![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~β’Happy Readingβ’~...
Sepeninggal Kaliana, Danny memikirkan semua yang mereka bicarakan. Apa yang dikatakan dan juga rencana Kaliana mulai mempengaruhi cara berpikir dan juga membuka wawasannya untuk menghadapi semua kemungkinan yang terjadi, baik untuk korban atau pun Marons.
Danny mengambil telpon lalu menghubungi Marons untuk mengetahui kondisi terakhir.
π±"Hallooo, Marons. Kau lagi di mana?" Tanya Danny, saat Marons merespon panggilannya.
π±"Aku ada di kantor. Aku ini masih bisa ke kantor, jadi aku masih bisa berpikir dengan baik. Ada apa dengan kalian berdua pagi ini?" Tanya Marons heran, karena Yogi dan Danny telpon pada waktu yang tidak biasanya.
π±"Mengapa kau heran aku memelponmu? Aku ini pengacaramu, jadi bisa menelponmu kapan saja. Tidak usah protes." Ucap Danny, berlagak marah, karena dia merasa Marons juga berlagak terganggu ditelpon.
π±"Iyaaa... Kau pengacaraku dan Yogi dokterku. Aku belum pikun, jadi kalian berdua boleh sesukanya menghubungiku." Ucap Marons berlagak kesal. Padahal dia sedang menunggu kabar dari Danny tentang kasus tewasnya Rallita.
π±"Jangan lupa hubungi aku, jika diminta penyidik ke kantor polisi. Jangan coba-coba pergi sendiri, walau hanya diminta keterangan tentang sesuatu yang biasa." Ucap Danny, serius. Marons mengerti yang dimaksudkan Danny. Dia tahu, kedua sahabatnya sedang mengkhawatirkan kondisinya.
π±"Danny, apakah kita tidak bisa majukan pembuatan BAP nya. Aku berencana mau ke luar kota. Jangan sampai aku sudah di luar kota, baru diminta kembali untuk dimintai keterangan." Ucap Marons mengingatkan Danny, karena dia mau tugas ke luar kota.
π±"Baik... Kalau begitu hari ini kita bertemu untuk makan siang. Ada yang mau aku tanyakan padamu sebelum bicara dengan penyidik." Ucap Danny, karena dia mau menanyakan Jaret kepada Marons. Mungkinkah Marons mengenalnya atau tahu siapa dia.
Mereka mengakhiri pembicaraan setelah sepakat untuk bertemu makan siang dan saling memberikan salam.
Β°***Β°
__ADS_1
Di sisi yang lain ; Kaliana sudah tiba dikantornya dan lalu berkumpul dengan ketiga rekannya di ruang pertemuan. Sedangkan Pak Yosa sedang keluar untuk bertemu dengan mantan anak buahnya yang masih dinas di kantor polisi. Kaliana telah minta tolong Pak Yosa untuk mengecek beberapa hal tentang kasus tewasnya Rallita dari mantan anak buahnya.
Sedangkan Putra, Yicoe dan Novie sudah diminta untuk menunggunya di kantor, karena mau menganalisa barang bukti yang diterima dari Danny. Kaliana meletakan semua foto yang diberikan Danny di atas meja untuk diteliti oleh mereka bertiga. Sedangkan Putra berada di depan lapyopnya.
"Putra, tolong perlihatkan ini di layar, agar kami bertiga bisa melihatnya dengan baik." Ucap Kaliana, lalu memberikan salah satu foto yang di atas meja kepada Putra. Foto tersebut perlu diteliti agar bisa dibandingkan dengan yang mereka miliki.
"Non, kuku korban itu ada yang baru patah dan yang sudah lama patah. Itu coba lihat bedanya. Kukunya yang di tangan kanan sudah patah sebelumnya. Sedangkan yang di tangan kiri dan kelingking kanan, baru patah." Ucap Novie sambil menunjuk kuku jari tangan korban.
"Iya, kau benar. Kuku jari tangan kanan itu lama, sudah dipotong rapi dan diwarnai dengan baik. Sedangkan kuku yang patahan baru masih tajam dan bentuknya berantakan." Yicoe mengerti maksud Novie setelah melihat dengan teliti.
"Kalian benar... Ini patahan lama dan ini patahan baru. Berarti korban ada meninggalkan jejak pada pelaku yang menyebabkannya tewas." Kaliana memastikan apa yang dikatakan Novie dan Yicoe, setelah melihat yang mereka maksudkan.
"Putra, tolong perlihatkan foto luka Pak Marons kepada kami. Vie, tolong teliti lagi dengan kuku korban itu. Apakah patahan kuku itu bisa membuat luka, seperti yang ada pada tangan Pak Marons?" Kaliana berkata demikian, karena mau memastikan bukti yang ada pada korban dengan luka yang ada pada Marons.
"Non, benar. Luka itu bisa diakibatakan oleh kuku korban yang di tangan kanan. Luka goresan itu diakibatkan oleh ketiga kuku itu. Bisa dilihat dari dalamnya luka, akibat jari tengah. Akibat dua jari lainnya tidak sedalam yang tengah." Ucap Novie sambil menunjuk luka di tangan Marons dan kuku korban.
Tanpa disadari, mereka sudah bekerja sampai sore, menjelang malam. Kaliana meminta Yicoe untuk pesan makanan dari luar untuk mereka berempat. Sedangkan Pak Yosa belum juga pulang dari pertemuan dan penyelidikannya di luar.
Tiba-tiba telpon pribadi Kaliana berbunyi. Kaliana terkejut mendengar nada deringnya, karena dia tahu siapa yang menelpon. Dia meminta ketiga anggota teamnya untuk terus meniliti bukti yang dibawanya. Kemudian Kaliana segera keluar ruangan untuk menerima telpon.
π±"Malam, Kalia... Apa aku mengganggu?" Tanya Marons, saat Kaliana merespon panggilannya.
π±"Tidak, Pak. Kami sedang meneliti beberapa bukti yang ada. Bagaimana, Pak?" Tanya Kaliana dengan hati senang. Ini namanya, pucuk dicinta ulam tiba. Dia mau menanyakan sesuatu kepada Marons, untuk melengkapi bukti yang sudah ada. Taunya sudah ditelpon duluan oleh Marons.
__ADS_1
π±"Apa kau sudah ambil hasil pemeriksaan Lab ku?" Tanya Marons, yang sudah sampai rumah dan duduk di ruang kerjanya. Dia mengingat percakapannya dengan Yogi tadi pagi tentang chek up.
Saat tiba di rumah dan selesai makan malam, dia memikirkan percakapannya dengan Yogi dan jadi penasaran dengan hasil Laboratoriumnya. Sehingga setelah makan malam, dan telah santai dia menghubungi Kaliana untuk memastikan. Apakah Kaliana sudah ambil hasil Laboratotiumnya atau belum.
π±"Sudah, Pak. Tapi hasilnya nanti aku bicarakan setelah ini, ya, Pak. Yang penting, hasilnya tidak mengkhawatirkan." Ucap Kaliana, agar bisa menenangkan Marons dan berharap Marons tidak mendesak untuk meminta hasilnya.
π±"Baik. Nanti kalau sudah selesai, tolong berikan padaku, agar aku tidak perlu chek yang sudah dichek." Ucap Marons bersabar, karena akibat pembicaraannya dengan Yogi membuat dia ingin segera chek up.
π±"Pak... Apakah selama ini suka minum sesuatu sebelum tidur?" Tanya Kaliana hati-hati, agar Marons tidak curiga tentang kecurigaannya.
π±"Iya. Aku biasanya minum teh yang sudah diracik dengan ginseng merah. Aku pesan itu dari luar, dan aku suka minum itu jika capek dan banyak kerjaan di kantor." Ucap Marons menjelaskan kebiasaannya sebelum tidur.
π±"Apa minuman itu masih ada, Pak? Tolong pastikan itu, ya. Kita sambil berbicara saja." ucap Kaliana, lalu Marons berjalan keluar dari ruang kerjanya ke dapur untuk memeriksanya.
π±"Masih ada, Kalia." Ucap Marons sambil melihat persediaan teh ginseng yang masih tersisa.
π±"Kalau begitu, tolong sekalian bawa ke ruang kerja ya, Pak. Nanti ada yang ke rumah untuk ambil itu." Ucap Kaliana serius. Dia tidak menjelaskan tujuannya, tapi tadi ada terlintas dalam pemikirannya saat menyerahkan hasil Laboratorium Marons kepada Putra.
π±"Apa kau mau datang kesini untuk mengambil ini? Nanti aku ambil yang baru untukmu, mungkin kau bisa coba." Ucap Marons berharap Kaliana yang datang ambil.
π±"Tidak, Pak. Nanti salah satu anggota team yang lagi luar akan ke sana untuk ambil." Ucap Kaliana, menghindar. Pak Yosa masih di luar, jadi dia akan minta Pak Yosa untuk ambil.
Kaliana tidak mau datang ambil, karena khawatir mereka akan tidur di bawa langit lagi, jika Marons tiba-tiba masuk ke mobil dan minta jalan-jalan. Dia tidak akan bisa menolak permintaan Marons jika mengajaknya jalan.
__ADS_1
...~***~...
...~ββΒ€ββ~...