C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Penyelidikan 3


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Penyidik Bram telah bertemu dengan pimpinannya untuk melaporkan kasus yang sedang ditanganinya. Dia perlu melapor terlebih dahulu, karena ada anak seorang pejabat pemerintah sedang diperiksa sebagai saksi. Sehingga pimpinannya harus mengetahui duduk perkaranya, kenapa anak pejabat tersebut dimintai keterangan, agar tidak terjadi salah paham.


Jika memeriksa keluarga pejabat yang ada dalam lingkungan pemerintahan, ada banyak aturan yang berlaku. Tidak seperti memeriksa rakyat biasa, tinggal diminta datang untuk memberikan kesaksian. Tidak perlu berbelat belit atau melewati banyak aturan dan berpikir dengan banyak sangkutannya.


Bram merasa lega, saat pimpinannya hanya berpesan, untuk berhati-hati dan harus menyiapkan bukti yang valid, agar jika berhadapan dengan pihak terkait, tidak terjadi friksi. Oleh sebab itu, kenapa Bram mengajak Kaliana untuk berkolaborasi. Kaliana bisa bergerilia di luar aturan yang tidak bisa dilanggar oleh Bram.


Jika Jaret benar Ayah janin itu, ada banyak aturan yang harus dilanggar agar bisa membuktikan Jaret terlibat atau tidak dalam kasus tewasnya Rallita. Menjadi Ayah janin, belum tentu bisa menjadi pembunuh. Sehingga Bram tidak bisa gegabah untuk menaikan status Jaret dari saksi menjadi tersangka hanya karena terbukti Jaret Ayah dari bayi yang dikandung oleh korban.


Bram sudah bekerja dengan Kaliana, jadi sangat mengenal kinerjanya. Dalam menghadapi orang seperti Jaret, dengan keterangan yang berbelat-belit, dia membutuhkan kejelian Kaliana untuk melihat dan menganalisa semua keterangannya. Kaliana juga tidak terikat dengan aturan, sehingga dia bebas untuk melewati beberapa pagar yang tidak bisa ditembus oleh Bram.


Apalagi Kaliana seorang independen yang telah disewa oleh kekuarga korban. Dia pasti akan bekerja lebih ekstra untuk mencari bukti selain yang dimiliki oleh pihak kepolisian. Sehingga dia bisa melengkapi bukti-bukti yang dimiliki pihak kepolisian untuk menemukan pembunuh yang sebenarnya.


Setelah menerima hasil pemeriksaan, bahwa Jaret adalah Ayah janin dalam kandungan korban, penyidik segera memanggil Jaret untuk dimintai keterangan lanjutan. Kali ini, Jaret tidak bisa berkelit dengan banyak alasan untuk tidak hadir. Pengacaranya telah berbicara dengannya setelah pulang dari kantor polisi, saat pemeriksaan pertama. Jika dia tidak koperatif, akan mempersulit posisinya.


Jaret melarang pengacaranya untuk membicarakan apa yang sedang terjadi dengannya kepada orang tua juga istrinya. Karena dia hanya dimintai keterangan, belum jadi tersangka. Jadi tidak perlu dibesar-besarkan dan orang tuanya tidak usah ikut campur.


Tetapi pengacaranya sedikit khawatir dengan sikap dan jawaban-jawaban Jaret kepada penyidik. Dia tidak bisa mengontrol apa yang akan dijawab oleh Jaret, karena dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Jaret. Sehingga dia tidak dapat mengatur jawaban Jaret.


Dia bukan pengacara pribadi, jadi tidak mengenal baik kehidupan Jaret. Dia baru diminta sebagai pengacara Jaret, karena ada surat panggilan dari kepolisian. Dia hanya diminta untuk mendampinginya, karena Jaret sangat yakin, dia tidak akan dikaitkan dengan masalah tewasnya Rallita.


Jaret merasa percaya diri untuk datang ke kantor polisi, karena dia sudah putuskan akan mengatakan yang sebenarnya kepada penyidik tentang hubungannya dengan Rallita. Dari pertanyaan penyidik, dia jadi berpikir, mungkin orang tua Ralkita telah memberitahukan tentang hubungannya dengan Rallita di masalah lalu sebagai pacarnya. Jadi dia tidak perlu berbohong tentang itu.

__ADS_1


°***°


Kaliana telah tiba di kantor polisi, sebagaimana yang diminta oleh penyidik Bram untuk ikut menghadiri pemeriksaan Jaret sebagai saksi. Kaliana disambut dengan sapaan yang membuat para petugas melihat penyidik Bram dengan alis bertaut, tetapi jadi tersenyum mendengar balasan Kaliana.


Bram dengan gembira mengajak Kaliana salaman yang tidak lazim dan baru bagi Kaliana. Dia menautkan belakang tangan, sapuan telapak tangan, memegang belakang kepala dan membuat jari seakan menembak.


"Apaan lagi, nih..." Tanya Kaliana, setelah menyapa semua petugas yang ada di ruangan.


"Ini tanda kerja sama kita, tanpa kertas. Ayooo, buat dalam kecepatan tinggi. Aku mau lihat seberapa cepatmu, setelah sekian lama tidak bersamaku." Ucap Bram dengan wajah serius.


Kaliana langsung membuat gerakan itu dalam kecepatan tinggi, tapi saat membuat gerakan menembak, dia mengeluarkan suara 'cleek' sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah Bram. Membuat semua yang ada dalam ruangan tersenyum tertahan.


"Itu bukan mainan. Itu ada artinya. Menautkan belakang tangan, berarti kita berbeda profesi. Sapuan telapak tangan, adalah tanda tangan kontrak kerja. Tangan di belakang kepala, sembunyikan indentitas. Tangan menembak, sama-sama fokus membidik sasaran." Bram menjelaskan tanda yang baru dibuatnya dengan Kaliana.


"Bagaimana bisa konsen di hadapan gadis tomboy yang makin cantik. Ternyata lama tidak bertemu denganku, berpengaruh positif buatmu." Ucap Bram mulai ngegombal.


"Simpan gombalmu, itu. Mana hasil pemeriksaan sebelumnya? Aku lihat sebentar sebelum bertemu orangnya." Ucap Kaliana, lalu menerima lembaran kertas yang sudah di tanda tangani Jaret, setelah Bram memberikan kode kepada petugas. Kaliana melihat BAP nya dengan alis bertaut.


Kaliana mengembalikan kepada petugas, lalu berjalan masuk ke ruang interogasi. Kaliana hanya berdiri mengawasi Jaret, sedangkan Bram duduk untuk meninta keterangan. Setelah petugas menbaca BAP yang telah ditanda tangani, Bram menanyakan Jaret. "Ada yang mau anda rubah dari isi BAP itu?" Tanya Bram serius.


"Ada, Pak. Saya bukan teman, tapi mantan pacar Lita. Kami pacaran di SMA." Ucap Jaret yang tidak jadi percaya diri lagi, saat belihat Bram masuk bersama Kaliana. Dia merasa pernah melihat Kaliana, tapi dimana. Karena wajah Kaliana familer baginya.


"Ada lagi...? Tanya Bram tenang dan serius

__ADS_1


"Kami bertemu terakhir, tiga bulanan yang lalu." Ucapan Jaret membuat Bram melihatnya dengan serius. Berarti apa yang dikatakan Marons benar, bertemu dengannya di hotel.


"Ada lagi...? Tanya Bram lagi, kembali serius. Perubahan pernyataan Jaret membuatnya bersemangat untuk menggali.


"Dimana anda dan korban bertemu terakhir kali itu?" Tanya penyidik, lalu Jaret nenyebutkan nama salah satu hotel bintang lima.


"Apa yang anda berdua lakukan di sana?" Tanya penyidik lagi.


"Kami kebetulan bertemu, karena ada acara di sana." Jawab Jaret mencoba tenang. Dia menjawab seperti yang dikatakann Rallita padanya.


Banyak hal yang ditanyakan penyidik berkaitan dengan pertemuan itu dan Jaret menjawabnya dengan berpikir lama dan juga ragu-ragu. Dia berusaha menghindari jawaban yang menyatakan ada hubungan spesial diantara dia dengan korban setelah pertemuan terakhir. Hal itu membuat Kaliana gemas mendengarnya.


"Pak, mohon ijin bertanya kepada saksi." Kaliana berkata kepada Bram dengan hornat. Bram mempersilahkan Kaliana duduk di kursinya dan Bram berdiri di tempat Kaliana sebelumnya berdiri.


"Pak Jaret, tadi anda katakan pertemuan terakhir anda dengan korban hanya kebetulan. Setelah itu, apakah anda ada berkomunikasi dengannya? Seperti telpon, chat, email dan lainnya, tanpa bertemu?" Tanya Kaliana serius, membuat Jaret kebingungan. Jika dia salah menjawab, bisa membahayakan dirinya.


"Iya, Bu. Kami ada berkomunikasi dan berkirim email beberapa kali." Ucap Jaret ragu-ragu.


"Anda mau mengatakan kepada kami bahwa sekarang sp**ma sudah bisa diemail?" Tanya Kaliana serius tanpa ekspresi langsung pada sasarannya.


Bram langsung berbalik menghadap tembok untuk menyembunyikan tawanya. Begitu juga dengan petugas yang sedang mencatat, langsung berhenti mengetik. Ruang interogasi seperti penuh dengan orang yang mematung. Jaret hanya melihat Kaliana dengan wajah tidak mengerti.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2