Bukan Janda

Bukan Janda
Mengikhlaskanmu


__ADS_3

Hari ini tepat 7 hari semenjak Azka dan Azkia lahir. Apartemen Keenan hari ini penuh dengan hiasan. Keenan akan mengakikahkan kedua putra putrinya dengan bimbingan Ayah dan Seorang ustadz.


Semua keluarga sudah hadir di Apartemen Keenan, termasuk para sahabat sahabatnya. Azka dan Azkia diletakkan di box bayi. Saat pemotongan kambing, Keenan meminta izin untuk ikut memotongnya.


Akhirnya Keenan ikut andil dalam pemotongan kambing. Sebelum mereka menyembelih kambingnya, Keenan terlebih dulu membacakan doa. " Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin."


Artinya : “Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad"


Baru setelah itu ia mulai memotong kambingnya dengan perlahan. Setelah memotong satu kambing Keenan berpindah untuk memotong kambing lainnya.


Seorang ustadz datang mendekati Azka dan Azkia. Lalu membacakan doa untuk mereka yang sedang diakikahkan.  " "U'iidzuka bi kalimaatillaahit tammaati min kulli syaithooni wa haammah. Wa min kulli 'ainin laammah."


Artinya : "Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang prima, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang penuh kebencian."


"Amiiin" Syafira dan yang lainnya ikut mengaminkan doa tersebut.


Proses demi proses telah mereka lakukan, bahkan pencukuran rambut sebagai salah satu sunnah aqiqah telah mereka lakukan. Azka dan Azkia dicukur rambutnya dengan merata.


"Pak, tolong potongkan kambing kambingnya ya. Setelah itu serahkan pada wanita yang ada disana, biar mereka yang memasaknya" ucap Wina pada seorang tukang potong daging.


"Baik bu"


Keenan mencuci tangannya yang habis memotong kambing, lalu ia berjalan menghampiri Syafira di dekat box bayi mereka. Keenan memeluk Syafira dari belakang. "Gimana perasaan kamu hari ini?"


Syafira menoleh sebentar lalu kembali menatap si kembar. "Aku sangat terharu Mas, ini pertama kalinya buat aku. Seandainya Keysa masih hidup..."


Keenan segera membungkam mulut Syafira dengan bibirnya, hanya satu detik saja. Karena setelah itu Keenan membawanya ke dalam pelukan hangatnya.


"Tolong jangan katakan apapun yang membuatmu semakin sedih, kamu tahu kan? Keysa ada di dekat kita. Dia pasti tidak suka melihatmu sedih seperti itu"


"Aku sudah berusaha untuk tidak pernah memikirkannya Mas, tapi tidak bisa. Setiap aku mencoba untuk tidak mengingarnya aku selalu teringat ketika sedang hamil Keysa"


Angin bertiup dengan kencang, daun daun di sekitar Apartemen Keenan banyak yang jatuh karena terpaan angin. Dan tepat pada saat itu juga box bayi yang ditempati Azka dan Azkia bergoyang.


"Keenan, Box nya bergerak. Cepat ambil Azka dan Azkia. Mereka bisa jatuh" ucap Mahendra yang melihat kejadian itu.


Keenan mengangguk, ia mengangkat Azka dalam gendongannya, sedangkan Azkia digendong Mahendra. Nafas Syafira tercekat, lagi lagi ia merasakan hal itu. Ini bukan pertama kali baginya.


Tubuh Syafira lunglai ke tanah, ia sudah tak dapat menahannya lagi. "Keysa...Maafin bunda Nak. Kamu ada dimana keysa...."


Air mata Syafira mengalir dengan cepat. Keenan menjadi tak tega dengan keadaan istrinya. Tio, Wina, Mela, dan Mahendra menatapnya dengan bingung. Kenapa Syafira bisa berbicara seolah olah ada Keysa disini.


"Keysa Ada disini pa" ucap Keenan.


"Maksud kamu?"


"Keysa memang sudah meninggal, tapi arwahnya masih ada disini. Dia bersama kita saat ini. Dan Syafira sudah merasakannya. Keenan juga awalnya percaya tidak percaya. Tapi lama kelamaan semakin Keenan tidak percaya semakin gencar Keysa menunjukkan dirinya" jawab Keenan dengan panjang lebar.


Wina menatap putrinya dengan tatapan kasihan. Ia berjongkok si samping Syafira. "Sayang, kamu kenapa?"


Syafira mendongak menatap Wina, saat itu juga ia melihat Keysa kecil tersenyum padanya dan melambaikan tangannya. "Keysa...Tunggu Bunda" Syafira berdiri dan berniat mengejar Keysa yang ternyata hanya ilusi nya saja.


Sebelum berhasil mengejarnya, Syafira sudah pingsan. Mela dan Wina bergeriak histeris. Keenan menitipkan Azka dan Wina.


"Kalian disini saja"


"Pa, Keenan minta tolong. Tolong lanjutkan acara ini walau tanpa Keenan dan Syafira. Nanti untuk pembagian daging kambingnya tolong serahkan pada teman temanku. Aku sudah membicarakannya dengan mereka" ucap Keenan.


Mahendra mengangguk. Ia menepuk bahu Keenan. "Pergilah, semuanya biar papa yang urus. Kamu jangan khawatirkan Azka dan Azkia. Ada kami disini."


"Tolong jaga dia Nak Keenan, Syafira saat ini sedang membutuhkan dukunganmu" ucap Wina.


"Iya bu, Keenan masuk dulu"


"Iya"


Keenan membopong tubuh Syafira ke dalam kamarnya, ia mendorong pintu dengan kakinya lalu menutupnya kembali. Dengan pelan pelan Keenan menidurkan Syafira.


Keenan duduk di sampingnya, ia menggenggam tangan Syafira. Ia juga mengurai rambut Syafira yang menutupi wajahnya. "Kalau kehadiran Keysa bisa membuatmu drop? Lebih baik Keysa tidak hadir. Bukan maksudku tidak merindukannya, tapi seharusnya dia tidak disini. Keysa harus kembali ke alamnya. Alam kita dan dia sudah beda"


Keysa kecil berada tepat di samping Keenan, ia mengerti dengan perkataan Keenan. Keysa menatap Syafira dengan lama. Seakan tak rela untuk meninggalkannya.


Keenan mengusap usap tangan Syafira dan mengecupnya. Bukan hanya Syafira yang sedih  tentang Keysa, Keenan juga. Tapi Keenan lebih tepatnya merasa bersalah.


"Keysa? Kalau kamu ada disini. Apa papa boleh minta satu hal?" tanya nya hampir tanpa mengeluarkan suara. Tapi meskipun begitu Keysa tetap bisa mendengarnya.


"Papa mau minta apa?" jawab Keysa kecil.


"Kembali lah ke alam Mu nak, tempatmu bukan disini. Papa tidak bermaksud untuk menyuruhmu pergi, tapi kita sudah beda alam sayang. Kamu lihat Bundamu, dia sampai histeris jatuh pingsan hanya karena dia merasakan kamu ada disini" jawab Keenan. Entah kenapa ia merasa terhubung dengan Keysa.

__ADS_1


Keysa menunduk dalam dalam, ia menggigit bibirnya sendiri. Tangan mungilnya ingin menggapai Keenan dan memeluknya. Kali ini ia mencobanya dengan sekuat tenaga.


Greppp


Keysa tak percaya, dirinya bisa memeluk Keenan seperti ini. Mungkin tuhan mengizinkannya sebagai bentuk perpisahan saja. Sedangkan Keenan ia merasa kaku, tubuhnya tak dapat digerakkan. Hanya mata yang bisa ia gerakkan.


"Keysa..Apa ini kamu?"


Keysa mengangguk dalam pelukan Keenan, ia menumpahkan tangisannya dalam pelukan Keenan. Seharusnya saat ini ia bahagia bersama keluarganya. Tapi..ah tidak Keysa tidak boleh menyalahkan takdir tuhan. Memang ini yang seharusnya terjadi padanya.


"Iya papa" jawabnya dengan lirih.


Keenan mencoba menggerakkan tangannya dan membalas pelukan Keysa. Walaupun hanya sebatas udara, tapi Keenan yakin Keysa sedang memeluknya saat ini.


"Papa sama Bunda sangat menyanyangimu Nak, tapi tuhan lebih sayang sama kamu. Kamu harus kembali ke alammu sayang."


"Hikss hikss papa jahat, padahal Keysa enggak ganggu sama sekali" tangis Keysa sesenggukan. Hati kecil Keenan teriris. Seandainya waktu dapat diputar ulang, ia pasti tidak akan berbuat ceroboh dan kehilajgan Keysa.


"Maafin Papa, Kamu sayang sama bunda kan?"


Keysa mengangguk. "Pergilah Nak dengan tenang, Papa dan Bunda akan selalu mendoakanmu dari sini"


"Keysa ingin punya teman? Disana Keysa tidak punya teman"


Keenan terdiam sebentar, mencoba menghapus air matanya sendiri. "Siapa bilang Keysa tidak punya teman? Disana kan banyak bidadari cantik yang mau menjadi teman Keysa. Jadi Keysa kembali ya? Papa yakin suatu saat kita akan bersama disana selamanya asalkan Keysa mau kembali"


"Iya papa"


"Anak pintar"


"Boleh Keysa peluk Bunda? Untuk yang terakhir kalinya" ucap Keysa lagi. Keenan mengiyakan.


Keysa berjalan mendekat pada Syafira yang masih memejamkan matanya. Ia mencium kening sang bunda dengan Khidmat kemudian memeluknya.


"Jangan sedih lagi Bunda...Jangan mikirin Keysa terus.. Keysa harus pergi bunda. Keysa sayang papa, bunda dan dedek Azka dan Azkia"


Lalu Keysa menjauh dari Keenan dan Syafira. Ia mengamati keduanya dari kejauhan. "Selamat tinggal Papa, Bunda. Keysa sayang kalian"


Tepat saat Keysa pergi, Syafira tersadar dari pingsannya. Syafira berusaha untuk bangun, dan Keenan membantunya. "Kamu sudah sadar?"


"Iya" jawab Syafira dengan gurat kesedihan yang terlihat di matanya.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?"


"Ada apa hmm? Cerita sama Mas" ucap Keenan berusaha menghibur Syafira.


"Aku sudah mendengar semuanya" jawab Syafira.


"Apa?"


"Perbincangan Mas dengan Keysa, alam bawah sadarku membuatku bisa mendengar dan melihat keberadaan Syafira yang memeluk Mas dan memelukku" jawabnya.


Keenan tidak terkejut, karena ia sudah menduga Syafira pasti merasakannya. Karena Syafira memang yang lebih peka dari pada dirinya sendiri. "Dia sudah pergi" jawab Keenan.


Keenan melepas pelukannya lalu menatap kedua bola mata Syafira dengan dalam. "Kamu mau tau kenapa dia bisa ada disini?"


Syafira mengangguk. "Karena kamu masih belum mengikhlaskan dia, hati kecilmu masih belum menerima kepergian dia. Itu sebab nya Keysa ada disini."


"Maafkan aku Mas, mulai sekarang aku akan mengikhlaskan dia" jawab Syafira.


"Kapan kapan kita ziarah ke makam Keysa ya."


Syafira mengangguk. Lalu ia teringat dengan Azka dan Azkia. "Baby Z kemana? Apa acaranya masih belum selesai?"


"Hampir, semua temanku sedang membagi bagikan kambing untuk anak yatim, orang miskin dan tuna netra. Sedangkan Mama papa kita lagi menemani Azka dan Azkia di luar"


"Aku mau keluar lagi Mas? Tidak enak kalau aku di kamar terus."


"Apa kondisimu tidak apa apa?"


"Tidak, aku baik baik saja"


Keenan mengangguk. "Kalau begitu, ayo kita keluar"


____________________________________________


"Ma, jangan melakukan pekerjaan yang berat. Ingat Ma, mama lagi hamil" peringat Mahendra ketika Mela akan mengangkat rantang makanan.


Mela mendengus kesal, karena setiap kali ia melakukan sesuatu, ada saja kata kata yang keluar dari mulut suaminya itu. Memang di usia 52 Mela harus berusaha menjaga kesehatan dan kehamilannya. Karena di dalam perutnya ada Si Bungsu yang masih belum keluar.

__ADS_1


"Papa gak usah lebai deh, Mama cuma ngangkat rantang makanan gak bikin capek atau lelah kok" jawabnya.


"Sebaiknya turuti saja ucapan suamimu Jeng, jangan seperti ini" ucap Wina membela Mahendra.


"Iya, apalagi umur kehamilanmu masih muda, di umur segitu masih rentan untuk kehilangan bayi" tambah Tio.


"Tuh Ma dengerin apa kata besan kita" ucap Mahendra mengompori.


"Ck, iya iya Mama taruh lagi nih" ucapan Mela berhasil membuat Mahendra tersenyum puas. Ia mengangkat jari jempolnya untuk Tio dan Wina.


Syafira datang bersama Keenan yang ada di sampingnya. Perhatiannya hanya tertuju pada kedua sang buah hati. Astaghfirullah, ia belum sempat memberi mereka Asi.


"Ibu" panggilnya.


Wina dan yang lainnya menoleh pada Syafira. "Kami sudah sadar sayang?" tanya Wina.


"Iya"


"Apa kamu sudah tidak apa apa nak?" Tanya Mahendra lagi.


"Aku tidak apa apa, hanya sedikit syok saja pa"


"Bu, tolong bawa Azka dan Azkia ke dalam sebentar. Syafira mau menyusuinya, kasihan mereka. Sepertinya dari tadi kehausan karena belum mendapat asi dari Syafira.


"Baiklah, ayo kita bawa azka ke dalam" ucap Wina pada suaminya Tio. Tio mengangguk lalu berjalan bersama Wina dan Syafira ke dalam.


"Jadi? Ceritakan semuanya sama Mama dan papa. Bagaimana bisa Keysa ada disini?" ucap Mahendra yang langsung diangguki oleh Mela juga.


"Ceritanya panjang pa, yang pasti Syafira masih belum mengikhlaskan kepergian dia, sampai dia harus terjebak disini" jawab Keenan.


"Apa kamu juga sering merasakan dia ada disini?" tanya Mela.


Keenan mengangguk. Sedangkan Mela dan Mahendra saling bertatapan. "Sudah jangan sedih, haruanya hari ini kamu bersyukur. Kamu punya dua anak kembar ditambah lagi adik baru yang ada di dalam kandungan Mama mu" ucap Mahendra.


"Di usia Keenan yang hampir kepala tiga, Keenan bakal punya adik. Apa kata orang nanti? Harusnya ia pantasnya menjadi anak Keenan bukan Adik." Jawab Keenan frustasi.


"Peduli amat sama kata orang. Yang ngejalani kan Mama sama papa." Jawab Mela.


"Lagian kenapa bisa kejebolan sih?" tanya Keenan dengan gemas.


"Tanya aja tuh sama papa" jawab Mela sambil melirik Mahendra dengan ekor matanya. Sedangkan Mahendra yang ditatap hanya menyengir tak berdosa. Ia tak merasa salah sedikit pun. Malah Mahendra bangga karena berhasil mencetak gol di umurnya yang begitu tua.


"Sudah lah Ma, Papa bersyukur kalau di rahim mama sudah tumbuh Keenan versi junior. Itu tanda nya papa masih sehat dan bugar. Dalam sekali menendang langsung jadi baby nya"


Keenan menggelengkan kepalanya. "Nanti kalau Adik Keenan lahir, Dia pantesnya manggil kalian kakek sama nenek. Bukan mama papa" ucap Keenan sebelum pergi meninggalkan keduanya.


Mela mengangkat bahu nya acuh tak acuh. Ia tak mempedulikan apapun selain anak yang ada di dalam kandungannya. Dan suami nya yang berubah menjadi over possesive


Dari arah lain, Reno beserta empat sahabatnya yang lain datang menghampiri Mahendra dan Mela. "Om, semua daging kambingnya sudah selesai kami bagikan"


Mahendra tersenyum puas. "Dimasaknya jadi apa?"


"Sup kambing om, dan sebagian lagi disate" jawab Farhan.


Mahendra mengangguk, lalu kemudian ia teringat sesuatu. Mahendra mengeluarkan handphone dari dalam saku nya. Dan mengetikan kata kunci ke dalam website nya.


"Om mau nanya, apa ini beneran kalian?" Mahendra menunjukkan handphone nya dimana dalam layarnya terdapat foto anak anak Lavenzi dengan truk popoknya. Beserta suara merdu dari Reno.


"Iya, itu memang kita om. Kenapa om punya gambar kita?" Tanya Reno bingung. Pasalnya semua anggota Lavenzi belum tahu mengenai aksi mereka yang sempat viral.


"Bagaimana om tidak tahu, gambar dan video kalian ada di berbagai sosial media. Kalian sempat viral dan trending 1 di youtube" jawab Mahendra sambil tertawa.


"Benarkah? pantes aja followers instagram gue semakin naik" ucap Kevan sambil memeriksa pponselnya. Dari yang 500RB follower menkadi 2 juta followers. Ternyata itu penyebabnya.


"Lo berapa Ren? Pasti lo lebih banyak dari gue. Soalnya kan kemarin lo yang nyanyi" tanya Kevan?"


Dito dan Farhan setuju dengan pertanyaan Kevan tadi. "Ah gak banyak kok cuma sepuluh juta aja" jawab Reno dengan enteng.


"Cuma? Sepuluh juta?" cengo yang lainnya.


"Iyalah, 5 juta nya gue difollow sama fans isabella, pacar gue. Dan 5 juta nya lagi mungkin dari video gue yang viral itu" jawab Reno lagi.


"Om Bangga sama kalian, karena kalian selalu melakukan perbuatan baik dengan membagi bagikan sesuatu untuk orang lain. Walaupun itu hanya popok tapi itu bisa sangat bermanfaat bagi yang membutuhlan" ucap Mahendra.


"Tante juga Bangga sama kalian. Saran tante, kalian buat konten aja di youtube, bisa dapat penghasilan kan. Dan penghasilannya itu bisa kalian sumbangkan di panti asuhan atau di tempat pembangunan masjid." Mela yang sedari tadi diam ikut menyambung pembicaraan mereka.


"Nah, iya. Ide tante kalian benar juga. Kalian bisa menerapkan itu" tambah Mahendra.


"Iya juga ya? Secara kan kita sudah sedikit terkenal jadi tidak susah untuk mendapat subscriber" sahut Dito.

__ADS_1


"Terima kasih om, tante atas sarannya. Kami pasti akan melakukan yang terbaik"


Mahendra mengangguk, begitu pun dengan Mela. Lalu Reno dan yang lainnya berpamitan untuk pulang karena acaranya sudah selesai.


__ADS_2