
Berbeda dengan Keenan yang masuk rumah sakit, Zayn dan kedua temannya malah mendekam di penjara. Bukti bukti yang mereka kumpulkan sudah bisa dijadikan alasan untuk menahan mereka. Ditambah lagi kantor polisi itu sangat menghormati Keenan. Dulu kantor polisi itu bangunannya tidak selebar dan sebagus ini dikarenakan pernah terjadi kebakaran, tapi berkat Keenan semuanya berubah.
Zayn, Arkan dan Kenneth terus merengek untuk minta dikeluarkan. Mereka sampai dipelototi oleh salah satu anggota kepolisian. Di antara narapidana yang lainnya ketiga bocah itu lah yang paling berisik.
"Lihat aja kalau gue bebas, akan gue balas lo semua"
Polisi di sebelahnya tertawa sinis "Memangnya kamu yakin kita akan bebasin kamu? Kepolisian akan membebaskan kamu kalau korban atau lebih tepatnya Pak Keenan Aldebaran Bright menyuruh untuk membebaskanmu. Selain itu jangan harap"
"Eh pak polisi menghukum orang itu harus ada aturannya, masa cuma masalah kecil begini harus dihukum bertahun tahun?"
"Bocah tengik, jangan kalian pikir saya tidak tahu apa kesalahan kesalahan kalian. Selain menusuk Pak Keenan kalian bertiga telah menjual dan mengedarkan narkoba, bahkan kalian sempat melakukan pencurian"
Zayn, Kenneth dan Arkan diam kehabisan kata kata. Sepertinya jalan keluar untuk bebas tidak ada lagi. Apalagi polisi telah mengetahui semua kejahatannya.
Tap tap tap
Seseorang berjalan mendekati sel mereka, Zayn menoleh dan betapa terkejutnya saat melihat orang itu.
MAHENDRA, Ayah dari orang yang ia tusuk saat ini menatapnya dengan tajam. Zayn tahu kalau Mahendra itu bukan orang sembarangan. Ia bahkan bisa melakukan apa saja dengan kekuasaannya.
"Apa kalian bahagia berada disini? Atau menderita?"
"Jangan mengejek kami wahai pak tua, suatu saat kami akan membalas perbuatan putra bodoh kalian" ucap Kenneth.
"Oho sepertinya kalian menyebut nama diri sendiri, pria bodoh itu sebutan bagi kalian semua bocah. Saya heran apa orang tua kalian tidak pernah mempedulikan kalian? Bahkan mereka tidak datang saat tahu anak anak nya masuk penjara"
Arkan mengepalkan tangannya, ia berusaha keras untuk mengontrol amarahnya. Karena rasanya percuma kalau ia marah marah.
"Apa mau Anda sekarang?" tanya Zayn sambil bersedekap dada.
Mahendra pura pura berpikir sebentar lalu menjawab "Saya tidak mau apa apa selain melihat kalian menderita disini"
Mahendra mendekat pada mereka berdua "Kalau kalian sampai berani mengganggu keluarga saya lagi, makan nyawa kalian yang akan jadi jaminannya"
Mahendra merapikan jas nya lalu pergi dengan senyum kemenangan. Ia tahu saat ini Zayn dan kedua temannya gemetaran.
"Argggghhhh"
Zayn meremas rambutnya dengan kuat, ia begitu marah pada dirinya sendiri.
"Sudah lah Zayn, kamu tenang dulu. Sebaiknya kita mencari cara untuk keluar dari sini" ucap Arkan.
"Kalian bego atau bodoh, sudah jelas polisi tadi mengatakannya kalau kita tidak akan dikeluarkan sebelum mendapat persetujuan dari Keenan Aldebaran Bright"
"Ya tapi kan.."
"Diam lo berdua"
Seketika Arkan dan Kenneth tak berbicara lagi. Mereka memutuskan untuk menjauh dari Zayn dan membiarkannya sendiri.
____________________________________________
Hari masih berlanjut, Adit pagi pagi sekali sudah berada di rumah Ana. Ia tidak ingin Ana keburu pergi sebelum ia sempat mendatanginya.
Adit membawa setangkai bunga untuk Ana, ia berharap hati Ana dapat luluh dengan bunga itu. Saat Adit akan mengetuk pintunya, pintu terbuka lebih dulu.
Ana keluar dengan pakaian yang sangat rapi. Bahkan Adit mencium aroma minyak wanginya dari tubuhnya.
"Hai" sapa Adit.
Ana mendengarnya tapi ia mengacuhkannya, Ana mengeluarkan kunci mobilnya lalu menekan tombol remote nya.
"Aku mau bicara sama kakak"
Ana tidak peduli, ia akan masuk ke dalam mobil tapi pintu mobil ditutup dengan cepat, siapa lagi pelakunya kalau bukan Adit. Adit mengurung dan memojokkan Ana di tepi mobilnya.
"Jangan pernah lari dariku, aku mencintaimu kak"
Ana terkejut mendengar Adit mengatakan cinta padanya, tapi ia belum terlalu percaya sama Adit. Karena bisa saja Adit membohonginya seperti waktu waktu yang lalu.
"Ini masih pagi, tolong simpan leluconmu itu. Dan satu lagi, menyingkirlah dari tubuhku, aku akan pergi"
Adit menatap kedua bola mata Ana yang berwarna abu abu. Ia merapikan rambut Ana ke belakang telinganya.
"Aku tidak akan melepaskanmu kak, aku sangat mencintaimu"
Tubuh Ana kaku tak bisa digerakkan, di satu sisi ia percaya tapi di sisi lainnya ia takut dikecewakan untuk kedua kalinya.
"Apa buktinya kalau kamu sudah mencintaiku?"
Adit membawa tangan Ana dan meletakkannya di dadanya. "dengar, jantungku berdetak sangat cepat setiap aku bersamamu."
Ana merasakannya, jantung Adit memang berdetak sangat cepat. Sama seperti jantungnya saat ini. Ia menatap Adit dengan ragu ragu.
"Apa benar kamu mencintaiku?"
"Tentu saja"
"Kalau begitu cium aku"
Adit langsung mencium bibir mungil Ana, tangannya menahan kepala Ana dan menekan tengkuknya agar memperdalam ciumannya. Lidah Adit bermain dengan Lidah Ana, keduanya bertukar air liur. Bahkan saat ini Ana melingkarkan tangannya di leher Adit. Ana terbuai dengan ciumannya.
Beberapa menit kemudian, Adit melepaskan ciumannya. Lalu menangkup kedua pipi Ana. "Apa sekarang kamu percaya?"
Ana tersenyum malu malu dan mengangguk. Adit memeluk Ana dengan erat, ia tidak akan melepaskan gadis yang telah ia peluk ini. Adit akan menjaga dan mencintainya dengan sepenuh hati.
"Jadi kita pacaran?"
"Emm gak tahu" ucap Ana.
"Kok gak tahu?" ucap Adit.
"Kan kamu belum nembak aku"
Adit tertawa kecil, lalu ia berlutut di hadapan Ana. Adit mengambil kedua tangan ana. "Mau kah kamu menjadi pacar ku Kak?"
__ADS_1
"Jangan panggil kak dong, langsung sebut nama aja"
"Okay, jadi Ana, mau kah kamu menjadi pacarku?"
Ana menjawab "Iya aku mau"
Adit senang, ia langsung menggendong Ana dan memutar mutarnya dengan cepat. Setelah kebahagiannya hilang kini ia mendapat kebahagiaan baru dengan hadirnya Ana di hidupnya.
____________________________________________
Tio dan Wina segera pergi ke rumah sakit setelah Syafira mengabari kalau Keenan sedang dirawat di rumah sakit. Mereka berdua datang dengan wajah penuh penyesalan.
"Keenan, ayah sama ibu mau minta maaf sama kamu. Kamu sudah membela dan melindungi putri kami. Maafkan ayah dan ibu yang sempat mempunyai pikiran buruk tentangmu"
"Tidak apa apa, Keenan pantas dapat semua itu karena dulu Keenan sempat lalai menjaga Syafira.
"Sekarang bagaimana kondisimu?" tanya Wina.
"Aku baik baik saja bu, hanya saja dokter tidak memperbolehkanku pulang selama dua minggu. Luka ku cukup parah"
"Semoga kamu cepat sembuh ya, ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu"
"Amiin, terima kasih bu"
Tio memegang bahu Keenan lalu menatapnya. "Selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah"
Keenan tersenyum, ia memeluk Tio lalu melepaskannya. "Terima kasih ayah, Keenan janji kali ini Keenan akan menjaga Syafira dengan baik"
"Ayah tahu, lebih baik sekarang pikirkan kesehatanmu dulu supaya cepat sembuh"
"Iya ayah"
Syafira masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa rantang makanan. Syafira pulang ke rumah untuk membersihkan dirinya dan membawa baju ganti saat ia menginap di rumah sakit ini.
Syafira juga memasakkan makanan kesukaan Keenan, sop daging. Syafira menyalami kedua orang tua nya. "Ayah sama ibu sejak kapan ada disini?"
Tio dan Wina tersenyum, "sejak satu jam yang lalu"
"Syafira, Ayah sama Ibu tidak bisa lama lama disini. Karena ada keperluan lain yang akan ayah lakukan"
Syafira menatap ke arah Keenan lalu mengangguk. "Tidak apa apa Bu, Syafira dan Mas Keenan mengerti kok"
"Kalau begitu ayah sama ibu pulang dulu, Keenan cepatlah sembuh"
"Iya ayah"
Setelah Tio dan Wina pergi, kini hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu.
"Coba ulang kamu tadi manggil aku apa" Keenan menggoda Syafira.
"Emang aku manggil apa coba?"
"Mas Keenan. Ayo coba kamu panggil aku dengan sebutan itu"
Keenan terkekeh melihat ekspresi dari istrinya yang sangat lucu dan menggemaskan. Lalu matanya melihat ke arah rantang makanan yang dibawa Syafira.
"Kamu bawa apa?"
Syafira mengeluarkan semuanya lalu menyiapkannya.
"Ini aku bawa sop daging kesukaanmu, dan ada ikan bakarnya dan juga nasi untukmu"
"Kamu memasak ini semua?" tanya Keenan.
"Iya, aku tahu kamu sangat merindukan masakanku jadi aku memasak deh"
Keenan mencubit hidung Syafira pelan, membuat Syafira tertawa kecil. "Kamu gak pernah berubah, selalu menggemaskan di mataku"
Syafira membalas "Kamu juga tidak pernah berubah, selalu saja membuatku jatuh cinta saat bertatapan dengamu"
Mereka berdua tersenyum, lalu Syafira duduk di samping Keenan.
"Mas mau disuapin?"
Keenan terkekeh pelan saat Syafira memanggilnya dengan sebutan Mas. Ia masih belum terbiasa dengan itu.
"Iya, ayo suapin"
Syafira menyuapi Keenan sampai makanan yang ia bawa sudah habis. Syafira membersihkan sisa sisa makanan di mulut Keenan. Ia mengusapnya dengan tangannya sendiri.
"Kamu sudah makan?"
"Sebelum aku datang kesini aku sudah makan"
Keenan mengangguk. "Kamu suka handphone apa?"
Tidak ada hujan atau angin tiba tiba saja Keenan bertanya seperti itu. "Kenapa?"
"Jawab dulu pertanyaanku"
"Aku pengen Handphone bts, tapi mahal sih. Harganya sekitar dua puluh jutaan atau lebih"
"Oke"
Keenan mengambil handphone nya lalu mengotak atiknya, setelah selesai ia menyimpannya kembali.
"Sini tiduran di samping aku" Keenan menepuk kasur di bawahnya menyuruh Syafira untuk tidur di dekatnya.
"Tapi kan kamu lagi sakit"
"Tidak apa apa"
Akhirnya Syafira pasrah dan mengikuti kemauan Keenan. Syafira membaringkan dirinya di samping Keenan. Syafira berusaha untuk tidak bersentuhan dengan perut Keenan. Ia takut tubuhnya mengenai luka Keenan.
"Gimana perkembangan baby nya? Apa dia baik baik saja?" Keenan mengelus perut Syafira yang masih rata.
__ADS_1
"Baby nya masih sekecil biji jagung mas jadi belum kelihatan perkembangannya"
"Ingat gak dulu waktu kita bertemu untuk pertama kalinya, aku suka memanggilmu dengan sebutan janda dan kamu pun memanggilku om" Keenan mengelus kening Syafira.
"Aku masih ingat Mas, waktu itu kamu sangat menyebalkan"
Keenan tertawa, ia memeluk Syafira dengan erat. Dulu Keenan mengira hidupnya akan membosankan dan monoton seperti tahun tahun sebelumnya. Tapi nyatanya ia salah, setelah mengenal Syafira hidupnya penuh
dengan warna.
Beberapa menit mereka dalam posisi seperti itu, tiba tiba mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan teman teman Keenan. Siapa lagi kalau bukan Reno, Farhan, Dito, Eka, Dan Kevan. Mereka masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Alhasil mereka melihat pemandangan suami istri berpelukan.
"Gue bersyukur lo udah sadar Nan, gue kira lo bakal koma seperti tokoh sinetron di tv" ucap Farhan.
Reno menoyor kepala Farhan dengan keras. "Dasar korban sinetron"
"Apa sih lo Ren, syirik amat sama gue"
"Sudah deh, seharusnya kita disini nanya kabar Keenan bukan berantem tak jelas"
"Lo baik baik aja kan Nan?"
"Gue baik baik aja kok. Oh iya pesanan gue udah dibeli"
Kevan mengangguk, lalu ia menyerahkan sebuah kotak yang telah dibungkus dengan sangat rapi. Keenan mengambilnya lalu menyerahkannya pada Syafira.
Syafira mengambilnya , "Apa ini?"
"Buka lah, aku yakin kamu pasti suka"
Semuanya menunggu reaksi Syafira. Syafira membukanya dengan perlahan lahan. Lalu ia menemukan sebuah kotak yang di dalamnya berisi handphone bermerk BTS.
"Ini?"
"Itu buat kamu, Aku tahu handphone kamu telah rusak."
"Makasih Mas"
"Oh udah berubah nih panggilannya sekarang, dari sayang berubah menjadi Mas" sindir Reno.
"Biarin aja napa, mereka kan suami istri" timpal Dito.
"Guys gue saranin buat kalian semua ikutan ajang pencarian jodoh. Siapa tahu kalian ketemu jodoh disana" ucap Eka.
"Gue punya banyak kenalan cewek, ngapain juga ikutan acara kek begituan" ucap Kevan.
"Serah lo deh"
Keenan dan Syafira hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan mereka berdua. "Mereka semua unik, mereka selalu ada buat Mas disaat senang maupun susah. Aku kadang kadang iri sama Mas karena punya sahabat sebaik mereka. Sementara aku, aku sudah kehilangan sahabatku. Rena satu satunya sahabatku dia telah meninggal dunia. Aku ingin mengunjungi makamnya. Aku merasa seperti sahabat yang jahat karena tak pernah menjenguknya selama ini"
Keenan tidak pernah tahu kalau orang yang ia sebut Ondel ondel bergigi tonggos itu sudah meninggal. Selama ini Keenan sangat membencinya karena perlakuannya terhadap Syafira.
"Aku tidak tahu bagaimana Adit menanggung ini sendirian. Dia pasti sangat menderita setelah kehilangan Rena"
Keenan tidak bereaksi apa apa, ia hanya mengelus rambut Syafira. Keenan takut ia salah mengatakan sesuatu.
Reno, Farhan, Eka, Dito dan Kevan jadi merasa sedih setelah mendengar curahat hati Syafira.
Reno berusaha menghibur Syafira agar ia bisa melupakan kesedihannya.
"Neng cantik, gimana kalau besok kita jenguk makam nya sahabatmu Rena, biar aku dan Farhan yang akan menemanimu"
"Benar, kita siap kok menemani kamu"
Syafira tersenyum tipis. "Aku akan menghubungi Adit, karena aku tidak tahu dimana tempat pemakaman dia"
"Maafin aku ya karena tidak bisa menemani kamu ke makam Rena" ucap Keenan.
"Mas ngomong apa sih, mas kan lagi sakit. Jadi tidak apa apa. Lagi pula ada Oren sama Ohan yang menemaniku. Jadi mas tidak usah khawatir"
"Aku bersyukur memiliki istri yang sangat pengertian"
Keenan mengeluarkan kartu kreditnya lalu menyerahkannya pada Kevan. "Gue gak punya uang cash Van buat menggantikan uang yang lo gunakan buat beli ponsel. Lo bisa ambil di kartu kredit gue aja"
Kevan menggeleng, ia tulus memberikannya pada Keenan tanpa harus meminta ganti uangnya.
"Gue ikhlas Nan, selama ini uang hasil balapan lo serahkan pada kita. Jadi sekarang giliran gue balas budi buat lo"
"Lo yakin Van?"
"Yakin Nan, uang segitu tidak ada artinya dibandingkan persahabatan kita selama ini"
"Thanks"
Prioritas Keenan saat ini
Istrinya
Kedua orang tuanya
Mertuanya
Dan sahabatnya
Keempat opsi di atas adalah harta yang paling berharga buat Keenan. Mereka selalu mendukung dan memberikan yang terbaik untuknya.
"Om Kevan, Syafira juga mau bilang terima kasih"
Kevan tersenyum lalu mengacak acak rambut Syafira di depan Keenan. "Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri, jadi panggil lah aku kakak"
"Ka..kak" ucap Syafira.
"Bagus"
Untuk saat ini Keenan bahagia melihat kedekatan Syafira dengan sahabatnya. Jika ada laki laki yang paling beruntung di dunia ini adalah Keenan. Ia dikelilingi oleh orang orang yang sangat baik.
__ADS_1