Bukan Janda

Bukan Janda
Absurd


__ADS_3

Seorang lelaki berwajah blasteran indonesia- Rusia dengan bola mata yang berwarna abu abu terlihat di sebuah ruangan gelap. Dengan memamerkan senyum smirk yang selalu menyertainya.


Fernando Klein Anggara,atau lebih tepatnya Nando. Pria berumuran 28 tahun. Ia tinggal di rusia selama beberapa tahun dan kembali ke indonesia karena sebuah tujuannya.


Nando menyusun rencana untuk membalas kesombongan dan penghinaan Keenan. Ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk menghancurkan perusahaan lawannya tersebut.


Nando duduk di kursi kebesarannya seraya memandang foto Keenan dan Syafira. Ia mendapatkannya dari salah satu body guard nya. Nando tersenyum sinis saat menatapnya.


Nando tahu ia harus apa. Ada seseorang yang harus ia temui untuk itu.


"Bersenang senanglah dulu Al, sekarang aku tahu kelemahan terbesarmu"


____________________________________________


"Mas, Bang Alvin ayo bangun. Sarapan sudah siap" teriak Syafira.


Kedua nama yang ia panggil tak ada yang menyahut membuat Syafira menghela nafasnya. Syafira menyiapkan semuanya di meja makan setelah itu ia membangunkan suami dan abangnya satu persatu.


Pertama, Syafira pergi membangunkan Alvin. Ia mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. "Abang bangun, kita sarapan"


Pintu pun terbuka dan menampilkan seorang pria yang hanya menggunakan boxer bergambar spiderman. Alvin menatap Syafira sambil menutup mulutnya yang menguap sedari tadi.


"Ada apa Sa?"


"Bangun kita sarapan dulu"


"Hemmm"


Setelah membangunkan Alvin, Syafira pergi ke kamarnya dan menemukan Keenan sedang muntah muntah di kamar mandi. "Hueeeee"


Syafira menyusul Keenan karena khawatir, karena tak biasanya Keenan muntah muntah seperti ini.


"Mas, tidak apa apa? Kenapa bisa muntah muntah sih?"


"Mungkin bawaan bayi kita. Biasanya kan laki laki yang mengalami morning sick ness nya"


"Ya sudah, sekarang mas bersih bersih diri dulu. Lalu turun, kita sarapan"


"Iya"


Syafira keluar dari kamar mandi lalu merapikan tenpat tidurnya. Ia membuka gorden kamarnya dengan lebar agar cahaya matahari dapat masuk sepenuhnya.


Tak lama kemudian Mereka bertiga sudah berkumpul di meja makan dan memakan sarapannya dengan tenang. Alvin melirik ke arah Keenan dan Syafira bergantian.


"Kalian pada kenapa sih, tumben gak berisik"


"Kita gak pernah berisik ya, lo aja yang banyak omong" jawab Keenan sehingga Alvin mendengus.


"Kalau mau rame Abang buat keluarga sendiri aja sama pacar Abang"


"Bawel Sa"


Mereka melanjutkan sarapannya sampai habis. Kemudian bersiap siap untuk pulang. Hari ini adalah hari terakhir Syafira dan Keenan berada di Villa. Entah kapan mereka akan pergi kesini lagi.


Karena dari awal Syafira dan Keenan tidak membawa apa apa, jadi mereka pulang dengan tangan kosong. Sehingga tidak perlu ribet bawa barang barang.


"Sa, Abang pulang duluan ya. Papa nelfon abang terus nih"


"Iya, sampaikan salam sasa buat om"


Alvin mengacungkan jempol lalu menghilang dari pandangan Syafira. Sesaat Syafira menggandeng lengan Keenan. "Yuk Mas kita pulang"


Dalam perjalanan ke Apartemen, Sesuai dengan janji nya semalam. Keenan membelikan Syafira beberapa es krim. Syafira sibuk memakan es krimnya tanpa harus membaginya dengan Keenan.


"Mulutnya belepotan banget sih sayang, kayak anak kecil"


"Belepotan gini tetap aja aku masih cantik Mas, iya gak? Ngaku aja deh?"


"Iyain biar cepat"  ucap Keenan dengan tawa nya.


Setelah menghabiskan es krim nya, Syafira bingung harus ngapain lagi. Akhirnya ia menyetel musik korea di handphone nya.


Syafira menggoyangkan badannya mengikuti tempo dari lagunya. "Sayang, diam aja jangan goyang. Kamu lagi hamil lho. Aku tidak mau bayi kita kenapa napa"


Syafira menatap Keenan dengan tatapan menyesal. "Maaf Mas"


"Tidak apa apa, lain kali jangan diulangi ya"


Syafira mengangguk.


Mobil Keenan tiba di Apartemennya, Keenan turun dan membuka pintu untuk istrinya. Tanpa harus menunggu lama Keenan langsung saja mengangkat tubuh mungil istriya dengan kedua tangannya. Sementara Syafura melingkarkan tangannya di leher sang suami.


"Padahal aku bisa jalan sendiri lho, kenapa harus digendong. Emangnya aku gak berat ya Mas?"


Keenan menunduk lalu mengecup bibir Syafira sekilas. "Kata siapa kamu gak berat? Berat tahu"


"Beratnya seperti apa?"


"Hampir sama dengan seekor sapi'

__ADS_1


Syafira mencubit lengan Keenan dengan kesal.  Tapi bukannya kesakitan Keenan malah tertawa. Ia senang melibat istrinya kesal karenanya.


Keenan memasukkan pasword Apartemennya dan pintu terbuka dengan sendirinya. Keenan masuk lalu mendudukkan Syafira di sofa ruang tengah.


"Makasih ya Mas selama beberapa hari ini aku sangat senang. Dan itu karena Mas'


"Ini sudah tugasku sayang, tidak perlu berterima kasih."


Syafira menyandarkan kepalanya di dada Keenan. "Mas, aku kangen sama Mama, Papa, Ayah dan Ibu. Kita undang mereka kesini yah?"


"Apapun buat kamu"


Keenan mengundang para orang tua untuk datang ke rumahnya. Memang kelihatannya tidak tahu diri, harusnya anak anak yang mengunjungi orang tua tapi malah sebaliknya.


Sesudah menghubungi mereka satu persatu Keenan mengambil handphone nya lalu memperlihatkan isi galerinya pada Syafira.


"Lihat deh, Mas sempat ketemu sama bidadari. Bidadarinya  cantik banget"


"Siapa Mas?"


"Nih fotonya"


"Mas bohong ya, itu kan foto aku"


Keenan terkikik geli. "Mas gak bohong kok, kan bidadari nya kamu"


Blusss, dengan mudahnya pipi Syafura memerah. Membuat Keenan terus menggodanya. "Ciee pipinya merah, baper ya?"


"Apa sih Mas, siapa juga yang baper"


"Oh gak baper nih, mau lagi gak?"


Syafira mengangkat kedua alisnya dengan bingung. "Sapi apa yang paling Mas sayang?"


Syafira berpikir sejenak, matanya melihat ke arah atas sambil menaruh jari telunjuknya di dagu nya. "Pasti jawabannya sapi dol kan"


"Salah"


"Terus apa dong?


"Syapira"


Keenan tertawa karena berhasil menggoda istrinya. Ia menangkup pipi Syafira yang memerah dengan kedua tangannya. "Aduh pipi nya makin merah, mas tanggung jawab deh"


Keenan mengecup pipi sebelah kanan Syafira dan sebelah kini secara bergantian. Bukannya hilang, rona merahnya semakin bertambah karenanya.


"Mas"


Syafira berdiri lalu duduk di atas pangkuan Keenan. Ia melingkarkan tangannya di leher Keenan. Kernan tersenyum melihat tingkah istri nya yang menggemaskan.


"Mau apa sayang?"


Syafira tidak menjawab, ia malah menatap bibir seksi milik Keenan. Syafira mengusapnya sebentar lalu menempelkan bibirnya pada bibir Syafira.


Selama 5 menit tidak ada pergerakan apapun, akhirnya bibir Keenan mulai bergerak. Mereka saling bertukar saliva. Keenan menekan tengkuk Syafira sebelah tanggannnya meremas dada Syafira.


Syafira mengeluarkan desahan yang semakin membuat Keenan menggila, hampir saja Keenan lepas kontrol kalau tidak ada suara deheman seseorang.


"Eheem"


Keenan menoleh dan melihat empat orang yang bersedekap dada dengan kesal. Tentu saja kesal, mereka diundang datang kesini. Tapi saat datang malah melihat adegan tak senonoh.


"Mas, kenapa berhenti. Ayo lanjutin" ucap Syafira tanpa menyadari sesuatu.


"Ehh kita lanjut nanti malam ya, lihat di belakang"


Syafira menoleh ke belakang sesuai intruksi dari Keenan. Mata nya melebar saat melihat mertua dan orang tuanya ada disini. Dengan spontan Syafira turun dari pangkuan Keenan dan hampir saja ia jatuh kalau tidak dipegang oleh Keenan.


"Jadi masih mau ngelanjut sayang?" Goda Wina. Yang membuat wajah Syafira merah padam.


"Mantu papa ternyata agresif sekali yah, sama seperti Mama" Mahendra mendapat cubitan gratis plus tatapan tajam dari Mela. Mahendra menarik pinggang Mela agar semakin mendekat padanya.


"Putri ayah ternyata sudah dewasa" tambah Tio.


Syafira benar benar Malu, ia memeluk Keenan dan menyembunyikan wajahnya. "Malu malu kucing nih yee" ledek Keenan.


"Oh iya papa, Mama, ayah, ibu ayo duduk dulu. Tidak baik berbicara sambil nerdiri"


Syafira terus saja menyembunyikan wajahnya di bekang Keenan. Membuat Keenan tersenyum geli. "Udah gak usah Malu, ayo katanya kangen sama mama papa. Tenang aja, Nanti kita lanjutin kok kegiatan yang tadi"


Syafira megangkat wajahnya perlahan lahan lalu memukul Keenan dengan bantal. "Istri malu buknnya dibantu malah diledekin"


"Ampun sayang"


Syafira menyalami kedua mertua dan orang tuanya dengan canggung.


"Mama sama papa sehat?" tanya Syafira.


"Seperti yang kamu lihat, Mama sama papa baik baik saja"

__ADS_1


Syafira memeluk Tio dan Wina secara bergantian. "Syafira selalu merindukan kalian"


Bulir air mata jatuh dari mata Syafira.


Wina mengusapnya dan mengelus rambut putrinya. "Ibu tahu, ibu sama ayah juga sangat merindukan kamu. Ibu selalu mengingat kamu dan mendoakanmu di setiap doa ibu."


"Iya Syafira, bahkan ayah juga suka mengingat kenakalanmu selama di rumah" sambung Tio


"Ayahhh"


Tio tertawa pelan.


"Keenan, sepertinya kamu melupakan oramg yang telah berjasa dengan hubungan kalian" ucap Mahendra secara tiba-tiba.


"Maksud papa?"


Mahendra menghembuskan nafas pelan, jika Keenan bukan putra nya ia pasti akan menyebutnya tidak tahu diri sekarang. "Kamu undang semua teman temanmu, mereka selalu ada buat kamu. Jangan sampai kamu melupakan mereka"


Keenan tertohok, selama ini ia bukan sahabat terbaik. Keenan melupakan orang yang berjasa di kehidupannya.


"Keenan akan pergi ke markas buat ngundang mereka. Keenan mau mengundangnya secara langsung"


"Bagus"


"Kalau begitu Keenan pergi dulu"


Tanpa bicara apapun lagi Keenan segera pergi, ia mengambil motornya di gudang. Sudah lama ia tidak menggunakannya. Motor itu punya banyak kenangan bagi Keenan. Termasuk momen momen dengan semua teman temannya.


Keenan memaki dirinya sendiri, ia menyadari bahwa dirinya tidak tahu diri. Setelah menikah, Keenan memang banyak menghabiskan waktu dengan istrinya. Seharusnya ia bisa netral.


Keenan akan menebus kesalahannya kali ini, ia akan mengundang dan membawa mereka semua dengannya. Keenan tersenyum getir saat menyetir motornya. "Bagaimana bisa aku melupakan kalian"


Keenan tiba di Markas, ia menghentikan motornya dan melepaskan helm nya dengan cepat. Keenan langsung berlari dan masuk ke dalam markas.


"Brakkkk"


Semua anggota Lavenzi dikagetkan sebuah suara yang disebabkan oleh Keenan. Belum sempat mereka bicara Keenan langsung menjatuhkan diri pada Mereka. Keenan memeluk mereka sampai mereka hampir tidak bisa bernafas.


"Maafin gue, selama ini gue bukan pemimpin dan teman yang baik bagi kalian. Gue terlalu egois buat kalian"


Semua anggota Lavenzi bingung kenapa tiba tiba Keenan bicara seperti itu. "Nan lo kenapa? Lo tiba tiba aja ngomong kek gitu' ucap salah satu anggotanya.


Keenan melepaskan pelukannya lalu menatap mereka satu persatu. "Selama ini gue gak pernah ada buat kalian, gue terlalu mentingin kehidupan gue sampai lupa sama kalian. Gue benar benar minta maaf"


Dito menepuk bahu Keenan. "Lo anggap kita apa Nan? Kita semua yang ada disini adalah saudara lo. Kita gak masalah lo ada atau tidak. Yang penting lo masih saudara kita. Lo baik baik aja kita bersyukur banget"


"Kita ngerti kok Nan, lo pasti sibuk banget sampai tidak mengingat kita. Lo sibuk di kantor, sibuk menjaga istri dan segalanya. Walaupun gue belum nikah tapi gue ngerti"


"Hati kalian terbuat dari apa sih, kenapa kalian baik banget sama gue?"


Semua anggota Lavenzi greget sendiri jadinya. Mereka semua langsung mengunci Keenan dengan tubuh mereka. "Lo itu bego atau gimana Nan. Sudah kita bilang kan kalau kita semua adalah saudara. Saudara harus baik kan sama saudaranya"


"Iya iya, lepasin dulu dong. Gue sesak nafas nih"


"Dasar idiot" cibir Reno.


"Bodoh" lanjut Farhan.


"Kagak ada akhlak" panjit Kevan.


"Goblin"


"Gila"


"Makhluk aneh"


"Alien"


"Woyyy stop napa, kenapa malah jadi bully gue sih" ucap Keenan.


"Makanya sadar diri"


"Gue mau ngundang kalian ke apartemen gue sekarang juga, dan kalian semua harus ikutan gak ada yang boleh absen"


"Ada makanan gak?"


"Tenang, soal makanan istri gue yang nyiapin semuanya"


"Cuzz lah kita berangkat"


Mereka merangkul Keenan dan keluar dari markas kemudian menaiki motornya masing masing.


"Ma, Pa, Syafira mau ke supermarket dulu. Mau beli bahan masakan, habis ini kan kita akan makan makan"


'Ya udah yuk mama temanin"


"Ibu juga"


Syafira menatap kedua lelaki yang sedari dari diam. "Papa sama ayah tunggu disini aja ya. Biar nanti kalau Mas Keenan sama teman temannya datang bisa papa sambut'

__ADS_1


"Kamu tenang aja, biar papa dan ayah yang urus semuanya' ucap Tio dan Mahendra bersamaan.


Syafira tersenyum lalu mengajak ibu mertua dan ibunya pergi berbelanja.


__ADS_2