C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Diagnosis 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Kaliana mendekati Marons dan berkata. "Saya perlu memastikan satu hal lagi, Pak. Mumpung kita berada di sini. Supaya nanti tidak bolak balik ke rumah sakit." Ucap Kaliana, lalu berjalan menuju bagian Laboratorium diikuti oleh Marons dalam diam.


Setelah tiba di bagian Laboratorium, Kaliana berbicara dengan petugas Lab dan menyerahkan surat rujukan dari dokter yang baru memeriksa Marons. Setelah membayar semua yang berhubungan dengan pemeriksaan Laboratorium, Marons diantar oleh petugas untuk mengambil darah. Marons mengikuti permintaan Kaliana, walau hatinya sedang bertanya-tanya tentang semua tindakan Kaliana.


Saat Marons sedang diambil darahnya, Kaliana berbicara dengan petugas bagian administrasi. "Suster, jika sudah ada hasil pemeriksaannya, tolong beritahu saya di nomor ini, ya. Nanti saya datang ambil hasilnya." Ucap Kaliana serius, lalu memberikan nomor telponnya. Susternya mengangguk mengerti, lalu mencatat nomor telpon Kaliana.


Marons mendekati Kaliana setelah selesai mengambil darahnya. "Pak, tolong hubungi Pak Danny, ya. Sekarang kita akan menemui teman dokter yang Pak Danny maksudkan itu." Ucap Kaliana saat melihat Marons telah selesai dan berjalan mendekatinya.


Marons memgangguk lalu mengambil ponsel dari kantong celananya. Dia menghubungi Danny dan juga Yogi. Kemudian mereka menuju ruangan praktek dr Yogi. Karena masih ada pasien yang mengantri, mereka kembali duduk menunggu dalam diam dengan pikiran masing-masing. Kaliana menghindari berbicara dengan Marons selain masalah seputar penyelidikan kasus. Walau hatinya ingin sekali menghibur Marons.


Tidak lama kemudian Danny tiba, lalu mereka masuk menemui Yogi setelah Danny berbicara dengan suster yang membantu dr Yogi. Setelah berada dalam ruang praktek dr Yogi, Danny memperkenalkan Kaliana kepada Yogi yang tertegun melihat penampilan Kaliana. Dia benar-benar berbeda, tidak banyak pelesan seperti wanita pada umumnya. Danny tidak memperkenalkan Kaliana sebagai seorang detektif. Membuat alis Yogi bertaut, Kaliana sebagai apa dari kedua sahabatnya.


Walaupun Kaliana tomboy, tapi dia gadis yang cantik dan menarik membuat Yogi tidak bosan melihatnya. Menurut Yogi, Kaliana memiliki karakter yang unik. "Yogi, kami datang untuk periksa Marons bukan Kaliana. Jadi jangan salah fokus." Ucap Danny sambil menyenggol Yogi. Dr Yogi tersenyum, lalu balas menyenggol Danny karena ketahuan memperhatikan Kaliana.


Melihat percakapan mereka berdua, Kaliana segera mengalihkan perhatian mereka kepada pemeriksaan Marons. "Dokter Yogi, tolong periksa tangan Pak Marons, ya." Ucap Kaliana lalu memasukan tangannya ke dalam kantong rompi untuk menghidupkan alat perekamnya. Dia merekam diagnosa dr Yogi juga, agar bisa sebagai pembanding.

__ADS_1


"Ada apa dengan tangan Marons?" Tanya dokter Yogi, setelah mendengar permintaan Kaliana. Dia mengalihkan perhatiannya ke arah Marons yang duduk diam di depan meja kerjanya. Danny tersadar, dia belum memberitahukan perihal tewasnya Rallita kepada Yogi.


Melihat luka di tangan Marons, Yogi terkejut. Dia langsung tahu penyebabnya. "Makanya, jangan terlalu memanjakan istri. Apa-apa diturutin. Sampai dicakar pun, dibiarin. Pantesan dua hari lalu kau minta resep untuk obat demam. Ternyata karena ini, toh." Ucap Yogi memarahi sebagai sahabat. Dia segera memeriksa seluruh bagian tangan Marons seperti yang pernah dilakukan Kaliana. Marons hanya diam mendengar apa yang dikatakan Yogi.


Kaliana menyadari, apa yang dikatakan Marons kepada dokter sebelumnya adalah benar. Dia telah minum obat demam dari hasil resep dr Yogi. Berarti Marons sudah deman dari dua hari lalu. "Menurut dokter Yogi, luka ini sudah berapa lama terjadi?" Pertanyaan Kaliana membuat Yogi kembali melihatnya dengan serius. Pertanyaan Kaliana tidak lazim, karena tidak menanyakan tentang kesembuhan luka.


"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Yogi curiga. 'Apa Kaliana sedang membuktikan sesuatu, karena tidak pecaya kepada Marons?' Tanya Yogi dalam hati.


"Dokter Yogi berikan diagnosanya dulu, nanti setelah itu Pak Danny atau Pak Marons yang akan menjawab pertanyaan dokter." Ucap Kaliana lagi dan dia bersyukur dr Yogi belum tahu perihal tewasnya istri Marons. Sehingga diagnosanya profesional, tanpa memikirkan persahabatan mereka.


Sambil memeriksa tangan Matons, apa yang disampaikan oleh dr Yogi sama dengan diagnosa dokter sebelumnya. Kaliana menarik nafas lega mendengar penjelasan dr Yogi. "Kalau begitu, dokter tolong foto lengkap bagian lukanya dan tolong langsung diobatin, ya. Setelah ini, saya serahkan penjelasannya kepada Pak Danny." Ucap Kaliana serius membuat Yogi segera memanggil suster untuk membantunya mengobati tangan Marons.


"Astagfirllah... Marons. Maaf soal ucapanku tadi, ya. Aku sibuk seharian ini, jadi belum lihat berita. Kau juga tidak info ke aku." Yogi berkata sambil memarahi Danny.


"Maaf, Yogi. Kejadian ini begitu cepat. Karena ini bukan meninggal karena sakit atau kecelakaan biasa, jadi kami harus ke kantor polisi menjalani pemeriksaan. Begitu juga mencari detektif untuk membantu Marons mengungkap kasus ini. Jadi aku tidak ingat sama sekali. Kalau Marons, jangankan ingat mau kasih tau, kepalanya sudah mau meledak. Jika tadi bukan karena Mbak Kaliana mau periksa tangan Marons, kami tidak ke sini." Ucap Danny dengan rasa bersalah.


"Aku turut berduka, Marons. Yang tabah, ya." Yogi berdiri lalu mengusap pelan pundak Marons yang sedang menunduk. Marons menepuk pelan tangan Yogi di pundaknya, sebagai tanda ucapan terima kasih.

__ADS_1


"Mbak Kaliana, tolong Marons untuk ungkapkan kasus ini, ya. Kalau ada perlu penjelasan medis dalam kasus ini, silahkan hubungi saya. Ini nomor telpon pribadi saya, sebagaimana yang dipegang mereka berdua." Ucap Yogi, setelah mendengar penjelasan Danny tentang Kaliana yang seorang detektif. Dia mencatat nomor telpon pribadinya di kertas yang ada di atas meja, lalu berikan kepada Kaliana.


"Orang lain boleh berpikir Marons terlibat, tetapi bagi kami berdua, dia tidak terlibat. Jika dia bisa melakukan itu, dia sudah melakukannya dari tiga bulan yang lalu. Kami sudah berteman lama dari SMA, jadi sangat mengenalnya." Ucap dr Yogi setelah menarik nafas panjang lalu duduk kembali di kursinya.


Melihat lukanya sudah dibersihkan, diberi obat dan ditutup, Yogi menyuntik Marons agar tidak infeksi. "Mbak Kaliana, yang tadi saya katakan itu benar. Marons terlalu memanjakan istrinya dan toleransi dalam banyak hal. Mungkin karena kami belum menikah, jadi belum mengerti. Kami hanya bisa gemes lihatnya." Ucap Yogi lagi kepada Kaliana dengan wajah serius.


"Nanti kalau sudah ada kepastian, segera kasih tau aku." Ucap Yogi kepada Danny. Dia tidak mengharapkan Marons akan memberitahunya.


"Jika perlu dibantu soal penjelasan medis, hubungi saja saya." Ucap Yogi kepada Kaliana, sambil memberikan kartu namanya.


Melihat kartu nama Yogi, yang mana dicantumkan Yogi adalah dokter internis di rumah sakit tersebut, Kaliana tenang. "Terima kasih, dokter. Sementata ini, hanya diagnosa yang tadi. Mungkin nanti beberapa waktu ke depan, saya akan hubungi dokter untuk minta pendapat medis untuk bagian yang lain." Ucap Kaliana senang, karena sudah ada dokter yang bisa dimintai tolong pendapat medisnya.


Dalam menjalani profesinya sebagai detektif, dia sangat memerlukan rekan dari pihak medis agar bisa bantu menganalisa suatu peristiwa yang hubungan dengan medis. Dia menyimpan kartu nama dr Yogi ke dalam kantong rompinya.


"Setelah selesai praktek, aku akan ke rumahmu. Tenang dan tidak usah pikirkan banyak hal. Ini baru awal, jangan sampai kau tidak bisa berdiri di akhir." Yogi berdiri dan mengusap punggung Marons yang hanya diam menunduk, tidak ada senyum hangat seperti biasanya, setiap kali mereka bertemu.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2