C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
108. Gelar Perkara (GP) 11.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Tetapi Kaliana mengangkat tangan, mencegah petugas untuk melerai Marons dan Jaret. Bagi Kaliana, Jaret perlu diberi pelajaran oleh Marons, agar hatinya lega. Kaliana berpikir, Marons tidak akan mencelakainya. Melihat apa yang dilakukan Marons, Jaret refleks mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya.


Kaliana memberikan isyarat kepada petugas untuk siaga mengamankan, jika terjadi adu jotos. Saat ini, Kaliana hanya memberikan kesempatan kepada Marons untuk melapiaskan rasa marahnya, akibat perkataan Jaret yang tidak etis dan menyakiti hati. Tapi tidak akan membiarkan mereka saling memukul.


Bram juga sudah berdiri, karena khawatir terjadi sesuatu dengan Jaret akibat kemarahan Marons. Dia ingin melerai, tetapi tertahan dengan gerakan tangan Kaliana yang mencegah petugas bereaksi. Walaupun hatinya ingin menolong Jaret, tapi dia menghargai keputusan Kaliana.


"Jika saya tidak bisa memberinya anak, lalu siapa yang memberimu hak untuk memberinya anak?" Ucap Marons dengan suara mengglegar dalam ruangan. Semua orang terdiam melihat apa yang dilakukan Marons, sehingga suaranya menggema. Marons tidak peduli dengan semua orang yang sedang melihatnya, emosinya tidak bisa dikendalikan. Kemudian Marons kembali menarik kepalan tangannya untuk menghajar Jaret yang sudah mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya.


Amarah Marons membuat dia mengumpulkan tenaga di kepalan tangannya untuk membuat Jaret tidak melupakan hajarannya. Jaret tertegun tanpa bisa membalas ucapan Marons yang sudah mencengkram kerah kemejanya dengan kuat. Saat Marons hendak melayangkan pukulan untuk kedua kalinya, Kaliana berteriak.


"Arroooo...!" Kaliana berteriak, karena melihat kepalan tangan Marons telah memutih. Jika dia membiarkan Marons menghajar Jaret, mungkin beberapa gigi Jaret akan meninggalkan gusinya. Marons segera melepaskan kerah kemeja Jaret, lalu mendorongnya ke belakang dengan kuat. Kemudian mencari sumber suara dan melihat Kaliana sedang mengangkat kedua tangannya dan mendorongnya ke bawa, sebagai isyarat agar Marons menurunkan emosinya dan tenang.


Marons tidak beranjak dari tempatnya berdiri, hanya melihat Kaliana karena terkejut mendengar namanya dipanggil. "Kau Anny...?" Tanya Marons tanpa suara, hanya gerakan bibirnya menyebut nama Anny. Marons terus menatap Kaliana dengan heran, walaupun petugas menghalangi dan memintanya kembali ke tempat duduk.


Kaliana tidak mengatakan apa pun, hanya menggerakan kedua tangannya sebagai isyarat kepada Marons untuk tenang. Semua orang tercengang dengan kejadian tidak terduga dan tidak mengerti. Mengapa Marons tiba-tiba menghentikan pukulannya. Padahal mereka melihat wajah Marons masih memerah dengan rahang mengeras.

__ADS_1


Semua orang juga tidak mengerti dan menatap Kaliana yang sedang menggerakan kedua tangannya ke bawa sebagai isyarat ke arah Marons. Mereka tidak mengerti arti teriakan Kaliana saat mencegah Marons melakukan serangan kedua. Tidak terkecuali Bram yang masih berdiri dan tertegun.


Bagi Bram, Marons bisa dengan mudah menghabisi Jaret yang tidak siap dengan tindakan Marons. Tapi teriakan Kaliana membuat dia bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi dan apa arti teriakan Kaliana yang bisa menghentikan Marons menarik pukulannya.


Marons yang hendak beranjak ke tempat Kaliana untuk meyakinkannya, kembali berjalan ke tempat duduknya tanpa bisa melepaskan padangannya dari Kaliana. Nama itu, hanya satu orang yang memanggilnya demikian, yaitu Anny. Teman SMP nya. Marons sudah tidak bisa konsentrasi mengikuti GP, karena perhatiannya hanya untuk memastikan siapa Kaliana sebenarnya.


Mengapa dia mengetahui nama itu dan memanggilnya demikian. Padahal selama ini, dia selalu memanggilnya dengan Pak Marons. Kejadian yang baru terjadi berputar di kepalanya, membuat dia ingin acara segera berakhir. Agar dia bisa bicara bebas dengan Kaliana.


Marons meniup nafasnya dengan kuat, saat melihat Kaliana masih menggerakan tangan seperti semula sambil melihatnya. Supaya Marons bisa tenang dan memberikan kesempatan untuk Kaliana menyelesaikan apa yang sedang dilakukannya.


Sedangkan Kaliana hampir menggigit lidahnya, setelah memanggil nama panggilannya kepada Marons. Nama itu sering dia sebut saat Marons mengganggunya dengan menarik atau mempermainkan rambutnya dengan memukulnya ke kiri dan kanan. Seperti ekor kuda sedang berayun. Kaliana akan membalikan wajahnya dan meneriaki Marons untuk segera menghentikan gangguannya.


"Ibu Kaliana, anda berlaku tidak adil. Anda sengaja menghentikan petugas untuk membiarkan dia memukulku." Ucap Jaret protes sambil menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan Marons.


"Anda tidak dengar atau tidak melihat saya sudah menghentikan Pak Marons untuk menghajar anda lagi? Keadilan mana yang anda harapkan, jika tidak bisa memagari mulutmu saat mengucapkan kata-kata yang tidak pantas?" Tanya Kaliana emosi terhadap Jaret yang mengeluarkan kata kasar kepada Marons.


"Ada hubungan apa anda dengan Pak Marons, sehingga sepanjang gelar perkara ini, anda cendrung membelanya? Apanya yang salah dengan yang saya katakan? Memang dia bisa memberi istrinya anak? Istrinya menginginkan anak, tapi dia tidak bisa memberinya." Jaret kembali berkata yang menyinggung Marons sebagai laki-laki dan juga suami. Ketika melihat gerakan Marons untuk kembali berdiri, Kaliana mengangkat kedua tangannya dan menurunkannya berualang kali untuk menenangkan Marons.

__ADS_1


Marons yang naik level emosi mendengar apa yang dikatakan Jaret, kembali hendak berdiri untuk menghajar Jaret. Tetapi secara refleks dia melihat ke arah Kaliana, sehingga mengurungkan niatnya dan tetap duduk dengan amarah yang meluap.


Kaliana jadi emosi, saat mendengar Jaret kembali mengucapkan kalimat yang sama. Orang ini benar-benar tidak peka dengan situasi. Kaliana segera kirim pesan kepada Pak Yosa untuk membawa yang dimintanya ke ruang GP.


"Bram, sebentar lagi Pak Yosa kemari. Tolong minta seorang petugas mengambil yang dibawanya ke sini. Setelah gelar perkara, tolong tes urinenya, untuk memastikan kondisinya." Bisik Kaliana kepada Bram, agar Jaret dites urinenya.


Kaliana kembali melihat Jaret yang sedang menanti jawabannya. "Anda menanyakan hubungan saya dengan Pak Marons? Pak Jaret... Anda mengurusi hubungan orang lain, tanpa memperhatikan hubungan anda. Tadi Pak Marons sudah membuat mulut anda mengeluarkan kecap. Anda ingin saya membuat gigi anda joging?" Kaliana menatap Jaret dengan tajam.


"Jika tidak bisa mengedalikan lidah anda, saya akan memasang tali kekang di lidah anda. Atau mau saya pasang tulang di lidah anda supaya bisa berbicara lurus dan tidak berkelok-kelok?" Ucap Kaliana sambil terus melihat Jaret. Kaliana belum turun level emosinya.


"Anda menunjuk jari kepada Pak Marons dan mengatakan kalimat itu dengan bangga. Lalu apakah anda sendiri bisa memberikan anak kepada istri anda?" Tanya Kaliana tajam, karena dia tahu Jaret belum memiliki anak.


Semua orang terkesima mendengar perkataan Kaliana dan melihat ke arah Jaret. Mereka baru menyadari, kalau Jaret belum memiliki anak juga. 'Ini yang dikatakan cili kata cabe, sama saja.' Kata istri Kebart sambil melihat Jaret dan menggelengkan kepalanya, heran.


"Anda sangat tidak tau diri dan tidak tau malu. Pak Marons menanam di ladang, miliknya sendiri. Hasilnya negatif atau positif, itu tergantung pada Tuhan Sang Empunya Kehidupan. Sedangkan anda menamam di kebun milik orang lain, tapi tidak merasa bersalah terhadap pemiliknya. Malah dengan bangga memamerkan kekurang ajaran anda. Bukankah anda itu seorang penyusup dan juga pencuri di ladang orang?" Kaliana terus berkata tanpa memberikan kesempatan untuk Jaret menyangganya.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2