![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Danny terkejut dan melihat Kaliana dengan heran. "Siapa Jaret, Mbak Anna? Apakah anda telah mengetahui pria yang bersama Rallita?" Tanya Danny beruntun, mendengar Kaliana menyebut nama Jaret.
"Jaret adalah pria yang pernah bersama korban saat Pak Marons bertemu di hotel dengan istrinya. Dia anak seorang pejabat di negeri ini, jadi kemungkinan besar mereka akan menyewa pengacara untuk membebaskan dia dari segala tuduhan, jika dia terlibat." Kaliana tetap berbicara dengan serius, sambil memikirkan informasi apa yang didapat oleh Putra tentang Jaret.
Danny tertegun mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Dia telah mendengar cerita Marons tentang kejadian itu, tetapi Marons tidak mengatakan nama dan lain sebagainya tentang pria itu. Sehingga ketika Kaliana menyebut nama pria itu, dia jadi heran dan tertegun.
"Kami telah menyelidikinya, saat dia datang di acara pemakaman korban. Saya katakan ini, agar Pak Danny harus siap-siap. Mungkin tidak lama lagi ada kejutan, saat namanya terseret dan dipanggil untuk dimintai keterangan oleh penyidik tentang bayi itu." Ucap Kaliana lagi.
"Saya berharap, saat Pak Marons dimintai keterangan dalam pembuatan BAP lanjutan, akan ada perkembangan baru. Jika penyidik berbicara tentang janin dan sedang mencari siapa ayah dari janin tersebut, kita bisa pancing Jaret keluar. Pak Danny atau Pak Marons menceritakan kejadian tiga bulan lalu di hotel itu dan juga menunjukan foto ini kepada penyidik." Kaliana menunjukan foto Jaret saat datang ke rumah duka.
Kaliana telah meminta Putra mencetak salah satu foto Jaret yang berada di dekat peti jenasah saat acara pemakaman. Kaliana sengaja melakukannya, agar penyidik tidak terlalu lama mencari siapa Ayah janin tersebut, jika hasilnya Marons bukan Ayahnya.
"Pak Marons atau Pak Danny katakan saja, tidak menuduh Jaret. Tetapi hanya dugaan karena kejadian di hotel itulah yang membuat masalah dalam rumah tangga Pak Marons. Jika benar, hasilnya bukan anak Marons, yakinkan penyidik. Dengan adanya janin dalam kandungan korban yang bukan anak Pak Marons, membuktikan ada pria lain di seputar kehidupan korban. Silahkan Pak Danny menggiring penyidik untuk melakukan tes kepada Jaret." Kaliana berharap, Danny bisa membantu penyidik untuk menemukan siapa Ayah dari janin itu.
"Baik, selebihnya anda serahkan pada saya. Apaka anda sudah bicarakan hal ini dengan Pak Marons?" Tanya Danny serius. Dia memikirkan apa yang akan dilakukan dan katakan kepada penyidik dan juga mempersiapkan pembelaannya jika diperlukan, sewaktu-waktu.
__ADS_1
"Saya baru berbicara dengan Pak Danny. Saya berharap pembicaraan ini jangan dulu dibicarakan dengan Pak Marons. Biarkan Pak Marons membuat BAP sesuai apa yang diketahuinya. Semua yang dialami saat bersama korban, diceritakan saja kepada penyidik dan nanti Pak Danny yang menggiring opininya." Kaliana memberikan saran agar mereka dapat mengurai kasusnya dengan segera.
"Apakah penyidik telah memeriksa tubuh Pak Marons?" Tanya Kaliana saat melihat foto jari-jari korban. Ada beberapa kuku jarinya yang patah. Sehingga dia berpikir, penyidik pasti akan memeriksa tubuh semua saksi yang dekat dengan korban.
"Saat Pak Marons diminta datang ke kantor polisi waktu kita dari rumah sakit itu, penyidik telah buat BAP lanjutan untuk melengkapi keterangan sebelumnya. Mereka juga sudah memeriksa tubuhnya sebelum penyidik mengatakan tentang kehamilan Rallita." Ucap Danny sambil mengingat saat penyidik memeriksa tubuh Marons, terutama tangannya.
"Pak Danny ingatkan Pak Marons tetap pada apa yang dikatakan tentang luka itu. Saya akan menyiapkan bukti pendukung dan membicarakan itu dengan Pak Danny." Kaliana berkata serius, agar Danny bisa percaya diri mendampingi Marons.
"Sebagaimana yang diminta Pak Marons, kami akan menyelidiki semua yang berhubungan dengan kasus tewasnya korban dan juga semua yang berhubungan dengan kehidupan korban sebelum tewas."
"Dalam hal ini, kami butuh bantuan Pak Danny untuk mengumpan bola kepada beberapa orang. Kami ingin melihat reaksi masing-masing. Siapa saja yang menangkap bola, atau balas memukul balik bola itu." Kaliana mulai merancang strategi menjaring dan mengajak Danny bekerja sama.
"Baik. Saya mengerti. Tolong periksa juga Mertua Pak Marons dan keluarganya. Saya menduga, ada banyak hal yang tersembunyi di dalam keluarga itu." Danny meminta, karena pengacara keluarga itu tidak mau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukannya tentang kehidupan Rallita. Kaliana mengangguk dan berkata dalam hati, 'Tenang saja, kami sudah melakukannya.'
"Baik, Pak. Saya juga mengingatkan anda dan dr Yogi untuk berhati-hati. Jika bola yang anda umpan telah bergulir. Sudah pasti mereka akan balik menyerang Pak Marons sebagai orang terdekat korban." Kaliana coba menyampaikan analisanya, tentang dampak dari rencananya.
"Tetapi tidak menutup kemungkinan anda berdua juga akan terseret, karena hubungan dekat anda berdua dengan Pak Marons. Semoga Pak Danny dan dr Yogi masih ingat melakukan apa pada hari itu dan ada orang yang bisa mendukung alibi anda berdua." Ucap Kaliana serius, melihat hubungan persahabatan mereka yang bagaikan saudara.
__ADS_1
Pasti seorang sahabat akan marah melihat apa yang dilakukan Rallita kepada sahabatnya dan itu bisa dipakai oleh pelaku untuk mengalihkan perhatian penyidik darinya.
Danny berpikir cepat dan mulai mengerti arah dari apa yang dikatakan Kaliana. "Yang jadi saksi dan mendukung alibi saya, bantal dan guling, kerena saya sedang tidur. Kalau dokter Yogi, mungkin sedang dinas malam atau juga tidur. Terima kasih sudah imgatkan. Nanti saya bicarakan ini dengan dr Yogi." Danny coba bercanda, karena di kepalanya mulai berputar banyak hal.
Danny jadi mengerti, tentang apa yang pernah dikatakan Kaliana saat pertemuan pertama mereka. Dirinya harus satu langkah di depan penyidik dan juga pelaku pembunuhan.
"Semua ini bisa berubah jadi sederhana, jika ada yang mengatakan itu suatu kecelakaan atau pembunuhan yang tidak disengaja. Mungkin saja orang tersebut tiba-tiba melakukan suatu tindakan balasan, karena ucapan atau tindakan dari korban, tanpa bermaksud membunuhnya." Kaliana melanjutkan analisanya.
"Apakah Pak Danny sudah tau, apa yang menyebabkan korban meninggal?" Tanya Kaliana yang tiba-tiba membuat Danny terkejut. Dia tidak menanyakan secara detail saat bersama Marons. Dia tidak bisa konsentrasi melihat Marons akan diperiksa fisiknya. Karena dia tahu, ada jejak tangan korban di tangan Marons. Hal itu bisa menjadi bukti untuk menjerat Marons.
"Saya belum tanyakan hasil autopsi keseluruhan tentang penyebab kematian korban. Karena pada pemeriksaan terakhir, Pak Marons yang minta waktu untuk tidak meneruskan pembuatan BAP saat mengetahui istrinya hamil. Kondisi Pak Marons saat itu membuat saya tidak bisa menanyakan banyak hal tentang hasil autopsi." Ucap Danny mengingat pemeriksaan terakhir di kantor polisi.
"Kalau begitu, jika sudah bertemu penyidik, Pak Danny tolong informasikan kepada saya, apa penyebab kematian korban. Apakah karena dipukul, ditusuk, dibekap, atau lainnya. Agar kami bisa menyelidiki bukti-bukti yang ada dan menyusun satu persatu. Jangan lupa soal alas kaki korban itu, Pak Danny." Ucap Kaliana lalu berpamitan untuk meninggalkan kantor Danny.
Dia ingin secepatnya sampai di kantor untuk menunjukan beberapa bukti yang diterima dari Danny kepada teamnya. Ada beberapa hal yang perlu diselidiki oleh teamnya dan terutama dia dan Pak Yosa akan menghubungi mantan rekan mereka di kepolisian.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...