
Kandungan Syafira sudah 9 bulan, perutnya yang dulu masih datar sekarang sudah besar. Dan fakta menariknya lagi Syafira hamil anak kembar. Itu membuat orang tua mereka sangat senang.
Mereka bahkan mengadakan pesta untuk menyambut kelahiran si kembar. Meskipun begitu masa lalu masih menghantui Keenan dan Syafira.
Dulu Syafira hampir kehilangan bayinya karena ulah mantan sekretaris Keenan dan Nando. Mereka berdua bekerja sama untuk mencelakai Syafira.
Nando menyekap Syafira di rumah kosong dan menyiksanya selama berhari hari, sedangkan Alesha ia memaksa Syafira untuk meminum ramuan penggugur kandungan.
(Flasback)
"*****, ayo minum ini" Alesha mengarahkan gelas yang ia pegang ke mulut Syafira. Syafira menutup mulutnya dengan rapat. Ia tidak ingin dan tidak akan pernah meminum ramuan itu.
Tapi Alesha tidak menyerah ia terus saja menggunakan akal liciknya agar Syafira membuka mulut. Sampai akhirnya ia menggoreskan pisau ke paha Syafira dan akhirnya Syafira menjerit dan membuka mulutnya.
Mendapat kesempatan, Alesha langsung memasukkan ramuan itu ke dalam mulut Syafira. Beruntungnya Syafira tidak menelannya. Ia menyemburkan ramuan itu ke wajah Alesha.
"Aarggggghh bangs*t lo"
"Seorang ibu akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan anaknya dan selamat, kamu sudah membangkitkan kemarahan seorang ibu"
Syafira berusaha melepas tangannya yang terikat dengan kencang. Syafira menggesekkan tali nya di kursi yang ia duduki hingga akhirnya tangannya terlepas.
Syafira menghampiri Alesha yang menggosok matanya karena perih. Ramuan itu membuat matanya perih dan hampir tidak bisa melihat.
"Kamu sudah menyiksa saya untuk meminum ramuan itu, sekarang rasakan ini"
Syafira menampar Alesha berulang ulang kali lalu mencekiknya dengan kuat. Alesha memberontak kesakitan, ia meraba raba Syafira untuk mencari rambutnya agar ia bisa menjambaknya.
Syafira berhasil menghindar, Syafira menarik rambut panjang Alesha dengan kuat. "Lepasin aku *****, kamu pasti menyesal karena melakukan hal ini padaku"
Syafira tertawa sinis "Justru aku akan menyesal jika tidak membalas perbuatan kotormu itu"
"Argghhhhh"
Dor
Suara tembakan menggema di ruangan itu. Nando menembak Syafira yang masih menjambak Alesha. Peluru nya menancam tepat di lengan kanan Syafira.
Darah mengalir dari lengan Syafira, Syafira tak bisa berbuat apa apa. Tubuhnya lunglai dan terkulai lemas di hadapan mereka.
"Gila lo, rencana kita bukan gini" ucap Alesha.
"Hanya ini satu satunya cara agar dendam kita terbalaskan, gue yakin Keenan pasti akan menyesal dan menghancurkan dirinya sendiri karena tidak berhasil menyelamatkan istrinya"
Brakkkkk
Suara dobrakan pintu, Keenan datang bersama beberapa polisi. Mata Keenan tertuju ke arah istrinya yang terkapar di lantai dengan darah yang mengalir deras di tubuhnya.
Rahangnya mengeras, tangan yag sedari tadi mengepal langsung melayangkan pukulan bertubi tubi pada Nando. Nando tak sempat menghindar karena Keenan mengubci pergerakannya.
Akibat ulah Keenan Nando tidak sadarkan diri lalu matanya terarah pada Alesha, tanpa aba aba Keenan menendang perut Alesha hingga ia terbatuk batuk dan mengeluarkan darah.
Keenan tidak peduli kalau yang ia tendang adalah wanita, baginya orang yang menyakiti istrinya adalah seorang bajingan yang harus dimusnahkan.
"Tangkap mereka berdua pak"
__ADS_1
"Baik"
Kedua polisi menggotong Nando yang tak sadarkan diri, sedangkan polisi wanita ia memasang borgol di tangan Alesha dan membawanya ke kantor polisi.
"Sayang, bangun...kamu harus kuat demi aku dan anak kita"
Keenan membopong tubuh Syafira dan membawanya ke mobil, ia menyetir dengan wajah yang kelihatan khawatir. Sesekali ia menengok ke belakang untuk memastikan keadaan Syafira.
"Bertahan sayang"
Selang beberapa menit kemudian mereka telah tiba di rumah sakit, Keenan langsung menggendong tubuh Syafira. Ia memanggil dokter dengan teriakannya yang keras.
"Cepat selamatkan istri dan anak saya"
Dokter mengangguk lalu membawa Syafira ke dalam UGD. Keenan menunggu nya di luar. Ia meremas rambutnya dengan kuat. Ia tidak ingin kehilangan lagi.
Sudah cukup Keysa saja. Ia tidak ingin ada Keysa yang lain. Keenan menghubungi orang tua dan mertuanya. Mereka datang beberapa menit setelah Keenan menghubunginya.
"Bagaimana keadaan Syafira sekarang?" Cecar Wina sambil menangis. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.
"Syafira masih ditangani Dokter bu" lirih Keenan.
Sedangkan Mela dan Mahendra saling menguatkan dengan berpelukan. Tio membawa Wina untuk duduk di kursi. Ia mengelus bahu sang istri yang menangis sesenggukan di dadanya.
"Ya allah, selamatkan lah anak dan istriku" batin Keenan terus mendoakan Syafira.
Sampai akhirnya Seorang pria berpakaian putih keluar dari ruangan Syafira. Pria itu tersenyum lalu berkata "Nona Syafira baik baik saja, peluru nya sudah kami keluarkan. Bersyukurlah, karena anak yang ada di dalam kandungannya juga baik baik saja"
Semuanya bernafas lega "Terima kasih Dok"
Keenan mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Dokter. "Itu sudah kewajiban kami untuk menyelamatkan pasien. Kalau begitu saya permisi dulu"
Setelah kejadian itu, Keenan selalu protektif kepada Syafira. Keenan selalu menemani Syafira kemana mana bahkan ke toilet.
(Flasback off)
Syafira memakan buah jeruk sambil menonton televisi, ia meluruskan kakinya dan meletakkan di atas paha Keenan. Keenan memijit Kaki Syafira yang sedikit bengkak itu.
"Aduh" ringis Syafira.
"Kenapa? Ada yang sakit?' tanya Keenan.
Syafira menggeleng lalu ia memegang perutnya dengan senyuman. "Bayi kita nendang"
"Beneran?" tanya Keenan.
Syafira mengangguk lalu Keenan meletakkan kaki Syafira di atas sofa lalu mendekat ke arah Syafira. Keenan meletakkan kepalanya di perut Syafira.
Benar, bayi nya menendang. Keenan merasa bahagia sekaligus terharu. "Hei boy, kalian jangan berantem di perut Bunda okay. Kasian bunda nanti bundanya kesakitan" ucap Keenan.
Perkataan Keenan seperti sebuah mantra. Kedua bayi kembar nya berhenti menendang. Mereka sepertinya mengerti dengan perkataan ayahnya.
"Mereka kayak nya ngerti tuh Mas, langsung diem aja tuh"
"Aku gak sabar nunggu kelahiran mereka berdua. Rumah ini akan sangat lengkap dengan kehadiran mereka berdua" ucap Keenan.
__ADS_1
"Aku juga Mas. Oh iya Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Syafira.
"Sudah kok"
"Mas, mama sama papa kapan datang dari luar negeri?"
"Kira kira dua minggu lagi, kenapa? Kamu kangen?
"Iya Mas, aku hanya ingin saat aku lahiran nanti semua orang yang aku sayangi bisa hadir. Ayah, ibu, Mama, papa sama Bang Alvin. Meskipun Bang Alvin selama ini sibuk, aku ingin dia meluangkan waktunya untuk menemaniku"
Keenan mengerti, ia mengelus rambut Syafira dengan tangannya. Lalu membawanya ke dalam pelukannya. "Mas pastikan semua orang akan hadir saat kamu melahirkan nanti, asal kamu harus jaga kesehatan. Kamu harus kuat saat melahirkan nanti. Karena yang ada di dalam perut kamu bukan cuma satu bayi tapi dua bayi"
"Aku pasti kuat kok. Nanti Mas harus dampingi aku"
"Pasti sayang, ya sudah sekarang kita tidur yuk. Udah malam.
"Iya Mas"
Keenan mencium kening Syafira. "Good night".
"Night too Mas"
Keesokan harinya saat adzan subuh mulai berkumandang. Syafira bangun dari tidurnya lalu membangunkan Keenan untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Keenan menggeliat dalam tidurnya lalu terbangun. Ia membuka matanya.
"Udah subuh ya?"
"Iya Mas, ayo bangun nanti keburu habis waktu subuhnya."
"Iya iya, Mas ambil wudhu dulu"
Setelah melaksanakan shalat subuh, Syafira pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk Keenan. Ia juga sudah menyiapkan pakaian kantor Keenan. Keenan sudah melarang Syafira untuk melakukannya, tapi Syafira tetap melakukannya. Karena menurutnya sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk membantunya.
Keenan keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian kantornya, ia terlihat sangat tampan di mata Syafira.
"Mas duduk dulu, ini bentar lagi siap kok"
"Mas bantuin ya?"
"Jangan, Syafira bisa kok"
Keenan mengangguk, ia memperhatikan Syafira yang dengan cekatan menyiapkan makanannya. Perut besar nya tidak menghalangi ia melakukan apapun.
"Nah sekarang selesai, ayo kita makan" ucap Syafira.
Keenan tersenyum lalu mengacak acak rambut Syafira dengan gemas. "Terima kasih istriku"
Syafira membalas senyumannya.
Setelah beberapa menit Keenan sudah menghabiskan sarapannya, ia berpamitan pada Syafira untuk pergi ke kantor.
"Mas berangkat dulu, mas usahakan pulamg cepat hari ini"
"Iya, Mas semangat kerjanya."
__ADS_1
"Kalau begitu Mas berangkat"
Syafira mengambil tangan Keenan dan menciumnya. Lalu Keenan pergi dengan mobilnya.