
Dua minggu sudah terlewati begitu saja, Keenan akhirnya sudah bisa pulang dari rumah sakit. Luka di perutnya benar benar telah mengering. Keenan mulai bekerja kembali di kantornya.
Keenan mengecek berkas berkas hasil pemeriksaan hotel hotel di beberapa negaranya. Semuanya aman terkendali, ini semua berkat kerja kerasnya.
Dari tadi Keenan merasa seperti ada yang melihatnya, ia megangkat wajahnya dan mata nya bertatapan dengan mata milik Alesha.
"Jaga pandanganmu Alesha, saya tahu kamu melihat saya. Setiap kamu memandang saya maka akan saya potong gaji kamu"
Alesha yang terciduk menatap Keenan segera pergi. Ia merasa heran, rumornya Keenan itu sangat baik dan humoris. Tapi kenapa yang ada di hadapannya sangat begitu dingin. Sepertinya Alesha harus bekerja keras untuk menaklukannya.
Keenan menghela nafasnya lalu mengambil telefon kantor dan menekan beberapa nomor. "Cepat ke ruangan saya sekarang"
Beberapa menit kemudian orang yang di telfon Keenan datang. Ia izin masuk ke dalam ruangannya degan sopan.
"Ada apa pak?"
"Tolong pindahkan meja kerja Alesha ke dalam ruangan yang lain. Saya tidak ingin melihat dia seruangan dengan saya"
"Tapi kenapa pak? Apa ada masalah?" Bagas memberanikan diri untuk bertanya.
"Satu jawaban lima ratus ribu, jadi jika kamu ingin mendapat jawabannya siap siap gajimu saya potong lima ratus ribu"
"J..ja..jangan pak, baiklah kalau begitu saya akan melaksanan tugas dari bapak"
"Ya"
Bagas segera keluar dari ruangan Keenan, berhadapan dengan Keenan membuatnya tak karuan. Bagas mencari office boy lalu memerintahnya untuk memindahkan meja kerja Alesha. Sedangkan ia mencari keberadaan Alesha.
Bagas menemukan Alesha sedang ngobrop dengan karyawan lain. "Nona Alesha" panggilnya.
Alesha menoleh pada Bagas dengan tersenyum. "Ada apa?"
"Ruang kerja Nona sudah dipindahkan ke ruangan lain. Itu atas perintah pak Keenan"
Alesha membuka mulutnya lebar, ia tak percaya Keenan akan melakukan itu. "Tapi kenapa?"
"Saya tidak tahu, kalau anda penasaran sebaiknya anda bertanya kangsung saja. Saya permisi.
Alesha merapikan penampilan dirinya lau berjalan menuju ruangan Keenan. Dengan sopan Alesha mengetuk pintunya. "Masuk" ucap Keenan dari dalam.
Alesha masuk lalu menutup pintu dengan rapat. Kemudian ia menatap Keenan yang sibuk berkutat dengan beberapa berkas. Sesekali Keenan membuka laptop di sampingnya untuk mengetik sesuatu.
"Ada apa?" tanya Keenan tanpa menoleh.
"Saya ingin bertanya pada bapak, kenapa saya dipindahkan ke ruangan lain?"
Keenan menaruh berkasnya lalu menatap wajah Alesha dengan senyum di bibirnya. "Tidak ada masalah, saya hanya tidak ingin seruangan dengan wanita lain. Saya menghargai perasaan istri saya"
"Tapi istri bapak tidak ada di kantor?"
Keenan tersenyum sinis, sepertinya wanita di hadapannya ini benar benar tidak tahu malu. Keenan menerimanya karena dia punya pengalaman kerja yang bagus. Kalau tidak, ia tidak akan menerimanya begitu saja.
"Memangnya kenapa kalau istri saya tidak ada di kantor? Istri saya tidak kemana mana. Ia ada di hati saya"
Suara tepuk tangan menggema di ruangan Keenan. Keenan dan Alesha menoleh pada suara itu. Yang ternyata adalah Syafira yang membawa rantang makanan.
Syafira menaruh makanannya di meja Keenan lalu mengecup pipi suaminya itu. "Aku suka cara mas mengatakan itu" bisiknya.
Keenan terkekeh, lalu Syafira menatap Alesha dengan tajam. Dari pengalaman nonton sinetron suara hati istri Syafira belajar. Kalau ia tidak boleh lemah menghadapi pelakor. Ia harus lebih berkuasa dari pelakor. Ia harus waspada.
"Kemeja ketat, rok pendek yang ketat, menampilkan lekuk tubuh yang menggoda. Dari kelihatannya dada kamu memang besar. Tapi itu tidak asli, melainkan ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya. Jadi apa tujuanmu sebenarnya? Menggoda suamiku atau bekerja di kantornya. Dari yang saya lihat sepertinya kamu ingin menggoda suami saya"
Wajah Alesha memerah menahan amarah, sedangkan Keenan berusaha keras untuk menahan tawa. Istrinya itu bisa menjadi kelinci saat bersamanya, tapi saat ada kuman ia akan menjadi singa. Seperti yang ia lakukan saat ini.
"Ibu jangan menilai orang dari penampilan, saya memakai ini karena saya nyaman. Terus apa buktinya kalau dada saya palsu? Ibu ingin saya menunjukkannya pada pak Keenan"
Syafira berdecak kesal lalu ia mendekati Alesha. Tangannya yang dari tadi hanya diam kini terpaksa harus ia gunakan. Tangannya menyentuh bagian dada Alesha dengan dua jarinya. Dada Alesha terasa empuk bukan karena dagingnya melainkan karena spons dada
"Ini buktinya, saat kamu menundukkan kepala di rumah sakit. Saya melihatnya"
Syafira melihat ke arah Keenan yang diam diam mengacungkan jempol padanya "Bagaimana suami saya bisa tergoda sama kamu. Kalau kamu saja bukan barang original?"
Mata Alesha melebar mendengar hal itu, tangannya bersiap untuk menampar Syafira. Namun berhasil Keenan cegah. Kali ini Alesha benar benar keterlaluan.
"Beraninya kamu akan menampar istri saya. Sekarang juga saya tidak ingin melihat kamu. Pergi dan bereskan barang barang kamu. Kamu saya pecat, saya tidak sudi punya Sekretaris yang tidak original" ledek Keenan pada Akhirnya.
Alesha benar benar malu. Ia mengangkat kepalanya dengan tegas. "Kalian akan mendapat balasan dariku" ucapnya sebelum pergi.
Sepanjang perjalanan Alesha terus merutuki Keenan da Syafira. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas perbuatan mereka berdua.
"Wow sayang, kamu sangat hebat"
"Benarkah?"
"Heem, aku suka kamu yang seperti itu"
"Lain kali jangan pernah menerima sekretaris perempuan. Mas harusnya pilih yang laki laki"
"Iya, itu sebenarnya sekretaris dari Bagas"
"Ya sudah, Syafira kesini membawa makanan untuk Mas. Ayo kita makan bersama sama"
Keenan tersenyum tipis lalu ia merengkuh Syafira ke dalam pelukannya. Keenan mengecup kening, mata, hidung dan terakhir bibir. Istrinya sangat menggemaskan sampai ia tidak dapat menahan diri untuk menciumnya.
__ADS_1
Syafira tertawa kecil melihat Keenan terus mencium wajahnya. Ia merasa kegelian karena bulu bulu halus yang tumbuh di rahang kokohnya.
"Udah berhenti dulu ciumnya, ayo kita makan"
"Bentar, Mas masih belum puas"
Keenan menempelkan bibirnya ke bibir Syafira dan mulai melum**nya. Tangannya menarik pinggang Syafira agar semakin dekat dengannya.
"Pak tadi saya....."
Bagas masuk ke dalam ruangan Keenan dan melihat adegan itu. Ia tercengang di tempatnya.
Keenan menghentikan ciuman mereka lalu menatap Bagas dengan tatapan yang tajam. "Maaf pak"
Bagas langsung melarikan diri untuk menyelamatkan nasibnya. "Bagasssss sebagai gantinya gaji kamu saya potong seratus ribu"
"Siap pak" teriak bagas dari luar.
Syafira malu sekaligus tertawa melihat tingkah Keenan dan Bagas yang seperti anak kecil.
Syafira menyiapkan makanan yang ia bawa lalu memberikannya pada Keenan. Keenan dan Syafira memakan makanannya dengan santai. Tak ada pembicaraan di antara mereka berdua, hanya ada tatapan mata.
Saat selesai makan, Keenan mengelap bibirnya dengan tisu. Kemudian Syafira membereskan suaminya.
"Sayang sini deh" ucap Keenan.
"Ada apa mas?"
"Besok kita ke dokter yah, Mas mau kamu harus memeriksakan kandunganmu. Waktu itu kan kamu belum sempat periksa secara detail"
"Iya sih Mas, tapi apa mas besok gak sibuk?"
"Enggak kok, Mas enggak pernah sibuk kalau untuk kalian berdua." ucap Keenan sambil mengelus perut Syafira.
"Makasih ya mas, selama ini mas selalu sabar pada Syafira. Mas tidak pernah membentak aku sekalipun aku salah"
"Mas tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Mas sangat mencintai kamu. Mas tidak ingin kehilangan kamu lagi. Waktu kita tak bertemu satu bulan, mas merasa kesepian. Dan hati mas terus mengganjal"
"Aku tahu Mas, aku juga sangat merindukan mas waktu itu"
Syafira tiba tiba teringat sesuatu. "Mas, nasib bocah jahat itu gimana sekarang? Aku tidak mendengar kabarnya" Syafira duduk di atas pangkuan Keenan. Keenan mengambil remote lalu mengunci pintu ruangannya dengan otomatis agar tidak ada yang melihatnya.
"Mereka sakit sakitan selama berada di penjara, itu karena efek narkoba yang mereka konsumsi"
Syafira menganggukkan kepalanya lalu menyandar di bahu di dada suaminya. "Mau tidur?" tanya Keenan.
"Tidur dimana?"
"Di kamar
Keenan menyentil dahi Syafira dengan pelan. "Bukan di kamar Apartemen, ayo ikut aku"
Keenan membawa Syafira ke dalam kamar rahasianya. Di dalam ruangan Keenan memang ada sebuah pintu dan pintu itu menghubungkan ke sebuah kamar.
Syafira merasa takjub, ia tidak menyangka kalau di dalam ruangan suaminya ada kamar sebagus ini. Kamarnya tidak kalah mewah dari kamar hotel.
"Suka?"
"Suka"
"Kamu istirahat disini saja, Mas mau kembali bekerja dulu"
"Aku maunya tidur dipeluk mas"
"Mau dikelonin?"
"Iya"
"Ya udah ayo"
Keenan membuka jas dan kemejanya lalu melemparnya ke sembarang arah. Kemudian ia tidur di atas kasur dengan memeluk istrinya. Keenan mengusap kepala Syafira sampai ia tertidur.
Setelah yakin Syafira benar benar tidur, Keenan bangun perlahan laha. Ia tidak mau Syafira terbangun karenanya. Keenan memakai pakaiannya kembali lalu mengecup kening Syafira lama.
Keenan keluar dari kamar lalu menutup pintu nya dengan pelan. Keenan kembali duduk di kursinya lalu berkutat dengan laptopnya.
____________________________________________
Hari sudah sore, Keenan melirik jam tangannya. Sudah pukul 5 sore. Keenan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya besok. Ia harus pulang. Keenan mengambil jas yang diletakkan di kursinya lalu pulang. Ia tidak menyadari kalau ada sesuatu yang ia tinggal di kantor.
Keenan bersenandung kecil sambil menyetir mobil, ia tidak sabar ingin bertemu dengan Syafira. Ngomong ngomong tentang Syafira, Keenan seperti teringat sesuatu.
Keenan mengerem mendadak, ia mulai mengingat kalau Syafira masih di kantor. Keenan menepuk dahinya pelan. Keenan harus memutar arah dan kembali ke kantor.
Syafira baru bangun dari tidurnya, ia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Keenan. Tapi Syafira tak menemukan apa apa. Bahkan tas Keenan sudah tidak ada. Apa jangan jangan Keenan meninggalkannya.
Memikirkan hal itu Syafira jadi merasa kesal sendiri. Suaminya meninggalkan ia sendirian di kantor. Semua karyawan sudah pulang semua, hanya menyisakan beberapa OB.
Keenan berlarian di kantor sambil celingak celinguk siapa tahu Syafira sudah keluar dari kamar. Dan benar saja, disana ada seorang perempuan yang menatapnya dengan tajam sambil bersedekap dada.
Keenan langsung menghampiri dan memeluknya. "Kamu tidak apa apa?"
"Bagaimana bisa kamu meninggalkanku sendirian mas?"
__ADS_1
Keenan menggaruk kepalanya yang tak gatal, dirinya merasa bersalah karena telah melupakan keberadaan istrinya.
"Maaf, tadi mas langsung pulang. Mas lupa kalau kamu masih ada di kantor"
Syafira menghembuskan nafasnya lalu berjalan pergi meninggalkan suaminya di tempat. Karena Keenan tak mengikutinya Syafira menoleh ke belakang. "Ayo pulang mas"
"Hah? Oh iya ayo kita pulang"
Di dalam mobil suasana nya sangat canggung. Syafira tak berbicara sepatah kata pun. Ia sibuk bermain game di handphone nya.
"Kamu marah?" Keenan melirik ke arah Syafira.
"Aku enggak marah, aku hanya kesal saja. Hari ini Mas lupa kalau aku masih di kantor. Besok besok mas lupa apa lagi? Jangan jangan Mas bakap lupa kalau aku istri Mas"
"Iya Mas akui mas salah. Mas minta maaf yah. Mas janji gak bakal ngulangi lagi. Tadi Mas keasyikan bekerja sampai lupa kalau kamu masih di kamar"
"Ya udah sebagai gantinya, ayo kita ke cafe ku Mas. Aku sudah lama tidak pergi ke sana. Aku selalu menerima uangnya tapi tidak tahu dengan perkembangannya"
"Baiklah ayo, sekalian kita makan disana"
Syafira mengangguk. Keenan mengarahkan mobil nya ke arah cafe Syafira. Dan setelah tiba disana mereka berdua turun. Semua karyawan Syafira menyambutnya dengan hormat. Termasuk orang yang membantunya mengurus cafe.
"Selamat datang bu"
Syafira membalas sapaan mereka dengan senyuman. "Sore Andre"
"Sore bu, apa ibu ingin sesuatu?"
"Saya kesini ingin menanyakan perkembangan cafe ini. Saya tunggu kamu di meja sana"
'Baik bu"
Setelah menyelesaikan pekerjaannya laki laki yang bernama Andre itu menghampiri Syafira. Andre adalah orang yang membantu mengurus cafe Syafira. Itu atas permintaan Tio.
"Silahkan duduk Andre"
"Terima kasih bu"
Andre langsung duduk tepat di hadapan Syafira. Matanya melirik ke arah Keenan yang menatapnya datar. Nyali Andre menciut ketika bertatapan dengan Keenan, padahal ia baru pertama kalinya bertemu.
"Jadi sejauh ini bagaimana perkembangan cafe ini?"
Andre menjawab pertanyaan Syafira "Perkembangan Cafe kita sangat bagus bu, semakin hari pengunjung cafe semakin banyak. Mulai dari anak muda sampai orang tua. Selain itu kita juga berhasil membuat menu baru bu setiap satu bulan sekali"
"Apa rencana mu selanjutnya untuk cafe ini?"
"Kemungkinan besar saya akan menambah hiasan di sekitar cafe ini bu. Itu pun kalau ibu setuju. Saya akan menghiasnya semenarik mungkin agar pelanggan merasa betah di cafe ini"
"Ide bagus, saya suka. Kalau bisa tambahin wifi biar semakin lengkap"
"Baik bu, saya akan mengatur semuanya"
"Baiklah kau boleh pergi"
Setelah Andre pergi Syafira menoleh ke arah Keenan. "Ada apa?"
"Tidak ada, ayo kita pesan makanan"
Syafira mengangguk dan memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Pelayan mencatat semua pesanan Syafira dan Keenan dan segera pergi.
15 menit kemudian makanan sudah siap, pelayan itu menaruhnya di meja Syafira dan mengaturnya dengan rapi.
"Terima kasih" ucap Syafira.
"Sama sama bu"
"Ayo mas makan"
"Iya"
____________________________________________
Keenan baru saja selesai mandi, ia melempar handuknya ke kasur dan memakai pakaiannya. Syafira hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan suaminya yang tidak menaruh Handuk pada tenpatnya.
Syafira mengambil handuknya lalu menaruhnya ke tempat yang seharusnya. Syafira pergi ke ruang tengah dan menonton televisi. Sejak hari itu Syafira sudah jarang menonton drakor. Ia hanya menontonnya sesekali.
Keenan menyusul Syafira ke ruang tengah, ia menghempaskan dirinya di sofa lalu menidurkan kepalanya di paha Syafira.
"Elusin Mas dong sayang"
Syafira menurut, ia mengelus kepala Keenan sambil menonton televisi.
"Sayang"
"Hmm"
"Nonton drakor yuk" ucap Keenan.
"Kok tumben kamu ngajakin aku nonton drakor"
"Kalo di drakor kan romantis. Aku pengen aja nonton drakor sama kamu. Dari pada nonton sinetron itu. Kalau suaminya gak selingkuh istrinya yang selingkuh, begitu pun sebaliknya. Terlalu drama banget"
Syafira tertawa mendengar perkataan Keenan. "ya udah, bentar aku ambil laptop dulu"
__ADS_1
Syafira tidak menyianyiakan kesempatan emas. Kapan lagi Keenan mengajaknya nonton drakor.