
Hari ini Syafira benar benar sibuk, karena setelah teman temannya Keenan pulang. Syafira mendapat lebih banyak pengunjung di cafe nya. Ia sibuk melayani mereka sehingga mengabaikan keberadaan Keenan.
Keenan yang merasa diabaikan pergi menyusul Syafira yang sedak sibuk membuat sesuatu di dapur. Keenan memeluk Syafira dari belakang.
Ia meletakkan dagu nya di bahu Syafira. Sehingga berhasil membuat Syafira merasa risih.
"Om, bisa lepasin enggak."
"Enggak mau" Keenan semakin mempererat pelukannya.
"Aku lagi masak om, lanjut nanti aja ya peluknya" ucap Syafira dengan pelan.
"Kalau aku bilang enggak ya enggak" Keenan meninggikan suaranya.
Mau tak mau Syafira harus mencari cara lain. Ia mengambil sebuah pisau, kemudian ia berbalik dan menodongkannya pada Keenan. "Masih mau bilang enggak?" Gertak Syafira.
Keenan benar benar terkejut saat Syafira menodongkan pisau ke arahnya. "Selamatkan dirimu Keenan" batinnya.
"Eh iya deh aku gak akan ganggu kamu lagi kok. Sekarang turunkan pisau mu ya, nanti pacar kamu yang ganteng ini terluka"
"Awas aja kalau om sampe berani ganggu aku lagi. Bukan hanya pisau yang akan kuberikan pada om, melainkan ini juga" Syafira menunjukkan sebuah pisau yang besar. Pisau yang digunakan untuk memotong daging.
Keenan bergidik ngeri melihat hal itu. "Iya, janji deh gak bakal ganggu lagi".
"Hmm"
Syafira kembali memfokuskan dirinya untuk memasak. Ia dibantu koki koki yang lainnya.
Setelah semuanya beres, Syafira menyuruh semua pelayannya untuk mengantar ke meja orang yang memesan.
Syafira mencari keberadaan Keenan, karena semenjak ia menggertak nya dengan pisau. Keenan sudah tak kelihatan lagi. Syafira mencarinya sampai ia menemukannya.
Keenan tertidur di salah satu meja. Syafira menghampiri nya. Ia duduk di samping Keenan. Syafira sengaja tak membangunkan Keenan, karena ia masih ingin menatap wajah tampan nya tanpa harus malu malu.
Syafira menyentuh hidung mancung Keenan, mengusap pipi dan mengelus rahang kokoh nya. "Bagaimana dia bisa setampan itu" batinnya.
Keenan tidak benar benar tertidur, ia hanya merebahkan kepala nya di atas meja dan memejamkan matanya. Tapi Saat Syafira mendatanginya, ia berpura pura tidur lelap.
Keenan menikmati semua yang dilakukan Syafira pada wajahnya. Saat Keenan akan membuka matanya. Syafira bergumam "Aku berharap jika anak ku laki laki dia bisa setampan Om Keenan, dan jika perempuan dia harus mirip denganku"
Keenan membuka matanya dengan sempurna.
"Janda, kamu ngapain disini?" ucap Keenan dengan pura pura tak menyadari apa yang dilakukan Syafira.
"Memangnya aku gak boleh duduk di samping om, ya udah deh kalau gitu aku pergi"
Saat Syafira akan beranjak pergi, Keenan langsung menarik nya sampai Syafira terjatuh di pangkuannya.
"Kamu mau kemana lagi sayang? Duduk lah disini bersamaku" ucap Keenan dengan nada yang benar benar mesra.
Syafira merasakan sesuatu yang aneh pada diri Keenan. Karena tiba tiba saja bulu kuduk nya merinding saat Keenan berbicara mesra seperti itu. "Jangan jangan om Keenan kerasukan" batinnya.
"Om" ucap Syafira dengan agak sedikit takut. Karena ini baru pertama kali nya ia menemukan setan genit.
"Kenapa sayang?"
Tanpa pikir panjang Syafira langsung memegang kepala Keenan dan menggoyangkannya. Tak lupa ia juga membaca ayat kursi.
"Keluar lah wahai setan genit" ucap Syafira seraya menggoyangkan kepala Keenan.
Semua orang yang ada di cafe menatap Syafira dengan aneh. Bahkan ada juga yang merekamnya.
"Janda, kamu kenapa?"
Keenan merasa sangat pusing karena dari tadi kepalanya di goyangin terus. Ia melihat Syafira yang mulutnya komat kamit membaca ayat kursi.
Karena sudah tak tahan akhirnya Keenan menghentikan Syafira. "Om sudah sembuh?" tanya Syafira.
"Sembuh? Sembuh dari apa maksud kamu?" tanya Keenan kebingungan.
"Sembuh dari kerasukan" jawab Syafira dengan polosnya.
__ADS_1
"Kerasukan? Siapa yang kerasukan sih janda."
"Tadi om bicara mesra sama aku, aku pikir itu bukan om tapi setan genit. Tadi buluk kuduk aku sampe merinding lho om"
"Jadi kamu mengira aku kerasukan karena bicara mesra sama kamu?"
Syafira mengangguk. Keenan menepuk kepalanya dengan gemas. "Begini lah resiko suka ama bocah" Gumam nya.
"Janda sayang, tadi aku bicara mesra sama kamu cuma buat nunjukin kalau aku benar benar sayang sama kamu" Keenan jadi gregetan sendiri sama kekasihnya itu.
"Apa iya?" ucap Syafira.
"Apa iya" Keenan menirukan ucapan Syafira dengan memonyong monyongkan bibirnya.
"Ih om jangan ngeselin deh"
"Ih janda jangan ngangenin deh"
"Om jelek"
"Janda cantik"
"Om mirip setan"
"Janda mirip princess"
"Ich liebe dich" (Aku cinta kamu)
"Ich liebe dich too"
Keenan tidak tau apa artinya itu, makanya ia asal menjawab dengan menambahkan Too.
Syafira tertawa bahagia. Ia tak pernah sebahagia ini di dalam hidupnya. Keenan benar benar pembawa kebahagiaan bagi Syafira. Syafira turun dari pangkuan Keenan dan duduk di kursinya sendiri.
Tiba tiba seseorang datang dan menyiram Syafira dengan air. Byurrr
Syafira melihat ke arah si pelaku. "Kamu" ucap nya.
Ternyata orang itu adalah Rena. Rena tadi sebenarnya hanya ingin makan saja di cafe itu. Namun berhubung ia melihat Syafira, ia juga ingin membalaskan dendam nya.
"Ya jelas kaget lah. Wong yang nyiram pacar saya ondel ondel bergigi tonggos" bela Keenan.
"Kamu tidak usah ikut campur urusan aku" tuding Rena.
"Saya harus ikut campur. Karena kamu telah berani menyiram pacar saya" Jawab Keenan. Ia begitu geram dengan gadis yang ada di depannya itu
"Pacar? Pacar kamu kan bekas pacar saya. Yakin masih mau?"
"Saya tahu. Tapi dia tidak mungkin menjadi bekas seperti ini kalau bukan gara gara pria kere dan ondel ondel bergigi tonggos"
Syafira hanya diam saja, ia ingin melihat pembelaan Keenan padanya.
"Kurang ajar, heh ****** kamu urus tuh pacar om om kamu. Ajarin dia sopan santun"
Syafira angkat bicara. "Baik lah karena mantan sahabatku meminta seperti itu, maka aku akan melakukannya.
Syafire pergi ke dapur cafe sebentar, lalu kembali dengan membawa bubuk cabai. Syafira memberikannya pada Keenan. Ia mengedipkan matanya.
"Pacar saya sudah mengajari saya sopan santun. Sekarang saya akan praktekan"
Keenan mencelupkan tangannya ke dalam bubuk cabai itu. Kemudian ia mengusapkannya di wajah Rena. Ia mengoleskan nya pada semua wajah dengan rata, sehingga membuat Rena kepanasan..
Rena bergerak seperti cacing kepanasan, mata dan wajahnya sangat perih. Ia berusaha mencari air, namun Syafira memberikannya sebuah kopi hitam.
"Kyaaaaaaaaa" Semua pengunjung cafe melihat ke arah Rena yang penampilannya saat ini lebih mirip monster daripada manusia.
Keenan menertawai Rena yang seperti cacing kepanasan. Rena akhirnya pergi ke toilet dan membersikan wajahnya. Sekarang ia akan mengusir kedua orang tersebut.
"Security...security."
Security datang dengan tergopoh gopoh. "Ada apa nyonya?" Ucap Security tersebut.
__ADS_1
"Tolong usir kedua orang ini, dia pembuat masalah disini." Security hanya terdiam, ia tak melakukan apa yang disuruh diperintahkan Rena.
"Maaf nyonya, tidak bisa"
"Kenapa?" tanya Rena lagi
"Karena Bu syafira adalah bos saya. Saya bekerja untuknya"
Rena benar benar mati kutu, ia tidak tau harus menaruh muka nya dimana. "Gak usah sok malu malu toh wajah kamu gak akan pindah ke pantatmu. Walau pun sebenarnya aku ingin lihat wajah kamu di pantatmu"
"Syafiraaa, sekarang aku tanya sama kamu dimana keberadaan Adit?"
"Disini nih" ucap Syafira sambil menunjuk lubang hidungnya.
"Syafira, sampai kapan pun aku gak akan bisa maafin kamu, gara gara kamu pernikahanku dengan adit batal"
"Syukurin, mungkin itu lah yang namanya karma" ucap Syafira. Syafira memasang wajah angkuh nya.
"Eh ondel ondel, dari pada kamu bikin pengunjung cafe takut mendingan kamu cepat pergi sama. Sebelum saya yang menyeret kamu"
Rena menghentakkan kakinya dengan kesal lalu pergi. "Huh dasar human" gumam Rena.
"Janda, hari ini keberanianmu patut diberikan hadiah" ucap Keenan.
"Hadiah? Mau mau"
"Keenan mendekat,mengusap kepala syafira dan mengecup keningnya. "Itu adalah hadiahmu"
Pipi Syafira memerah setelah Keenan menciumnya. Keenan terkekeh sendiri melihat pipi merah Syafira.
Ia menoel noel pipi Syafira yang seperti bakpau itu.
"Om" panggil Syafira.
"Iya?"
"Terima kasih buat semuanya, aku bersyukur bisa bertemu laki laki baik dan setampan dirimu" ucap Syafira.
Keenan tersenyum manis pada Syafira. Ia mengambil kedua tangan Syafira dan meletakkan di dada nya. "Rasa kan lah, tiap kali tubuh kita bersentuhan detak jantungku semakin meningkat. Aku benar benar jatuh cinta padamu"
Keenan mendekatkan kepalanya dan menempelkan hidungnya di hidung Syafira. Sambil mengatakan. "I love you janda"
"I love you too om"
Semua orang bertepuk tangan karena melihat keromantisan mereka. Keenan dan Syafira hanya tersenyum saja.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Syafira menyerahkan urusan cafe pada pelayan dan koki nya. Syafira tidak ingin kecapean jadi dia akan pulang duluan.
"Sudah?" ucap Keenan.
Syafira mengangguk. Kemudian Keenan mengantar Syafira pulang ke rumahnya. Setelah sampai Keenan ikut masuk ke dalam rumah Syafira untuk bertemu ayah nya Syafira.
"Ayah, Syafira pulang"
Tio yang saat itu sedang membaca koran menoleh. "Anak ayah sudah pulang, istirahatlah kamu pasti lelah"
Syafira menurut. Lalu Tio menatap Keenan.
"Terima kasih karena telah menjaga anak saya"
"Sama sama om mertua, kalau begitu saya permisi dulu"
Keenan langsung pergi dan pulang ke rumahnya. Di rumah Keenan.
"Keenan kamu dari mana saja seharian ini?" tanya Mela.
"Dari cafe ma, menemani Syafira"
"Cafe? Syafira kerja di sana atau gimana" tanya Mela.
"Cafe itu milik nya ma, jadi Syafira mengurusnya"
__ADS_1
Mela mengangguk, kemudian Keenan masuk ke dalam kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya. Hari ini ia begitu senang karena bisa membuat Syafira bahagia dengannya.