Bukan Janda

Bukan Janda
Good Bye Oma


__ADS_3

9 Bulan sudah berlalu, Kini semua anggota keluarga sedang berkumpul di rumah sakit untuk menantikan kehadiran seseorang yang selama ini dinanti nanti.


Diantara semua orang Keenan dan Mahendra lah yang paling khawatir dengan Mela. Karena mereka sudah banyak mendengar tentang kematian seorang wanita yang sudah tua karena melahirkan seorang bayi.


Syafira mengelus punggung tegap suaminya berusaha menenangkan. "Kita berdoa sama sama Ya Mas, semoga Mama dan adik Mas selamat di dalam sana" ucap Syafira.


Keenan mengangguk, meskipun begitu tetap saja ia tidak tenang. Tio dan Wina memberi dukungan untuk Mahendra yang sedari tadi mondar mandir di depan ruangan Mela.


Tiba tiba seorang dokter keluar dari dalam. "Ibu Mela memanggil pak Mahendra untuk menemaninya di dalam" ucap dokter itu pada Mahendra.


Mahendra mengangguk, dengan keringat dingin ia masuk ke dalam ruangan itu. Saat Mahendra masuk, ia melihat wajah Mela sudah dipenuhi dengan keringat di wajahnya.


Mahendra mengusap kening Mela sambil menciumnya. Ia tidak tega melihat keadaan istrinya saat ini. Meskipun ada sedikit bahagia karena calon anaknya akan lahir hari ini.


"Mama harus kuat ya, demi Papa, Keenan, Syafira dan yang lainnya. Papa akan selalu mendukung Mama. Jika mama kesakitan gigit saja lengan papa sebagai pelampiasan"


Mela menggeleng dengan lemah. "Mama minta jika mama tidak bisa membuka mata lagi, papa harus hidup bahagia dengan anak anak kita" ucap Mela sambil matanya menatap Mahendra.


Mahendra menggeleng kuat, air matanya merembes jatuh. "Mama tidak boleh ngomong seperti itu, Mama harus selamat. Kita rawat anak anak kita bersama Ma"


Pembicaraan mereka harus dihentikan karena Mela sudah mulai mengejan. Para dokter yang telah bersiap siap tadi langsung menghampiri Mela dan bersiap menanganinya.


"Ayo bu, dorong sekuat tenaga" ucap Dokter yang menangani Mela. Mela menarik nafas dalam dalam sambil memegang tangan Mahendra.


"Ayo Ma, Mama pasti bisa"


Mela hampir saja kehabisan tenaga jika tidak mendapat semangat dari suaminya. Sekali lagi Mela mendorong dan mengejan dengan kuat bahkan ia juga berteriak dengan keras.


Sedangkan di luar ruangan, Keenan menangkupkan tangannya di depan wajahnya. Ia tidak sanggup mendengar jeritan Mama nya yang sedang berjuang di dalam sana.


Syafira yang memangku Azka dan Azkia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Keenan. Syafira menatap Azka dan Azkia bergantian. "Kalian doain Oma ya Nak" ucapnya sambil mencium mereka.


"Mama..mama..ya"


"Iya, sayang Oma."


Waktu terus berlalu, Semenjak Mahendra masuk dan menemani istrinya. Tiba tiba suara tangis bayi terdengar dari luar ruangan. Membuat semua orang yang mendengarnya bahagia dan mengucap syukur berkali kali.


Keenan berdiri dengan wajah bahagianya, adiknya kini telah lahir ke dunia. Tapi raut bahagia itu hilang ketika melihat Papa nya keluar dengan wajah yang sembab seperti habis menangis.


"Gimana keadaan Mela?" Tanya Tio sambil menghampiri Mahendra. Mahendra menatap semuanya satu persatu kemudian Mahendra menjatuhkan dirinya di pantai dengan menangis terisak isak.


"Mama gimana pa?" Tanya Keenan dengan tidak sabar. Tangis Mahendra kali ini tidak seperti biasanya. Hal itu membuat Keenan resah setengah mati.


Mahendra tidak menjawab. Keenan menggoyangkan tubuh Mahendra dengan kedua tangannya. "Jawab Keenan pa, Mama gimana? Mama baik baik saja kan"


"Maaf Keenan, Mama sudah pergi meninggalkan kita semua" jawab Mahendra. Bahu Keenan terasa lemas sekali, dunianya seakan runtuh mendengar hal ini.


Syafira menutup mulutnya tak percaya, ia menangis dalam diam. Sedangkan Tio dan Wina juga ikut menangis. Mereka tidak menyangka Mela akan pergi dengan cara seperti ini.


"Enggak pa, papa pasti bohong kan. Mama pasti cuma ngeprank kita kan. Mama gak mungkin meninggal Pa" Keenan menangis dan meracau tak mempercayai omongan Mahendra.


Tio memeluk Keenan dengan erat. "Sabar Nak, biakan Mamamu pergi dengan tenang. Jangan sampai dia terbebani gara gara tangismu"


"Mama masih hidup Yah, Mama sudah berjanji sama Keenan untuk melahirkan adik Keenan dengan selamat" ucapnya.


"Nak, soal umur itu tidak ada yang tahu. Itu rahasia tuhan. Dan mungkin saat ini memang waktunya untuk Mama mu pergi


Keenan sangat terpukul dengan kepergian Mela. Dengan langkah gontainya ia berjalan masuk ke dalam ruangan yang menjadi saksi bisu kepergian mamanya


Keenan melihat tubuh Mela telah diselimuti oleh kain putih, Keenan berjalan mendekat. Tangannya bergetar ketika ia akan membukanya. Seketika ia melihat wajah Mela yang telah pucat.


"Mama bangun Mah, Keenan sayang sama mama. Tolong jangan bercanda seperti ini Mah" Tubuh Mela sangat dingin ketika Keenan menyentuhnya.


Mahendra datang dan berdiri di samping Keenan. "Ikhlaskan Mama mu nak, biarkan dia tenang di alamnnya." Ucap Mahendra meskipun ia juga masih belum menerima kepergian istrinya.


"Tapi bagaimana dengan adik Keenan pa? Siapa yang akan memberinya asi? Siapa yang akan memberinya cinta seorang ibu?" Tanya Keenan. Mahendra diam tak menjawab sesungguhnya ia juga berpikiran seperti Keenan.


"Papa akan menjadi seorang ayah dan ibu untuknya. Untuk asi mungkin papa harus memberinya susu formula saja" ucap Mahendra.


Syafira menitipkan Azka dan Azkia pada kedua orang tuanya di luar. Sementara dirinya ia masuk ke dalam ruangan itu. Dimana Keenan dan Mahendra berada disana.


Syafira berjalan menghampiri Keenan dan Mahendra. Syafira melihat jenazah Mela sudah terbujur kaku di tempatnya. Syafira tidak dapat menahan isak tangis. Ia menangis sambip memeluk tubuh Mela.


"Ma, Syafira tidak ingin ngomong apa apa sama mama. Kecuali Doa Syafira untuk Mama. Syafira berdoa agar mama bisa tenang dan dapat diterima di sisi allah"


"Syafira bakap janji sama Mama, Syafira akan menjaga Bayi kecil Mama. Syafira akan mengurusnya sama seperti Syafira menjaga si kembar, terima kasih Ma buat semuanya. Mama adalah satu satunya orang yang mengajarkan Syafira kebaikan seperti Mama. Selamat jalan Ma"


.


.


.


Hari ini awan di atas langit langit sudah mendung, mungkin awan juga ikut berduka atas meninggalnya Mela. Tio, Wina, Keenan, Syafira dan Mahendra saat ini berada di pemakaman.


Para warga yang smtadi ikut melayat sudah pulang. Dan menyisakan keluarga mereka saja.  

__ADS_1


Mahendra dan Keenan berjongkok di sampkng nisan Mela. Mereka juga menaburkan bunga untuknya.


"Mama yang tenang ya diatas sana, jangan mikirin apapun tentang Alfon. Ya, papa sudah memilih nama untuknya. Alfon Alexander Nugraha. Sekarang mama tenang ya"


Sekarang giliran Keenan yang berbicara, Keenan memegang papan nisan yang bertuliskan nama Mela. Kemudian mengusapnya dengan tangannya.


"Ma, Keenan sudah mengikhlaskan Mama. Mama harus bahagia disana. Jangan lupakan tentang kami Ma." Keenan hanya mengatakan beberapa kalimat saja. Matanya masih terlihat sembab karena tangisannya tadi.


Keenan dan Mahendra kemudian berdiri dan bersiap untuk meninggalkan makam Mela. Syafira meraih tubuh suaminya dan merangkulnya. Ia tahu suaminya saat ini sedang berada di fase yang paling bawah.


Sebenanrnya bukan hanya keluarga Keenan saja yang ada disana. Melainkan juga para sahabatnya. Mereka tahu Mela meninggal dari Mahendra dan detik itu jga mereka langaing datang ke pemakaman.


"Gue gak tega sama Keenan, selama 6 tahun gue berteman sama dia. Dia gak pernah merasa seperti ini" ucap Reno.


"Dia merasa terpukul banget dengan kepergian tante Mela. Selama ini Keenan tidak pernah merasa kehilangan tapi setelah ia merasa kehilangan Keenan bahkan terlihat sangat terpuruk" sambung Dito.


"Gue gak bisa ngebayangin kalau seandainya jadi Keenan, Mama nya meninggal sedangkan adiknya yang masih bayi sangat membutuhkannya. Gue harap Keenan akan terus mendapat kebahagiaan setelah ini"


Setelah itu mereka segera pulang dari pemakaman.


Di malam hari, semua anggota keluarga berkumpul di rumah Mahendra untuk mengadakan tahlilan yang biasa dilakukan ketika ada orang islam yang meninggal.


"Shodaqallahul Adzim" setelah selesai membacalan surah yasin. Senua warga yang hadir beranjak untuk pulang. Mereka bersalaman dengan Mahendra sambil mengucapkan kata turut berduka cinta.


Syafira dan Wina juga ikut menyalami tamu wanita mereka. Mereka melempar senyum.


Sambil terus bersalaman. Setelah tamu pada pulang semuanya mereka berkumpul di ruang tengah dengan Mahendra yang menggendong putra kecilnya.


"Jadi apa keputusan papa tentang hal ini?" Tanya Keenan. Mereka sempat mendiskusikan tentang bagaimana Alfon ke depannya. Keenan mengusulkan agar Mahendra berhenti bekerja dan akan digantikan olehnya.


Bagaimana pun juga Mahendra harus merawat adik kecilnya itu. Lagi pula Mahendra sudah tua, sudah saatnya is berhenti dari pekerjaan dan menikmati masa tua nya bersama dengan anak dan cucu.


"Papa akan berhenti bekerja, dan papa juga akan menyerahkan urusan kantor pada kamu" akhirnya setelah lama berpikir akhirnya Mahendra membuat keputusan juga.


"Syukurlqj kalau papa mengambil keputisan seperti itu, kita smeua sangat bahagia. Papa bisa lebih fokus merawat Alfon" ucap Syafira yang diseujui oleh Wina dan Tio.


"Kalau kamu membutuhkam bantuan, kangan segan segan untuk memanggil kami" ucap Tio pada Mahendra. Mahendra hanya tersenyum tipis lalu melihat wajah kecil putranya.


"Lihat Nak, Adikmu sangat persis dengan almarhumah ibumu." Ucap Mahendra. Keenan mendekat pada Mahendra dan menatap wajah Adiknya secara teliti.


"Seandainya dia perempuan dia pasti cantik seperti mama" ucap Keenan. Tangannya mengelus dan menyentuh pipi Alfon. Mahendra mengangguk.


Wina melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia dan Tio berpamitan pada Mahendra untuk pulamg karena hari sudah sangat larut malam.


"Terima kasih larena kalian sudaj menghobirku" ucapnya pada Tio dan Wina. Tio menepuk nepuk bahi Mahendra sambip berkata. "Kita adalah keluarga. Kalau negotu kami pulang dulu" ucapnya.


Mahendra mengangguk. Sementara itu Keenan dan Syafira memutuskan untuk menginap saja. Mereka tak tega meninggalkan Mahendra sendirian. Apalagi dengan bayi kecilnya yang apabila temgah malam sering rewel.


"Iya pa" jawab Keenan.


"Alhamdulillah, Papa pikir bakal sendirian di rumah ini" Jawaban Mahendra membuat hati kecil Keenan tercubit. "Kalau Keenan tinggal disini bareng papa gimana?"


Syafira terkeut mendengarnya karena Keenan belum mengatakan apa apa dengannya. Mahendra melirik ke arah Syafira sebelum menatap Keenan kembali.


"Apakah istrimu tidak apa apa tinggap bersama papa?"


Sebelum itj, Syafira langsung menjawabnya dengan tegas. "Kami akan tinggal bersama papa, Syafira juga akan bantu papa merawat Alfon sesuai dengan janji Syafira pada Almarhumah Mama" ucapnya.


Disaat saat seperti ini Keenan sangat bangga memiliki Syafira. Karena ia sangat pengertian dan rendah hati. Syafira menatap Keenan kemudian. "Besok kita pindah pindah ya Mas"


"Kamu mau selamanya kita tinggal dengan papa?" Tanya Keenan. Syafira mengangguk. "Kasian papa sendirian, kita sebahai anak anaknya harus menemaninya." Jawabnya.


"Emmh pa, Syafira boleh gendong Alfon?" Tanua Syafira. "Tentu saja boleh, dia adalah adik iparmu sekarang" ucap Mahendra. Syafira pun menggendong Alfon dengan hati hati.


"Nda, edek ayi ya.." ucap seorang anak kecil yang ternyata adalah Azkia. Syafira tersenyum pada Azkia. "Iya sayang ini dedek bayi, tapi ini bukan adik Azkia. Tapi Om nya Azkia"


O..oo...om" ucap Azka sambil menirukan Syafira yang mengucap kata Om. Keenan gemas sekali dengan si kembar. Ia menggendong mereka dan menaruhnua di pangkuan. "Anak papa kalau lagi ngomong gemesin yah"


"Emezin yah" ucap Azkia. Keenan hanya terkekeh.


Melihat anak anak bahagia adalah kebahagiaan orang tua. Seandainya mendiang istrinya masih hidup, maka suasananya pasti akan lengkap.


.


.


Di dalam kamar, Syafira dan Keenan bersiap siap untuk tidur dengan kedua anak kembarnya di tengah tengah mereka. Azka dan Azkia sudah tertidur dari sejak tadi.


"Mas, apa kamu baik baik saja" tanya Syafira tiba tiba. Keenan menghela nafasnya sambil menatap Syafira. "Aku tidak mengatakan diriku baik baik saja, aku masih terus memikirkan Mama. Aku teringat ketika Mama masih ada bersamaku. Dan ternyata kemaren adalah pelukan terakhir Mama buatku" ucap Keenan sambil menatap langit langit kamar.


"Aku juga sama syoknya seperti kamu Mas."


"Mama yang selama ini selalu ada bersama kita kini telah pergi untuk selamanya"


[Soundtrack lagu diputar]


Kemarin- Seventeen

__ADS_1


Kemarin engkau masih ada di sini


Bersamaku menikmati rasa ini


Berharap semua takkan pernah berakhir


Bersamamu


Bersamamu


Kemarin dunia terlihat sangat indah


Dan denganmu merasakan ini semua


Melewati hitam-putih hidup ini


Bersamamu


Bersamamu


Kini sendiri di sini


Mencarimu tak tahu di mana


Semoga tenang kau di sana


Selamanya


Aku selalu mengingatmu


Doakanmu setiap malamku


Semoga tenang kau di sana


Selamanya


Kini sendiri di sini


Mencarimu tak tahu di mana


Semoga tenang kau di sana


Selamanya


Aku selalu mengingatmu


Doakanmu setiap malamku


Semoga tenang kau di sana


Selamanya


[Soundtrack off]


"Sudah, lebih baik kita tidur saja. Tidak baik berlarut larut dalam kesedihan" ucap Keenan.


Keesokan harinya, Mahendra mondar mandir sambil menggendong Alfon yang sedang menangis. Mahendra pikir Alfon menangis karena haus. Sejak kemarin Alfon belum minum apapun karena ibu yang harusnya memberinya asi sudah tiada.


Sementara Syafira ia sedang mendandani si kembar dengan dengan Keenan. mereka berdua belum tahu perihal Alfon yang menangis di bawah.


"Nah selesai deh"


"Yeeyyyy endong unda, kia mo endong" dengan bahasa yang tak terlalu fasih Azkia meminta digendong pada Syafira. "Ka uga, Ka mu endonh apa(Azka juga, Azka mau digendong sama papa)


Keenan terkekeh lalu ia berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan tinggi Azka yang masih kecil itu. "Azka mau digendong di belakang atau di depan?" tanya nya.


"Akang apa, Ka mu ayak emen"(Di belakang pa, Azka mau kayak superman)


"Nah kalau Kia gendong depan saja ya sama bunda?" ucap Keenan. Azkia mengangguk lalu tangannya terulur ke arah Syafira. syafira segera mengambil Azkia dan mengangkatnya ke gendongannya.


syafira mencium kedua pipi gembul milik Azkia. "Yok Azka siap siap, Papa mau gendong Azka di belakang. Azka siap?" tanya Keenan. "ciyaaapppp apa"(Siap papa)


Keenan menempelkan Azka di punggungnya kemudian ia memastikan agar Azka aman terlebih dahulu barulah setelah itu ia menggendongnya. "Tangannya megang papa sayang, nanti jatuh" ucap Syafira.


Syafira membantunya, ia mengarahkan tangan Azka agar memegang leher Keenan. "Jagoan papa sudah sia0a?" "ya apa"(Iya papa)


"Supraman akan terbang ngengggg ngengggg" Keenan berlari pelan pelan dan membuat Azka yang ada di gendongannya tertawa. sementara Azkia ia tetap anteng di gendongan Syafura.


"Nda, Mama mana?" tanyanya.


"Ma? mmaksid Kia Oma?" Azkia mengangguk dengan antusias. "Oma sudah pergi sayang, sekarang oma lagi di surga"


"Sulga? Kia mo e sulga nda" (Surga? Kia mau ke surga bunda)


"Azkia pasti masuk surga asalkan kalau besar nanti Azkia rajin beribadah dan berbakti pada orang tua. serta tolong menolong antar sesama.


"Akti? Kia au akti ama apa da bunda" (Berbakti? Azkia mau berbakti sama papa dan Bunda)

__ADS_1


"Anak pinter"


Meskipun masih berumur 1 tahun lebih 5 bulan tapi Azka dan Azkia sudah bisa berbicara lancar seperti mereka. Mereka juga cepat tanggap apabila Keenan dan Syafira berbicara dengan mereka.


__ADS_2