C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Benang Merah


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Dokter Yogi terus mengibaskan tangannya yang masih terasa panas. "Anda paling bisa mengalihkan jawaban dari pertanyaanku. Sedang apa di sini? Kenapa tidak ke rumah sakit tempatku bertugas, malah datang ke sini. Atau ada yang sakit di sini?" Tanya Yogi penasaran, karena Kaliana tidak datang konsultasi di rumah sakit utama tempat tugasnya.


"Oooh... Iya, dok. Ini dalam rangka tugas negara bukan karena sakit atau mau ketemu dokter. Lalu dokter sendiri kenapa ada di sini? Jangan bilang lagi cuci mata, ya." Kaliana berkata pelan seakan berbisik.


Yogi yang sedang melihat kesempatan untuk mengerjai Kaliana, langsung ikut berbisik. "Jangan bilang-bilang, ya. Dokter di sini cantik-cantik, jadi kalau perlu penyegaran mata, harus datang ke sini." Yogi berkata pelan seakan berbisik, karena melihat Dewi sedang senyum tertahan di belakang Kaliana.


"Di sini ada dokter yang lebih cantik dari dokter Dewi? Perlu diperiksa matanya, dok." Ucap Kaliana yang tidak menyadari kehadiran Dewi.


"Ada dong.. Tuuu, di belakangmu." Ucap Yogi, sambil menunjuk ke belakang Kaliana dengan wajahnya. Kaliana refleks menengok ke belakang dan terkejut melihat Dewi sedang tersenyum melihat Kaliana dan Yogi.


Kaliana secara refleks memukul tangan Yogi yang dipelintirnya membuat Yogi meringgis kesakitan. "Upah mengerjai saya. Dokter Dewi, tolong ngobatin dokter Yogi, ya. Tadi saya tidak sengaja melakukan tindakan kekerasan kepada dokter ganteng ini." Ucap Kaliana sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya, minta maaf.


"Dokter Dewi tugas di sini juga?" Tanya Kaliana melihat para perawat dan dokter menyapanya dengan ramah dan hormat.


"Iya, Anna. Aku tugas utama di sini, hanya membantu di rumah sakit yang kita bertemu itu. Sama dengan Yogi, membantu di sini, tugas utama di sana." Dewi menjelaskan tugas mereka di rumah sakit itu.


"Oooh.. Ternyata bukan kolab hati saja, tapi juga kolab tugas. Dua jempol." Ucap Kaliana sambil mengangkat dua jempolnya.


"Kalau dr Dewi tugas di sini, tau ruang rawat anak? Saya ada perlu melihat pasien anak." Tanya Kaliana, pergunakan kesempatan kenal orang dalam.

__ADS_1


"Tahu, Anna. Yogi juga tau. Biar diantar Yogi saja, ya. Aku sudah dipanggil." Ucap dr Dewi saat mendengar namanya dipanggil lewat pengeras suara.


Setelah ditinggal dr Dewi, Kaliana dan dr Yogi berjalan menuju bangsal perawatan anak. Ketika hendak berjalan di lorong kamar perawatan anak, tiba-tiba Kaliana berbalik menghadap Yogi yang ada di belakangnya.


Membuat Yogi tertegun dan ngerem juga dengan tiba-tiba. "Ada apa Anna, aku hampir memelukmu, jika remku tidak pakem." Ucap Yogi yang masih berdiri tertegun. Sedangkan Kaliana masih berdiri menghadap dada Yogi, sambil meletakan kedua tangannya di depan dadanya, minta maaf.


"Dokter, tolong lihat pria yang memakai topi dan jacket hitam di belakangku arah jam dua. Dia berhenti di kamar mana, ya? Maaf kita berhenti sebentar dan dalam posisi begini." Ucap Kaliana pelan seakan berbisik, karena terkejut melihat Jaret muncul tiba-tiba dan berjalan cepat melewati mereka.


Dr Yogi jadi ikut melihat seperti permintaan Kaliana. Dia memperhatikan sambil menahan nafas, karena posisi Kaliana yang sangat dekat dengannya. "Sebentar, dia sudah berbalik ke arah kita." Dr Yogi jadi ikut seperti detektif.


Kaliana mengaktifkan alat komunikasinya dengan team. "Pensi, ada kasel (kasus selokan) satu. Lihat lobby." Kaliana mengirim pesan kepada Pak Yosa, agar segera turun menuju lobby rumah sakit.


Yogi jadi ikutan tegang saat melihat Jaret makin mendekati mereka. "Dia akan melewati kita. Eeeehhh... kenapa dia berbalik lagi?" Tanya Yogi heran, membuat Kaliana refleks menengok ke belakang dan berjalan cepat untuk mengikuti Jaret dari belakang.


Kaliana menyalahkan kamera di rompinya, agar Putra bisa melihat dan yang di kantor bisa mengikuti. "Boy, Kebart lewatin lobby." Tiba-tiba Pak Yosa mengirim pesan. Kaliana segera berbalik dan melihat dr Dewi dan dr Yogi berjalan cepat mengikutinya.


Kaliana menahannya, saat melihat Kebart berjalan ke arahnya. Dia mengajak dr Yogi dan dr Dewi berbicara. "Mereka orang-orang yang terkait dengan tewasnya istri Pak Marons, dokter. Mohon maaf, tadi tiba-tiba karena tidak diprediksi oleh kami." Ucap Kaliana sambil menghindari wajahnya dari Kebart yang akan melewatinya.


Dr Yogi dan dr Dewi mengangguk mengerti, lalu melindungi Kaliana dari orang-orang tersebut. "Eeeh... Kenapa orang yang pakai topi tadi berjalan lurus ke depan, sedangkan di depan tidak ada jalan lagi?" Tanya dr Dewi heran.


"Oooh ... Dia mau ke toilet. Anna, orang yang baru datang masuk ke kamar yang tadi orang bertopi berdiri di depannya." Ucap dr Yogi saat melihat Kebart masuk ke kamar tersebut.

__ADS_1


"Baik. Terima kasih dr Yogi dan dr Dewi, nanti aku kembali lagi kapan-kapan untuk bertemu dokter. Saya pamit dulu." Ucap Kaliana berjalan cepat ke arah lobby, tanpa menunggu salam balasan.


"Anna tidak jadi bertemu dengan yang sakit?" Tanya dr Dewi kepada dr Yogi yang masih melihat punggung Kaliana dengan tidak mengerti.


"Oooh iya, belum. Nanti kita tanyakan jika bertemu lagi. Sepertinya Anna lagi buru-buru. Aku ke ruang praktek dulu." Ucap Yogi, sambil mengelus sayang lengan dr Dewi. Kemudian mereka berpisah dengan banyak tanya di kepala. Mereka masih heran dengan apa yang baru terjadi dengan Kaliana.


Kaliana telah kembali ke tempat parkir untuk bertemu dengan Pak Yosa dan Raka. "Pak Yosa, kita tunggu sebentar, ada yang akan aku pastikan sebelum kita pulang." Ucap Kaliana yang masih berdiri di samping mobil Rallita.


"Pak Yosa, ikut dia dan kamera tetap on." Ucap Kaliana tegas, karena Pak Yosa belum dikenal oleh Jaret. Sedangkan Raka, mungkin pernah lihat di kantor polisi. Pak Yosa dengan sikap langsung berjalan cepat ke arah Jaret.


"Anna, dia hanya duduk dalam mobil. Apakah kita harus menunggu atau mendekatinya?" Tanya Pak Yosa saat melihat Jaret hanya duduk dalam mobil tanpa melakukan kegiatan apapun. Hal itu membuat Pak Yosa heran dan tidak mengerti.


"Pak Yosa segera kembali. Biarkan dia di situ, ada yang mau aku selidiki." Ucap Kaliana tegas, karena dia telah merencanakan hal yang berkaitan dengan apa yang baru terjadi dan dilihat. Semuanya makin jelas di pikiran Kaliana, sesuai dengan apa yang diselidiki oleh Putra.


"Raka, kami akan mengantarmu ke kantor. Nanti saya akan menghubungimu lagi untuk tugas berikutnya." Ucap Kaliana setelah Pak Yosa kembali ke mobil dan naik ke dalam mobil.


"Apakah kita tidak jadi kembali ke tempat yang tadi, Bu?" Tanya Raka kepada Kaliana dengan heran, karena dia diminta kembali ke kantor.


"Iyaa... Nanti berikutnya lagi, karena ada yang perlu saya pastikan dulu, sebelum ke tempat itu. Saya akan menghubungimu lagi setelah lebih jelas." Ucap Kaliana serius dan terus berpikir.


"Siiaaap, Bu. Tunggu perintah. Saya turun di tempat yang tadi saja, Pak. Karena motor saya parkir di sana." Jawab Raka dengan hormat kepada Pak Yosa.

__ADS_1


...~***~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2