Bukan Janda

Bukan Janda
BONUS CHAPTER 3


__ADS_3

Hari ini semua orang di rumah Mahendra sedang bersiap siap, sebentar lagi mereka akan menyaksikan ijab kabul pernikahan Riya dengan Deno. Ijab kabul dilakukan di rumah Mahendra sedangkan resepsinya Deno sudah menyewa gedung untuk pernikahan mereka.


Syafira baru saja selesai mengurus si kembar, Azka dan Azkia sudah rapi. Kali ini mereka berdua tidak memakai baju anak anak seperti dulu. Keenan membelikan Jas dan gaun kecil untuk anak anaknya.


"Kia udah cantik belum Nda?" Tanya Azkia pada Syafira. "Kia udah cantik kok" Azka menimpalinya. Azkia melirik ke arah Azka dengan tatapan kesal. "Kan kia nanya nya sama Bunda bukan sama abang"


Azka balik menatapnya. "Kan abang cuma mewakili Bunda aja, iya gak Bund?" Azka menatap Syafira. "Iya, Abangmu benar. Kia udah cantik kok. Lebih cantik dari bunda"


Ucapan Syafira membuat Azkia tersenyum malu malu. "Tuh kan apa abang bilang, kamu itu udah cantik. Kalau abang jangan ditanya, abang udah ganteng mirip papa" ucap Azka.


Di umur yang hampir 3 tahun itu Azka dan Azkia sudah bisa berpikir dewasa.


"Iya Abang ganteng, kalau gak ganteng Kia gak mungkin sayang Abang" Goda Azkia. Azka menatapnya kesal lalu mengalihkan pandangannya sambip bersedekap dada. Syafira tersenyum melihat tingkah anak anaknya itu.


"Kalian tunggu disini ya, Bunda mau bantuin papa kalian bersiap siap" Syafira mengelus kepala mereka bergantian. "Siap Nda" jawab mereka bersamaan.


Lalu Syafira meninggalkan anak anaknya dan pergi ke dalam kamar untuk membantu suaminya. Keenan masih belum keluar dari kamar Mandi, Syafira berniat untuk mengambilkan Jas dan kemeja untuk Keenan dulu.


Sebenarnya Syafira ingin mencarikan baju untuk Keenan, tapi ia masih ingat dengan perkataan Keenan semalam. "Aku lebih nyaman kalau memakai jas dan kemeja kalau datang di pernikahan orang lain"


Syafira membuka lemarinya dan mengambilkan Jas dan kemeja untuk Keenan. Lalu tiba tiba sesuatu terjatuh dari atasnya. Sebuah kotak berwarna merah. Syafira penasaran dengan isinya.


Pintu kamar mandi terbuka, Keenan keluar dengan handuk yang menutupi pinggangnya saja. Keenan berjalan menghampiri Syafira. "Kamu sudah menemukannya terlebih dahulu rupanya"


Syafira menoleh ke arah Keenan. "Ini apa Mas?" "Buka saja" jawab Keenan. Syafira menaruh Jas dan kemeja nya dulu di atas kasur. Lalu membuka kotak itu secara perlahan lahan. Syafira terkejut dengan isinya.


Di dalamnya ada sebuah kalung berliat yang sangat indah, kalung itu memiliki Bandul dengan lambang hati. Syafira sangat menyukainya lalu tanpa sengaja ia melihat note pembelian kalung itu.


"2 M, maksudnya 2 miliar gitu?" Syafira mengangkat kepalanya dan menatap Keenan. Keenan mengangguk. "Aku memesan kalung itu dari paris sekitar dua bulan yang lalu. Dan baru datang sekarang."


"Kamu suka?" Tanya Keenan. Syafira mengangguk lalu dengan cepat ia memeluk Keenan dengan erat hingga membuat handuk Keenan terlepas begitu saja. Keenan diam mematung. Ia tidak ingin bergerak dan membangunkan adik kecilnya.


"Ini adalah hadiah istimewa yang paling aku suka, terima kasih Mas" Syafira segera melepaskan pelukannya lalu mencoba kalungnya sambil menghadap ke arah cermin.


Dengan cepat Keenan memungut handuknya lalu memakainya kembali. Ia bernafas lega. "Sini, biar aku bantu pakaikan" Keenan mengambil kalung itu dari tangan Syafira dan memakaikannya.


Syafira menatap takjub, kalung itu sangat pas dengan kulitnya yang putih. Keenan tidak pernah tanggung tanggung dalam memberikan hadiah. Selain mahal, kualitasnya juga sangat bagus.


"Kalungnya cantik, tapi lebih cantik lagi orang yang memakainya" Syafira tersenyum malu malu. Lalu ia membalikan tubuhnya dan menatap Keenan. Syafira berjinjit lalu mengecup bibir Keenan sekilas. "Terima kasih Mas."


Keenan tersenyum lalu ia membalas kecupan Syafira di bibirnya. "Sekarang bantu aku memakai pakaianku, aku harus terlihat tampan di pernikahan ibu." Ucap Keenan. Syafira terkekeh.


"Tanpa busana pun kamu masih tetap tampan Mas" jujur Syafira. "Menurut kamu lebih tampan aku atau Deno?" Pertanyaan Keenan membuat Syafira mengangkat alisnya. "Kalian sama sama tampan"


"Setidaknya sebut lah keunggulan kita masing masing" ucap Keenan. Syafira menatap Keenan. "Oke, keunggulannya dari kalian itu beda beda. Kalau Kak Deno unggul sebagai dokter, kalau kamu unggul sebagai Pembalap sekaligus Ceo. Udah kan?"


Keenan menyengir lalu mengangguk. "Sekaramg cepat pakai pakaian Mas, sebentar lagi acaranya akan dimulai. Aku mau siap siapa dulu. Dari tadi belum sempat siap siap"


"Iya udah sana, mumpung semua tamu belum datang" Syafira mengangguk lalu ia pergi ke kamar mandi dengan membawa handuknya. Keenan mulai memakai pakaiannya satu persatu.


Di luar ruangan, Mahendra melihat dekorasi rumahnya yang sudah ia siapkan untuk Riya. Dekorasinya cukup bagus karena itu adalah pilihan Riya sendiri. Mahendra memperhatikam setiap sudut ruangan. Sampai matanya tertuju pada sebuah kamar.

__ADS_1


Dalam kamar itu Riya sedang didandani oleh penata Rias langganan Mela dulu. "Kalau merias ibu seperti ini saya jadi teringat dengan almarhumah ibu Mela. Dulu dia memakai jasa saat menikah dengan pak Mahendra" ucap penata Rias tersebut.


"Saya belum pernah bertemu dengan Mela sama sekali. Jadi saya tidak tahu banyak tentang dia. Bisa kamu ceritakan tentang Mela? Saya jadi penasaran setelah mendengar cerita kamu tadi"


Penata Rias itu mengangguk lalu menceritakan banyak hal tentang Mela yang ia ketahui. Sesekali Riya ikut menimpali perkataannya. "Pokoknya dulu Bu Mela itu baik banget sama saya, waktu itu saya pernah mau merias Bu Mela buat acara tertentu tapi pada saat mulai merias saya mendapat telfon dari ayah saya yang di kampung. Ayah saya sakit dan butuh saya."


Riya terus mengangguk. "Sampai akhirnya Bu Mela menyuruh saya untuk pergi ke kampung dan menemui ayah saya, bahkan Bu Mela memberikan saya uang untuk perjalanan ke kampung. Saya belum pernah menemukan sosok wanita sebaik dia"


"Saya setuju sama kamu, walaupun saya belum pernah bertemu dengan dia dan hanya pernah mendengarnya saja. Tapi saya yakin dia benar benar wanita yang baik. Itu sebabnya Mahendra tidak ingin menikah lagi"


"Ngomong ngomong ibu kalau dirias mirip sekali dengan Almarhumah. Meskipun umur kalian beda tapi wajah kalian hampir sama" Riya tersenyum tipis, ia menatap wajahnya yang masih dirias.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, smeua tamu undangan sudah mulai berdatangan. Riya sibuk menyambut mereka. Begitu pun dengan Mahendra. Makanan untuk para tamu sudah disiapkan dari tadi. Dan kini hanya menunggu mempelai pria datang.


"Deno, kamu sudah siap?" Tanya Sofi sambil masuk ke dalam kamar Deno. Deno mengangguk, ia merasa sangat gugup sekali. Apalagi ini adalah pertama kalinya bagi Deno untuk serius dengan wanita.


Dulu Deno hanyalah seorang playboy yang suka bergonta ganti pasangan. Deno tidak pernah memacari wanita lebih dari 24 jam. Minimal 1 hari sekali Deno sudah berganti pasangan.


Dan tibalah saatnya Deno sadar dengan kelakuannya. Satrio lah yang membuat Deno sadar. Satrio memberikan Deno wejangan selama dua hari dua malam di ruang pribadinya. Satrio bahkan tidak mengijinkan Deno keluar dari ruangan itu setelah dua hari. Setelah Deno sadar Baru Deno bisa keluar.


"Kenapa melamun?" Tanya Sofi menepuk pundak Deno. "Deno teringat dengan Deno yang dulu Ma, Playboy dan sering mainin perasaan wanita. Dan sekarang Deno mau menikahi seorang wanita. Itu membuat Deno agak Nervous gitu"


Sofi tersenyum. "Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, sekarang kan kamu bukan Deno yang dulu. Deno yang sekarang adalah Deno yang penuh perhatian dengan Wanita. Mama bangga sama kamu"


Deno tersenyum lalu ia melirik ke arah jam tangannya. Sebentar lagi acaranya dimulai, Deno harus segera pergi. "Ayo, papa sudah menunggu di dalam mobil." Deno mengangguk.


Selama dalam perjalanan menuju Rumah Mahendra, Deno terus berlatih mengucap ijab kabul. Deno tidak mau ada kesalahan saat ia mengucap ijab kabul nanti. Satrio tersenyum melihat putranya yang terua berlatih.


Deno dan kedua orangnya sudah tiba di Rumah  Mahendra. Mereka langsung disambut oleh Tio, Wina, Mahendra dan Keenan. Sementara Syafira ia masih ada di dalam bersama dengan Riya.


Satrio dan Sofi saling bersalaman dengan Mahendra dan yang lainnya. Lalu mereka masuk ke dalam untuk memulai acaranya. Deno sudah siap di hadapan penghulu ia menarik nafasnya panjang dan menunggu Riya keluar.


Sedangkan Riya, ia mondar mandir di kamarnya selama berulang kali. Riya sangat gugup setengah mati, bahkan ia pun berkeringatan walau AC di kamarnya masih hidup.


"Tante, tenang dulu okey. Tarik nafas yang dalam lalu hembuskan" Syafira membantu Riya untuk menetralkan perasaan gugupnya. Riya melakukan apa yang diucapkan Syafira. "Tante sangat gugup sapi'


"Syafira tahu, tapi ini kan bukan pernikahan pertama tante. Tante seharusnya tidak gugup" hibur Syafira. Riya mengangguk lalu ia membuka pintu kamarnya sedikit dan mengintip.


Riya melihat Deno dan keluarganya sudah datang dan siap. Rasa gugupnya yang tadi hilang malah makin bertambah membuat Syafira menyerah. "Ayo tante kita keluar, tante sudah ditunggu oleh semua orang"


"Tante takut sapi" ucap Riya seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya. "Tante mau keluar bareng syafira atau Syafira harus panggip kak Deno buat jemput Tante?"


Akhirnya Syafira memberikan Riya pilihan. Dengan begitu Riya tidak bingung atau takut lagi. "Jangan, tante keluar sama kamu aja" ucap Riya sambip menatap Syafira.


Syafira mengangguk sambip tersenyum. "Nah gitu dong tante harusnya dari tadi bilangnya" Syafira membuka pintu kamarnya dengan pelan dan membawa Riya pada Deno.


Semua tamu menatap Riya dengan pandangan yang berbeda beda. Ada yang bingung kenapa mempelai wanitanya terlihat lebih tua dan ada juga yang menyukainya langsung. Riya sadar itu.


Syafira mengantar Riya sampai duduk di samping Deno, lalu ia mengambil kain putih dan menaruhnya di atas kepala mereka berdua. "Syafira tinggal dulu" . Syafira kembali dan berkumpul bersama suami dan anak anaknya.

__ADS_1


"Udah siap semuanya kan?" Tanya Keenan berbisik pada Syafira. "Udah Mas, tinggap melihat ijab kabulnya aja" jawab Syafira. Keenan mengangguk lalu kembali memperhatikan mereka.


"Bisa kita mulai acaranya?" Tanya Sang penghulu sambil menatap sang pemilik acara. "Oh iya silahkan pak" penghulu nya pun mengangguk.


"Saudara Deno, mari jabat tangan saya dan ikuti kata kata saya" Deno dengan segera menjabat tangan penghulu itu dengan tangannya. Tangannya bergetar ketika menjabat tangan pak penghulunya.


Penghulunya tersenyum maklum, selama menikahi orang orang ia sudah banyak menemukan mempelai pria yang sangat gugup seperti ini.


"Saudara Deno Alfiansyah, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan  Riya Melani binti Arman Sutisno dengan Mas Kawin satu unit mobil dan 50 gram emas serta seperangkat alat shalat dibayar tunai"


Deno mengucapkan bismillah dalam hatinya. Lalu menatap Penghulu itu dengan hati yang sudah lebih tenang. "SAYA TERIMA NIKAHNYA  RIYA MELANI BINTI ARMAN SUTISNO DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI""


"Bagaimana para saksi?" Penghulu nya menatap semua orang yang hadir di acara ijab kabul ini. "SAHHHHH" Jawab mereka semua "Alhamdulillahi robbil aalamin" Penghulu membacakan doa lalu mengusapkan tangannya ke wajahnya. Begitu pun dengan Deno dan Riya yang ikut mengaminkan.


"Sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri" Deno dan Riya saling bertatapan untuk beberapa detik. Lalu Riya segera menyalami tangan Deno dan mencium punggung tangannya.


Setelah itu baru lah Deno, Deno mencium kening Riya dengan khidmat. Tangannya menyentuh ubun ubun sang istri dan membacakan doa untuknya.


Orang tua Deno sangat terharu melihat Deno sudah berhasil mengucapkan ijab kabul dengan baik. Bahkan Sofi sampai menangis saking bahagianya.


"Mengingat ijab kabul, Mas jadi teringat saat ijab kabul pernikahan kita dulu" Keenan menoleh ke arah Syafira. "Memangnya dulu kenapa Mas?" "Mas salah menyebut nama belakang ayahmu" jawab Keenan sambil tersenyum tipis.


"Wajar Mas, aku tahu Mas dulu juga gugup seperti Kak Deno." Keenan mengangguk.


Rangkaian acara demi acara telah mereka lewati, kini Deno dan Riya sudah berada di gedung tempat mereka melakukan resepsi. Deno dan Riya duduk di atas pelaminan sambil bertatapan dan menatap semua tamu.


Pancaran kebahagiaan terlihat jelas di mata mereka. Satrio bergabung dengan Mahendra dan Tio yang lagi mengobrol. Mereka membicarakan banyak hal. "Jadi pak Satrio ini seorang polisi?" Tanya Tio.


"Iya benar, saya seorang polisi" jawab Satrio singkat. Mahendra dan Tio hanya menganggukkan kepala. Sambil lalu Satrio mengamati istrinya yang sedang menggendong seorang anak kecil.


"Kalau boleh tahu anak kecil itu siapa?" Tanya Satrio pada Mahendra. Mahendra menolehkan kepalanya dan melihat Sofi yang sedang menggendong anaknya. "Itu yang paling kecil, anak saya."


"Dan kedua anak kembar itu mereka cucu saya dan Tio" Tiba tiba Azka berjalan menghampiri Mahendra. "Opa..Azka mau beli mobil" ucap Azka. Satrio tersenyum melihat Azka yang sangat tampan dengan Jas kecilnya itu.


Mahendra menatap Azka dengan bingung. "Azka mau beli mobil?" Tanya Mahendra. Azka mengangguk. "Tadi Azka minta sama papa tapi kata papa disuruh minta ke opa saja. Kata papa, papa gak punya duit."


Tio terkekeh pelan, masih kecil saja cucunya sudah minta mobil, gimana gedenya nanti. "Azka mau beli mobil yang seperti apa? Mobil papa kan banyak. Gede lagi, Azka tinggal pilih" ucap Tio.


"Enggak mau yang gede, Azka mau nya yang kecil. Yang bisa pake remot kayak teman teman Azka" Satrio sangat menyukai Azka. Azka terlihat lucu di matanya.


Satrio berjongkok di hadapan Azka. "Hai nama kamu siapa" tanya nya basa basi. Azka menatapnya sebentar kemudian memundurkan langkahnya dan bersembuyi di samping Tio.


"Lho? Kok Azka sembunyi. Itu Kakek lagi nanyain Azka lho?" Mahendra menatap cucunya dengan lembut. Tio mengelus kepala Azka. "Kata Bunda Azka tidak boleh ngomong sama orang asing"


Satrio semakin melebarkan senyumnya. "Kakek bukan orang asing kok. Kakek ini orang baik. Buktinya Opa kamu mau ngobrol sama Kakek?" Ucap Satrio Lagi.


Azka tetap menggelengkan kepalanya. "Cucu saya memang begitu, sulit untuk mengenal atau mengobrol dengan orang yang baru ditemuinya. Satrio mengangguk mengerti, ia tak menyerah begitu saja. "Nanti kalau Azka mau ngobrol sama kakek, nanti kakek belikan mobil remot gimana? Mau gak?"


Mata Azka berbinar binar, ia berjalan mendekat ke arah Satrio. "Beneran? Kakek mau ngasih Azka mobil remot?"


Satrio mengangguk dengan cepat. "Beneran kok"

__ADS_1


"Horeeee beli mobil remot. Terima kasih kakek"


Satrio mengelus puncak kepala Azka. Ia tidak mempunyai cucu tapi melihat Azka kini ia ingin memiliki cucu secepatnya. Satrio akan memesan cucu pada Deno. Siapa tahu Deno akan membuatkannya.


__ADS_2