![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana melihat Danny dengan serius(tanpa melihat Marons), agar Danny bisa merespon apa yang dikatakannya dengan serius. Dia sudah jengah melihat pengacara Papa Rallita dari tadi. Dia juga sudah dengar dari Bram banyak hal tentang sepak terjang pengacara tersebut. Sehingga ketika dia berulah lagi, Kaliana tidak bisa menahan diri untuk menghajarnya.
"Tolong bawa saksi ini keluar dan amankan orangnya jangan sampai ada yang menutup mulutnya dengan gepokan untuk membelokan kesaksiannya." Kaliana berkata dengan sinis, menyinggung Papa Rallita dan juga pengacaranya.
"Sekarang kepada anda, Pak Ewan. Apakah sekarang anda dalam keadaan sehat lahir batin?" Kaliana bertanya dengan tenang sambil memandang Papa Rallita dengan serius, tanpa mempedulikan pengacara Papa Rallita yang mendelik kepadanya.
"Apa maksud anda bertanya begitu kepada client saya? Jika tidak sehat lahir batin, apakah beliau bisa duduk di sini dan memberikan tempat untuk lakukan acara ini?" Jawab pangacara Papa Rallita dengan balik bertanya. Kaliana hanya diam menyimak sampai orang tersebut berhenti berbicara.
"Sekali lagi. Sekarang kepada anda, Pak Ewan. Apakah mulut anda baik-baik saja? Atau pita suara anda sedang bisulan?" Kaliana tetap bertanya dengan tenang sambil memandang Papa Rallita dengan serius, tanpa mempedulikan sang pengacara yang sedang melihatnya dengan emosi. Bram langsung tertunduk menyembunyikan senyumnya, karena terkejut mendengar pertanyaan Kaliana.
Semua yang hadir langsung melihat ke arah Kaliana, termasuk Marons. Dia pernah mendengar celetukan Kaliana dan sangat menyukainya. Tetapi yang sekarang dilakukan Kaliana bukan celetukan biasa. Melihat wajah serius Kaliana saat mengucapkannya, dia langsung berbicara dengan Danny, agar bisa menyamarkan senyumnya.
Begitupun dengan Jaret, langsung melihat Kaliana. Dia teringat peristiwa di ruang interogasi bersama Kaliana. Saat itu dia kebingungan mendengar pertanyaan Kaliana, tentang email sp*rma. Tetapi sekarang dia mulai paham mendengar apa yang ditanyakan Kaliana.
"Jika anda menjawab pertanyaan saya lagi, saya akan meminta dokter yang hadir malam ini untuk memeriksa kesehatan client anda. Jadi saya sarankan anda untuk diam. Simpan tenaga lidahmu untuk membela clientmu di pengadilan." Kaliana menyerang tanpa memberikan kesempatan kepada pengacara Papa Rallita untuk membuka mulutnya, karena pengacara tersebut hendak menyangganya.
"Ini adalah tugas saya untuk jawab mewakili client saya." Pengacaranya tidak mau kalah atau mundur. Dia khawatir Papa Rallita salah berbicara, hingga memberikan peluang kepada Kaliana untuk mencecarnya.
__ADS_1
"Saya tidak sedang membahas kasus, atau menanyakan sesuatu tentang kasus yang digelar. Jadi anda tolong dengar baik-baik dan bedakan itu. Anda pengacara bukan?" Tanya Kaliana sambil melihat pengacara Papa Rallita tanpa berkedip.
"Saya ingin mendengar suara Pak Ewan yang dari tadi hanya diam. Apakah Pak Ewan baru kembali dari pulau mono? Saya dengar di sana virus mono sedang mewabah, hingga bisa membuat orang bisu." Kaliana berkata asal, agar Papa Rallita mau berbicara atau berkomentar mendengar yang dikatakannya. Minimal menanyakan pulau dan virus mono hasil imajinasinya.
"Anda masih muda, tapi sangat tidak sopan kepada orang tua. Bicaramu seakan-akan saya adikmu atau saya ini teman sebayamu." Papa Rallita berkata, karena emosi melihat sikap Kaliana dan juga mendengar apa yang dikatakannya.
"Akhirnya anda bicara juga. Ternyata mulut dan pita suara anda tidak bermasalah. Jika anda tidak berbicara, saya mau meminta dokter untuk mengoperasi bisul di pita suara anda." Ucap Kaliana dingin dan serius. Dia tidak merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan Papa Rallita. Rasa respek terhadap Papa Rallita sebagai orang tua telah luntur.
"Pak Ewan, tidak perlu menjadi tua untuk dihormati. Banyak anak muda yang dihormati karena sikap, laku dan ucapnya. Jadi mari kita tunjukan orang tua mana yang patut dihormati, atau anak muda yang bisa lebih dihormati." Kaliana berkata tenang dan dingin, sambil menatap Papa Rallita yang sudah emosi. Ada sunggingan kecil di sudut bibirnya, saat melihat pengacara Papa Rallita, yang terdiam.
"Pak Ewan, apakah anda menyewa jasa Pak Purnomo, alias Punguk untuk membantu anda?" Tanya Kaliana langsung ke sasaran. Pertanyaan Kaliana tidak diduga oleh Papa Rallita dan pengacaranya. Apapun jawaban Papa Rallita akan menyeretnya, karena itu pertanyaan jebakan dari Kaliana.
"Pak Ewan, kami tidak memberikan waktu untuk anda berpikir, apa lagi harus membahas dengan pengacara anda. Silahkan anda menjawab, atau anda mau kami pakai kesaksian yang ada?" Tanya Kaliana makin menjebak.
"Baik. Pak penyidik dan pak pengacara penuntut, Pak Ewan tidak menyewa Pak Purnomo. Tolong dicatat baik-baik." Ucap Kaliana serius. Bram dan Danny mengikuti apa yang dikatakan Kaliana. Sedangkan pengacara Papa Rallita jadi bingung, karena tidak bisa mengetahui arah tujuan Kaliana menanyakan hal itu.
"Pak Ewan, apakah anda kenal dengan Pak Purnomo?" Tanya Kaliana lagi dengan tenang, setelah tembakan pertama membuahkan hasil.
"Saya sudah katakan tidak menyewanya, jadi mana mungkin saya mengenalnya?" Papa Rallita kebingungan menjawab pertanyaan Kaliana, membuatnya makin pusing jika dipikirkan. Sehingga beliau menjawab sesuai apa yang dikatakan pertama kali dan memegang saran pengacaranya. Menyangkal sampai akhir.
__ADS_1
"Pak Ewan, itu pertanyaan sederhana, jadi tidak perlu ngegas dalam menjawab. Bisa saja terjadi anda tidak mengenal orangnya, tapi mau menyewanya. Bisa juga mengenal, tapi tidak menyewanya. Bisa juga seperti yang anda katakan, mengenal lalu menyewanya." Ucap Kaliana tenang dan santai.
"Pak penyidik dan Pak pengacara penuntut, catat lagi. Pak Ewan tidak menyewa jasa Pak Purnomo dan juga tidak mengenalnya. Jadi Pak Ewan tidak ada hubungan dengan Pak Purnomo seperti yang dikatakan Pak Purnomo." Kaliana berkata tenang dan serius, sambil melihat Bram dan Danny.
"Sekarang untuk Pak Marons yang menuntut Pak Purnomo. Apakah anda mengenal Pak Purnomo?" Tanya Kaliana tenang sambil melihat Marons. Dalam hatinya berharap, Marons bisa mengerti dan menjawab sesuai apa yang diketahuinya.
"Tidak mengenal." Jawab Marons singkat. Marons mengerti tatapan Kaliana yang meminta pengertiannya.
"Apakah anda pernah bertemu dengannya?" Tanya Kaliana lagi untuk memperjelas kasus penjebakan yang melibatkan Marons.
"Pernah. Satu kali di Malang." Jawab Marons lagi, singkat dan tenang serta serius.
"Dalam rangka apa, anda bertemu dengannya?" Tanya Kaliana lagi.
"Tidak dalam rangka apa pun. Kami bertemu begitu saja. Saya sedang makan malam di restoran hotel dan melihatnya duduk tidak jauh dari tempat saya." Jawab Marons serius.
"Kalau anda tidak mengenalnya, bagaimana mungkin anda bisa tau itu dia saat melihatnya?" Tanya pengacara Papa Rallita tiba-tiba, membuat Kaliana waspada sambil melihat Marons yang sedang menatap pengacara tersebut dengan rahang mengeras.
"Setiap orang memilik cara untuk melindungi dirinya dari para begundal dan orang-orang yang otaknya tinggal separuuu. Bukankah anda juga dibayar untuk melindungi client anda? Sekarang anda menanyakan bagaimana saya mengetahui orang itu? Memangnya anda siapa, hingga saya harus melapor apa yang saya lakukan agar bisa mengetahui orang itu?" Marons berkata tanpa peduli dengan mantan mertua yang sedang melihatnya dengan cemas.
__ADS_1
...~***~...
...~●○¤○●~...