Bukan Janda

Bukan Janda
BONUS CHAPTER 5


__ADS_3

Subuh subuh sekali Riya sudah bangun dari tidurnya. Ia mengangkat tubuhnya dan segera turun dari ranjang. Beruntung bagian bawahnya tidak terlalu perih, karena ia sudah lama tidak melakukannya.


Riya melihat ke arah Deno yang masih tertidur pulas. Bajunya berserakan ada di lantai. Saat melihat dalaman Deno, Riya merasa malu. Ia memungut pakaiannya dan pakaian Deno lalu meletakkan di keranjang pakaian kotor.


Mereka masih berada di rumah Satrio dan Sofi. Jadi mereka belum pindah. Rencananya Deno akan mengajak Riya pindah hari ini, setelah berpamitan dengan keluarganya. Riya membangunkan Deno untuk melakukan shalat subuh.


"Mas Bangun, sudah subuh. Kita shalat berjamaah yuk" Riya menggoyangkan tubuh Deno dengan pelan. "Hmm 5 menit lagi aku masih ngantuk" jawab Deno. Riya menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, aku mau mandi besar dulu. Nanti habis itu kamu" Deno mengangguk dengan cepat. Ia masih setia memeluk gulingnya. Riya menghela nafasnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Riya melakukan mandi besar karena ia habis melakukan malam pertama dengan suaminya. Riya membaca doa nya terlebih dahulu sebelum mulai mandi. Riya melihat bercak bercak merah di sekitar dadanya.


Dan itu adalah hasil karya Deno semalam, bahkan Deno sempat membuat susu Vanila lalu menumpahkan di bagian dadanya. Deno bilang biar makin manis.


Lima belas menit kemudian, Riya baru saja selesai mandi. Ia mengikatkan handuknya di tubuhnya. Deno masih belum bangun juga. "Mas Bangun, aku udah mandi sekarang kamu yang mandi sana"


"10 menit lagi ya yang, masih ngantuk nih gara gara gempur kamu semalam" Riya menatap kesal suaminya yang pemalas ini. Ia menarik guling dari pelukan Deno dan memukulkannya.


"Bangun cepetan, bentar lagi waktu subuh habis." Deno segera bangun, ia sudah tak bisa tidur lagi gara gara omelan Riya. Deno mengucek matanya pelan sambil menguap. "Kamu ngapain cuma pake handuk segala? Mau main lagi?"


Riya menatap dirinya sendiri. "Enak aja, aku habis mandi. Sana, kamu mandi dulu. Mandi besar lho ya" "iya iya" Deno segera turun dari ranjang dan membuang selimutnya begitu saja.


"MASSSSS KENAPA GAK DITUTUPIN SIH" Riya mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak melihat Deno yang sedang full nak*d. Deno terkekeh mendengar teriakan istrinya. "Gak usah malu malu kucing, semalam siapa coba yang ngelepasin baju aku dengan kasar. Sampe kancing dan resleting celanaku rusak" Deno menggoda Riya secara terus menerus.


"Udah ish sana mandi, habis itu imamin aku shalat". Deno tersenyum lalu ia mengambil handuk miliknya sendiri dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Riya mengelus dadanya dengan sabar. "Gini nih kalau punya suami brondong"


Tiba tiba Deno menyembulkan kepalanya dari pintu kamar mandi. "Awas itu nya tumpah tumpah" ucap Deno sambio menunjuk ke arah Dada Riya yang tertutup oleh handuk. Deno kembali menutup pintunya. "MASSSS DENOOOOOOO" Deno tertawa terbahak bahak di dalam kamar mandi. Ia sampai memegang perutnya.


.


.


"Pa di kamar Deno ada suara apa sih? Kok sampe berisik gitu" tanya Sofi yang masih memeluk Satrio di kasurnya. "Paling gara gara kelakuan Deno, Kamu tahu sendiri kan kelakuan Deno kayak gimana"


"Pasti jahilnya kumat lagi deh, emang ya tuh anak istrinya sendiri dijahilin" ucap Sofi. Satrio mengangguk. "Sudah jangan pikirkan mereka, ayo kita tidur lagi" Satrio dan Sofi memejamkan mata kembali.


.


.


"Rangga semenjak nikah udah beda ya, kelihatan agak gemuk gitu. Dulu aja badannya kurus kerempeng kayak ikan asin" Farhan datang dari arah dapur dengan membawa segelas cokelat panas untuk dirinya sendiri.


Hari ini semua anggota Lavenzi berkumpul di rumahnya, karena kebetulan orang tua Farhab pergi ke luar negeri selama satu bulan. Jadi daripada kesepian Farhan mengundang teman temannya untuk datang ke rumahnya.


"Wajarlah kalau Rangga gemuk, kan dia dikasih makan sama istrinya" sahut Dito sambil mencomot kue bolu di atas meja. "Apalagi istrinya juga gak kalah cantik sama bini nya Keenan beuhh surga dunia itu pasti. Makan ada melayani, tidur ada yang mendampingi, sakit ada yang merawat" tambah Reno.


"Dah lah jangan ngomongin Rangga, ntar kuping dia panas lagi gara gara kita omongin"


Farhan menaruh cokelat panasnya di atas meja kemudian ia duduk di samping Reno. "Bosen nih, lo punya ps gak? Kita main ps deh kalau ada?" Tanya Kevan.


"Ps gue disita sama bokap" Jawab Farhan. "Kok bisa?" Tanya yang lain. "Gara gara gue main ps jam 12 malam sambil teriak teriak, habis itu bokap datang dan langsung nyita ps gue. Untung gue udah beli lagi"


"Ambil lah, kita main ps aja" ucap Reno. "Oke bentar, gue siapin semuanya dulu. Lo semua duduk dengan tenang disini." Semuanya mengangguk mendengarkan Farhan.


Setelah Farhan pergi, diam diam Reno meminum cokelat panas Farhan dan menghabiskannya, lalu ia menaruh gelasnya di depan Dito yang sedari tadi masih makan kue bolu.

__ADS_1


Reno tertawa dalam hati. "Sorry Han, gue habisin. Soalnya cokelat lo menyuruh gue untuk meminumnya." Beberapa menit kemudian Farhan telah kembali dengan membawa peralatan ps nya.


Farhan menyambungkannya di Televisinya kemudian mengaturnya. "Udah siap nih, lo semua cepat kesini. Bawa juga tuh cemilan biar makin seru"


"Oke Siap" jawab Dito. Dito juga membawakan gelas milik Farhan yang sudah tidak ada isinya.   Sementara Kevan ia mengangkut semua cemilan seperti kacang, kue bolu dan lainnya. Reno pun turut membantunya.


"Nih gue juga bawain cokelat panas lo" ucap Dito sambil menaruh gelasnya di depan Farhan. Farhan mengangguk. "Thankz". Farhan masih belum menyadari kalau gelasnya kosong karena sedari tadi matanya tertuju pada televisinya.


Ia akan memilih game yang akan dimainkan. Karena merasa haus Farhan mengambil geoas yang ada di depannya dan mengarahkan ke mulutnya untuk meminumnya. "Kok cokelat nya gak mau diminum"


Setelah Farhan cek ternyata gelas itu sudah kosong. Farhan menatap Dito dengan kesal. "To, lo habisin cokelat gue ya?" Tanya nya. Dito menggelengkan kepalanya. "Bukan gue kok Han, sumpah. Gue aja baru tahu kalau cokelatnya udah habis"


Reno menahan tawanya agar ia tidak ketahuan. "Terus siapa yang ngabisin? Gue pites tuh orang kalau sampe ketahuan gue" Kevan yang sedari tadi diam menunjukkan tangan pada Reno.


Gerakan bibirnya menyebut nama Reno. Farhan menoleh ke arah Reno. "Ren, lo ya yang ngabisin cokelat gue?" Tanya Farhan dengan nada biasa. "Gue? Gue gak suka minum cokelat. Mana mungkin gue ngabisin cokelat lo"


Farhan mengangguk. Lalu matanya beralih ke semua teman temannya. "Yang merasa minum cokelat gue, gue kasih 500 ribu sekarang juga".  Semuanya hanya diam, tak ada yang mau mengaku.


Reno mendekat ke arah Farhan. "Sorry Han, gue yang minum cokelat lo tadi" Reno menyengir dengan wajah tak berdosanya. Farhan mengangguk lalu tersenyum.


Tangannya mengambil sesuatu dan memberikan uang 500 ribu buat Reno. "Nih buat lo, 500 ribu gue kasih cuma cuma karena lo udah ngaku"


"Wah thank you bro, lo emang sohib gue yang terbaik. Semoga lo panjang umur, sehat selalu, hidupnya berkah sepanjang masa." Farhan mengangguk.


Sedangkan teman teman yang lainnya hanya menggelengkan kepala melihat dua temannya yang sama sama agak gila itu. Sebenarnya tadi diam diam Farhan mengambil dompet Reno lalu mengambil lima lembar berwarna merah. Lalu baru ia mengumumkan soal itu.


"Lo ikhlas kan Han ngasih nya?" Tanya Reno. "Ikhlas lah, masa gak ikhlas sih" jawab Farhan. "Kan duit nya punya lo" Farhan terkikik geli. Lalu Reno mengambil dompetnya untuo menaruh uang yang baru saja ia dapatkan itu.


Reno terkejut saat ia membuka dompetnya, uangnya sudah hilang. "Loh uang gue mana? Kok gak ada. Perasaan tadi gue cek masih ada lima ratus ribu" heran Reno.


"Maksudnya?" Reno masih belum sadar juga. "Tanya aja noh sama si Farhan". Reno menatap  Farhan dengan seribu pertanyaan di kepalanya.


"Uang yang lo pegang itu punya lo sendiri. Gue ngambilnya dari dompet lo tadi" Reno menatap dompetnya sendiri lalu melihat ke arah uangnya. "Jadi lo ngerjain gue? Pantes aja lo ngomongnya ikhlas, uangnya aja punya gue"


Farhan terkekeh geli. "Udah lah satu sama, Lo ngabisin cokelat gue, gue kerjain lo. Masih untuk gak gue habisin juga uang lo" Reno hanya mendengus kesal.


"Ini dari tadi cuma ngobrol doang? Kapan mainnya"


"Iya Ren kapan mainnya kalau gitu" Farhan juga ikut ikutan menimpali mereka. "Lah kenapa gue kan yang punya ps lo, yang ngatur juga lo. Dan yang milih game nya juga lo dan yang..."


"Yang bacot mah Lo Ren" timpal Kevan dengan gemas. Sedari tadi mereka hanya membahas hal yang tidak penting makanya jadi tertunda. "Ya udah yok kita mulai mainnya. Gantian aja, gue sama Reno, Dito sama Farhan. Yang lainnya menyusul ya?"


"Sip lah, yang penting ada makanan" Farhan mengendikkan bahu lalu mereka mulai bermain. Farhan dan Reno lebih memilih main game yang lagi viral di Ps teman temannya. Yaitu game yang saling adu kekuatan.


"Gue pilih yang shadow, lo Petrick aja" ucap Farhan yang langsung diangguki Reno. Reno dan Farhan terlihat serius dalam memainkan game itu.


"Rasain lo, gue tendang kepala lo." Ucap Reno pada Farhan. Farhan tidak mau kalah ia menendang bagian perutnya hingga milik Reno jatuh tersungkur. "Bwahaha lemah banget deh lo, baru aja ditendang perutnya langsung jatuh. Gue yang ditendang kepalanya masih utuh tuh. "


"Kampr*t lo, nih rasain balasan gue." Reno berusaha menendang alat vital tokoh game yang dimainkan Farhan tapi tidak bisa. Selalu saja kena ke perutnya. "Van, kek nya game nya error deh" ucapnya pada Kevan.


"Error kenapa?" Tanya Kevan dan Dito bersamaan. "Gue mau nendang t***d nya Farhan gak bisa bisa, padahal gue pengen banget nendangnya biar cepet menang"


Farhan hanya menatap Reno dengan polosnya. "Kenapa gak lo tendang aja yang asli, yang asli jauh lebih enak daripada yang palsu" sarannya.


"Emangnya lo mau gue nendang yang asli?"

__ADS_1


Farhan mengangguk lalu fokus kembali pada gamenya.


"Lo gak nyesel kan Han?" Farhan menggeleng. "Nggak lah buat apa nyes......


"RENOOOOOOOOOOOOOOOOO" Farhan menjatuhkan stik ps nya begitu saja dan memegang t***d nya yang baru saja ditendang oleh Reno. Reno tertawa dengan pelan. "Lo sendiri yang minta jangan salahin gue" dan aknirnya Reno bisa menang juga. Ternyata tendangannya sangat ampuh di dunia nyata.


"Lo berdua ikut gue ke KUA yokk" ucap Dito dengan ekspresinya yang terlihat kesal. "Mau ngapain?" Tanya Farhan sambil memegang anu nya yang baru saja di tendang. MAU NIKAHIN LO BERDUA"


"Wah mau dong dinikahin? Lumayan nikah gratis" ucap Reno sambil berbinar bahagia. Dito menatap mereka pasrah. Lalu melirik Kevan. "Teman Lo Van, gak ada yang waras"


"Jangan sembarangan ngomong lo, mereka tuh bukan teman gue". "Terus kalau bukan teman siapa?"  Kevan melirik ke arah mereka berdua secara bergantian. "Peliharaan gue"


"TEGA KAU VAN, LO GAK KASIAN APA SAMA GUE. NIH T***D GUE MASIH SAKIT GARA GARA RENO ITU. SETIDAKNYA LO OBATIN KEK ATAU APA KEK?"


"Lo mau gue obatin? Oke tunggu bentar. Gue pinjam dapur lo dulu"


"Jangan lama lama Van, nanti gue kangen sama lo" Kevan tak mempedulikan ucapan Farhan. "Bisa gila gue kalau temenan sama mereka" batin Dito.


Reno menatap Farhan dengan kasian. Ia merasa bersalah karena telah menendang asetnya yang paling berharga. "Sakit banget ya Han?"


"Iyalah, bego aja lo kalau gak tahu sakitnya gimana."


"Gue tambahin ya biar cepat sembuh" Farhan mendelik pada Reno. "Gak usah, mending gue nunggu Kevan aja. Dia benar benar peduli sama gue"


Lalu Kevan keluar dari dapur Farhan dengan membawa golok. "Van katanya lo mau ngobatin gue? Mana obatnya. Kok lo malah ngambil golok sih?"


"Iya, gue mau ngobatin lo dengan cara motong t***d lo biar lo gak sakit. Pintar kan gue? Sini lo biar gue potong kecil kecil lalu gue kasih ke a****g tetangga milik gue"


Kevan mendekat ke arah Farhan dengan menyengir sambil mengelus goloknya. Farhan meneguk ludah, ia tidak mau asetnya dipotong. Lebih baik ia kabur kabur saja. Farhan dengan cepat berdiri dan segera berlari tapi sayangnya kakinya malah kesandung pada kaki Reno. Alhasil Farhan terjatuh dengan mengenaskan.


Farhan pingsan. "Yah pake pura pura singsan segala lo Han. Gak asih ah" Kevan menaruh goloknya kembali. Lalu mereka melanjutkan bermain Ps tanpa tahu kalau Farhan pingsan beneran. Anggota Lavenzi yang lain pun hanya sibuk memakan cemilan dari pada menonton aksi gila mereka.


.


.


"Nah ini rumah kita"


Deno dan Riya masuk ke dalam rumah  minimalis yang agak jauh dari perkotaan. Suasananya sangat adem dan asri karena jauh dari hiruk pikuk keramaian. Deno menyeret kopernya dan koper milik Riya.


"Gimana kamu suka enggak? Aku cuma bisa beli rumah yang seperti ini. Gak terlalu mewah sih tapi cukup nyaman untuk jadi tempat tinggal kita"


"Tidak apa apa Mas, lagian rumah ini lebih bagus daripada rumahku yang dulu." Riya melihat lihat ke semua ruangan. Di depannya ada ruang tamu dengan dua sofa, lalu di ruangan lain, juga terdapat ruang keluarga yang dilengkapi dengan meja dan Televisi.


Riya membuka tirai jendela dan melihat ke luar. Ada sebuah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga. Riya tersenyum melihatnya, ia sangat menyukai bunga.


Deno berjalan menghampiri Riya dab memeluknya dari belakang. Deno menaruh dagunya di bahu Riya sambip mengeratkan pelukannya. "Aku sendiri yang menyiapkan taman bunga itu untuk kamu"


"Kamu menanamnya sendiri?" Tanya Riya sambil menolehkan kepalanya. Deno mengangguk. "Tapi aku tidak sendirian, ada seseorang yang mengajariku" jawab Deno.


Riya mengangguk.


"Rumah ini sangat cocok untuk kita berdua Mas, aku suka." Deno melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuh Riya dab menatapnya instens. Kemudian ia mengambil kedua tangan Riya dan memegangnya. Riya dan Deno saling bertatapan.


"Di rumah ini, kita akan memulai hidup yang baru. Kita akan membangun rumah tangga bersama sama. Jika suatu saat rumah tangga kita ada masalah kita harus bisa menyelesaikannya dengan baik. Jangan sampai ada perceraian. Kita pasti bisa, asalkan kita mau mempertahannya"

__ADS_1


Riya mengangguk lalu ia memeluk Deno dengan erat. Deno membalas pelukan Riya. Ia mencium puncak kepala Riya. "Tuhan, berikanlah kebahagiaan pada kami"


__ADS_2