C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Potongan Puzzle 10.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Marons melihat Kaliana dengan serius. Saat melihat keseriusan Kaliana, Marons mengangguk pelan. Dia percaya akan keseriusan Kaliana menolongnya. "Aku serahkan padamu dan juga Danny. Tapi tolong bicarakan apa yang akan kalian lakukan kepadaku, agar aku bisa tau dan mengerti situasi yang harus aku hadapi." Ucap Marons sambil memandang Kaliana dan Danny bergantian.


Kaliana mengangguk, lalu membicarakan rencananya untuk mancing keluarga korban dan meminta Marons untuk tenang dan bersabar. "Untuk keluarga korban, biarkan saja apa yang akan mereka lalukan. Kita tunggu dan lihat apa yang akan mereka lakukan selain mengikuti atau mengawasi Pak Marons." Ucap Kaliana, setelah menjelaskan rencananya.


"Kita pinggirkan dulu rencana yang akan kita lakukan kepada keluarga korban. Sekarang kita bicarakan sesuatu yang baru kami temukan. Ini belum tentu bisa jadi bukti, tapi bisa jadi tameng untuk melindungi Pak Marons. Tapi bukti ini juga bisa menjadi panah yang bisa menusuk Pak Marons." Ucap Kaliana serius. Marons dan Danny pun, jadi serius melihat Kaliana.


"Hal inilah yang membuat saya ke sini untuk menemui Pak Danny. Jadi Pak Danny yang akan menjadi saksi hari ini, atas semua yang saya katakan." Ucap Kaliana yang sudah menghidupkan rekaman di kantongnya dan juga mengeluarkan catatan untuk mencatat yang penting.


"Pak Marons sudah mengkonsumsi obat tidur berapa lama?" Tanya Kaliana serius. Dia tidak mengatakan bukti yang ditemukan dan analisanya terlebih dahulu. Tetapi ingin tahu, semua kemungkinan yang terjadi. Mungkin saja Marons menggunakan obat tidur.


"Tidak pernah. Ada apa, hingga kau bertanya begitu?" Marons menjawab dan balik bertanya dengan heran.


"Mohon maaf, Pak. Harap dijawab saja, jangan bertanya dulu. Nanti setelah ini, akan saya jelaskan kenapa saya bertanya demikian." Kaliana berkata dan bersikap tegas, seakan dia sedang melakukan interogasi.


"Apakah Pak Marons yakin, tidak pernah konsumsi obat tidur selama ini?" Tanya Kaliana lagi, untuk melengkapi keterangan yang sedang dibuatnya.


"Tidak pernah." Jawab marons tenang dan ikut serius melihat sikap Kaliana.

__ADS_1


Kaliana mulai memikirkan apa yang dicurigai selama ini, saat pertama melihat Marons langsung tidur di mobilnya untuk pertama kali. "Pak Marons masih ingat saya minta untuk periksa darah setelah memeriksa luka di tangan saat itu?" Tanya Kaliana lagi.


"Iyaa... Aku masih ingat dan sedang menunggu kau memberitahukan hasilnya padaku. Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Marons serius dan mulai curiga mendengar pertanyaan Kaliana.


"Iya, Pak. Ada... Saya baru bisa bicarakan ini sekarang, karena tadi baru dari Lab untuk mengambil hasil pemeriksaan teh ginseng merah yang Pak Marons berikan. Kedua hal ini berkaitan dan merupakan satu rangkaian." Danny diam sambil mencatat semua yang dikatakan Kaliana dan Marons.


"Hasil pemeriksaan darah dan teh ginseng merah, sama. Selama ini Pak Marons mengkonsumsi obat tidur dari jenis yang sama. Untuk itu, sebaiknya Pak Marons berhenti konsumsi sebelum dosisnya mengganggu kesehatan. Sekarang belum over, tetapi jika sudah melewati batas, akan berdampak negatif untuk kesehatan." Ucap Kaliana serius, untuk memperoleh reaksi Marons.


"Anna... Coba bicara dengan jelas. Tadi aku sudah katakan, aku tidak pernah konsumsi obat tidur, itu benar. Untuk apa aku konsumsi obat tidur dan mengatakan tidak. Obat tidur bukan narkotika, jadi aku tidak perlu berbohong untuk itu. Ada apa sebenarnya?" Tanya Marons yang belum paham maksud arah pertanyaan dan penjelasan Kaliana. Danny pun melihat dan ikut menanti penjelasan Kaliana.


"Begini, Pak. Dalam darah .... " Kaliana menjelaskan bahwa ada kandungsn obat tidur dalam darah Marons dan zat yang sama ditemukan dalam teh ginseng merah milik Marons. Mendengar apa yang dikatakan Kaliana, Marons tertegun sambil menatap Danny. Begitu juga sebaliknya, Danny benar-benar terkejut.


"Sejak kapan kau konsumsi teh itu? Dan kau dapatkan dari mana? Katakan padaku, aku akan menuntut penjualnya." Ucap Danny emosi sambil menatap Marons, saat mendengar penjelasan Kaliana.


"Begini, Pak Danny. Sabar.... Dengar dulu penjelasan saya. Supaya bapak-bapak bisa tau, kenapa itu bermasalah kepada Pak Marons, tetapi tidak kepada Pak Danny dan dr Yogi." Ucap Kaliana memotong percakapan Danny dan Marons.


"Jadi sebenarnya, teh yang diberikan kepada saya, Pak Danny dan juga dr. Yogi, sama kualitasnya. Teh itu tidak bermasalah. Yang bermasalah itu, teh yang dikonsumsi oleh Pak Marons..." Kaliana menceritakan, dia tidak konsumsi teh yang diberikan Maroms, tetapi dia membawa keduanya untuk diperiksa di laboratorium. Hasil dari kedua botol itu berbeda.


"Jadi maksudmu, obat tidur itu hanya ada dalam teh sisaku, sedangkan yang baru untukmu tidak ada obat tidur?" Ucap Marons sambil berpikir, dia mulai mengerti yang Kaliana maksudkan.

__ADS_1


"Iyaa Pak, benar. Ini saya bawa hasil Labnya, tapi belum bisa saya serahkan sekarang kepada Pak Danny. Saya akan jadikan satu dengan bukti yang lain, baru serahkan sekaligus. Yang penting, Pak Danny dan Pak Marons sudah tau." Kaliana berkata serius, berharap Danny dan Marons mengerti.


"Apa kau pernah bicarakan hasil Lab itu dengan Yogi?" Tanya Mayons, mengingat Yogi pernah menghubunginya dan meminta agar dia segera chek up ke rumah sakit.


"Saya hanya konsultasi, tanpa menyebutkan sedang berkonsultasi tentang hasil pemeriksaan darah Pak Marons. Saya hanya menunjukan ini, untuk meminta pendapat medis dr Yogi secara profesional." Ucap Kaliana, sambil memperlihatkan foto lembaran hasil laboratorium tanpa nama di layar ponselnya kepada Marons dan Danny.


"Kau sedang menangani kasusku, jadi Yogi sepertinya curiga kau bertanya tentangku. Karena dia pernah menanyakan, apakah aku ada memeriksa darah belakangan ini. Aku bilang belum lama, saat bersama Kaliana di tempatnya." Marons mulai memahami, mengapa Yogi tiba-tiba menelponnya saat itu.


"Saya akan minta terima kasih kepada dr Yogi, karena memegang sumpah jabatannya. Walaupun merasa curiga tentang hasil Lab temannya, tetapi tetap menjaga kerahasiaan orang yang berkonsultasi dengannya." Kaliana menaruh respeck terhadap Yogi.


"Iya, Anna. Dia tidak menyinggung soal itu saat bertemu denganku. Padahal dia tau, aku pengacaranya." Danny tidak bersikap formal sambil menunjuk Marons dengan wajahnya.


"Pantes dia memintaku untuk berolah raga. Saat itu aku tidak mengerti maksudnya, karena kami rutin berolah raga. Kami sering berenang atau main tenis bersama dengan Danny juga." Marons mengingat apa yang dikatakan sahabatnya, mungkin karena khawatir dengan kesehatannya.


"Kita tinggalkan itu dulu, Pak. Kita kembali kepada topik yang saya bicarakan tadi. Jika Pak Marons tidak sengaja konsumsi, berarti ada yang memasukan obat tidur di situ, agar bisa dikonsumsi oleh Pak Marons." Ucap Kaliana kembali fokus pada hasil penyelidikannya.


"Astagaaa... Siapa yang memasukan obat itu ke dalam tehmu?" Tanya Danny serius, setelah mendengar penuturan Kaliana. Marons jadi berpikir hal yang sama.


"Astagaaa... Pantas belakangan ini aku jadi ngantukan dan gampang sekali tidur. Ternyata karena konsumsi obat tidur. Sebentar, aku akan hubungi Bibi, karena selama ini, Bibi yang menyediakannya untukku." Ucap Marons lalu segera mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


...~***~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2