Bukan Janda

Bukan Janda
BONUS CHAPTER 4


__ADS_3

Resepsi berlangsung dengan Meriah, semua tamu menikmati makanan yang sudah tersedia. Deno dan Riya juga menyalami semua tamu sambil berdiri di atas pelaminan mereka.


"Selamat Ya Den, akhirnya lo nikah juga" ucap salah satu teman Deno sesama dokter.


"Yoi Men, Thanks lo udah datang. Lo datang sendirian?" Tanya Deno. "Pacar gue nggak bisa datang makanya gue datang sendirian?" Jawab teman Deno. Deno mengangguk lalu kemudian mengenal temannya itu pada Istrinya.


"Sayang, kenalin. Dia Arman, teman seperjuanganku. Dia dan aku dulu pas kuliah sama sama ngambil jurusan kedokteran" ucap Deno. Riya tersenyum lalu menatap Armen. "Halo, senang bertemu denganmu"


Armen balik tersenyum lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Armen tidak akan menyentuh wanita yang bukan mukhrimnya. "Maaf, saya tidak bisa menyalami anda"


"Tidak apa apa, saya mengerti" Armen tersenyum lalu menepuk pundak Deno. "Gue mau nemuin om Satrio dulu. Langgeng ya pernikahannya. Jangan balik kayak dulu lagi"


"Tenang aja, Deno yang dulu sudah tidak ada. Sekarang hanya Ada Deno seorang Dokter tampan" Deno tertawa di akhir kalimatnya hingga menular pada Armen.


Setelah Armen pergi, Riya menatap Deno. "Emang kamu yang dulu gimana Mas?" Tanya Riya. Meskipun Deno lebih muda darinya tapi Riya tetap memanggilnya dengan sopan seperti istri pada umumnya.


"Nanti aku ceritain sayang, kita fokus sama resepsi ini dulu ya." Deno menatap lembut istrinya. Riya hanya mengangguk tanpa banyak menuntut.


"Waduh jadi anak ini dirawat dan disusui sama menantu saya?" Tanya Sofi. Syafira mengangguk. "Iya Tante, karena pada saat itu Ibu kandung Alfon yang juga ibu mertua saya sudah meninggal dan Alfon pada saat itu sangat butuh asi."


"Lalu apa Menantu saya memberikan Asi? Tante memang pernah mendengar bahwa dia pernah menikah. Tapi soal lainnya tante belum tahu" Sofi terus menggendong Alfon yang sambil makan kue"


"Dari pernikahan sebelumnya, Tante Riya sudah pernah hamil. Tapi anak tante Riya sudah meninggal. Dan kebetulan Asi tante Riya mengangguk. Jadi keluarga Syafira sepakat untuk menjadikan Tante Riya sebagai ibu susu untuk Alfon"


"Saya tidak salah pilih menantu, Riya membuat anak saya berubah dengan total" Syafira mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Sofi. "Maksud tante gimana?"


"1 tahun yang lalu anak saya itu tidak seperti sekarang. Deno suka bergonta ganti pasangan dan menyakitinya. Deno memacari semua wanita lalu mencampakkannya begitu saja. Yang lebih parah lagi, ada juga yang mengaku hamil anak Deno"


Sofi menunduk lalu melihat ke arah Deno yang masih menyalami semua tamu dengan wajah yang bahagia. "Sampai akhirnya suami saya tidak tahan dengan kelakuannya dan menghukumnya dengan berat. Saya sebenarnya tidak tega melihat dia dihukum tapi mau gimana lagi. Deno tetap salah."


"Dan bagaimana tante tahu kalau Kak Deno berubah karena tante Riya?" Syafira bertanya karena penasaran terhadap masa lalu Deno.


Sofi menoleh ke arah Syafira. "Deno pernah bercerita sama tante, dia menolong seorang wanita yang anaknya diculik"


"Katanya ia menyukai wanita itu, tante jelas saja terkejut. Bagaimana bisa Deno menyukai wanita hanya dengan sekali lihat. Tante tidak percaya dan mengabaikannya. Tapi semakin hari tante Lihat Deno sudah jarang pergi ke luar rumah."


"Tante bertanya alasannya pada Deno. Dan kami tahu dia bilang apa?" Syafira menggeleng.


"Deno bilang dia ingin memperbaiki hidupnya dan mencari wanita itu lagi. Jika wanita itu belum menikah Deno akan mengejarnya dan jika Wanita itu sudah menikah maka Deno akan berhenti mengejarnya."


"Sampe akhirnya Deno melukis wajah Riya dan menaruhnya lukisannya di kamarnya. Ia selali tersenyum dan bersemangat kalai melihat lukisan itu. Dan begini lah Deno sekarang"


"Ternyata Masa Lalu Om Deno juga rumit ya tan, Syafira tidak menyangka kalau kak Deno mempunyai masa lalu yang seperti itu" Sofi tersenyum tipis. Lalu tiba tiba keempat laki laki berjalan ke arah mereka.


Tio, Mahendra, Satrio dan Keenan. Dan juga Azka yang masih di gendong Satrio. Mereka berjalan dan mendekati istri mereka masing masing kecuali Mahendra.


"Lagi ngobrol apa?" Tanya Satrio pada istrinya. Sofi hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, kami hanya membicarakan tentang pernikahan ini" ucap Sofi. Satrio mengangguk.


"Lho Azka udah gede kok digendong?" Syafira melihat Azka yang masih digendong satrio. "Azka mau dibeliin mobil remot sama kakek ini, dia kakek baik nda. Ndak kayak papa minta mobil remot aja bilang tidak ada uang"


Keenan hanya menyengir sambil menatap Azka. "Papa cuma bercanda doang kok. Kamu mau beli mobil remot berapa biar papa yang beliin? Jangan minta sama kakek ya nanti kamu malah ngerepotin. Maafin putra saya ya om"

__ADS_1


"Tidak apa apa, lagian saya yang menawarkan pada Azka. Azkia menarik narik lengan baju Keenan dari tadi. Keenan menunduk ke bawah dan melihat Azkia. "Ada apa sayang?" "Abang udah gede kok digendong, Kia juga mau digendong sama papa"


Tio dan Wina tersenyum, betapa lucu nya kedua cucunya itu. Keenan langsung saja mengangkat Azkia ke gendongannya. "Putri papa berat sekali" ucap Keenan sambil pura pura ngos ngosan.


Azkia menarik hidung mancung Keenan. "Papa bohong, Kia kan masih kecil berarti nggak berat. Tapi hidung papa kok gak panjang kayak pinokia? Kia kemarin nonton pinokio sama abang terus pinokio nya bohong terus hidungnya makin panjang. Papa kok nggak?"


Semuanya tertawa mendengar celotehan Azkia. Keenan juga ikut tertawa. "Pinokio kan masih kecil, kalau papa udah gede jadi hidung papa gak bisa panjang lagi. Nah kalau anak kecil seperti Azkia kalo bohong nanti baru hidungnya bisa panjang" Keenan mengelus rambut Azkia dengan sayang.


"Kia nggak mau bohong, nanti hidung kia panjang terus masuk neraka. Bohong itu nggak baik pa, iya kan bunda?" Azkia menoleh ke arah Syafira yang sedari tadi hanya diam.


"Benar sayang, jadi Azkia nggak boleh bohong ya" Azkia menganggukkan kepalanya. Di sisi lain, Riya merasa pegal sekali karena sedari tadi ia terus berdiri dan menyalami semua tamu.


Apalagi Riya memakai sepatu hak tinggi khusus pengantin yang dibelikan oleh Mahendra sebagai hadiah. Kaki nya terasa kram sekali. Riya berpegangan pada lengan Deno.


Deno menoleh ke arah Riya. "Kenapa sayang?" Tanya nya. "Tidak apa apa Mas, aku hanya sedikit pegal saja" Deno melirik ke bawah dan mengangkat gaun Riya sebentar. "Kamu make sepatu hak tinggi ya? Sebentar, Aku lepasin dulu"


Deno berjongkok dan melepaskan sepatu Riya. Kemudian ia membuka sandal pengantinnya dan memakaikannya di kaki Riya. "Pakai ini saja, kaki kamu sudah memerah. Nanti aku bantu obatin kamu"


Riya tersenyum lalu mengangguk. Kalau Riya memakai sandalnya Deno, lalu bagaimana dengan Deno?. "Mas kalau sandal kamu dipakai aku, kamu pake apa?" Tanya nya.


"Nyeker aja. Sudah tidak usah khawatirkan aku.  Yang penting sekarang kamu sudah tidak pegal lagi karena memakai sepatu itu" Deno sangat perhatian sekali dengan Riya. Aksi Deno dilihat oleh semua tamu termasuk keluarganya.


"Deno sangat perhatian sekali dengan Riya, Saya lega Riya bisa mendapatkan laki laki seperti putra anda" ucap Mahendra. "Deno juga beruntung"


.


.


Deno sudah melepaskan Jas nya dan menggantungnya di lemari. Sambil menunggu Riya keluar dari kamar mandi, Deno melihat lihat dekorasi kamarnya yang begitu indah.


Di atas tempat tidurnya banyak bunga mawar yang bertaburan dan membentuk Love dan dilengkapi juga dengan kelambu di kasur mereka. Bahkan mereka juga sudah menyiapkan lampu kerlap kerlip.


"Mas, bantuin buka gaun dong" teriak Riya dari dalam kamar mandi. Sejak tadi ia belum bisa keluar karena susah untuk membuka resletingnya.


Deno segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membantu Riya melepaskan gaunnya. "Gimana cara bukanya?" Tanya Deno dengan bingung. Karena ini pertama kalinya ia membantu istrinya melepaskan gaun.


"Tarik aja resletingnya tapi pelan pelan" Deno mengangguk lalu membuka resleting gaun Riya dengan pelan. "Kamu gak berat apa pake gaun yang seperti ini?"


"Berat sih Mas tapi kan Bagus


"Ya sudah sekarang udah kutarik resletingnya. Kamu lepasin dulu atau mau aku bantu lagi buat ngelepasinnya?" Tanya Deno. "Enggak usah Mas, bisa sendiri kok" ucap Riya.


Deno mengangguk lalu pergi keluar dari kamar mandi. Riya memegang dadanya, jantungnya terus berdetak dengan kencang saat bersama Deno. Apalagi hari ini dan selamanya mereka akan terus bersama dan satu ruangan.


Riya menghela nafasnya gugup lalu segera melepaskan gaunnya dan keluar. Riya melihat Deno yang sedang menunggunya di atas kasur. Riya tersenyum sebentar lalu menaruh gaunnya terlebih dahulu.


Deno akui, meski jaraknya dan Riya terpaut sebelas tahun, tapi Riya masih sangat cantik. Apalagi body nya yang menarik perhatian semua pria.


Riya sudah selesai menaruh gaunnya, ia berjalan menghampiri Deno dan duduk di sampingnya. Riya memberanikan diri untuk menatap Deno.


"Mas"

__ADS_1


Deno menoleh, ia mendapati wajah Istrinya yang sangat dekat dengannya, membuat Deno tersenyum. "Ada apa?" Riya ingin mengucapkan sesuatu tapi ia ragu. "Mas bilang akan menceritakan masa lalu Mas"


Deno terdiam sebentar. "Kamu yakin mau dengar semuanya?" Riya mengangguk dengan yakin. Lalu Deno menceritakan semua masa lalu nya pada Riya. Mulai dari ia yang mempermainkan wanita sampai akhir.


"Aku bukan laki laki yang baik seperti yang kamu pikirkan, aku pernah menghamili seorang wanita dan anak itu telah keguguran. Maaf, aku tidak bisa menjadikanmu wanita pertama"


"Tidak apa apa, aku juga harus minta Maaf Sama Mas karena Mas juga bukan laki laki pertamaku" Deno tersenyum canggung. Ia beruntung sudah menemukan cintanya kembali.


Dulu Deno berusaha untuk mencari Riya namun hasilnya nihil, ia tidak bisa menemukannya. Sampai takdir mempertemukan Deno dan Riya di rumah sakit  . Dan dari situlah kisah mereka dimulai.


"Jadi gimana? Apa sekarang kamu sudah siap untuk melakukannya bersamaku. Jujur saja selama aku masih pacaran denganmu aku tidak dapat menahan hawa nafsuku. Maksudku tubuhmu terlalu menggoda buat laki laki brengsek seperti aku"


Riya tidak kaget mendengar hal itu, ia tahu selama ini diam diam Deno memperhatikan bagian dadanya. Tapi untungnya Deno tidak berbuat macam macam selain melihatnya aja.


"Padahal aku gendut lho Mas, kok bisa sih suka sama body gendut kayak gini" Riya memperhatikan tubuhnya sendiri. Deno meletakkan jarinya di bibir Riya.


"Kamu emang gendut tapi bukan tubuhmu. Hanya dadamu saja yang lebih menonjol dan mungkin gara gara itu kamu mengira bahwa diri kamu gendut"


Riya mengangat baju yang ia pakai dan hingga perut atasnya. "Iya juga sih Mas, kalau diperhatiin lagi aku juga gak gendut gendut amat kok"


Deno tidak menjawab lagi, ia memegang baju Riya yang masih belum diturunkan lalu mengangkatnya ke atas hingga terlepas dari tubuh Riya. Kini Riya hanya kelihatan menggunakan Bra saja.


Riya menutupi kedua dadanya dengan malu, wajahnya sudah mulai memerah. Apalagi jantungnya. Diam diam Deno melepas tangan Riya yang menutupi pemandangan indah itu.


"Jangan ditutup, biarkan aku melihatnya sebentar" Deno memutuskan untuk membuka kaitan bra nya terlebih dahulu supaya semuanya terlihat dengan jelas. Jakunnya naik turun saat melihat gunung kembar itu di hadapannya.


"Boleh aku menyentuhnya?" Deno mengangkat wajahnya dan menatap kedua bola mata Riya. Riya tak punya pilihan lain selain mengangguk. Deno tersenyum senang.


Dengan perlahan tangan Kanan Deno memegang dan meremas dada itu dengan tangannya. Sesekali ia mencubit puncak nya. Riya menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


Deno tersenyum lalu ia mendekatkan wajahnya pada Dada Riya dan membenamkan wajahnya pada daging yang kenyal nan empuk itu. Deno menatap takjub kedua bongkahan daging kenyal itu.


Dulu saat ia bermain main dengan wanita, Deno belum pernah melihat buah dada sebesar milik Riya ini. Deno sangat beruntung. Deno memiringkan kepalanya dan mulai bermain main dengan Dada Riya.


Mulut Deno sudah mengulum puncak dada Riya dengan gemas. Matanya terpejam karena tak kuat dengan kenikmatan yang sedang ia rasakan saat ini. Riya bergerak tak karuan karena ulah Deno.


Selanjutnya mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Malam ini berakhir dengan sangat indah. Deno dan Riya bergumul di atas kasur. Dengan ditemani rembulan yang sangat terang di atas langit.


Kamar Mereka menjadi saksi bisu atas kegiatan mereka. Kamar yang semula indah dan cantik menjadi berantakan karen ulah mereka.


Meskipun itu bukan yang pertama kali bagi mereka, tapi mereka melakukannya dengan penuh semangat. Apalagi Deno, yang tidak ada puas puasnya. Deno sudah lama menahan hasratnya dan sekarang ia melampiaskan semuanya pada Riya.


Peluh dan keringat membanjiri tubuh mereka, nafas Riya tersengal sengal karena baru saja mendapatkan gelombang kenikmatan yang luas biasa. Deno berbaring si sebelah Riya. Kemudian mengecup kening istrinya.


"Terima kasih buat malam ini, maaf kalau aku sedikit kasar tadi. Riya hanya mengangguk lemah, tenaganya sudah terkuras habis karena ulah Deno yang terus terusan melakukannya.


Riya tak bisa menolak, karena ia memang sangat merindukan sentuhan laki laki. Riya dengan Jack hanya pernah melakukan dua kali waktu mereka menikah. Yang pertama ketika malam pertama


Dan yang kedua sebelum Riya hamil. Tangan Deno melingkari tubuh Riya dan memeluknya. "Tidurlah ini sudah malam, besok kita pindah ke rumah yang sudah aku siapkan"


"Iya Mas"

__ADS_1


__ADS_2