C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Potongan Puzzle 6


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Seperti yang diminta Kaliana, Pak Yosa mampir ke rumah Marons untuk mengambil titipan dari Marons. Kesempatan itu juga dipakai oleh Pak Yosa untuk berbicara dengan Bibi yang bekerja di rumah Marons.


Kaliana menitip beberapa pertanyaan untuk ditanyakan kepada ART tersebut. Orang tua Marons sudah tidak ada di rumahnya, jadi Pak Yosa dengan leluasa berbicara dengan ART Marons. Apalagi Marons mengijinkan Pak Yosa berbicara dengan ART di ruang kerjanya, agar dia tidak merasa diawasi, sehingga bisa berbicara secara terbuka kepada Pak Yosa. Setelah semua pertanyaan telah dijawab oleh ART dengan baik, Pak Yosa langsung pamit pulang dari Marons.


Jalanan sudah mulai lenggang, membuat Pak Yosa bisa lebih cepat tiba di kantor. "Anna, ini titipan dari Pak Marons. Ada dua, satu sisa di pakai, dan yang satu masih baru, belum dibuka." Ucap Pak Yosa, sambil menyerahkan titipan Marons.


"Aku tidak menyangka Pak Marons benar memberikan yang baru untukku. Ini sangat membantu dan mempermudah penyelidikan kita. Besok Pak Yosa tolong bawa ke Lab untuk diperiksa kandungan zat dalam teh ini." Ucap Kaliana sambil menulis catatan untuk kedua botol tersebut.


"Apa dibawa dua, duanya? Bukankah yang satu itu untukmu?" Tanya Pak Yosa, belum mengerti maksud Kaliana. Menurut Marons, yang belum dibuka untuk dikonsumsi Kaliana.


"Iya, Pak Yosa. Pak Marons memamg mau berikan itu untukku, agar coba diminum sebelum tidur. Tetapi aku tidak akan meminumnya, tetapi untuk diperiksa bersama dengan yang satunya. Pak Yosa minta tolong petugas Lab untuk memeriksa isi kedua botol ini." Ucap Kaliana senang, karena dengan pemberian Marons, dapat mempersingkat penyelidikan mereka.


"Kita tidak perlu meminta petugas Lab mencari zat tertentu dalam botol yang lama. Tetapi minta saja mereka meneliti isi kedua botol ini. Apakah kandungan zat dalam kedua botol ini berbeda. Jika berbeda, aku ingin tahu perbedaannya." Ucap Kaliana serius dan Pak Yosa mengerti maksud Kaliana.


Mereka tidak akan mencari zat tertentu dalam botol lama. Tetapi jika kandungan isi botol itu berbeda, berarti ada yang tidak benar. Zat yang berbeda itu akan membantu penyelidikan mereka. Pak Yosa langsung memasukannya ke dalam tas, agar besok bisa langsung dibawa ke laboratorium.


"Mari kita bicara di ruang pertemuan bersama yang lain. Ternyata kau benar, ART tau banyak hal dalam rumah itu. Semua pertanyaan yang kau kirim untuk ditanyakan, dia jawab dengan jelas dan yakin. ART nya sudah lama ikut Pak Marons, sebelum menikah. Tadinya bekerja di rumah orang tuanya. Semenjak Pak Marons menikah, orang tuanya meminta beliau membawa ART tersebut untuk bekerja di rumahnya." Ucap Pak Yosa sambil berjalan ke ruang pertemuan.

__ADS_1


Setelah semua berkumpul, Pak Yosa menyampaikan semua keterangan yang diperoleh dari ART. "Menurut ART, istri tuannya tidak bisa bekerja di dapur. Setiap hari keluar, jika Pak Marons pergi kerja atau sedang pergi ke luar kota. Beberapa kali dia melihat istrinya pulang tengah malam, bahkan dini hari. Pernah sekali dia melihat Nyonyanya pulang pagi, karena dia sudah bangun."


"Apakah dia tidak katakan itu kepada tuannya?" Tanya Kaliana, serius dan penasaran.


"Tidak, karena dia diancam oleh korban. Jika menceritakan itu kepada tuannya, dia tidak akan dipecat, dan akan berakhir di kantor polisi." Ucap Pak Yosa menirukan apa yang dikatakan ART.


"Apakah Pak Marons tahu yang dilakukan istrinya itu? Maksudku, tanpa diberitahu olehnya, tapi Pak Marons tahu dengan sendirinya." Tanya Kaliana lagi.


"Tidak. Pak Marons akan bangun pagi lalu sarapan dan ke kantor. Semua keperluannya disediakan oleh ART. Sedangkan korban bangun setelah Pak Marons berangkat kerja atau bangunnya siang." Ucap Pak Yosa, sambil mengingat mimik wajah ART yang kesal saat mengatakan itu.


"Dia menceritakan juga, beberapa hari sebelum tewas, suami istri bertengkar hebat. Suara korban yang menjerit dan bentakan Pak Marons membangunkannya. Dia ingat betul, karena Pak Marons tidak pernah seprtti itu. Sangat marah sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menghindari istrinya.


Kalau orang lain yang tidak lihat dan hanya dengar suara, mereka akan berpikir terjadi KDRT. Tetapi sebenarnya, istrinya itu hanya mau ambil yang ada di tangan Pak Marons." Pak Yosa menceritakan hal itu, jadi ikutan emosi membayangkan kejadian itu.


"Iya, aku yang perempuan jadi malu dengarnya. Ada, ya, perempuan seperti itu." Ucap Novie yang ikutan kesal.


"Ada, tuuu..." Ucap Putra sambil menunjuk ke layar TV dengan wajahnya, dimana ada foto jenasah Rallita sedang diangkat dari selokan.


"Ayooo, jangan sampai rasa kesal mempengaruhi objektivitas kita. Sampai di sini, berarti apa yang dikatakan Pak Marons tentang kejadian itu benar. Putra tolong satukan keterangan saksi dengan foto luka Pak Marons." Ucap Kaliana, meredam emosi teamnya yang mulai kesal.

__ADS_1


"Ooh, iya. Menurut ART, korban sering telpon di malam hari. Jadi jika tidak keluar rumah, pasti akan telpon berjam-jam saat Pak Marons sudah tidur. Jadi kejadian ribut itu, mungkin Pak Marons terbangun." Pak Yosa sampaikan dugaan yang dikatakan ART.


"Astagaaaa... Bukannya tidur peluk suami, malah kecentilan di malam hari. Seharusnya orang itu diperiksa kewarasannya, jangan sampai sudah digondol guguk." Ucap Novie yang tidak bisa menahan emosinya.


"Astagaaaa... Mbak Novie. Bagaimana bisa, mau diperiksa lagi. Kewarasannya bukan digondol guguk, tapi sudah digondol cacing." Ucap Putra yang suka ledekin kakak-kakanya, karena dia yang paling muda dari anggota Team Sopape.


"Iyaa... Dia bukan saja harus diperiksa kewarasannya, tapi juga matanya. Jangan-jangan dia sudah katarak usia dini, sampai tidak bisa melihat suaminya dengan jelas. Kurang apa hayooo... Gantengnya, dapat... Baiknya, dapat... Sabarnya, dapat... Tajirnya melintir.... Nanti sudah digondol wanita lain, baru nangis bombay sambil jedotin jidat ke tiang." Ucap Yicoe, meluapkan emosi dan kesalnya, hingga tidak menanggapi candaan Putra.


"Astagaaa... Mbak Yicoe, aku kira hanya tertarik dengan angka-angka. Ternyata melihat cowo bening bisa uuuhhhuuiiii.. Tumben para wanita, biasanya akan membela kaumnya. Kenapa sekarang, pada marahin kaumnya? Mbak Anna jangan dikasih spasi. Sambung seperti gerbong kereta senja sore malam." Ucap Putra sambil tersenyum, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau istriku seperti itu, tinggal pilih. Ponselnya yang cium lantai atau kepalanya yang cium tembok." Ucap Pak Yosa meluapkan emosi yang ditahannya dari rumah Marons, saat mendengar keterangan ART tersebut.


"Loooh... Ko' Pak Yosa ikutan juga? Aku gimana dong, Pak." Ucap Putra dengan mimik lucunya.


"Yaaa, sudah. Jangan ikutan. Kalau dapat pacar atau istri seperti itu, no complaint. Berikan dia spasi yang panjaaaang, biar puas." Ucap Novie lagi, sambil membuka kedua tangannya, lebar.


"Jangan Mbak, biarkan orang begitu main cacing tanah saja. Kasihan laptop, dan otakku bisa error." Ucap Putra lagi sambil tersenyum. Dia sendiri sudah emosi mendengar cerita Pak Yosa, tetapi dia coba bercanda agar mereka bisa fokus bekerja.


"Baiknya emosi kita diarahkan ke arah yang positif. Karena tidak ada gunanya marah sama orang yang sudah tidak ada. Yang harus kita lakukan, bekerja sebaik mungkin untuk menolong Pak Marons. Agar hidup dan mati istrinya tidak menyusahkan." Ucap Kaliana serius, emosi dan bercampur sedih.

__ADS_1


...~***~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2