![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana mengembalikan Raka ke kantor polisi, sekalian bertemu dengan Bram yang sudah menunggunya. Sedangkan Pak Yosa menunggu Kaliana di balik kemudi menggantikan Raka. "Apakah ada masalah, sehingga kau bertemu 'Bintang'?" Tanya Kaliana setelah berada di ruang kerja Bram.
"Masalah Jaret yang tidak dirilis, karena orang tuanya telah menghubungi 'Bintang'. Dia tidak ditahan juga, karena hasil pemeriksaan urinnya negatif serta apartemen itu milik orang yang sudah meninggal. Jadi makin kuat mereka tidak bisa menahannya. Ada alasan juga, alat bong itu milik Rallita bukan Jaret, jadi dia dibebaskan." Bram menjelaskan hasil pembicaraan dengan pimpinannya.
"Aku sudah menduganya. Biarkan itu dan kau fokus untuk menyelesaikan 'Kasus Selokan'. Mungkin saja orang tuanya juga akan intervensi kasus tersebut, jika sudah mengetahui Jaret terlibat." Kaliana menjelaskan berdasarkan pengalamannya selama bekerja di kesatuan.
Kaliana mengerti situasi Bram yang terikat aturan dan harus mematuhinya. Kaliana menjelaskan apa yang dilakukan di club dan minta Bram membuat surat untuk menyita rekaman cctv pada hari menjelang tewasnya Rallita.
"Iyaa... 'Bintang' sudah mengatakan itu, orang tuanya sudah berbicara dengannya dan ingin tahu sudah sampai di mana penyelidikan dan keterlibatan Jaret dalam kasus itu." Bram menjelaskan dan agak kecewa setelah bertemu dengan pimpinannya.
"Silahkan kau menyampaikan hasil penyelidikanmu, tanpa mengikut sertakan semua hasil penyelidikanku. Kau besok cukup minta kesaksian seluruh keluarga korban dan aku meminta copynya. Sedangkan Kebart, nanti setelah besok, aku akan memberikan schedule untuk bertemu dengannya." Kaliana mulai menjelaskan rencananya. Dia sudah tidak tertarik untuk terlibat dalam interogasi keluarga korban.
"Mulai besok, petugas Raka akan terus mendampingiku, karena ada beberapa tempat yang perlu dia buka untuk kami selidiki." Kaliana menjelaskan lagi, sekalian minta ijin untuk Raka. Karena dia mulai aktif mendampingi Kaliana dan team.
"Baik... Sekarang aku lebih mengandalkanmu dalam kasus ini, karena apa yang akan aku selidiki dan hasilnya sekarang dipantau oleh 'Bintang' dan orang tua Jaret. Jadi setiap informasi yang perlu kau ketahui, akan aku berikan lewat Raka. Kau mengerti maksudku, bukan?" Bram menjelaskan posisinya dan berharap Kaliana lebih berperan dalam mengungkap kasus tersebut.
__ADS_1
"Baik. Aku mengerti. Kalau begitu, kau jangan dulu mengeluarkan surat untuk menyita cctv. Kau tunggu aku sudah clear kan semuanya, baru aku akan minta kau menyitanya. Anggap saja, kau belum pernah dengar tentang cctv tersebut. Aku khawatir bisa ditipp-ex juga." Kaliana berbicara secara terbuka dan Bram mengangguk mengerti maksud Kaliana.
"Hati-hati dan amankan clientmu, karena bisa terjadi konsfirasi sehingga clientmu menjadi sasaran tembak." Ucap Bram mengingatkan tentang posisi Marons, karena dia percaya Marons tidak terlibat. Tetapi bukti-bukti bisa dibuat agar dia menjadi pelakunya.
Perubahan cara pandang dan sikap pimpinannya yang mau ikut campur dan memantau semua hasil penyelidikannya tentang 'Kasus Selokan', membuat Bram harus memberi peringatan kepada Kaliana. Hal tersebut bisa merubah hasil akhir penyelidikan dan Bram tidak bisa mencegahnya.
"Baik... Siaap. Setelah ini, aku akan jarang ke sini. Jika mau bertemu, kita bertemu di luar saja. Mengenai pertemuan besok, kau tangani sendiri saja sesuai standar prosedur baku. Aku tidak jadi menitipkan pertanyaan untuk mereka. Kau tolong gali saja, aku percaya kau sudah mengerti maksudku dengan standar." Ucap Kaliana serius. Kaliana lebih tertarik menyelidiki kejadian di club dari pada membuang waktu menanggapi keluarga korban.
"Baik... Mengenai Kebart, besok dia tidak bisa datang untuk pembuatan BAP, karena anaknya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Jadi dia minta dijadwalkan ulang." Bram menjelaskan, karena Kaliana ingin bertemu dengannya.
Ketika mendengar rumah sakit, Kaliana mengingat hasil selancar Putra tentang keluarga Rallita. "Bram, kau tolong usahakan untuk bisa mendapatkan rambut dari semua keluarga korban. Kau bisa katakan kepada mereka, untuk melengkapi hasil penyelidikan kasus. Atau kau bisa dapatkan itu secara tidak sengaja, seperti yang kau lakukan kepada Jaret." Kaliana menggunakan semua cara untuk mengamankan Marons.
"Apakah ini ada kaitannya dengan tewasnya Rallita? Atau ada sesuatu yang ingin kau selidiki tentang keluarga itu?" Tanya Bram curiga, mendengar permintaan Kaliana.
"Tidak secara langsung berhubungan dengan kematian korban. Tetapi ada kaitannya, dan aku perlu membuktikannya, agar mereka tidak banyak melakukan manuver." Kaliana berkata tegas dan serius. Dia sudah lama memikirkan cara bagaimana mendapatkan sesuatu dari keluarga itu untuk diperiksa tanpa menimbulkan masalah baru.
Bram mengangguk mengerti, karena jika Kaliana sudah membuka satu pintu, dia akan masuk dan mengacak-acak semua isi yang ada di dalamnya. Walaupun orang mengatakan bahwa dia agak lambat menemukan pelaku, tetapi cara kerjanya yang sistimatis membuat pelaku tidak bisa berkelit ketika Kaliana telah bertemu dengannya. Kaliana telah membuat pagar di sekitarnya, sehingga pelaku tidak bisa menyelamatkan diri. Selain keluar dari satu pintu yang sudah disiapkan oleh Kaliana dan team.
__ADS_1
"Ooh iya.. Tolong email hasil sisiran mobil korban untukku. Aku mau pakai untuk melengkapi laporan dan berjaga-jaga. Begitu juga dengan hasil sisiran di apartemen." Kaliana berkata serius, lalu segera pamit meninggalkan Bram saat melihat Bram mengangguk mengiyakan.
Kaliana berjalan cepat menuju mobil Rallita dimana Pak Yosa sedang menunggunya. "Seperti yang kita perkirakan, penyelidikan 'Kasus Selokan' telah diintervesi oleh orang tua Jaret. Jadi semua hasil penyelidikan Bram harus dilaporkan ke 'Bintang'. Sekarang Bram benar-benar dikelilingi tembok aturan." Ucap Kaliana setelah berada dalam mobil dan duduk di samping Pak Yosa.
"Kalau begitu, kita akan bekerja lebih ekstra mengamankan Pak Marons. Beliau bisa menjadi sasaran tembak jika Jaret terlibat." Pak Yosa mengingatkan. Kaliana mengangguk dan menjelaskan apa yang dikatakan Bram kepadanya. Begitu juga dengan tidak ditahannya Jaret dalam kasus narkotika yang ditemukan di apartemen.
"Bukan hal baru. Kita sudah menduga itu akan terjadi. Tapi petugas Raka masih bisa ikut dengan kita, bukan?" Tanya Pak Yosa, karena saat ini mereka lebih membutuhkan petugas resmi untuk buka pintu, jika ada pintu yang harus mereka buka.
"Masih bisa, Pak. Besok kita berdua dengan petugas Raka akan membuka pintu yang lain lagi. Jadi sekarang secepatnya kita sampai di kantor, karena aku sudah tidak sabar berbicara dengan team dan mengetahui hasil selancar Putra tentang temuan kita tadi.
"Ok. Tolong ingatkan Yicoe dan Novie untuk pesan makan malam kita yang agak berat, karena ini akan menjadi malam yang berat dan panjang untuk kita." Pak Yosa berkata demikian, karena melihat wajah optimis Kaliana saat melihat cctv di club. Pak Yosa tahu, Kaliana sudah punya planning terpetakan, sehingga meminta Raka untuk mendampingi mereka besok.
Kaliana mengangguk mengerti maksud Pak Yosa, lalu mengirim pesan untuk Yicoe dan Novie. Begitu juga dengan Putra untuk menyiapkan semuanya. Karena setelah mereka tiba di kantor, team sopape akan membahas tentang semua temuan di club.
...~***~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1