"Apa sih? Gue cuma bercanda tau gak. Lagian isabella mau gue kemanain nanti"
Alvin mengenyitkan dahinya dan menatap Reno dengan bingung. Sedangkan Syafira ia seperti pernah mendengar nama itu. Tunggu, bukankah itu nama wanita yang waktu itu Reno ceritalan padanya?.
"Oren udah jadian sama dia?" tanya Syafira.
Reno mengangguk dan menyengir lebar. Sementara Kevan, Dito dan Farhan membuka mulutnya dengan lebar. Mereka tidak percaya masih ada wanita yang mau dengan Reno. Apalagi wanita itu isabella, seorang model terkenal.
"Lo pake dukun dimana?" tanya Keenan yang sedari tadi diam saja.
"Hooh, gak mungkin aja dia mau sama lo kalau lo gak pelet atau guna gunain dia" tambah Farhan.
"Semar mesem atau jaran goyang ren?"
"Paling dia ngancem Isabella pake boneka santet makanya tuh cewek mau sama dia" timpal Alvin pada akhirnya.
Reno memasang wajah memelas. "Astaghfirullahal adzim, suudzon mulu lo semua sama gue. Isabella itu nerima gue karena gue itu penyayang, sholeh dan baik hati. Apalagi ditambah wajah tampan gue yang di atas rata rata" jawab Reno.
Tiba tiba Azkia menangis dalam gendongan Reno. Kevan tertawa. "Tuh Ren, Azkia nangis karena gak setuju lo itu tampan"
"Si alan lo Kain Kafan"
"Siniin anak gue, bisa bisa dia terpengaruh sama omongan lo" ucap Keenan lalu mengambil Azkia dari gendongan Reno.
Syafira melihat ke arah kemeja yang dipakai oleh Reno, basah. Lalu ia menghampiri Keenan dan mengecek sesuatu. "Ups"
"Kayaknya Azkia ngompolin Oren deh" ucap Syafira.
"Hah? Masa sih"
Reno mengecek kemejanya dan setelah ia cek. Kemejanya sudah basah.
"YA AMPUN AZKIA,KAMU NGOMPOLIN OM YA."
Keenan dan yang lainnya tertawa terbahak bahak. "Azkia minta maaf om, om sih nyebelin makanya Azkia ompolin" ucap Syafira dengan nada menirukan anak kecil.
"Keponakan gue memang pintar" ucap Alvin.
Sedangkan Reno hanya menatap kemejanya dengan pasrah, ia membuka kancingnya satu persatu hingga terlepas semua. Ia hanya menyisakan kaos putihnya. Setelah itu ia melemparnya ke sembarang arah.
Kemeja Reno mendapat tepat di wajah Alvin. Tepat pada bagian kemejanya yang basah.
"Mamam tuh ompolnya keponakan lo"
"RENOOOOOOOOOOOOOO"
Adegan selanjutnya terjadilah kejar kejaran antara tom and jerry. Eka hanya menggelengkan kepalanya. Ia masih cukup waras untuk tidak meladeni mereka.
Azka terlihat tenang dalam gendongan Eka.
"Mas, aku mau gantiin kain Azkia. Kasian, dia pasti gak nyaman" ucap Syafira pada Keenan.
"Mau mas bantu?"
"Tidak usah, Mas disini saja bersama Azka dan yang lainnya"
Keenan mengangguk, Lalu Syafira membawa Azkia ke kamarnya untuk menggantikan kain yang basah itu
"Lo harus ngerasain apa yang gue rasain"
Alvin mengambil kemeja Reno lalu mengusapnya pada wajah Reno dengan kasar
"Uweekkkk, lepasin woyyyyyyy."
Selesai mengusapnya, Alvin pun melepaskannya. Sedangkan Reno terbaring di lantai dengan kemeja yang ada di atas wajahnya.
"Lo berdua kek bocah, sana bersih bersih dulu di kamar mandi." Ucap Keenan.
"Gara gara Si Alvin nih muka gue jadi bau"
"Eh kok gara gara gue, yang lempar kemeja duluan sapa? Lo kan."
"Eh tapi kan gue gak sengaja?"
"Yeee tapi kan sama aja, kemejanya kena gue"
"Gak guna ngomong sama lo"
"Sama"
Reno menatap Alvin dengan sengit lalu memalingkan wajahnya dan pergi ke kamar mandi diikuti oleh Alvin. Setelah tiba di depan kamar mandi lagi lagi mereka ribut.
"Gue duluan yang ke kamar mandi" ucap Reno.
__ADS_1
"Gak bisa, gue duluan. Lihat nih wajah gue jadi kusam gara gara lo" jawab Alvin.
"Wajah lo itu burik" batinnya.
"Ya udah kalau gitu, kita main batu kertas gunting aja biar adil" saran Reno.
"Oke"
Lalu keduanya menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya. Dalam hitungan ketiga mereka mengeluarkan jurusnya masing masing.
Reno memberikan gunting, sedangkan Alvin kertas. Alhasil Reno lah pemenangnya. Reno tersenyum smirk lalu menjulurkan lidahnya pada Alvin.
"APA LO" geram Alvin. Reno tertawa dibuatnya.
Reno tertawa lalu membuka pintu kamar mandi. Baru saja ia melangkahkan kakinya di lantai kamar mandi Reno sudah terpleset. Pantatnya mendarat dengan sempurna di lantai.
"Hahahahahahaha emang enak jatoh di kamar mandi, mana jatuhnya tidak elit lagi" Alvin memegang perutnya sambil tertawa terpingkal pingkal.
Reno menatapnya datar. "Udah ketawanya? Bantuin gue dong. Kagak berperiketemanan banget sih lo"
Alvin berhenti tertawa. "Ya udah sini tangan lo"
Reno menjulurkan tangannya pada Alvin, Alvin pun meraihnya dan berniat menariknya. Tapi sebelum itu Reno terlebih dulu menarik tubuhnya sehingga ia terjatuh di sebelah Reno.
Alvin meringis kesakitan sambil mengelus bokongnya. Ia merutuki Reno karena membuatnya terjatuh. Alhasil celana mereka sama sama basah.
____________________________________________
Setelah menyusui Azka dan Azkia Syafira meletakkan keduanya di box bayi. Angin berhembus dengan kencang di kamar Syafira. Syafira menutup jendela agar angin nya tidak mengenai Azka dan Azkia.
"Bunda, Keysa izin menemani Dedek Z" ucap Keysa di samping box Azka.
"Kenapa setiap angin berhembus, Aku merasa Keysa ada disini." Batin Syafira.
Keenan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi pinggangnya. Tetesan air menetes dari rambutnya yang masih basah. "Mikirin apa hmm?"
Keenan memeluk Syafira dari belakang dan meletakkan kepalanha di bahu sang istri. "Tidak ada, aku hanya memikirkanmu yang semakin hari semakin seksi"
"Benarkah? Kalau begitu aku boleh minta jatah malam ini?"
Syafira terkekeh kecil lalu berbalik dan menatap Keenan dengan intens. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Keenan. Syafira berjinjit dan mengecup bibir Keenan.
"Bukannya aku menolak ya Mas, tapi kamu ingat kan kalau kamu harus berpuasa selama 40 hari. Aku baru saja melahirkan jadi kita tidak bisa melakukan itu" ucap Syafira.
"Baiklah sebagai gantinya beri aku ciuman terbaikmu"
"A..."
Keenan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Syafira dan sedikit **********. Ia menikmati setiap inci bibir Syafira. Lidahnya berputar mengabsen tiap gigi Syafira.
Syafira tidak mau kalah ia semakin memperdalam ciumannya. Syafira mendorong Keenan agar duduk di kasur. Kemudian ia mendudukkan dirinya di pangkuan Keenan.
Selama beberapa menit mereka berciuman akhirnya bibir mereka terlepas. Mereka saling menatap dengan nafas yang terengah engah.
"Kamu semakin nakal" bisik Keenan.
Keduanya tertawa bersama.
Setelah itu Keenan mengambil pakaian kemudian memakainya dengan cepat. Ia langsung melompat ke arah kasur lalu menepuk kasur yang masih kosong di sebelahnya.
"Sini"
Syafira yang mengerti maksud Keenan ikut berbaring di sebelahnya. "Mas"
"Hmm"
"Aku merasa Keysa ada disini Mas"
"Maksud kamu?"
"Aku tidak tahu pasti, tapi setiap kali angin berhembus di sekitarku . Aku merasa Keysa berbicara denganku."
"Kamu bicara apa sih?"
"Aku tidak bohong Mas, demi apapun aku merasakannya. Batinku sebagai seorang ibu mengatakan kalau itu benar benar Keysa."
Keenan menghembuskan nafasnya, sesungguhnya ia juga merasakannya.
Waktu ia mandi tadi, gayung yang berada di tempat yang aman tiba tiba jatuh dengan sendirinya. Dan keran air hidup dengan sendirinya. Suara tawa anak kecil terdengar di telinganya. Bulu Kuduk Keenan merinding.
Tapi anehnya Keenan tidak merasa takut. Ia merasa baik baik saja. Keenan sebenarnya ingin memberitahu Syafira, tapi tidak jadi. Ia takut Syafira khawatir berlebihan.
"Kalau memang benar dia ada di dekat kita, Keysa pasti bahagia melihat Azka dan Azkia" ucap Keenan.
"Ya sudah tidak usah dipikirkan lagi, ayo kita siap siap untuk tidur" ucap Keenan. Syafira mengangguk lalu ia menarik selimut ke tubuhnya dan tubuh Keenan. Syafira merapatkan tubuhnya di dada Keenan dan mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
Keenan terkekeh geli melihat Syafira yang mendusel padanya layaknya kucing kecil. Keenan membuka kaosnya dan melemparnya ke bawah.
"Kok dilepas Mas?" tanya Syafira.
"Takutnya kamu mau raba raba Mas, jadi biar puas dan kelihatan semuanya Mas buka kaos" jawab Keenan.
Keenan menaruh kepala Syafira di dadanya, sedangkan lengannya ia berikan kepada Syafira untuk dijadikan bantal. Syafira tersenyum, ia merasa begitu damai dalam dekapan sang suami.
"Mas gak mau nyukur bulu ketek? Itu udah panjang banget lo" Syafira mendongakkan kepalanya dan menatap Keenan. Sedangkan yang ditatap hanya mengukir senyun.
"Buat apa? Lagian, sayang banget kalau dipotong. Bulu ketek ini udah dicium sama kamu. Jadi mana mungkin Mas potong. Mending tetap disimpan di ketek Mas, biar jadi kenangan" jawabnya.
"Ada ada saja Kamu Mas"
Mereka berdua memejamkan matanya dan mulai memasuki dunia mimpi.
____________________________________________
__ADS_1
Keesokan paginya, pagi pagi sekali Syafira disibukkan dengan si kembar. Azka dan Azkia menangis secara bersamaan. Membuat Syafura kelimpungan sendiri karena suaminya sudah pergi ke kantor. Masa cuti nya sudah selesai.
Tiba tiba seseorang Masuk begitu saja. "Halo semuanyaa, wah keponakan om lagi latihan nyanyi nih."
Syafira menoleh dan mendapat Alvin yang sedang tersenyum di dekatnya. "Coba abang gendong Azka dulu, Syafira mau memberi mereka asi dulu"
"Dengan senang hati"
Dengan perlahan Alvin mengambil dan menggendong Azka. "Cup cup ipin bin marucup, Azka jangan nangis dong. Nanti mirip ucup lo?"
"Ooeeeee oeee" Azka semakin mengeraskan tangisannya.
"Abang mau bawa Azka cari udara segar di luar, kamu susui dulu Azkia, setelah selesai panggil abang kesini"
"Iya, sana gih abang pergi"
Setelah Azka dibawa Alvin, Syafira membuka kancing bagian atasnya dan mengeluarkan dada nya dari sangkar. Ia mengarahkan dadanya pada mulut Azkia yang langsung diterima dengan baik.
"Kamu haus ya sayang?" Syafira menyentuh dan mengusap wajah Azkia. Sesekali ia mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
Azkia menyusu dan tertidur, ia sudah kenyang dengan asi dari ibunya. Syafira memutuskan untuk menidurkan Syafira di box ruang tengah. Mereka punya empat buah box bayi. Dua ada di kamar dan dua lagi ada di ruang tengah.
Syafira mencari Alvin ke luar, Ia akan menyusul Azka.
"Azka, nanti kalau udah gede harus ganteng ya? Minimal mirip shawn mendes lah. Jangan mirip papamu. Dia jelek. Mamamu mau sama dia karena dia banyak uang aja" ucapnya.
"Beraninya dia bilang kayak gitu, nih rasain"
Syafira mengendap endap dari belakang lalu ia menangkap telinga Alvin dan memutarnya dengan keras. "Abang ngajarin Azka yang gak bener ya?"
Azka terkejut karena Syafira tiba tiba menarik telinganya. Ia mencari alibi. "Bukan itu maksudku Sa, tadi abang lagi nyeritain teman aku"
"Bohongmu kurang pro bang, lagian kalau mau belajar bohong noh sama kucing garong" jawab Syafira dengan kesal.
"Hehe"
"Sini, Azka mau ku beri Asi. Abang kalau belum sarapan, sarapan dulu di dalam."
"Ya udah, ayo kita ke dalam"
Mereka masuk ke dalam apartemen lalu Alvin memberikan Azka pada Syafira untuk disusui. Sedangkan Alvin langsung pergi ke meja makan untuk sarapan di sana. Kedatangannya kesini selain menjeguk keponakannya ia juga ingin menumpang sarapan di rumah adiknya itu. Memang rasanya tidak tahu malu.
Tapi prinsip Alvin adalah "Jangan pernah malu untuk hal yang baik, malu lah kalau kamu tidak pakai celana dalam saat resletingmu terbuka"
.
.
.
Di sisi lain Keenan membolak balikkan kertas di hadapannya, ia mengecek data data keuangan yang masuk tiap bulan. Hampir tiap bulan uang yang masuk semakin meninggi. Hal itu karena kerja keras para karyawannya.
"Bagus, semakin hari jumlah uang yang masuk semakin meningkat dari bulan bulan sebelumnya, kamu terus pantau perkembangannya dan jangan lupa untuk menyalin setiap rinciannya."
"Baik pak" jawab Teddy, Karyawan bagian keuangan.
"Sekarang pergilah, oh iya tolong panggilkan Bagas ke ruangan saya"
"Iya pak"
Teddy menunduk sebentar lalu pamit keluar dari ruangan Keenan. Kemudian ia pergi memanggil Bagas agar datang ke ruangan Keenan.
Mendengar dirinya di panggil Keenan, Bagas langsung berjalan dengan tergesa gesa. Ia takut ada sesuatu yang terjadi. Sebelum masuk, Bagas mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia mengutamakan etika saat berhadapan dengan bos besarnya.
"Masuk"
Setelah mendapat izin untuk masuk, Bagas membuka pintu ruangannya lalu menutupnya kemhali. Bagas berada tepat di hadapan Keenan.
"Silahkan duduk"
Bagas menari kursi lalu duduk di depan Keenan. Dari luar ia kelihatan santai tapi siapa yang tahu kalau jantungnya terus berdetak dengan kencang, perutnya terasa melilit. "Semoga ini bukan hal yang buruk" batinnya.
"Kamu sudah memantau perkembangan rumah sakit kita kan?" Keenan menatap kedua bola mata Bagas.
"I...ii..iya pak"
Keenan mengenyitkan dahinya melihat Bagas berbicara dengan tergagap gagap. Ini seperti bukan dirinya.
"Apa saya membuatmu takut Bagas?"
"Ti..tidak pak"
"Kalau begitu kenapa kamu bicaranya seperti itu?"
"Saya hanya takut bapak menyampaikan sesuatu yang buruk tentang perusahaan dan saya takutnya saya disalahin karena tidak becus"
Keenan terkekeh sebelum menjawab perkataan Bagas. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, perusahaan baik baik saja. Bahkan keuangan kita semakin meningkat. Saya memanggilmu kesini hanya untuk mengetahui perkembangan rumah sakit. Itu saja?"
Mendengar hal itu Bagas bernafas lega. "Sebelumnya saya mohon izin sama bapak, semua data nya ada di meja saya. Saya akan mengambilnya sebentar dan akan menunjukkannya pada bapak"
"Silahkan"
Bagas pergi sebentar lalu kembali dengan membawa sebuah map berwarna merah. Bagas membukanya lalu menunjukkannya pada Keenan.
"Ini pak, bapak bisa lihat sendiri hasilnya"
Keenan menerimanya lalu melihatnya sendiri. Ia tersenyum puas dengan kepala yang diangguk anggukan. Keenan menutupnya kembali lalu mengembalikan pada Bagas.
"Semuanya Bagus, Rumah sakit kita berkembang serta Keuangan kita meningkat. Saya bangga mempunyai karyawan seperti kalian dan juga kamu Bagas."
"Terima kasih pak"
"Baiklah, karena ini sudah hampir jam makan siang, aku akan pulang. Apa setelah ini saya tidak ada kegiatan lagi?"
__ADS_1
"Kosong pak, setelah ini bapak tidak ada kegiatan apapun"
"Oke, kalau begitu saya pulang dulu. Sampai bertemu besok"