Bukan Janda

Bukan Janda
Hadiah


__ADS_3

Keenan dan Syafira sudah sampai, Keenan menepikan mobilnya dan turun dari mobil. Begitu pun dengan Syafira.


Keenan menatap rumah yang dulu ia tempati sebelum menikah. Masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Keenan menutup pintu mobil lalu menatap Syafira dengan lembut. Keenan mendekati Syafira dan menautkan jari nya di jari Syafira.


"Masuk yuk" ucap Keenan.


"Bentar, aku udah cantik belum sayang, terus make up nya gimana? Apa masih ada? Apa terlalu ketebalan"


"Kamu cantik" potong Keenan. Keenan tidak suka Syafira mengatakan hal hal seperti itu. Bagi nya Syafira lebih cantik dari apapun. Yah apapun termasuk make up.


"Ya udah ayo" ucap Syafira.


Keenan dan Syafira mengetuk pintu lalu mengucapkan salam. Pintu di buka oleh Mela dari dalam.


"Syafiraa, mama kangen banget sama kamu sayang" ucap Mela sambil memeluk Syafira.


"Syafira juga kangen sama mama" jawab Syafira membuat Mela tersenyum tipis. Lalu Mela mengarahkan pandangannya ke arah Keenan. "Dasar anak durhaka, berani beraninya  kamu mengunjungi rumah setelah satu bulan"


Ucap Mela sambil menjewer telinga Keenan.


"Rasain tuh" batin Syafira sambil tertawa kecil.


Sedangkan Keenan, ia mengaduh kesakitan. "Mama apaan sih, anak nya datang bukan nya dipeluk atau disambit ini malah dijewer. Sakit tahu ma, hati Keenan sudah mulai goyah"


"Goyah goyah, gigi kamu kali yang goyah" jawab Mela.


Syafira tertawa "Lanjutin aja ma, putra mama emang ngeselin orangnya"


"Noh denger kan, istri kamu bilang apa"


"Sayang, bantuin aku lepas dari macan liar ini" ucap Keenan.


"Oh macan liar ya, nih rasain amukan macan liar" Mela memutar telinga Keenan dengan keras. Lalu setelah itu melepaskannya. Mela membawa Syafira masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Keenan sendirian.


"Ck untung aku bukan maling kundang, kalau tidak habis aku dikutuk mama"


Saat Keenan akan masuk ke dalam rumah, handphone nya berbunyi. Ada panggilan dari Kevan.


"Halo Nan, lo dimana? Gue mau minta tanda tangan lo tapi lo gak ada di ruangan"


"Sorry Van, gue udah pulang. Ada acara keluarga di rumah gue. Lo taruh aja berkas nya di ruangan gue, besok gue tanda tangani"


"Oke, oh iya Nan. Gue juga mau sekalian ijin sama lo. Kita mau balapan lagi dan untuk kantor aku rasa kita sudah cukup disini"


"Maksud lo, kalian semua mau resign?"


"Iya, tapi plis jangan marah dulu. Dunia kita terlalu berbeda Nan. Jadi gimana?"


Keenan menghela nafasnya, kalau teman temannya tidak betah ia bisa apa. Tidak mungkin juga ia memaksa. "Oke, kalian semua bisa memberikan surat pengunduran ke bagas dan minta gaji yang sudah kusiapkam"


"Enggak, kita tidak minta gaji. Lo terlalu baik sana kita. Jadi its okay, kami tidak ingin menerima gaji"


"Iya udah terserah kalian saja"


"Thankz Nan"


"Yoi"


Keenan menyimpan kembali handphone nya di saku. Lalu ia masuk ke dalam. Di dalam suada ada kedua orang tua dan mertuanya.


"Ayah, ibu" Keenan menyalami kedua orang tua nya lalu beralih pada Mahendra dan Mela. Setelah itu baru ia duduk di samping Syafira.


"Papa ngundang Keenan dan Syafira kesini ada apa" ucap Keenan.


Syafira mencubit perut Keenan dengan keras. Keenan sangat tidak sopan sekali. Harus nya ia berkata "papa sama mama apa kabar?" Tapi dasar suaminya.


Mela mendelik pada Keenan. "Kalau gak suka di undang kesini, pintu keluar ada disana. Silahkan"


Mahendra merasa heran karena istrinya terus marah marah sejak tadi. "Apa ia lagi pms?"


"Ma, udah lah. Papa ngundang kalian kesini cuma mau ngasih oleh oleh dan sekalian untuk melepas rindu"


"Rindunyaaa hatikuu kepadamu duh papa. Aku datang..memelukmu...tak mempedulikam di sampingmu..oh papaku...oh sayangku" Keenan bernyanyi dengan asal asalan sambil memeluk Mahendra.  Keenan akan memelukan Mela, saat Mela akan menyambut pelukannya Keenan malah mengurungkannya dan duduk kembali.


Wina dan Tio hanya bisa saling berpandangan. Bagaimana bisa mereka punya menantu seperti ini. Ganteng iya, kaya iya, Kekanak kanakan iya. Wina tak dapat membayangkan kelakuan konyol Keenan saat bersama Syafira.


"Kamu tuh kok nyebelin ya..mama gak suka" ucap Mela menahan amarah.


"Nyebelin gini, Keenan kan anak mama. Berarti sifat nyebelin Keenan berasal dari mama"


"Sudah cukup, kalian berdua seperti anak kecil saja. Dan kamu Keenan, papa setuju dengan apa yang kamu katakan"


Keenan terkekeh. Mela semakin murka, ia berbisik pada Mahendra. "Siap siap nanti malam tidur di luar"


Mahendra terdiam, bisa gawat kalau ia harua tidur di luar.


"Jadi Tio, Wina  ini oleh oleh buat kalian" ucap Mahendra sembari mengeluarkan satu koper.


"Ini semuanya?" ucap Tio


Mahendra mengagguk. "Apa ini gak kebanyakan?" tanya Wina yang sedari tadi diam.


"Enggak kok"


"Ya udah terima kasih. Oh iya Mahendra, maaf aku tidak lama lama. Aku ada urusan penting setelah ini. Perusahaan ku membutuhkanku di kantor"


"Tidak apa apa, lain kali kalian bisa datang kesini lagi"


"Kalau begitu kami permisi dulu. Syafira, ayah sama ibu pulang dulu ya sayang"

__ADS_1


Syafira berdiri lalu memeluk keduanya. "Syafira masih kangen sama ayah dan ibu"


Tio tersenyum, ia juga sangat merindukan putri kecilnya itu. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda, Syafira sekarang sudah menjadi milik suaminya.


"Kapan kapan ayah dan ibu akan mampir ke Apartemen kalian" ucap Wina.


Tio dan Wina mengecup kening Syafira lalu pergi. Lalu Tio dan Wina pergi dengan membawa koper yang berisi oleh oleh.


Selepas kepergian Tio dan Wina.


"Ma, tolong cabut kata kata mama tadi. Mama gak mungkin tega kan nyuruh papa tidur di luar" ucap Mahendra. Ia tidak peduli walau dilihat oleh anak dan mantunya.


"Mama serius kali ini"


"Syafira mama mau tanya sama kamu, kalau Keenan bikin kamu kesal apa yang dilakukan kamu"


"Gak banyak sih ma, cuma mendiamkan aja selama satu hari" ucap Syafira sambil menatap Keenan.


"Tuh pa, jadi mau tidur di luar atau mama mendiamkan papa"


"Baiklah, tidur di luar saja" jawab Mahendra pasrah.


"Syafira, ikut mama yuk. Mama mau nunjukin kalau sekarang mama sudah bisa bikin kue"


"Ayo ma"


"Awas kue nya gak enak lagi ma" goda Keenan.


Setelah kedua perempuan itu pergi, Keenan dan Mahendra bernafas lega. "Gimana kamu sama Syafira?" tanya Mahendra.


"Ya gitu gitu aja pah, Syafira sempat ngambek tadi" jawan Keenan.


"Why son?"


Keenan menceritakan semuanya pada Mahendra. Membuat laki laki yang berumur 47 itu tertawa terbahak bahak. "Papa ngetawain Keenan kayak papa gak pernah aja" ucap Keenan.


"Papa gak pernah seperti kamu, kalau papa mau papa bisa langsung gempur tanpa izin"


"Mama pasti nolak?"


"Papa tidak bisa ditolak son, jiwa ke laki lakian papa sangat hebat" ucap Mahendra dengan bangga.


Setelah itu keduanya menghabiskan waktu dengan mengobrol seputar bisnis dan perusahaan. Keenan dan Mahendra adalah satu spesial. Keduanya akan terlihat akur saat bersama. Berbeda dengan Mela, meskipun Mela dan Keenan saling menyayangi tapi tak jarang mereka bertengkar karena hal sepele.


"Kue nya sudah jadi. Coba ayo kita bawa ke ruang tengah. Mama mau lihat reaksi papa"


"Ayo ma"


Syafira dan Mela kembali dari dapur dengan membawa sebuah kue. Mela menaruhnya di atas meja lalu memotongnya menjadi beberapa bagian.


"Papa coba dulu kue buatan mama"


"Ya enggak lah papa, paling mama cuma masukin obat kuat"


Mahendra tersenyum menyeringai pada istrinya meskipun ia tahu hanya candaan. Sementara Keenan memutar bola matanya malas.


Syafira duduk di samping Keenan dan berbisik "Sayang, obat kuat itu seperti apa"


Keenan terkejut Syafira bertanya hal itu. "Obat kuat itu adalah obat khusus laki laki"


"Terus kenapa kamu gak minum?"


"Aku kan sudah kuat sayang jadi tidak perlu. Kalau papa ia butuh obat kuat karena tubuhnya sudah mulai renta dan menua. Lihat, ubannya saja sudah banyak" ucap Keenan.


"Stttss jangan keras keras nanti kedengaran" ucap Syafira.


Sementara Mahendra, ia mengambil satu potong kue lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Mahendra menguyahnya lalu menatap Mela.


"Enak kok mah, sekarang mama udah pintar bikin kue" puji Mahendra membuat Mela tersipu malu.


"Keenan, sekarang ayo cobain kue mama" ucap Mela.


Tanpa banyak bicara Keenan juga mengambil sepotong kue lalu memakannya sedikit demi sedikit.


"Gimana? Enak kan kue buatan mama?" ucap Mela.


"Lumayan lah ma, dari pada yang waktu itu"


Mela mendengus, putra nya ini benar benar menyebalkan. Lalu ia tersenyum pada Syafira yang sedari tadi diam saja. "Ayo sayang kamu cobain juga"


"Iya mah"


Keenan memberikan kue sisanya tadi. "Makan yang ini aja" ucap Keenan.


"Itu kan bekas gigitan kamu"


"Lebih enak yang sudah kugigit dari pada yang masih baru. Jadi ayo.. aaaa"


Keenan memasukkan kue ke dalan mulut Syafira. Membuat Syafira melotot. Pascanya di dalam kue itu ada ludah Keenan. Syafira memukul mukul Keenan di perutnya. Membuat Mahendra dan Mela heran. Sementara Keenan sudah tertawa.


"Kenapa sayang?" tanya Wina.


"Tidak apa apa ma, dia hanya sedikit jahil" jawab Syafira. Tidak mungkin juga ia mengatakannya pada Mela. Mela hanya mengangguk kemudian ikut memakan kue nya.


____________________________________________


Adit sedang berjalan sendirian di tepi pantai, ia berusaha menghilangkan penat dari tubuhnya. Adit memandang ke arah pantai yang air nya berwarna biru. Adit duduk di atas pasir, ia merenungkan semua kesalahannya. Dua hari yang lalu Adit pergi ke makam Keysa. Adit sudah bertemu dengan makam putrinya. Adit sempat menangis karena harus kehilangan dua orang yang disayanginya.


Adit memejamkan matanya, hidupnya terasa hampa sejak kepergian Rena. Adit berusaha untuk melupakan Rena, tapi semakin ia melupakan maka semakin kuat ia mengingat Rena.

__ADS_1


Sedangkan dengan Ana, Adit tidak tahu harus berbuat apa. Ana menembak Adit, tapi Adit belum memberi jawaban. Adit mempertimbangkan jawabannya. Ia tidak mau menyakiti hati seseorang lagi.


Adit membuka handphone nya lalu ia membuka galeri dan melihat foto foto kebersamaannya dengan Rena.


"Aku gak bisa lupain kamu Ren" batin nya.


Tiba tiba handphone nya berbunyi, Adit mengeceknya. Ada pesan dari Ana.


Ana


Adit, tolongin aku. Aku dijambret di jalan. Sekarang aku sendirian


Adit segera membalasnya dengan cepat.


Adit


Kamu sekarang dimana kak, biar aku susul


Ana


Aku di jalan Merdeka no 14


Adit


Kakak tenang, kakak cari tempat yang aman. Aku segera kesana.


Adit menyimpan handphone nya lalu bergegas pergi untuk menyelamatkan Ana. Bagaimana pun sekarang Adit punya tanggung jawab pada Ana.


Selang beberapa menit kemudian, Adit telah sampai di alamat yang ana kirim. Adit mencari keberadaan Ana. Ia menemukan Ana sedang meringkuk sendirian. Tanpa menunggu lama Adit segera menghampiri Ana.


"Kak" panggil Adit.


Ana mendongak ke atas, ia langsung memeluk Adit. Air matanya turun begitu saja. Ana benar benar ketakutan. Adit mengelus punggung Rena dan berusaha menenangkannya.


Lalu Adit melepaskan pelukannya dan menatap Ana. "Apa kakak baik baik saja? Apa ada yang terluka?"


Ana menggeleng dengan lirih. Ia bersyukur karena Adit datang. "Ayo kak, aku antar pulang"


Adit membawa Ana bersamanya dan mengantarnya pulang.  Setelah tiba di rumah Ana, Adit mengantarnya sampai Ana benar benar masuk ke dalam rumah.


"Sebaiknya kakak istirahat" ucap Adit.


"Terima kasih"


Ana akan masuk ke dalam rumah tapi ia berbalik lagi. "Adit" panggilnya.


Adit menoleh pada Ana. Lalu Ana kembali menghampiri nya. "Selama beberapa hari aku menunggu jawabanmu, sekarang aku ingin jawabanmu. Apapun jawabanmu aku akan terima" ucap Ana.


Hati Adit ketar ketir, ia tak menyangka Ana akan meminta jawabannya secepat ini.


"Aku..."


Ana menunggu jawaban dari Adit. Adit bingung harus menjawab apa. Tapi tiba tiba saja mulutnya mengatakan iya.


"Iya" ucap Adit tanpa sadar.


Ana tersenyum lalu memeluk Adit sekilas. "I love you Adit"


Ana berlari dan segera masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Adit yang terpaku sendirian.  


"Apa yang kukatakan, kenapa juga aku harus menjawab iya"


Adit memutuskan pulang dari rumah Ana, ia akan memikirkannya nanti saja.


____________________________________________


Mahendra, Mela, Keenan dan Syafira duduk bersama di ruang tengah. Mahendra mengambil sebuah koper dan memberikannya pada Syafira. "Ambillah" ucap Mahendra.


"Apa ini pa?"


Mahendra tersenyum sebelum menjawab. "Papa tahu kamu suka drama korea apalagi lee min ho. Jadi papa membelikan kamu semua hal yang berhubungan dengan Lee min ho. Coba kamu lihat sendiri"


Mata Syafira bersinar mendengar hal itu, lain hal nya dengan Keenan. Keenan memberengut kesal pada Mahendra. Kenapa juga papa nya harus membelikan oleh oleh seperti itu.


Mahendra tahu Keenan kesal padanya. Ia hanya geleng geleng kepala. Sedangkan Mela ia mendekati Syafira dan melihat apa saja yang dibelikan suaminya itu.


Syafira membuka kopernya. Ia berteriak histeris. Di dalamnyanya berisi aksesoris yang berhubungan dengan Lee min ho. Ada Album, baju, buku, CD,  Poster berukuran besar dan yang paling bikin Syafira senang adalah guling yang berbentuk Lee min ho.


"Papa tahu dari mana kalau Syafira suka sama Lee min ho"


Mahendra mengelus rambut Syafira. "Tentu saja papa tahu, papa mencari tahu semua apa yang kamu sukai ada yang tidak kamu sukai"


"Terima kasih pa"


Syafira langsung memeluk guling Lee min ho dengan erat. Sedangkan Keenan, ia menghentakan kaki nya dengan sebal.


"Sayang, ngapain sih peluk guling itu. Mendingan peluk aku yang notabenenya suami kamu"


"Nanti aja" jawab Syafira.


"Kalau misalkan Keenan ke luar kota, kamu bisa peluk guling itu sepuasnya sayang. Apa lagi gambar gulingnya ganteng banget" ucap Mela mengompori.


"Iya, mama benar juga"


Mela menatap ke arah Keenan. "Satu- satu"  ucapnya pada Keenan.


"Sabar Keenan, lagian itu cuma guling bukan orangnya" ucap Keenan sambil mengelus dada.


"Pokoknya Syafira berterima kasih banget sama papa. Syafira sangat menyukai oleh olehnya"

__ADS_1


"Sama sama sayang"


__ADS_2