C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Gold Card


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Semua kenangan masa remaja dan perlakuan Marons kepadanya saat itu, kembali terbayang di angannya. Kaliana duduk di dalam toilet untuk menenangkan hatinya agar tidak melakukan suatu kesalahan yang dapat merusak pekerjaannya. Apalagi melihat kondisi Marons saat ini, yang sedang banyak pikiran dan Kaliana sedang berusaha untuk menolongnya.


Sikap Marons yang tidak banyak berubah. Walau pun kesannya dingin dan tidak perduli, tetapi untuk orang tertentu dia akan bersikap baik dan hangat. Sebagaimana yang pernah dilakukannya dulu, di saat mereka masih remaja. Dia selalu mengganggunya dengan berbagai cara, tapi dia akan sangat perhatian jika sesuatu terjadi padanya.


Pertemuannya yang singkat di ruang kelas, keisengannya, semua yang dilakukan Marons padanya membekas sangat dalam di hati Kaliana. Sehingga Kaliana tidak pernah melupakannya, walau pun puluhan tahun tidak pernah berkabar apalagi bertemu.


Dengan Bram atau yang lainnya, Kaliana bisa bersikap tegas dan cuek dalam berkata atau bersikap. Tetapi dengan Marons, dia sangat menjaga ucapan dan sikapnya. Hanya dengan perhatian kecil saja, Marons bisa meluluhkan hatinya. Selalu ada aliran hangat mengalir dari hatinya, ketika merasakan perhatian atau ucapan Marons yang sederhana sekali pun.


Marons bukan seperti Bram yang bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya. Walau pun itu lewat candaan atau serius, sehingga Kaliana tidak mengambil hati semua yang dikatakan Bram. Marons lebih banyak mengungkapkan perasaannya dalam tindakan. Kaliana pernah mengalaminya, saat Marons memberinya karet gelang untuk mengingat rambut di masa yang lalu. Jadi dia sangat memahami apa yang baru saja dilakukan oleh Marons.


Hal itu membuat Kaliana yang terbiasa membalas setiap ucapan Bram atau teman lainnya, tidak bisa berkata-kata saat Marons melakukan sesuatu. Kaliana akhirnya belajar membalasnya dengan tindakan.


Kaliana membasuh wajahnya sebelum keluar toilet untuk membaurkan sedih di matanya. Dia mengeringkan wajahnya dengan tissu di toliet, kemudian keluar. Dia khawatir Marons sudah menunggunya untuk makan. Dia bersyukur tidak dadan, jadi tidak perlu repot untuk mencari bedak dan pernak pernik dadan lainya ketika selesai membasuh wajahnya.


"Terjadi sesustu?" Tanya Marons saat Kaliana telah duduk di depannya dan makanan sudah disajikan di atas meja.


"Tidak, Pak. Hanya ingin membasuh wajah saja, karena keluar dari pagi wajah terasa kering." Ucap Kaliana, karena dia tahu Marons bisa lihat dia baru saja membasuh wajahnya.

__ADS_1


"Oooh, aku kira terjadi sesuatu di dalam. Mari kita makan.... Selamat makan." Ucap Marons setelah berdoa. Kaliana juga melakukan hal yang sama. "Selamat makan, Pak." Ucap Kaliana lalu mengambil french fries dan tertegun melihat fried chicken yang dipesan Marons untuknya.


"Kalau tidak bisa habisin, berikan saja padaku. Tidak usah tertegun seperti itu. Aku tidak tahu, porsi yang dipesan akan seperti itu. Kau tidak buru-buru, kan? Makan perlahan saja." Ucap Marons lagi, tenang dan hangat. Kaliana mengangguk mengiyakan, karena merasa tidak enak hati, sudah dipesan Marons.


Walau pun meminta Kaliana makan dengan perlahan, Marons tetap mengambil sepotong ayam dari piring Kaliana untuk mengurangi porsinya.


"Melihat ayam ini, aku teringat anggota teammu yang kerja di ruang kerjaku saat itu. Dia pasti akan senang menikmati ini. Nanti kapan-kapan, kau ajak mereka makan di sini. Aku yang traktir." Ucap Marons setelah menggigit ayam yang diambil dari piring Kaliana.


Kaliana hanya bisa mengangguk sambil menikmati ayam dan kentang yang memang enak. Dia jadi ikut membayangkan anggota teamnya makan seperti yang dimakannya. Putra akan membuat mereka berebutan, sehingga harus menambah porsi lagi.


"Iya, Pak. Terima kasih sebelumnya. Nanti sudah mulai longgar dan sudah lebih jelas kasusnya, aku akan mengajak mereka ke sini." Ucap Kaliana, merasa terima kasih, Marons mengingat anggota teamnya saat makan.


"Yaaa, Pak." Jawab Kaliana singkat.


"Apa kalian menguasai ilmu bela diri tertentu? Aku bertanya begini, karena melihat di teammu ada dua orang wanita." Ucap Marons yang diam-diam memperhatikan sikap dan cara kerja anggota team 'Sopape'. Kalau Kaliana, dia tahu pasti menguasai ilmu bela diri dari sikap dan juga tomboy. Sedangkan kedua anggota wanitanya, seperti wanita pada umumnya. Kalau dilihat, mereka lebih pantas bekerja di kantor dan ruangan ber ac. Bukan bergelut dengan orang-orang yang mungkin saja bersikap kasar pada mereka.


"Iyaa, Pak. Mereka semua mengusai ilmu bela diri. Pekerjaan kami, kadang bersinggungan dengan yang agak ekstrim. Sedikit banyak, kami harus kuasai satu ilmu belah dirii. Kami semua berlatih dua kali seminggu. Jadi kalau hanya untuk gunting lipat jari orang, mereka bisa lakukan itu sambil menutup mata." Ucap Kaliana ketelepasan bicara. Lalu menutup mulutnya dengan ketiga jarinya.


Marons tersenyum melihat gerakan tangan Kaliana. Dia tahu, Kaliana tidak sedang pamer, tapi itu ketelepasan bicara. "Aku sudah bilang, tidak usah bersikap formal. Aku tahu, pasti kau memiliki ungkapan yang tidak lazim. Aku memperhatikanmu saat bicara dengan teammu. Ungkapanmu sangat cepat direspon anggota teammu. Jadi aku tau, kalian sering menggunakan kata-kata seperti itu." Ucap Marons lagi.

__ADS_1


"Hehehe... Karena kami berkecimpung di lingkungan pekerjaan seperti ini, kami memiliki banyak ungkapan yang tidak lazim digunakan orang pada umumnya. Agar tidak mudah dipahami oleh orang luar. Hanya diantara kami yang tahu dan pahami maksud dari kata atau kalimat tertentu." Ucap Kaliana menjelaskan, karena bagaimana pun, Marons adalah clientnya. Dia mungkin akan sering mendengar ungkapan tidak lazim anggota teamnya.


"Aku mengerti. Kadang membuatku tersenyum sendiri mengingat ungkapan kalian. Aku yang hari-hari bertemu dengan orang yang selalu berbicara formal, ungkapan kalian menjadi sesuatu yang baru dan berbeda." Ucap Marons sambil tersenyum mengingat Putra saat berbicara dengannya.


"Ooh iya... Aku juga mau memberikan ini untukmu, agar bisa digunakan dalam keadaan tertentu. Aku harap kau menerimanya, karena aku perhatikan peralatan kerja kalian." Ucap Marons, mengingat dia menelpon Kaliana dan Kaliana meresponnya hanya dengan menyentuh telinganya.


Marons mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan dua buah kartu. Kartu berwarna hitam dia berikan kepada pelayan saat mengantar bill. Sedangkan yang gold dia letakan di atas meja, depan Kaliana.


"Ini kau gunakan dalam keadaan darurat saat menyelidiki kasus ini, jadi kau tidak perlu reimburse semua pengeluaran padaku. Perjanjian kerja sama yang diberikan Danny, itu kau menerimanya bersih. Sedangkan untuk semua pengeluaran tidak terduga, pergunakan ini." Marons sangat senang melihat cara kerja Kaliana dan teamnya, sehingga dia mau merubah apa yang dibuat Danny dalam surat perjanjian kerja sama.


Kaliana melihat Marons sambil tertegun. Baginya, apa yang diberikan dalam surat kerja sama itu sudah lebih dari standart biaya yang sering diberikan oleh client. Dia jadi ragu untuk menerima gold cardnya.


"Tidak usah ragu-ragu menerimanya. Jika tidak dibutuhkan, tidak usah gunakan cardnya. Aku tahu, kau melakukan beberapa pemeriksaan dan itu butuh dana. Waktu kami buat surat perjanjian itu tidak terpikirkan, kalian akan bekerja seperti ini." Ucap Marons yang mulai mengerti cara kerja Kaliana dan teamnya. Saat Kaliana meminta teh ginseng merahnya, Marons tahu, Kaliana akan memeriksa itu di Laboratorium.


"Baik, Pak. Aku terima dan simpan ini. Jika kami akan menggunakan card ini, aku minta ijin lebih dulu." Ucap Kaliana mengerti maksud Marons, lalu mengambil gold card dan memasukannya ke dalam tas.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2