C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Seiring Waktu 4.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Sebenarnya, Putra hanya iseng mendengar percakapan Kaliana dan Bram, karena suka mendengar gombalan Bram yang lucu. Sehingga dia mengajak Marons dan snggota team yang lainnya untuk mendengar. Tidak tahunya bukan hanya gombalan, tapi nanyak hal serius yang dibicarakan oleh Kaliana dan Bram. Dalam kondisi tersebut, Putra sudah tidak bisa mundur atau matikan karena ada Marons. Akan sangat berbeda, jika hanya anggota team sopape saja, Putra akan mematikan mode komunikasi mereka.


Kaliana duduk di depan Marons dengan jantung berdegup tidak beraturan karena dia tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikiran Marons. Itu bisa dilihat dari wajahnya yang tidak hangat seperti biasanya, saat menatapnya dan juga saat meminta bicara dengannya.


Kaliana menunggu Marons membuka percakapan, karena dia tidak tahu mau mengatakan apa dan Marons yang meminta untuk mereka berbicara berdua. Jadi dia hanya sabar menunggu Marons membuka percakapan, walau dia tidak sabar dan cemas


Marons memandang Kaliana dengan berbagai perasaan yang tidak bisa dia terjemahkan. Ada banyak rasa di hati dan ada banyak tanya dalam kepalanya. Dia yang minta bicara dengan Kaliana, tetapi tidak tahu mau bicarakan yang mana terlebih dahulu. Sedangkan dia juga memikirkan anggota team yang sudah keluar.


"Apa penyelidikan kasus ini membuat kau lelah sampai tidur seperti itu?" Tanya Marons melunak, saat melihat Kaliana hanya diam menunggu pembicaraan darinya.


"Bukan penyelidikan yang membuat lelah, Pak. Hanya tadi malam ada yang aku pikirkan, jadi tidak bisa tidur. Aku perlu memganalisa beberapa temuan kami untuk menarik benang merahnya. Tau-taunya sudah Subuh dan berusaha tidur. Akhirnya, kurang tidur dan terlihat lelah." Kaliana menjelaskan dengan detail, karena melihat wajah Marons yang tidak bisa terbaca maknanya.


"Kau masih akan bertemu dengan orang yang di Malang itu? Orang yang berkemeja hitam, yang kalian kenal." Tanya Marons mencoba mengalihkan perasaannya saat mendengar penjelasan Kaliana. Tidak mudah berprofesi seperti ini, apalagi harus bertemu dengan orang yang kotor dan jahat.


"Tidak harus, Pak. Hanya jika perlu saja. Tapi kebanyakan, kami tidak berhadapan dengan orang-orang seperti itu, karena sudah ada Putra. Tapi kalau orang seperti itu perlu dihajar, yaaa... Apa boleh buat, harus berhadapan. Sekarang Putra belum menemukan cara agar kami bisa mengirimkan pukulan online. Supaya orangnya bisa babak belur tanpa kami menyentuhnya." Ucap Kaliana serius, tapi jadi tersenyum sendiri mendengar ucapannya.

__ADS_1


Apa yang dikatakan Kaliana membuat Marons tersenyum dalam hati. 'Pantas orang yang tadi senang ledekin Kalia. Jawabannya membuat yang mendengar bisa tertawa senang.' Marons membantin setelah mendenfar ucapan Kaliana. Dia sendiri merasa hal yang sama, senang bisa bercakap-cakap dengan Kaliana.


"Aku berharap, kau tidak perlu berhadapan dengan orangnya, walaupun ada Pak Yosa. Aku tidak menyukai auranya, saat melihat dia malam itu. Entah kenapa, aku merasakan aura gelap orang itu seperti bajunya." Ucap Marons serius, tanpa membahas apa yang didengar saat menguping pembicaraan Kaliana dan Bram.


"Tenang saja, Pak. Yang lebih gelap dari dia pernah kami hadapi. Jadi sudah biasa dalam profesi seperti ini. Kalau tidak ada orang-orang seperti itu, tidak menarik kata Putra. Tapi kalau Yicoe dan Novie, mereka akan katakan ini baru seruuu..." Ucap Kaliana sambil tersenyum, lalu mengangkat dua jarinya kepada Marons, peace. Karena melihat Marons terkejut mendengar apa yang dikatakannya.


Kaliana ketelepasan bicara soal kesukaan anggota teamnya, jika harus berbenturan dengan lawan seperti itu. Padahal Marons sedang melihatnya dengan rasa khawatir. Apalagi telah mendengar percakapan Kaliana dengan Bram.


"Anggota teammu yang merasa itu menarik dan seru, atau kau yang menganggap demikian?" Tanya Marons yang melihat Kaliana masih mengacungkan dua jarinya, berharap Marons tidak marah atau melarangnya.


"Kami semua, Pak. Walau tegang, tapi lebih banyak seruuunya. Lagian apa gunanya kami berlatih, jika tidak dipraktekan. Anggap saja sebagai arena uji coba kemampuan, biar makin mahir." Kaliana menjelaskan sambil tersenyum agar Marons bisa mengerti.


"Karena aku yang memintanya. Sudaaa... kalau bisa hindari, hindari saja. Jangan kalian malah sengaja melakukannya, karena menganggap ada keseruan." Ucap Marons serius sambil menatap mata Kaliana untuk meyakinkannya. Kaliana hanya bisa mengangkat kedua jarinya, mengajak damai. Karena dia tidak bisa berjanji bahwa tidak ada benturan.


"Oooh, iya. Kau sudah pesan rompi untukku?" Tanya Marons mengalihkan pembicaraan dan mengingat permintaannya kepada Kaliana.


"Belum, Pak. Kami sibuk beberapa waktu belakangan ini. Nanti setelah ini, kami akan berusaha untuk mendesain ulang dan pesan. Ada beberapa bagian yang perlu ditambahkan, supaya bisa sekalian." Ucap Kaliana pelan, karena tidak menyangka Marons sedang menunggu rompi tersebut.

__ADS_1


"Baik. Selesaikan dulu kasus ini, nanti baru kita bicarakan yang lain, selain rompi itu." Ucap Marons serius, karena ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Kaliana. Tetapi sekarang, dia tidak mau membicarakannya, khawatir mengganggu konsentrasi Kaliana saat menangani kasus tewasnya Rallita.


"Ooh iya, Kalia... Apa malam ini aku bisa menginap di rumahmu?" Tanya Marons serius. Dia sudah tidak ingin pulang, karena apa yang dirasakan sepanjang hari menguap saat dia sedang berada bersama Kaliana dan teamnya. Dia ingin mengakhiri hari ini dengan tenang bersama Kaliana dan anggota team lainnya.


"Pak, bukan tidak boleh. Tapi rumahku sangat sederhana dan tempat tidurnya tidak nyaman. Kalau mau, kami bisa mengantar bapak pulang ke rumah." Ucap Kaliana pelan, mengharapkan pengertian Marons. Dia sudah pernah tidur di rumah Marons, jadi sudah tahu kualitas tempat tidur Marons yang nyaman.


"Tidak mengapa. Mari kita pulang ke rumahmu, agar aku bisa tidur malam ini. Banyak hal yang terjadi hari ini, membuat kepalaku mau pecah." Ucap Marons lagi dan dia tahu, Kaliana akan mengijinkan jika dia katakan kepalanya sakit. Sebagaimana yang pernah terjadi, saat mereka naik mobil dan tertidur dalam mobil.


Kaliana tertegun dan melihat Marons dengan serius untuk meyakinkan dirinya, bahwa Marons sedang berbicara serius dengannya. "Pak Marons serius, mau menginap di tempatku?" Tanya Kaliana seakan tidak percaya. Dia belum yakin dengan permintaan Marons.


"Serius, semuarius. Sudah, jangan banyak tanya lagi. Mari kita pulang, supaya bisa tidur. Bukannya tadi kau bilang kurang tidur? Ayoooo...!" Ucap Marons mendesak saat melihat keraguan di wajah Kaliana.


Melihat tatapan Marons yang serius dan mulai menghangat, Kaliana tidak bisa menolak permintaannya untuk menginap di rumahnya. Dia mengangguk pelan lalu mengajak Marons keluar ruangan untuk menemui anggota team. Sedangkan anggota team lainnya sedang menunggu mereka keluar dengan hati was-was.


"Pak Marons akan menginap di tempat kita malam ini, karena sudah malam untuk pulang." Ucap Kaliana pelan tapi serius, saat melihat anggota team sedang menunggu. Dia sudah tidak tahu mau memberikan alasan apa kepada anggota teamnya, tentang permintaan Marons. Dia hanya bisa bersyukur, mereka pernah tidur di rumah Marons, jadi agak lebih mudah mengatakannya.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2