
Ana dan Adit masih belum beranjak dari makam Rena. Semua orang yang melayat juga sudah pulang. Adit dan Ana masih meratapi kepergian Rena.
Ana sedari tadi tak berhenti menangisi kematian Rena. Membuat Adit merasa tak tega pada kakak kekasihnya itu.
"Kakak sebaiknya pulang dan beristirahat. Kakak gak boleh menangisi orang yang sudah meninggal dengan berlebihan. Ikhlas kan Rena kak, supaya Rena tenang di alam sana.
Ana mengangkat wajahnya lalu matanya menatap ke arah Adit. Ana memeluk Adit dengan spontan. Ia butuh sandaran. Karena ia sudah tak punya siapa siapa lagi. Kedua orang tua nya telah lama meninggal.
Adit merasa canggung karena Ana memeluknya. Tapi Adit tetap membalas pelukan dari Ana. Ia tahu kakak dari Almarhumkekasihnya itu sangat membutuhkan sandaran
Ana melepaskan pelukannya. "Maaf karena aku tiba tiba memelukmu"
"Tidak apa apa kak. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mendoakan kepergian Rena. Aku yakin Rena akan bahagia di alam sana kalau kita mendoakannya"
Ana mengangguk, ia memperbaiki kerudungnya lalu mulai mendoakan Rena bersama Adit.
Setelah selesai, Adit dan Ana pulang bersama. Adit tidak membiarkan Ana pulang sendiri karena ia takut terjadi sesuatu pada kakak dari Almarhum kekasihnya itu.
____________________________________________
Syafira baru bangun dari tidur panjangnya, ia mencuci muka lalu pergi ke luar rumah untuk melakukan olahraga senam. Saat Syafira membuka pintu ia menemukan beberapa boneka yang jenisnya berbeda beda. Mulai dari boneka beruang, panda, Kuda laut, Dan lain lainnya.
"Darimana boneka ini datang?" batin Syafira.
Syafira menemukan beberapa kertas di plastik bonekanya. Ia mengambilnya kemudian membacanya. "Peluk boneka ini saat kamu tidur dan bayangkan boneka ini adalah aku----Keenan Aldebaran Bright.
"Jadi dia yang mengirimiku boneka sebanyak ini"
Syafira senyum senyum sendiri, lalu mengangkut satu persatu bonekanya ke dalam kamarnya. Saat ia mengambil boneka terakhir Tio dan Wina datang melihatnya.
"Kamu kenapa membeli boneka sebanyak ini sayang?" ucap Tio.
Syafira menoleh pada kedua orang tua nya lalu menjawab. "Ayah, ibu, Syafira tidak membeli semua boneka ini"
Tio dan Wina bingung. "Lalu dari mana boneka itu?" ucap Tio.
"Semua boneka itu dari suamiku, ia yang mengirimiku semua ini" jawab Syafira.
Tio dan Wina saling menatap sembari menggelengkan kepalanya. Bisa bisanya menantu nya melakukan hal ini.
"Ya udah, syafira mau bawa boneka ini ke kamar dulu. Habis ini kita senam bersama sama"
"Iya sayang" Jawab Wina.
Setelah menaruh Boneka di kamarnya. Syafira kembali lagi dan menyusul orang tua nya di luar rumah.
"Ayah, sekarang Syafira sudah siap. Ayo hidupkan musiknya"
Tio memberikan tanda jempol sebagai jawabannya. Lalu musik senam pun mulai dihidupkan. Tio, Wina dan Syafira mulai melakukan gerakannya. Mereka melakukan senam sambil bercanda ria. Bahkan Tio juga sering salah gerakan.
Syafira tertawa dengan lepas, membuat Tio dan Wina tersenyum. Putri mereka sudah kembali ceria. Mereka berdua selalu mendoakan kebahagiaan Syafira.
Di tempat lain
Keenan Aldebaran Bright sedang dalam perjalanan menuju kantornya. Ia memakai jas warna biru dengan setelan kemejanya. Keenan terlihat sangat tampan dengan kaca mata hitam nya yang membuat pesona nya semakin bertambah.
Setiba nya di kantor, semua karyawan menyambutnya. Bertahun tahun mereka menunggu kembali nya Keenan, akhirnya sekarang sudah terwujudkan.
Keenan turun dari mobilnya dan merapikan jas nya. Lalu masuk ke dalam kantornya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Selamat datang kembali di perusahaan pak" sambut Bagas. Dari tadi ia yang paling awal menunggu kedatangan Keenan dibanding karyawan lainnya.
"Terima kasih"
"Selamat datang pak Keenan" ucap semua karyawannya dengan serentak.
Keenan tersenyum, rasanya sudah lama sekali ia tak mengunjungi kantornya.
"Terima kasih karena kalian telah menyambut kedatangan saya. Saya harap kalian terus bekerja keras untuk bisa memajukan kantor kita" ucap Keenan.
"Baik pak" jawab Mereka.
Keenan melirik Bagas yang ada di sampingnya. Mengerti dengan lirikan Keenan, Bagas lalu membubarkan semua karyawan dan menyuruhnya untuk kembali bekerja. Kemudian Bagas mengantar Keenan pada ruangan pribadinya.
"Saya sudah menyiapkan dan merapikan ruangan bapak" ucap Bagas.
Keenan mengangguk lalu duduk di kursi kebesarannya. "Kalau begitu saya permisi dulu pak"
Saat Bagas akan pergi Keenan memanggilnya. "Bagas, tunggu" ucapnya.
Bagas lalu memundurkan langkahnya dan menatap Keenan. "Ada apa pak?"
"Sebentar lagi ada calon karyawan baru. Jumlah nya tiga puluh orang. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"
"Saya tahu pak" ucap Bagas dengan tegas. Karena ini bukan pertama kalinya berkata seperti itu pada Bagas. Bagas adalah orang kepercayaan Keenan selama ini. Kejujuran dan ketekunan Bagas lah yang membuat Keenan mempercayainya.
"Apa ada lagi pak?" ucap Bagas.
"Tidak ada, sekarang kamu pergi lah dan lakukan tugasmu" ucap Keenan.
"Baik pak"
Kemudian Bagas keluar dari ruangan Keenan. Keenan melihat lihat ruangannya yang sudah bertahun tahun tak ditempati.
"Tak ada yang berubah" gumam Keenan.
__ADS_1
Beberapa jam Keenan berada di ruangannya, ia hanya melakukan tugasnya dengan membaca berkas berkas penting. Keenan memeriksa hasil pekerjaan Bagas selama ini. Dan ternyata bagus, tidak ada kesalahan sedikit pun.
Tok tok tok
Pintu diketuk dari luar, menampilkan Bagas dan dengan semua anggota Lavenzi. "Pak, saya sudah melaksanakan tugas yang bapak berikan. Mereka semua lulus tanpa terkecuali"
Keenan tersenyum mendengar teman temannya lulus. Ia sudah menduga nya sebelum itu.
"Baiklah, siapkan ruangan untuk 30 orang karyawan baru kita?"
Bagas tetap diam di tempat, ia agak kurang mengerti dengan apa yang dikatakan Keenan.
"Maksud bapak saya harus menyiapkan satu ruangan yang bisa diisi 30 orang?"
Keenan tertawa kecil, ternyata orang sepintar Bagas bisa tak mengerti juga. Selama ini Keenan menjuluki Bagas dengan sebutan Robot. Karena kadang ia cepat dan kadang lambat dalam melakukan tugas.
"Bukan begitu. Maksud saya siapkan satu persatu ruangan untuk mereka. Satu orang satu ruangan. Mengerti?"
"Oh mengerti pak, kalau begitu saya permisi dulu"
Keenan mengangguk. Setelah kepergian Bagas, Keenan menatap teman temannya satu persatu.
"Gimana?" tanya nya.
"Gila lo nan, satu orang diberi 50 pertanyaan. Untung kita bisa jawab. Alasan lo menyuruh memberikan 50 pertanyaan apa? Biasanya di perusahaan lain gak sebanyak itu" ucap Rendi.
"Hooh, gue aja ampe puyeng nih kepala gara gara menjawab semua pertanyaannya"
"Gue memberi banyak pertanyaan bukan tanpa alasan. Gue hanya ingin memiliki karyawan yang benar benar cerdas dan tangkas. Gue gak mau seperti perusahaan lain, yang karyawan nya sendiri membuat banyak kerugian di perusahaan. Maka dari itu gue putuskan untuk memberi mereka 50 pertanyaan yang sulit dan mendengar jawaban mereka" jelas Keenan.
"Oke, gue boleh minta satu permintaan?" ucap Farhan yang sedari tadi diam.
"Katakan"
"Gue ingin selama kita bekerja harus bersikap profesional layaknya seorang karyawan dan bos. Gue tidak ingin karyawan lain merasa tersaingi karena gue sohib lo"
"Tumben lo pinter han? Kerasukan jin apa lo?" ucap Kevan.
"Eh bapak Kevan yang terhormat, gini gini juga pinter tau. Iq gue lebih dari 120"
"Gak nanya, kambing"
"Gue setuju sama apa yang lo katakan Han. Gue juga akan bersikap adil sama semua karyawan gue termasuk kalian semua"
"Oke"
"Sekarang temuilah Bagas. Dia yang akan menunjukkan ruangan kalian satu persatu"
"Oke pak" jawab Farhan.
____________________________________________
"Halo Sayang"
Keenan melihat Syafira seperti sedang kelelahan, terlihat dari keringat yang mengalir di seluruh tubuhnya.
"Kenapa sayang?"
Keenan tersenyum, rupa nya sekarang istri nya sudah pandai memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Keenan.
"Ini aku habis senam sama ayah dan ibu. Tunggu, kamu ada dimana sekarang?" tanya Syafira. Karena ia sangat yakin itu bukan di apartemen atau rumah Keenan.
"Aku lagi di kantor, setelah sekian lama akhirnya aku kembali ke perusahaanku. Aku melakukan ini agar aku bisa menafkahi kamu nanti"
"Ingat Sayang, kalau kerja jangan sampai kecapean, jangan telat makan, jangan genit sama perempuan lain. Aku selalu mengawasimu. Kalau sampai aku tahu kamu genit, siap siap aja junior kamu kutendang" ucap Syafira dengan nada yang digalak galakkan.
Keenan terkekeh sambil menatap wajah Syafira. "Gimana dengan boneka nya? Kamu suka?" tanya Keenan.
Kemaren ia pergi ke mall dan membeli sepuluh buah boneka berukuran besar. Yang Keenan tahu Syafira sangat menyukai boneka. Jadi ia berniat membelikannya untuk Syafira.
"Suka, boneka nya lucu" ucap Syafira.
"Selama kita berjauhan kamu peluk aja dulu boneka itu. Nanti saat waktunya tiba, jangan peluk boneka itu lagi. Tapi peluk aku"
Syafira memutar bola matanya malas. "Kamu di kantor kerja atau malas malasan sih sayang, kok aku gak lihat kamu lagi mengerjakan sesuatu"
"Aku cuma memeriksa berkas berkas yang ditanda tangani oleh Bagas, dia yang dulu menggantikanku. Aku tak mau melihat ada kesalahan sekecil apapun" ucap Keenan.
"Makanan yang sudah ku kirim, kamu sudah memakannya?" tanya Syafira.
"Oh astaga, aku lupa" ucap Keenan pura pura lupa.
"Kamu ini gimana sih sayang, aku rela meluangkan waktu buat masakin kamu tapi malah lupa dimakan"
Syafira memanyunkan bibirnya layak nya anak kecil yang sedang ngambek pada orang tua nya.
"Menggemaskan" gumam Keenan.
"Bercanda kok, makanannya udah habis dari sebelum aku pergi ke kantor"
"Oh ya udah aku tutup dulu telfon nya. Aku mau jalan jalan sebentar" ucap Syafira.
"Jalan jalan? Sama siapa?"
__ADS_1
"Sama Abang sepupu aku, dia baru pulang menyelesaikan kuliahnya di amerika. Kalau begitu ku tutup telfon nya. Dah sayang.. emmuaach"
Tanpa mendengar jawaban Keenan, Syafira langsung mematikan telfonnya.
Keenan membanting handphone nya ke atas meja. Ia benar benar merasa kesal, karena Syafira akan pergi berjalan jalan dengan laki laki selain dirinya.
"Dulu leminco, sekarang abang abangan, nanti habis ini apa lagi?" Kesal Keenan.
Sedangkan di sisi lain, Syafira terkikik geli. Ia mengerjai Keenan dengan berpura pura mau jalan jalan sama abangnya. Padahal abangnya belum pulang dari luar negeri.
"Pasti dia mencak mencak di kantornya" ucap Syafira.
Syafira mengirim pesan pada Keenan. "Sayang, aku pergi dulu. Tolong jangan telfon aku seharian ini. Hari ini waktu aku bersama abang aku. So jangan ganggu aku seharian ini.
Syafira menambahkan emot love. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Keenan saat ini.
"Jadi kamu mau jalan jalan sama abang" ucap Seseorang dari luar kamar Syafira.
Syafira seperti mengenal suara itu. Ia menoleh lalu matanya membelalak terkejut. Orang yang ia sebut tadi ternyata beneran muncul di hadapannya.
"Abang Alvin"
Orang itu Adalah Alvin, Alvin adalah abang sepupunya. Ia merupakan anak dari Kakaknya Tio, Yuda.
Alvin masuk ke dalam kamar adiknya. Lalu memeluk Adik nya dengan erat. "Abang kapan pulang dari amerika? Kok gak ngabarin Sasa sih"
Sasa adalah nama panggilan dari Alvin. Karena menurut Alvin, ia lebih mudah memanggilnya. Daripada dengan panggilan Syafira.
Alvin melepaskan pelukannya, lalu mencubit cubit pipi Syafira. "Abang baru saja pulang dari Amerika, abang dengar kamu sudah menikah. Jadi abang kesini mau pastiin langsung dari kamu. Apa benar kamu sudah menikah?" tanya Alvin.
"Iya, Sasa, sudah menikah kok" jawab Syafira.
"Dan kalau gak salah waktu itu papa bilang kamu sedang hamil besar, lalu kenapa perutmu rata gitu?"
Mendengar kata hamil, wajah Syafira yang tadinya cerah menjadi redup. Alvin masih belum tahu perihal Syafira yang keguguran.
Syafira menjatuhkan dirinya di kasur. "Sasa keguguran bang" ucap nya dengan lirih. Mendengar hal itu Alvin merasa bersalah pada Syafira.
"Maafin Abang, abang enggak tahu" ucap nya.
"Tidak apa apa"
"Gimana kalau kita jalan jalan?" ucap Alvin.
"Abang kan baru pulang dari Amerika, apa abang enggak capek?" tanya Syafira.
Alvin tersenyum lalu mengelus rambut Syafira dengan penuh kasih sayang. "Buat kamu Abang enggak capek kok, lagi pula Abang tuh udah kangen banget jalan jalan sama adik abang ini" ucap Alvin.
Syafira tersenyum. Inilah yang ia sukai dari Alvin. Alvin selalu memanjakannya, baik dari materi atau pun kasih sayang.
"Kalau begitu, Sasa mau mandi dulu. Badan Aku penuh keringat habis senam tadi" ucap Syafira.
Alvin pura pura menutup hidungnya dengan tangannya. "Pantesan abang kayak mencium bau asem gitu, ternyata kamu belum mandi"
Syafira memukul Alvin dengan bantalnya. "Enak aja, walaupun Sasa belum mandi. Tapi aku masih wangi kok" ucap Syafira.
Alvin tertawa melihat raut muka Syafira yang seperti cacing kepanasan. "Iya iya kamu gak bau, sekarang kamu mandi yang bersih. Abang tunggu di bawah. Abang mau menemui om Tio sama Tante Wina dulu"
"Aye aye captain"
Syafira langsung pergi ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Alvin melihat lihat kamar Syafira sebelum turun ke bawah. Lalu matanya tak sengaja melihat ke arah foto seorang pria di samping tempat tidur Syafira.
"Apa ini adalah suaminya Sasa. Kelihatannya dia seumuran denganku"
Umur Alvin saat ini sudah 25 tahun. Ia menempuh dan menyelesaikan pendidikannya di amerika selama 6 tahun. Makanya umurnya sudah cukup dewasa.
Alvin meletakkan kembali foto Keenan di tempatnya. Lalu ia turun ke bawah.
Setelah selesai mandi Syafira memakai pakaian terbaiknya lalu setelah semuanya selesai, Syafira turun ke bawah.
"Abang, Sasa sudah siap"
Alvin dan Tio yang saat itu sedang mengobrol menoleh pada Syafira. "Kamu mau kemana sayang kok tumben dandan cantik seperti ini?" tanya Tio.
"Syafira mau jalan jalan sama Abang"
"Benar Alvin?" tanya Tio.
"Benar om, Alvin yang mengajak Sasa jalan jalan."
"Ya sudah kalau begitu, kalian pergi lah" ucap Tio.
"Ibu mana?" tanya Syafira.
"Ibu lagi pergi ke rumah tetangga sebentar" jawab Tio.
"Ya udah kalau gitu Syafira berangkat dulu"
Syafira mengambil tangan Tio dan menciumnya. Kemudian Alvin juga melakukannya.
"Alvin, om minta maaf ya. Padahal kamu baru saja pulang dari Amerika, tapi Syafira malah merepotkanmu"
"Ayah" ucap Syafira.
Alvin tertawa lalu menjawab "Tidak apa apa om, lagian ini atas kemauan Alvin sendiri"
__ADS_1
Tio tersenyum. Lalu setelah itu Alvin dan Syafira pergi berjalan jalan.