
Matahari mulai meninggi, cahaya bintang kini berubah menkadi sinar matahari. Syafira mengerjapkan matanya dengan pelan lalu melihat dirinya yang tertidur di tangan Keenan.
Syafira melirik ke tubuhnya yang penuh dengan pasir. Syafira pergi ke pinggir pantai lalu membasuh muka dan kakinya.
Cahaya matahari juga mengenai wajah Keenan dan itu membuatnya terbangun. Keenan mencari keberadaan Syafira di sampingya namun tak menemukannya.
Keenan menyipitkan matanya dan melihat Syafira berlari lari kecil di tepi pantai. Keenan gemas sendiri. Ia bangun dan membuka kemejanya, jadi lah ia bertelanjang dada.
Di pantai tidak ada orang lain selain mereka berdua. Padahal biasanya ada banyak pengunjung. Keenan tertawa sendiri karena ulahnya. Ia menempelkan papan bertuliskan "Warning!!! Buaya ada di sekitar pantai"
Tentu saja orang orang tidak berani datang, sebelum mereka masuk pasti sudah takut duluan. Keenan berjalan pelan pelan mendekati Syafira, ia berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Alhasil kakinya menyentuh pasir pantai yang dingin.
Syafira senang, ia bisa terbangun dan melihat pantai di pagi hari. Ombak nya sangat indah untuk ia lihat. Syafira mengeluarkan handphone bts nya lalu memotret air laut beberapa kali.
Keasikan memotret sampai Syafira baru menyadari ada tangan yang melingkari tubuhnya. Syafira tidak menoleh, ia sudah pasti tahu siapa itu.
"Kamu menikmati pemandangan tanpa mas? Dasar gadis nakal" bisik Keenan.
"Aku gak tega bangunin Mas, makanya aku bangun sendirian"
"Mau main air?"
"Memang boleh, aku kan lagi pake gaun mas. Terus nanti baju gantinya gimana?"
"Tenang aja, Mas sudah menyiapkan semuanya"
Keenan menggendong Syafira ala brydal style lalu membawanya pergi. Mereka saling bercanda dan tertawa. Beberapa kali Syafira memercikkan air ke tubuh Keenan sehingga membuat tubuhnya basah semua
Keenan tersenyum jahil, ia menyiram Syafira dengan lebih banyak air. Keduanya saling membalas dan tertawa.
Setelah selesai bermain air Keenan membawa Syafira ke suatu tempat. Ia mengajak Syafira dengan berjalan kaki. Keenan berharap semoga syafira menyukai hadiahnya kali ini
"Kita mau kemana sih Mas?" Syafira menyusuri jalan setapak demi setapak bersama Keenan. Ia benar benar tak tahu Keenan akan membawanya kemana.
"Lihat, kita sudah nyampe"
Mereka berdua berhenti di sebuah Villa yang sangat besar. Villa itu adalah milik orang lain sebelum Keenan membelinya. Keenan membeli Villa itu ketika ia mempersiapkan tentang kejutannya
Villa itu sangat luas dan lebar, di sampingnya ada kolam berenang yang dibuat khusus. Dan uniknya lagi, Villa itu juga mempuyai studio musik. Jadi Keenan akan dengan senang hati menyanyikan lagu untuk Syafira
"Ini Villa siapa Mas?"
Keenan tertawa kecil. "Ini Villa kita, sayang"
Syafira tertawa meremehkan, memangnya sejak kapan suaminya punya Villa. Ia pasti mengaku ngaku.
"Kamu gak percaya? Mas sudah membeli Villa ini. Sertifikatnya ada di mobil kalau kamu mau lihat"
"Ck ck ck memangnya kamu sekaya apa sih Mas same bisa beli Villa, Apartemen, dan gaun yang ku pakai ini"
"Jumlah kekayaan aku sangat banyak, jumlahnya sama seperti cintaku padamu. Yang tak akan pernah habis"
"Gembel"
"Gombal sayang bukan gembel"
"Iya aku tahu, biar beda gitu"
Keenan menggelengkan kepalanya, lalu mengajak Syafira masuk ke dalam Villa nya.
____________________________________________
Syafira tak mengedipkan matanya melihat ruangan ruangan dalam Villa yang sangat mewah. Bukan hanya itu, Syafira juga melihat banyak nya pakaian perempuan. Kalau ia lihat sekitar tiga lemari penuh. Lemari pertama berisi pakaian biasa, lemari kedua berisi dalaman wanita dan lemari ketiga berisi aksesoris wanita seperti kalung, cincin dan mahkota kecil.
Syafira mengambil mahkota kecil itu, ia menyukai nya.
Keenan yang sudah mandi dan berpakaian lengkap menghampiri Syafira. Ia langsung mengambil mahkota nya dari tangan Syafira. Kemudian Keenan meletakkannya di atas kepala Syafira.
"Nah kalau gini kan kamu tambah cantik"
"Masa sih Mas?"
"Iya sayang"
Syafira tersipu malu, kali ini ia sudah tak menggunakan gaun lagi.
Ia hanya memakai celana panjang dan kaos berwarna putih lengan panjang, sehingga membuatnya tambah imut. "Jangan dilepas ya Mahkota nya, aku suka"
Syafira mengangguk. Kemudian Keenan menarik Syafira ke meja makan. Syafira melihat banyak makanan yang terhidang di atas meja. Ia melirik ke arah Keenan.
"Ini semua Mas yang masak?"
"Iya, semoga kamu suka ya"
"Aku coba ya"
Syafira mencicipi salah satu makanan itu. Muka nya berbinar cerah. Sungguh masakan Keenan sangat pas di lidahnya. Syafira mengacungkan jempol pada Keenan.
"Enak banget Mas, ayo kita makan. Aku udah lapar nih"
__ADS_1
Keenan terkekeh lalu tak urung ia duduk di kursinya sembari menunggu makanan disiapkan oleh istrinya.
"Ini buat Mas dan ini buat aku. Selamat makan"
Syafira memotong daging sapi di hadapannya dengan pisau dan garpu lalu menusuknya kemudian memakannya. Syafira sangat menyukainya, ia bahkan meminta milik Keenan karena miliknya sudah habis.
"Mas, itu.. eh apa"
Keenan mengambil daging miliknya lalu memindahkan ke piring Syafira. "Bilang aja mau minta daging, gak usah pake anu anu segala"
"Hehe, Mas makin ganteng deh kalau gitu"
Syafira memberinya kecupan di bibir sebagai bentuk terima kasihnya. Keenan menyukai itu. Ia menyukai sensasi ketika bibir istrinya menempel di bibirnya.
"Karena dagingku kamu makan, aku makan bibir kamu aja"
Keenan mencium bibir Keenan dengan disetai gigitan gigitan kecil. Keduanya berciuman di tengah tengah meja makan.
Setelah itu Keenan melepaskannya. Keenan tertawa melihat lipstik Syafira yang belepotan karenanya. Ia mengusap bibir Syafira dengan tangannya.
"Mas kebiasaan banget deh suka nyium berlebihan"
Keenan mengacak acak rambut Syafira dengan gemas, kemudian melanjutkan acara makan makannya.
____________________________________________
Bagas menghubungi Keenan beberapa kali tapi tidak ada hasilnya. Ia cemas karena sebentar lagi ada klien penting yang ingin bertemu dengannya. Tentu saja Bagas tidak dapat menggantikannya, karena klien ini hanya ingin bertemu dengan Keenan.
Bagas melirik jam tangan nya, tiga puluh menit lagi klien itu akan datang. Bagas harus menyusul Keenan secepatnya, ia tahu Keenan ada dimana. Karena Keenan sempat memberi tahu Bagas ke mana ia akan pergi.
Bagas mengambil kunci mobil di saku nya lalu pergi dengan mobilnya. Bagas berharap Keenan masih ada di tempat itu.
"Tidak apa apa lah menjemput pak Keenan, siapa tahu gaji bisa dinaikin nanti" Gumam Bagas.
____________________________________________
Keenan dan Syafira menghabiskan waktu dengan bermain game di handphone nya. Syafira meminta Keenan untuk menginstal permainan merias wajah cewek. Awalnya Keenan menolak tapi saat melihat tatapan mata Syafira Keenan tak bisa menolaknya.
Alhasil keduanya memainkan game itu di handphone masing masing. Syafira menyuruh Keenan untuk menghias sang pria sedangkan dirinya merias si wanita.
Keduanya larut dalam permainan, Keenan merias pria dalam game nya dengan asal asalan. Bahkan ia tidak memberikan rambut alias botak.
Syafira yang melihat hal itu menegur Keenan. Ia menyuruh Keenan untuk mendandani dengan benar.
"Mas, jangan kayak gitu. Lihat nih ceweknya cantik masa dapet cowok botak kayak gitu. Ubah pokoknya"
"Apa salahnya sih sayang, kan cinta itu buta. Si cewek bisa menerima cowok nya dalam keadaan apapun kan"
"Tapi.."
'Udah, rubah total dandanannya itu"
Keenan hanya bisa menghela nafas pasrah, ia tidak mau berdebat dengan istri nya yang sedang hamil.
Tiba tiba, Keenan dan Syafira mendengar suara ketukan pintu. Keenan merasa ada yang janggal, tidak ada yang tahu tentang Villa ini. Lalu siapa orang yang mengetuk pintu.
"Siapa Mas?"
"Gak tahu, Mas mau ambil sapu dulu. Takutnya itu penjahat"
"Ikut Mas"
"Jangan, kamu disini saja"
Syafira mengangguk, Keenan segera mengambil sapu dan bersiap membukakan pintu. Dalam hitungan ketiga ia membuka pintu nya lalu memukul orang itu dengan sapu nya.
"Wadaw pak, sakit nih badan saya"
Keenan seperti mengenal suara itu, ia membalikan tubuh orang itu yang ternyata adalah Bagas. Bagas berdiri dengan badan yang terasa remuk semua. Sementara pelaku yang memukulnya hanya bisa menggaruk kepalanya.
"Bapak ini sungguh kejam sama saya, niat saya kesini baik padahal"
"Ya lagian kamu mempunyai tampang seperti penjahat"
Bagas hanya memutar bola matanya. Mungkin karyawan lain tidak akan berani menunjukkan kekesalannya pada Bos mereka. Lain hal nya dengan Bagas. Bagas menunjukkannya secara terang terangan.
"Oh iya ada perlu apa kamu kesini?"
"Kedatangan Saya kesini untuk menjemput bapak. Ada klien penting yang ingin bertemu dengan bapak. Ia memaksa untuk bisa bertemu bapak"
"Siapa namanya?"
"Fernando Klein Anggara"
"Kalau begitu saya siap siap dulu, tunggu sebentar"
Bagas mengangguk, sungguh bos nya ini tidak peka sekali. Seharusnya disuruh masuk dulu kek atau ditawari minum, ini malah disuruh berdiri di luar. Bos tak ada akhlak emang.
Keenan kembali ke dalam dan menemui Syafira.
__ADS_1
"Sayang"
Syafira menoleh dan mendapati wajah suaminya yang murung. Syafira mengusap wajah Keenan dengan tangannya. Ia membelainya dengan lembut. "Ada apa Mas?"
Keenan menarik syafira agar semakin dekat dengannya, lalu ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Syafira. "Aku harus pergi ke kantor, tapi aku tidak bisa meninggalkanmu disini sendirian. Kamu mau ikut atau tetap disini?"
helaan nafas keluar dari mulut Syafira. "Mas tidak perlu khawatir, aku disini saja. Aku masih ingin menikmati pemandangan dan udara segar disini"
"Kamu yakin? Aku takut terjadi sesuatu sama kamu kalau aku tinggal sendirian"
"Emmm gimana kalau aku ajak Abang buat kesini. Lumayan kan ada yang jagain aku juga"
"Oh iya benar juga. Kalau begitu cepat hubungi abang kamu. Aku mau siap siap dulu okay"
"Okay"
Syafira mengirim pesan melalui whatsapp pada Alvin. Ia juga mengirim alamat dan lokasi nya. Alvin membalasnya dengan cepat, ia mengatakan akan segera berangkat.
Syafira menyimpan handphone nya lalu pergi untuk membantu suaminya bersiap siap. Sebenarnya ia tidak ingin Keenan pergi tapi mau bagaimana lagi. Kantor lebih membutuhkannya dari pada Syafira.
"Sayang, dasi aku dimana?" Keenan mengancingkan kemeja nya sambil melihat ke arah cermin.
"Bentar aku ambilin dulu" Syafira pergi mengambil Dasi Keenan yang tergetak di sofa. Ia lalu memakaikannya pada Keenan.
Sambil menunggu kedatangan Alvin, Keenan dan Syafira duduk santai di sofa. Keenan melupakan kalau ada seseorang yang menunggunya di luar.
Bagas menggerutu di luar, ia terus berdiri selama lima belas menit tapi Keenan tak kunjung keluar. Sebenarnya apa yang dilakukan bos nya itu hingga begitu lama. Akhirnya Bagas mengetuk pintu agar Keenan sadar tentang dirinya.
"Ada yang ngetuk pintu lagi Mas" ucap Syafira.
"Oh iya Mas lupa, Bagas sedang ada di luar. Mas lupa menyuruhnya untuk masuk"
Keenan langsung berlari ke depan dan menemui Bagas yang dari tadi merasa pegal karena terus berdiri. "Bagas, saya lupa menyuruhmu masuk. Ayo masuk dulu, saya masih menunggu kakak ipar saya"
"Dari tadi kek"
"Kamu mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada pak"
Keenan mengangguk lalu masuk ke dalam. Sedangkan Bagas bernafas lega karena Keenan tak mendengar gerutuannya.
Bagas masuk ke dalam dan dipersilahkan untuk duduk di sofa. Bagas menyapa Syafira dengan sopan. "Selamat pagi Bu"
Syafira tersenyum tipis seraya menjawab "Pagi juga pak Bagas" Syafira bingung harus memanggil apa jadi ia memanggil Bagas dengan sebutan pak.
Beberapa menit mereka hanya diam, akhirnya yang ditunggu telah tiba. Alvin langsung masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia yakin Adik ipar nya tidak akan berani mengomelinya.
"Sasa"
"Abang udah nyampe"
Alvin mengangguk. Keenan berdiri lalu menepuk bahu Alvin. "Tolong jagain istri gue, jangan sampe dia kenapa napa."
"Santuy"
"Bagas, ayo kita berangkat"
"Baik pak"
Sebelum berangkat Keenan melakukan ritual nya seperti biasa, yaitu mencium semua wajah Syafira. Bagas dan Alvin saling bertatapan dan mengangkat bahu mereka dengan acuh.
"Mas berangkat dulu, kalau ada apa apa langsung hubungi Mas. Kalau abangmu nakal jambak aja langsung"
"Adek ipar kagak tahu diuntung lo. Gue jauh jauh datang kesini buat jadi bahan jambakan"
"Baperan amat sih lo, pantesan gak laku laku"
Alvin menggeplak kepala Keenan dengan kurang ajarnya. Keenan pura pura kesakitan lalu mengadu pada Syafira seperti anak kecil. "Sayang, lihatlah. Abangmu melakukan kekerasan terhadap suami tampanmu ini"
Bagas yang melihat adegan itu seketika merasa geli sendiri. Ia tidak menyangka wajah Keenan yang selalu datar di depan karyawan kali ini seperti anak kecil yang sedang merengek kepada ibunya.
"Sudah sudah, Mas itu sama saja seperti abang. Sama sama gesrek"
Seketika Bagas tertawa lepas, tak mempedulikan tatapan horor dari Keenan dan Alvin. Bagas terus saja tertawa membuat Keenan semakin kesal saja.
"Sekarang Mas berangkat aja dulu, kasian pak Bagas. Nanti dia bisa gila karena tertawa terus"
Kali ini Keenan dan Alvin yang menertawakan Bagas. Sungguh di antara ketiga nya hanya Syafira yang paling waras.
"Ya sudah Mas berangkat"
Bagas dan Keenan segera pergi ke kantor. Dan kini hanya tersisa Syafira dan Alvin.
Tak ada yang tahu bagaimana nasib seseorang di masa depan
Kalau sekarang ia miskin di masa depan ia bisa menjadi kaya.
Dari yang awalnya jelek berubah menjadi cantik/ganteng
__ADS_1
Semua nya butuh proses, sama hal nya dengan kupu kupu yang dari awal adalah ulat kecil lambat laun akhirnya berubah menjadi kupu kupu.
yang perlu kamu lakukan adalah mensyukuri apa yang kamu punya.