Bukan Janda

Bukan Janda
Persahabatan


__ADS_3

Setelah apa yang terjadi kemarin, Keenan dan Syafira memutuskan untuk pulang lebih cepat dari korea. Ini Karena Keenan ada pekerjaan mendadak di kantor  dan harus Keenan yang menanganinya


"Aku berangkat ke kantor dulu"


Syafira melepaskan kepergian Keenan dengan berat hati. Ia tahu suaminya itu pasti lelah karena baru saja tiba di indonesia dan langsung pergi ke kantor.


Diam diam Syafira sangat bangga pada Keenan. Keenan itu adalah sosok suami idaman bagi semua wanita. Syafira akan menutup pintu. Tapi sebelum itu, ada seseorang yang mencegahnya.


Mata Syafira membulat ketika mengetahui siapa yang ada di depannya. " bagaimana dia bisa tahu Apartemenku?"


Pelaku di hadapannya adalah Zayn, seorang pemuda SMA yang tergila gila padanya. Zayn tak sengaja melihat Syafira dan Keenan saat ia makan di cafe. Setelah itu ia mengikutinya dan berakhirlah ada disini


"Kamu ngapain disini?" Syafira melihat ke sekelilingnya yang sangat sepi. Bahkan tak ada  satu pun orang yang berada di sana.


"Aku kesini untuk bertemu kakak" Zayn memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya lalu mendekati Syafira hingga jaraknya sangat dekat.


Syafira merasa akan ada bahaya untuknya jadi dia mengeluarkan handhpone nya dan menelfon Keenan. Tapi terlambat, kini handphone nya sudah hancur berserakan di lantai. Itu semua dilakukan oleh pria di hadapannya ini.


"Jangan pernah menelfon siapa pun karena tidak akan ada yang bisa menolongmu"


Zayn mendorong Syafira ke dalam Apartemen, lalu ia masuk. Zayn melihat wajah Syafira yang kini ketakutan karenanya. Ia tertawa sendiri. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa mendapatkan momen yang ditunggu.


Syafira berpikir sesuatu, ia tak mau kejadian dulu terulang lagi. Ia menjernihkan pikirannya lalu menemukan sebuah ide. Syafira tersenyum pada Zayn.


"Aku akan melakukan apa yang kau minta tapi tolong jangan sakiti aku"


Zayn mendadak heran karena tiba tiba Syafira berkata seperti itu. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Syafira. "Apa benar begitu?"


Syafira sebenarnya ingin menutup hidungnya karena ada nafas tak sedap dari hadapannya. "Penjahat macam apa dia, mulutnya bau sekali. Mungkin dia tidak gosok gigi selama beberapa minggu"


"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan. Tapi jangan coba bermain main denganku atau kamu akan tahu akibatnya"


Syafira mengangguk dengan cepat. "Sekarang cium aku"


"Wah minta dihajar nih orang"


"Maaf, tapi bisa kah kamu gosok gigi dulu. Aku tak kuat mencium mu kalau nafasmu bau seperti itu. Rasanya mirip tahi kucing"


"Apa iya?"


Zayn dengan bodohnya mengecek nafasnya sendiri. "Hah" lalu ia menciumnya dengan tangannya sendiri. "Kok bau sih"


Lalu ia menatap garang pada Syafira. "Dimana kamar mandinya?"


Syafira menunjuk ke sebuah pintu berwarna cokelat. "Jangan coba coba kabur"


Saat Zayn pergi ke kamar mandi, Syafira mulai melancarkan Aksinya. Ia pergi ke dapur dan mengambil minyak, tepung, dan telur. Lalu kembali lagi ke tempatnya. Saat ini ia harus bisa menolongnya dirinya sendiri.


Syafira menumpahkan minyak di depan pintu kamar mandi, setelah itu ia juga menabur tepung di dekat minyak. Sedangkan telurnya, ia bawa untuk berjaga jaga.


"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang wanita, ia bisa menjadi apa saja ketika dalam bahaya"


"Fiyuhhh, akhirnya sudah selesai"


Zayn membuka pintunya lalu langsung berjalan dengan tak melihat apa yang ada di depannya. Seketika Zayn langsung terjatuh dan tubuhnya berada di taburan tepung.


Syafira terbahak bahak, sepertinya Zayn sangat cocok untuk dibuat gorengan. "Rasain tuh"


Zayn geram karena ternyata dirinya dikerjai, ia berdiri lalu terjatuh lagi. Wajahnya kini dipenuhi tepung dan Minyak.


"Ayo, lawan aku kalau berani"


Zayn menyeret tubuhnya kali ini ia tidak mau terjatuh lagi. Setelah berhasil, Zayn langsung berdiri lalu mendekat ke arah Syafira.


"Rupanya dia masih belum kapok, oke rasain ini"


Syafira melemparkan semua telur hingga mengenai wajah Zayn. Ia melakukannya sambil tertawa. Sedangkan Zayn ia tidak bisa melihat apa apa, matanya terkena lemparan telur Syafira.


Bel tiba tiba berbunyi, Syafira langsung membukanya.


"Abang" ucap nya.


"Abang tahu kamu pulang hari ini, jadi abang langsung pergi kesini. Kamu ngapain di dalam"


Syafira membuka pintunya lebar lalu Alvin melihat ke arah Zayn. "Dia berniat jahat sama sasa. Tadinya Sasa mau nelfon suami Sasa tapi handphone nya keburu dihancurkan. Dan jadi inilah hasil Karya Sasa"


Alvin tersenyum. Lalu ia mendekati Zayn dan menghajarnya beberapa kali. Berani beraninya bocah ingusan ini mengganggu Adiknya. "Abang telfon polisi dulu"


Alvin menelfon polisi, lalu tak lama kemudian polisi datang. "Tolong tangkap anak ini pak, dia   berbuat kurang ajar pada Adik saya"


"Baik pak"


Polisi meringkus Zayn lalu membawanya. Setelah Zayn pergi, Alvin memeluk Syafira dengan erat. "Kamu tidak apa apa kan? Apa ada yang terluka?" ucap Alvin sambil membalikkan tubuh Syafira.


"Tidak, Sasa tidak apa apa"


"Abang harus memberi tahu suamimu soal ini" Alvin akan menelfon Keenan tapi dicegah oleh Syafira.


"Jangan, Dia baru saja berangkat ke kantor. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya"


"Tapi dia harus tahu soal ini"

__ADS_1


"Aku akan memberi tahunya nanti, setelah pulang dari kantor. Kalau aku memberi tahunya sekarang ia pasti akan sangat khawatir padaku"


Alvin menyerah, ia menuruti permintaan Syafira. Lalu matanya melirik ke arah ruangan yang kacau karena kehadiran Zayn itu. "Lalu bagaimana dengan semua kekacauan ini?" Ucap Alvin.


Syafira tersenyum lebar padanya, Alvin tahu arti senyuman ini. Senyuman ini masih sama dengan senyuman 12 tahun lalu. "Iya iya Abang bantuin, ayo cepat kita beresin"


"Abang memang yang paling pengertian"


Syafira dan Alvin membereskan semua kekacauan itu. Ia membersihkan minyak, tepung dan telur di lantai. Kemudian Alvin yang mengepelnya. Setelah semua pekerjaannya sudah selesai, Alvin dan Syafira duduk di ruang tengah.


"Abang capek ya, sebentar Sasa buatin minum dulu buat Abang"


Alvin mengangguk. Ia mengipasi dirinya snediri dengan kedua tangannya. Lalu Syafira datang dengan membawa segelas jus di hadapannya.


"Nih Abang minum dulu"


Alvin meminumnya dengan sekali tegukan, ia benar benar haus. Syafira hanya terkekeh melihat Alvin kehausan seperti itu.


"Abang akan temani kamu sampai suamimu pulang dari kantor, abang tidak mau kejadian ini terulang lagi" Alvin mengelus kepala Syafira.


"Terima kasih bang"


____________________________________________


Sementara di kantor, Keenan benar benar sibuk. Di meja nya banyak berkas berkas yang harus ia periksa dan ditanda tangani. Keenan akan melakukannya dengan cepat, entah kenapa perasaannya sangat gelisah memikirkan Syafira.


Tak sadar dirinya sudah menghabiskan waktu 4 jam. Keenan melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pekerjaan Keenan sudah selesai, ia kemutuskan untuk segera pulang.


Dalam perjalanan pulang, Keenan berhenti di sebuah jalan lalu membelikan martabak kesukaan Syafira. Ia tersenyum sendiri lalu masuk ke dalam mobilnya dan pulang.


Mobil Keenan sudah terparkir rapi di depan Apartemennya, ia melihat ada mobil lain di sampingnya. Keenan merasa ia pernah melihat mobil itu. Lalu Keenan bergegas masuk dan menekan pasword apartemennya.


Keenan melihat di dalam Apartemennya ada Alvin yang sedang menemani Syafira nonton sinetron. Keenan mendekati mereka berdua lalu ia melihat wajah Syafira yang memerah karena habis menangis.


Keenan langsung memeluk Syafira lalu menenangkannya. "Kamu kenapa menangis hmm?" Ucapnya.


Keenan bertanya pada Alvin yang ada di dekatnya tapi Alvin mengangkat bahu acuh tak acuh. "Tidak apa apa, tadi aku menangis karena melihat sinetron itu"


Keenan melihat ke arah televisi yang menayangkan sinetron suara hati istri. "Ya udah jangan nangis lagi, ini aku bawain martabak kesukaanmu"


Syafira menghapus air matanya dengan cepat, lalu mengambil martabak dari tangan Keenan dengan cepat. "Wah makasih banget sayang"


Syafira mencium pipi Keenan.


Alvin yang melihat itu hanya bisa mengelus dada. Keberadaannya disini seperti tak dianggap.


Keenan menatap Alvin dengan curiga. "Apa liat liat?" ucap Alvin.


"Gue disini nemenin dia dari tadi pagi, asal lo tahu, dia hampir diperk**a tadi sama seorang bocah"


Keenan terkejut mendengar hal itu, ia memandang Syafira dengan lekat. "Apa itu benar sayang?"


Syafira mengangguk, Keenan membawanya ke dalam pelukan. "Maaf, maaf karena aku tidak bisa melindungimu"


"Tidak apa apa, lagi pula aku sudah mengalahkannya"


"Maksudmu?"


Alvin menceritakan semua kejadiannya pada Keenan. Keenan tertawa juga marah pada bocah itu. "Berani sekali dia memperlakukan istriku sepertini, lihat saja aku akan membuatnya lebih lama di penjara. Kalau perlu seumur hidup sekalian"


Syafira mengelus bahu Keenan. "Dari pada marah marah sendiri, mending kita makan martabaknya"


Keenan mengangguk. Syafira membuka martabaknya lalu ia memberikan setengahnya pada Alvin. "Ini buat abang yang setia menemani aku"


Alvin terkekeh lalu mencubit pipi Syafira. "Abang makin sayang sama kamu kalau gitu"


"Ibing mikin siying simi kimi kiliu bigiti" Keenan mencebikkan bibirnya di hadapan Alvin.


"Suami kamu tuh" senggol Alvin.


"Khusus buat suamiku, kita makan martabaknya berdua"


Syafira mengambil sepotong martabak lalu menyuapinya pada Keenan, setelah itu sisa nya ia makan. Keenan tersenyum melihat hal itu.


"Cupp"


Keenan mencium bibir Syafira dengan cepat. "Astaga, lo kalau mau nyium adek gue liat tempat dong. Disini masih ada yang jomblo"


"Iya maaf, gue lupa kalau kakak ipar gue jones alisan jomblo ngenes"


"Si*lan lo"


Setelah memakan martabak nya, Alvin pamit pulang. "Gue pulang dulu, mulai sekarang lo jaga adek gue baik baik. Jangan sampai dia terluka. Kalau dia terluka seujung kuku pun gue tidak akan pernah memaafkan lo"


Keenan berdiri lalu memeluk Alvin singkat. "Thanks, walaupun lo ngeselin tapi lo tetap kakak ipar gue"


"Gue udah kabarin om Tio dan Tante Wina. Mungkin besok mereka datang kesini."


Keenan mengangguk. Setelah Alvin pulang, Keenan melihat ke arah Syafira. Mulai besok ia akan mencarikan body guard untuk istrinya. Tapi siapa yang bisa dipercaya menjaga istrinya. "Aku minta tolong sama anak Lavenzi aja kali ya"


"Sayang? Kamu belum makan malam kan. Aku masakin dulu ya"

__ADS_1


Keenan menarik tangan Syafira sehingga ia terjatuh di pangkuannya. Keenan menenggelamkan kepalanya di leher mulus Syafira. Ia memeluknya dari belakang. "Aku tidak ingin makan, ayo kita tidur. Ini sudah malam, kamu pasti mengantuk"


"Kamu yakin?"


Keenan mengangguk dengan cepat.  Kemudian keduanya berjalan menuju kamar dan tidur. Keenan belum bisa tidur sejak tadi, matanya terus melihat Syafira yang sedang tidur. Ia tak bisa membayangkan jika kejadian seperti itu terulang lagi.


Keenan mengecup kening Syafira singkat. "Aku janji, aku tidak akan pernah membiarkanmu disakiti oleh siapa pun"


Keenan merasa lapar, ia turun ke dapur dan memasak untuk dirinya sendiri. Ia mengatakan tidak ingin makan kepada Syafira karena ia tak mau merepotkan Syafira. Keenan bukan suami manja yang setiap hal harus dilakukan istrinya.


Keenan makan sendirian di dapur, lalu handphone nya bergetar.


"Gue tahu ada sesuatu yang terjadi sama Neng cantik, gue tahu dari abangnya dia. Kalau lo butuh bantuan kita, bilang aja gak usah sungkan. Gue ngechat lo malam malam begini karena kita semua khawatir pada keselamatan Queen kita. Atau lo langsung datang aja ke markas"


"Gue otw"


Keenan menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu mengambil jaket dan kunci motornya. sudah lama ia tidak menaiki motor kesayangannya itu.


Perjalanan dari Apartemen ke markas hanya membutuhkan sekitar 30 menit. Kini Keenan sudah tiba disana. Keenan langsung masuk ke dalam dan disambut oleh semua teman temannya.


"Apa kabar lo nan? Dah lama lo gak pernah mampir ke markas?" sambut Eka.


"Gue sibuk di kantor bang, sekarang gue harus fokus buat masa depan istri dan pernikahan gue"


"Sekarang, ceritakan pada kita tentang apa yang terjadi sama istri lo" ucap Dito.


"Dia hampir diperk**a . Gue akan mencari tahu siapa orangnya. Tapi kakak ipar gue bilang dia masih bocah."


"Lo harus cepat urusi hal itu"


"Gue tahu lo butuh seseorang yang akan menjaga istri lo selama lo di kantor. Kalau lo percaya sama kita. Kita siap menjaga istri lo" ucap Farhan.


"Bener Nan, lo tau kan kita gak mungkin membiarkan Syafira terluka" tambah Kevan.


"Gue juga berpikir seperti itu. Apa kalian ikhlas bantu gue?"


"Yaelah Nan, lo anggep kita apa sih. Kita itu sudah seperti keluarga. Kalau yang satu butuh bantuan maka kita siap buat nolongin" Reno menepuk bahu Keenan.


"Tumben Farhan dan Reno waras, biasanya kan lo berdua suka bertingkah gila"


"Disaat saat seperti ini kita gak mungkin bersikap gila seperti yang lo katakan Nan"


Keenan terharu, bertahun tahun Keenan bersama mereka tapi baru kali ini mereka mengungkapkan perasaannya pada Keenan.


"Thankz buat lo semua"


"Teletubies kuy" Reno langsung memeluk Keenan.


"Kuy lah"


Semuanya memeluk Keenan tanpa terkecuali. Bahkan mereka saling dorong untuk memperebutkan pelukan Keenan.


"Jadi kapan kita bisa jagain istri lo?" tanya Kevan.


"Mulai besok aja"


"Tapi sorry ya Nan, gue gak bisa ikut. Lo kan tahu sendiri gue juga punya istri di rumah" Eka menatap Keenan dengan tatapan menyesal.


"Yaelah bang santai aja kali, gue ngerti kok"


Persahabatan bukan hanya tentang status, melainkan tentang perasaan yang tulus. Bukan untuk mendapat pujian atau pun harta melainkan untuk saling melindungi, menyayangi dan mengasihi. Sahabat itu seperti tong sampah bagi kita karena ia selalu menerima kita dalam keadaan apapun. Percaya lah, seorang sahabat tidak akan pernah membiarkan kita terluka atau merasa sedih.


Keenan melihat mereka semua satu persatu, padahal ia tak selalu ada untuk mereka, tapi mereka selalu membantunya. Keenan tidak dapat berkata apapun lagi. Rasa terima kasih saja tidak cukup untuk mereka.


"Gue mau minta maaf sama kalian semua, selama ini gue jarang bersama kalian, tapi kalian selalu membantu gue. Gue merasa seperti kacang yang lupa sama kulitnya."


"Sekali lagi lo mengatakan itu gue pecat lo jadi sahabat gue" ucap Reno.


Keenan tertawa kecil. "Gue tahu ini mungkin menggelikan, tapi gue sayang sama kalian"


"Bukan hanya lo, tapi kita juga"


"Sekarang lo pulang aja, kita bisa bertemu lagi besok. Bukan maksud gue untuk mengusir, tapi kasian istri lo sendirian di Apartemen lo"


"Ya sudah gue pamit dulu, sekali lagi thankz ya buat kalian semua"


"Iya Nan"


Sebelum pulang Keenan masih sempatnya mencubit pipi mereka semua dengan keras lalu pulang dengan tertawa.


"Dasar Keenan, untung bos kalau bukan udah gue piting tuh kepala" sebal Reno.


"Emangnya lo kepiting apa, kok mau miting orang" Farhan melihat ke arah Reno.


"Gue bukan kepiting"


"Terus apa?"


"Mesin capit"


"Sa ae lu tong"

__ADS_1


__ADS_2