C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Potongan Puzzle 8.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Sambil menghabiskan dessert, Kaliana menanyakan beberapa hal menyangkut kehidupan korban selama hidup bersama Marons. Baik sebagai suami istri, dan juga semasa mereka berpacaran. Kaliana ingin mengetahui dari pihak Marons melengkapi keterangan yang telah diberikan oleh ARTnya.


Kaliana berharap dengan keterangan Marons, dia mempunyai gambaran lebih jelas tentang kehidupan korban selama hidup. 'Jika dibandingkan ART dan Marons, pasti Marons lebih tau banyak tentang korban.' Itu yang ada dalam pikiran Kaliana, sehingga dia ingin manfaatkan pertemuan ini semaksimal mungkin.


"Pak Marons, maaf jika aku mau menanyakan beberapa hal lagi tentang korban. Aku bukan mau membuka luka, tetapi hanya meminta keterangan. Mungkin hal yang sama juga akan dilakukan oleh penyidik. Pak Maroms bisa menganggap ini sebagai latihan untuk berhadapan dengan penyidik. Jika mereka tidak menanyakannya, tidak mengapa. Tetapi aku perlu menanyakan ini untuk melengkapi beberapa hal yang sudah kami peroleh tentang korban.


"Tidak mengapa, Kalia. Aku akan menjawab sesuai yang aku tau. Kalau aku tidak tau, aku akan katakan tidak tau." Ucap Marons mengerti yang sedang dilakukan Kaliana. Mereka sedang mengumpulkan keterangan tentang kehidupan Rallita. Kalau tentang kematiannya, mungkin sudah ada buktinya.


"Begini, Pak. Kematian seseorang dalam kasus pembunuhan, selalu berhubungan dengan kehidupannya. Entah kehidupannya baik atau buruk. Jadi berikut ini saya mau menanyakan tentang apa yang sering atau suka korban lalukan." Ucap Kaliana serius dan bersikap sebagai seorang penyidik. Marons mengangguk mengerti, melihat cara Kaliana bertanya padanya.


"Apakah korban suka pergi clubbing atau berpesta dengan teman-temannya? Atau menghadiri berbagai pesta?" Tanya Kaliana, yang sudah menyalahkan rekaman di kantong rompinya. Dia juga mengeluarkan catatan untuk mencatat yang penting untuk diselidiki.


"Kalau suka, aku tidak bisa defenisikan itu suka. Tapi dia memang beberapa kali pergi ke club, berkumpul dengan teman-temannya. Dia juga beberapa kali menghadiri undangan pesta temannya. Kadang aku ikut, jika bisa. Tapi lebih banyak tidak bisa, karena banyaknya pekerjaan atau sedang berada di luar kota." Marons berpikir dan menjawab pertanyaan Kaliana dengan serius.

__ADS_1


"Baik. Jadi sedikit banyak, Pak Marons tau, jika korban kumpul atau berpesta dengan teman-temannya, ya?" Tanya Kaliana lagi untuk meyakinkannya, agar dia bisa mengajukan pertanyaan selanjutnya. Karena jika Marons tidak tahu, tidak ada gunanya dia teruskan meminta keterangan Marons.


"Tidak selamanya aku, tau. Kalau lagi di luar kota dan dia keluar, mungkin aku tidak tau. Aku akan tau, jika dia katakan mau pergi. Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya dan teman-temannya?" Tanya Marons heran dengan pertanyaan Kaliana. 'Apakah ada temannya yang tidak menyukainya dan mencelakai dia?' Marons jadi berpikir sendiri.


"Tidak demikian, Pak. Coba Pak Marons lihat foto ini. Pakaian seperti ini, sering dipakai dalam acara atau kegiatan apa?" Kaliana bertanya sambil memperlihatkan layar ponselnya ke arah Marons. Dia memperlihatkan foto baju yang dikenakan Rallita saat tewas. Dia ingin mendengar pendapat Marons tentang busana yang dipakai istrinya. Itu sesuatu yang wajar atau tidak seperti biasanya.


"Dia memakai busana seperti ini, jika hendak party dengan teman-temannya. Aku pernah ikut sekali dan tidak ikut lagi, karena hampir semua temannya berbusana seperti itu. Busana seperti kekurangan bahan. Aku pernah menegurnya, kenapa memakai pakaian seperti kurang bahan itu. Mereka sedang pesta untuk memperagakan busana atau tubuh mereka." Ucap Marons sambil mengingatnya ribut dengan Rallita, setelah pulang dari pesta tersebut.


"Mengapa anda membiarkan korban pergi keluar dengan busana seperti ini? Sedangkan anda ada pergi bersamanya dan dia sudah berkeluarga." Ucap Kaliana, kembali sebagai seorang penyidik.


"Dari rumah dia tidak berbusana seperti ini. Dia mengenakan jubah penutup saat berangkat dari rumah. Dia akan melepaskan jubahnya itu saat sudah tiba di tempat sebelum turun dari mobil. Menurutmu, aku bisa menariknya setelah turun dari mobil? Sedangkan di tempat parkir dia sudah bertemu dan cipika cipiki dengan teman-tamannya?" Marons bertanya dengan mimik wajah yang makin kelam.


"Iyaa. Itu yang aku tau. Kalau kau dan teammu mau memastikan busananya seperti apa, kalian datang saja ke rumah dan bisa memeriksanya. Jika kau lihat, kau akan mengerti maksudku tentang penutup baju atau jubah itu." Ucap Marons lagi, karena tidak bisa menjelaskan tentang jubah penutup baju Rallita.


"Jika diperlukan, saya akan menghubungi. Apakah anda kenal salah seorang temannya yang bisa kami hubungi?" Tanya Kaliana lagi yang masih tetap bersikap layaknya penyidik.

__ADS_1


"Tidak ada temannya yang aku kenal. Menurut pengamatanku, mereka berteman hanya di tempat itu. Bukan teman seperti teman pada umumnya yang kau tau. Mereka akan langsung bercipika cipiki dan saling menyapa dan tertawa. Tetapi sebenarnya, diantara mereka ada yang tidak saling kenal." Ucap Marons lagi.


"Pernah aku bertanya padanya, setelah menyapa dan tertawa riang dengan sepasang pria dan wanita. Aku tidak tau, mereka pacaran atau suami istri. Aku bertanya, siapa mereka, karena yang pria berusaha berbicara akrab denganku. Tetapi dia bilang tidak mengenal mereka." Ucap Marons sambil menggeleng kepalanya.


"Kau bisa bayangkan itu? Mereka bisa berbicara akrab, saling cipika cipiki dengan riang, padahal tidak saling kenal. Pertemanan yang palsu dan hanya untuk bersenang-senang sesaat. Aku tidak tau, apa yang dia cari di tempat seperti itu. Semenjak itu, aku tidak pernah ikut lagi dengannya. Dia mau ngambek, mau ngancam pergi sendiri. Aku tidak menanggapinya, karena membuang waktu dengan percuma." Marons jadi memikirkan apa yang dikatakannya dengan serius.


"Dia bisa-bisanya bertahan di lingkungan yang palsu. Tetapi dia tidak bisa berkumpul dengan temanku. Melihat pertemanan mereka, membuat aku sangat menjaga pertemananku dengan Danny dan Yogi. Itu hubungan pertemanan yang normal, tidak hanya untuk bersenang-senang." Ucap Marons lagi, sambil mengingat persahabatan mereka yang sudah seperti saudara. Padahal mereka berbeda profesi, suku dan keyakinan.


Kaliana mendengar yang dikatakan Marons dengan serius, sampai tidak mencatat yang harus dicatat. Dia tidak menyangka, Marons dan istrinya sangat berbeda cara pandang dan juga cara hidup serta pertemanannya. Bagaikan air dan minyak.


"Semenjak itu juga, aku memblokir credit card yang dipakainya. Apa lagi setelah bertemu dengannya di hotel dengan pria itu. Aku blokir semua kartu yang dipakainya. Aku bekerja keras siang malam untuk membayar semua pemakaiannya yang tidak bertanggung jawab. Aku makin marah karena mengetahui dia masih pergi dan menghaburkan uang di tempat yang absrud seperti itu." Ucap Marons tanpa bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


Kaliana mendengar yang dikatakan Marons sambil berpikir. Ada yang tidak singkron keterangan Marons dengan kejadian tewasnya Rallita. "Jika menurut anda, ke tempat seperti itu perlu dana, dari mana korban memperoleh uang jika semua kartu telah anda blokir? Saya tanya begini, karena saat korban tewas mungkin baru pulang dari sana. Berarti blokir anda tidak bisa membendung keingannya." Kaliana bertanya, mengingat Rallita mengenakan baju yang sama, seperti yang digambarkan Marons.


"Mungkin dia minta pada orang tuanya yang selalu memanjakannya. Entah alasan apa yang dia katakan kepada orang tuanya tentang semua kartu yang aku blokir." Marons jadi berpikir tentang, tanggapan orang tua Rallita.

__ADS_1


...~***~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2